Grade 2-2 Part 1

Image

Title : Grade 2-2 / Love Love LoveRating : PG-15Genre : Romance School

Author : jaebyeong

Main Cast :

Nana After School

Nichkhun 2PM

Minho SHINee

Victoria f(x)

Jiyeon T-Ara

Yoo Seung Ho

Suzy Miss A

Wooyoung 2PM

Other Cast

-cari sendiri ajah yaa… hehe banyak banget-

enggak banyak ngomong deh author. eh, comment like oxygen buat author loh yah. butuh oxygen nih, patah atiii *hikz. terima kasih untuk pixlr.com buat poster nya. gue sendiri sih yang ngeoperasiin. tapi yah emang harus berterima kasih soalnya udah menyediakan media yang berguna banget buat dakuuh.

selamat membacaa….. ^,^

Keluarga Im sedang berkumpul di ruang makan. Mereka tertawa dengan lepas atas lelucon yang diberikan si ayah dan si kakak Im Ju Hwan. Tampak Im Jin Ah juga tertawa karena lelucon yang diberikan dengan memegang erat semangkok penuh nasi.

“Yya! Apa kau tetap makan semangkok itu?” tanya Im Ju Hwan tidak percaya sambil menunjuk-nunjuk mangkok yang dipegang Im Jin Ah.

“Wae? Apa tidak boleh? Aku sudah jatuh cinta dengan nasi!” kata Jin Ah sambil melahap satu sendok nasi.

“Yya-yya-yya! Kau mau menjadi gendut, ya? Bagaimana kalau kau tidak di taksir oleh anak-anak lelaki SMU Daebak?” kata si ibu.

“Apakah aku mau masuk SMA Daebak?” tanya Jin Ah berhenti mengunyah.

“Ne- kau pantas disitu. Apa tidak bisa? Ini keinginan ibu,” kata si ibu.

“Iya, benar. Lagian apabila kau masuk Daebak aku akan memanggilmu adik tersayang,” kata Ju Hwan.

“Kau berkata seperti itu karena yakin dia tidak masuk Daebak?” tanya si ayah.

“Aku pasti bisa!” kata Jin Ah bersemangat.

Si ibu, si ayah, Ju Hwan mendekati Jin Ah,”Jadi…”

“Tapi, aku tidak mau masuk kesana,” kata Jin Ah melanjutkan makan.

“MWO??!” si ibu, si ayah, dan Im Ju Hwan pun kaget.

Im Jin Ah melihat ke arah ketiga keluarganya tadi dan pergi ke kamarnya.

___

Jin Ah POV

Aku menutup pintu dengan pelan setelah meninggalkan mangkuk nasi kesayanganku di ruang makan. Aku melihat handphone-ku yang berada di meja berkelip-kelip. Uh, ada pesan dari Kim You Jin.

Aku sudah mendaftar ke Daebak. Kau?

Yya! Apa-apaan dia menanyaiku seperti ini? Batinku. Aku membalasnya dengan sangat malas, karena aku membaca kata-kata Daebak disana.

Aku tidak mungkin masuk kesana. Kau gila! Balasku.

Tidak lama, handphoneku berkelap-kelip lagi. Ahh.. aku malas membacanya dan mematikan handphoneku, lalu membanting tubuhku ke ranjang.

Jin Ah POV end

Nichkhun POV

Aku sedang memindah-mindah channel TV karena acara kesukaan ibu sedang diseling iklan. Ibu juga sedang menerima tamu dengan ayah. Sewaktu sibuk memindah-mindah channel, handphone-ku berbunyi. Ada SMS dari pacarku, Song Qian.

Khunnie… kau sedang apaa? Tanyanya.

Aku cepat membalas : sedang menonton TV. Kau?

Aku sedang belajar untuk lusa masuk Daebak. Kau masuk Daebak ‘kan? Aku sangat merindukanmu.

Aku juga.

Dia tidak membalas lagi. Mungkin dia terlalu sibuk belajar.

Song Qian adalah anak perempuan yang di mataku sempurna. Kami sudah berpacaran selama 3 bulan. Baru saja 3 bulan yang lalu dia menjawab tembakanku. Padahal aku menembaknya 3 minggu sebelum dia menerimaku. Aneh.

Aku sangat suka anak perempuan yang aneh. Entah mengapa, anak perempuan yang aneh membuatku penasaran dan langsung jatuh cinta.

Qian adalah anak keturunan Korea-China. Ibunya China, ayahnya Korea. Dia juga ada darah Perancis. Kakek buyutnya adalah blasteran Perancis-China.

Tiba-tiba, ibu duduk di sebelahku dan mereubut remote dari tanganku.

“Kau… daftar ke Daebak saja,” kata ibuku sambil terus memindah channel.

“Iya, Bu. Song Qian juga mau kesana,” kataku.

Ibu terkejut.

“Kenapa bu?” tanyaku penasaran.

“Tidak. Itu bagus. Dia sangat ibu sukai. Memenuhi kriteria sebagai calon menantu.”

“Omma! Aku tidak akan menikah sebelum…”

“Sebelum?”

“Sebelum Yuh menikah.”

“YYA! Masa Yuh yang adalah adikmu disuruh menikah duluan?”

Kami bercanda dan tertawa hangat. Aku berdiri dari kursi dan mengambil handphoneku. Ada SMS lagi. Dari Song Qian :

Keluar rumah saja, Khunnie. Aku menunggumu di taman perumahan.

Memang, kami bertetangga. Tapi gang-nya beda.

Melihat SMS tadi, aku segera menjawab ‘ya’ dan langsung pamit ke taman menemui Qian.

Nichkhun POV end

Qian POV

Aku sudah berada di kursi taman perumahan setelah Khunnie menjawab iya. Aku duduk sambil menunggunya datang.

Tiba-tiba seseorang menutup mataku dengan kedua tangannya yang hangat dari belakang. Aku sudah tahu dari aroma dan besar tangannya di wajahku. Itu Khunnie.

“Khunnie!” aku menyebut nama seseorang yang kuharapkan.

Orang tadi mengangkat tangannya dari wajahku dan duduk di sebelahku. Ya, dia Nichkhun Buck Horvejkul, orang yang sangat kucintai. Dia tersenyum kepadaku, lalu mencubit pipiku.

“Kau lama sekali,” kataku sambil menunduk. Aku malu.

“Yya, kau malu setelah kita berpacaran beberapa bulan yang lalu? Haha,” dia tertawa lepas.

“Apa yang kau bawa? Apakah aku mengganggumu?” kataku lagi, berusaha mengusir malu.

“Emm.. kau tidak mengganggu. Malah menghibur.”

Aku mengangguk dan tersenyum, lalu tertunduk lagi. Khunnie tampak mengeluarkan sesuatu dari bungkusan yang ia bawa. Lalu menyodorkan barang itu dekat wajahku.

“Ice Cream!” serunya dengan wajah berseri-seri.

Aku menerima pemberian Khunnie dengan mengucapkan terima kasih tentunya. Dia menyuruhku untuk segera memakan es krim yang barusan dia berikan kepadaku. Katanya, cepat meleleh. Aku menuruti perkataannya dan dengan diam memakan es krim tadi.

Suasana hening sejak dia mengatakan kata-kata ‘cepat meleleh’ tadi. Aku tidak tahu harus berkata apa jika seperti ini.

“Dulu… kau adalah gadis berantakkan yang ceria dan cerewet. Kau aneh. Kau-“ dia memecahkan keheningan.

“Aku? Aneh?” tanyaku.

“Nah, loh? Kau tidak tahu aku suka gadis aneh?”

“Tidak tahu.”

Hening lagi. Namun lagi-lagi Khunnie memecahkan keheningan yang sedang merayap di taman ini.

“Kau- cantik saat makan es krim,” katanya membuatku terkejut.

Aku hanya menoleh kepadanya dan tersenyum manis.

“Aku… mendaftar ke Daebak. Apa- kau mendaftar ke Daebak?” tanyaku.

“Emm..,” dia menjawab ‘ya’ dengan melihat ke atas. Ke langit.

Qian POV end

___

Jin Ah POV

Esoknya…

“Naega che jallaga!” jeritku ketika menyapu teras.

Tiba-tiba Ju Hwan oppa menyundul kepalaku dengan jari telunjuknya yang diperban.

“OPPAA! Jarimu—jarimu?” aku memang panik ketika melihat perban. Perban apa saja.

“Diam! Aku terkena gigitan Jack!” dia menunjuk anjing tetangga. Anjing bulldog.

“Hanya segitu?”

Dia diam dan menyundul kepalaku dengan dua jari. Jari telunjuk dan tengah. Dua-duanya diperban.

“DUA JARI?” aku teriak lagi.

“Kau pantas menjadi rocker, tungsaeng! Kau berisik,” Ju Hwan oppa masuk sambil mengibas-ibaskan poninya.

Aku kembali menyapu dengan headset yang menyumbat kupingku. Lagu “I Am The Best” milik 2NE1 sudah menjadi sarapan pagi ini. Yah, lagunya sebentar lagi selesai. Aku melihat daftar lagu di handphoneku. Selanjutnya lagu 2NE1 Lonely.

Aku selesai menyapu dan hendak masuk rumah. Tapi kulihat lewat kace jendela Tuan Choi bersusah payah memanggilku. Aku melepas headsetku. Aku memang tadi mengesetnya kecil. Setelah menyapu mnegesetnya keras.

“Ada apa, Tuan Choi?” tanyaku.

“Kau… fyuh.. kau mau—mendaftar Daeb-bak?” tanyanya ngos-ngosan.

Aku heran,” Kau kenapa seperti itu?” tanyaku.

“Aku memanggilmu sejak kakakmu, Im Ju Hwan menjitakmu—“

“Dia tidak menjitakku. Tapi—“

“HALAH! Yang penting yang aku tanya kepadamu. Kau mau masuk Daebak tidak? Kau kan cerdas. Ini, aku ada formulirnya,” dia mengeluarkan secarik kertas dari tas lusuhnya.

Aku masih heran. Kenapa dia masih saja menawarkanku masuk Daebak?

“Ini dia,” dia menyerahkan kertas formulir yang masih bersih kepadaku.

Aku menerima formulir tadi, karena tidak enak apabila aku menolaknya sementara dia berusaha mengambilkannya untukku. Aku membaca satu per satu syarat untuk masuk ke sana.

“Bagaimana?” tanyanya.

“Emm.. aku akan bilang ke ibu dulu. Kau?”

“Apanya?”

“Anakmu.. mendaftar Daebak?” tanyaku.

“Emm.. iya. Dia menginginkan masuk situ. Oh, iya. Aku masih banyak kerjaan di kantor. Salam untuk ibumu dan ayahmu.

“AKU TIDAK?” seru Ju Hwan oppa yang sedang gosok gigi di ambang pintu.

“TIDAK!” Tuan Choi lalu pergi dari teras rumahku dengan sepeda mahalnya.

Aku berbalik dan masuk rumah. Ju Hwan oppa masih di ambang pintu.

Setelah aku masuk, angin segar dari kipas angin yang berputarputar di langit-langit meniup rambutku yang terkucir dengan tidak rapi. Segar sekali rasanya. Aku menaruuh formulir di meja ruang keluarga dan langsung menuju dapur untuk mengambil minum.

Ketika aku minum, ibu lewat di belakangku sambil menyolek perut bagian samping. Aku tersedak, karena aku geli. Tetapi, tidak seperti biasanya. Wajah ibu sangat pucat. Banyak koyo di bagian pelipisnya. Mungkin dia pusing atau kecapekan.

“Omma—“ panggilku sambil menaruh gelas.

Ibu menoleh. Dia mengangkat alis.

“Kau sakit? Mana yang sakit?” aku berjalan menuju ibu.

Ibu berjalan keluar rumah sambil berkata ‘tidak’. Dia tidak seperti biasanya. Biasanya dia berjalan cepat dan dengan langkah yang lebar-lebar. Kali ini kebalikannya.

Ju Hwan oppa masuk setelah kumur-kumur di luar. Dia duduk di kursi ruang keluarga dan menyetel TV. Dia menonton channel kesukaannya. Tapi, kemudian dia menyentuh formulir yang tadi aku letakkan di meja di ruang keluarga.

“Apa ini?” tanyanya sambil membaca-baca isi formulir yang ia pegang.

Aku mendekati Ju Hwan oppa,”Hanya formulir ke Daebak.”

“BAGUS! Kau segera isi ini! Ppali!!” perintahnya sambil menyerahkan bolpoin hitam di dekatnya kepadaku.

“Aku tidak berniat masuk ke Daebak!” aku mengelak.

Ibu masuk dan tiba-tiba berada di sampingku. Berdiri dengan muka yang tanpa ekspresi.

“Kau—masuk saja ke Daebak. Ibu akan sangat senang apabila kau diterima disana,” ibu ternyata mendukung Ju Hwan oppa.

“T—tapi, uang SPP-nya sangat mahal dan pasti—“ kataku terputus.

“Masalah uang SPP, ayah yang mengurusnya. Kau tidak usah memikirkannya. Toh ini untuk pendidikanmu,” ayah keluar dari kamar membela ibu dan Ju Hwan oppa.

“Appa—“ aku tertegun dengan ayah yang biasanya patah semangat menjadi tidak patah semangat.

Ju Hwan oppa menyuruhku duduk di sampingnya dan mengisi formulir tadi. Lalu ibu duduk di sampingku. Di samping Ju Hwan oppa, ayah ikut duduk. Nah, loh. Kenapa coba ikut-ikutan duduk?

“Ibu—tidak akan hidup lama,” bisik ibu.

Seketika aku berhenti menulis. Semuanya menoleh kepada ibu.

“Yyobbo, apa yang kau katakan. Kata-kata adalah doa,” sahut ayahku.

Aku dan Ju Hwan oppa setuju.

“Aku hanya ingin—“ ibu terhenti, karena ia mulai batuk keras. Dia jatuh ke lantai. Terduduk lemas sambil masih menutupi mulutnya.

“Omma!” aku dan Ju Hwan oppa kaget dan mengangkat ibu untuk tiduran di kursi.

Ayah dengan gerakan cepatnya langsung mengambil obat di kamarnya dan kamar ibu. Lalu mengambil segelas air bening untuk ibu minum obat.

“Omma, kau sakit apa? Batukmu sangat parah!” Ju Hwan oppa panik.

Ibu melepaskan tangannya dari mulutnya. Tangannya.. berlumuran DARAH. Sumpah, aku benar-benar kaget. Ibu batuk dan mengeluarkan darah.

Seketika, aku menutup mulut karena kaget. Dan ayah yang berada di samping ibu juga kaget. Lalu ia cepat-cepat meminumkan obat ke ibu. Aku hampir menangis. Tapi, aku sangat benci menangis. Saat menangis aku menjadi sesak nafas.

“Ibu sakit apa?” tanyaku berusaha menahan tangis.

“Istriku, kau sakit apa? Kau tidak beritahu aku sebelumnya,” kata ayah.

Ibu diam, dia batuk kecil. Aku menahan nafas karena takut dia akan mengeluarkan darah lagi.

Jin Ah POV end

Minho POV

“Minho-yya!” panggil ayah dari lantai bawah.

“Iya,” aku menjawab lalu keluar kamar dan turun ke lantai bawah rumahku.

Setelah sampai di hadapannya, aku duduk di sampingnya.

“Ada apa, Ayah?” tanyaku.

“Kau mau ‘kan ayah masukkan Daebak?” tanya ayah.

“Aku mau. Memang kenapa?” tanyaku heran.

“Ti—tidak. Tidak kenapa-napa. Hanya ingin berkompromi denganmu.”

Aku mengangguk-angguk kecil. Aku memandang keluar rumah. Pintu rumah memang terbuka lebar. Karena ayah baru saja masuk.

“Ayah kenapa tidak pergi bekerja?” tanyaku sambil terus memandang keluar.

Ayah berdiri,”Oh, iya! Aku baru ingat! Ada yang harus aku lakukan. Nak, ayah ke kantor dulu. Untung saja kau mengingatkanku.”

Aku lalu memandang ayah yang sedang berjalan terburu-buru menuju ke kamar.

Aku Choi Min Ho. Seorang anak yang katanya naif. Aku lahir sebagai anak piatu yang tidak punya ibu. Aku juga adalah anak tunggal. Jadi, aku hanya tinggal bersama ayah di rumah yang katanya paling besar di perumahan ini.

Aku memandang keluar rumah lagi. Seorang anak perempuan dan laki-laki bersama ayah mereka membantu seorang ibu dengan sangat hati-hati. Sepertinya aku kenal.

“Im Jin Ah?” desisku sendirian.

Aku cepat-cepat menuju ke ambang pintu. Keluar rumah. Melihat Jin Ah dengan susah payah membantu ibunya ke suatu tempat. Kenapa dengan ibunya?

Aku berlari menuju mereka berempat. Setelah sampai disana, Jin Ah mengacuhkanku.

“Jin Ah-yya, aku bantu. Mau kemana?” tanyaku.

Tetapi Jin Ah hanya diam. Dia tidak menoleh kepadaku atau berinteraksi kepadaku sekalipun.

Mereka berempat lalu masuk ke klinik. Tetapi Jin Ah diam di tempat sementara ayah dan kakaknya masuk lebih dalam lagi membantu ibunya.

Aku mendekati Jin Ah. Jin Ah membelakangiku. Dia menutup mukanya. Rambutnya yang berantakkan membuatku ingin merapikannya. Aku baru saja akan meraih sehelai rambutnya, dia berbalik dan menatapku dengan mata yang berkaca-kaca.

“Jin—Jin Ah-yya! Kamu.. kamu men—“ kataku tersendat-sendat.

“Omma! Nae Omma! Ibuku, Minho-yya. Ibuku—“ katanya setengah pelan.

Aku iba dan entah mengapa segera meraih tubuhnya dan memeluknya. Dan dia menangis dalam pelukanku. Belum pernah aku melihat Im Jin Ah yang sangat lemah dan rapuh. Dia menangis! Aku baru pernah melihatnya menangis. Dan baru pertama kali aku menyentuh seorang gadis.

Tiba-tiba jantungku terasa berhenti berdetak. Badanku kaku, sementara Jin Ah menangis sekeras-kerasnya.

Minho POV end

Nichkhun POV

Sekarang, pagi ini, aku berolahraga di taman perumahan. Hari minggu adalah hari yang paling aku suka sepanjang hidup.

Saat aku berlari-lari kecil di sekeliling taman, Qian berdiri menghalangiku dengan berkacak pinggang. Aku menoleh kepadanya dan dia tersenyum manis. Aku segera mencubit pipinya.

“Auuh! Kau sangat menggemaskan!” seruku sambil mencubit pipinya.

Dia juga mencubit pipiku dengan halus. Saat dia mencubit pipiku, aku mencium pipinya yang barusan aku cubit.

“Pasti rasanya sakit apabila aku cubit. Itu obatnya,” kataku setelah menciumnya.

Dia hanya meraba-raba pipinya dan tersenyum malu. Dia menunduk.

“Qian-aa. Kamu masih malu?” aku tertawa halus. Dia lalu tersenyum tipis.

“Aku.. kan memang pemalu,” katanya.

Aku memandanginya kagum. Kagum karena kecantikan dan kelemah lembutannya. Dibalik keanehannya, ada sisi lembut yang tidak terduga yang terselip pada dirinya.

Tampak Qian menyeka keringat di dahinya. Aku tersenyum kecil dan mengambil saputangan di sakuku. Lalu menyeka keringatnya dengan saputanganku.

“Memang kau tidak membawa sapu tangan atau handuk?” tanyaku sengaja menggodanya.

“Ahh.. aku lupa—“ katanya.

“Lupa, atau sengaja ingin diseka olehku?” aku menggodanya lagi.

Dia mulai malu-malu lagi. Dia menyingkirkan tangan dan sapu tanganku dari dahinya. Dia menarik nafas, lalu menghembuskannya dengan keras.

“Oke. Sekarang aku adalah Qian yang tidak malu-malu lagi,” katanya berkacak pinggang dan menatapku dalam-dalam.

Baru pernah aku merasakan dalamnya tatapan seorang Song Qian. Dia benar-benar menatapku dengan kedua mata hitamnya. Bersinar-sinar. Dia tersenyum tidak seperti biasanya. Dia tersenyum seperti—seperti penuh kemenangan (?).

“Mm—mmm.. oke, kalo begitu. Kau pasti sudah bukan Qian yang pemalu lagi,” kataku. Senyumku mulai hilang. Dan aku lenyap dari situ.

Nichkhun POV end

Qian POV

“Oke. Sekarang aku adalah Qian yang tidak malu-malu lagi,” kataku berkacak pinggang dan menatap Khunnie dalam-dalam.

Mungkin Khunnie baru pernah merasakan tatapan dalam mataku. Karena aku menatapnya tidak seperti biasanya. Dengan tertunduk.

“Mm—mmm.. oke, kalo begitu. Kau pasti sudah bukan Qian yang pemalu lagi,” katanya. Senyumnya mulai hilang. Dan dia lenyap dari tempatnya berdiri.

Dia berlari setelah menggenggam kedua tanganku sejenak. Berlari ke arah berlawanan dariku. Aku masih di tempat. Berbalik. Melihat punggung Khunnie yang kelihatan hangat. Dia masih menghadap ke arahku. Aku melambaikan tangan.

Aku mulai berpikir. Khunnie mungkin tidak suka dengan gadis yang pemalu. Jadi, aku tidak akan menjadi seseorang yang pemalu. Akan kucoba menjadi Qian yang berbeda.

Aku mengikuti Khunnie yang berlari kecil. aku meraih lengannya dan menyandarkan kepalaku di bahunya.

“Qian-aa,” dia memanggilku. Seakan tidak percaya apa yang aku lakukan sekarang.

“Emm?” aku memejamkan mata.

Khunnie tidak menjawab lagi. Dia menyandarkan kepalanya diatas kepalaku. Ya kan. Dia suka gadis yang tidak pemalu.

Qian POV end

Author POV

Pagi ini, tampak seorang gadis berambut pendek di balkon rumahnya. Dia memegang cangkir kopi sambil menikmati suasana pagi di perumahannya. Jauh dari Seoul. Jauh dari Korea Selatan. Dia tinggal di Jepang.

Namanya Ham Eun Jung. Dia adalah warga asli Korea Selatan. Tapi dia mengikuti orang tuanya untuk dinas.

Dia sekarang bukan menikmati pagi. Namun menikmati kebimbangan. Dia baru saja masuk SMA kelas 1. Tetapi, dia bosan dan ingin pindah sekolah. Sebenarnya keluarganya mampu untuk menyekolahkannya di luar negeri. Amerika misalnya. Namun, setelah ditawarkan akan pindah sekolah kemana, Eun Jung memilih Korea Selatan. Kampung halamannya.

“Eun Jung-aa,” panggil ibunya.

Eun Jung tidak menjawab namun dia segera meletakkan cangkirnya di meja dan berjalan santai mendekati ibunya.

“Ne, omma?” Eun Jung tersenyum kepada ibunya.

“Kau—benar benar akan pindah ke Korea besok?” tanya ibunya.

Eun Jung mengangguk.

“Sekarang segera bersiap.”

“Ibu—ikhlas aku pergi kesana?” tanya Eun Jung tidak yakin atas perintah ibunya.

Gantian ibu Eun Jung yang mengangguk.

Eun Jung segera menuju ke kamarnya. Tetapi, di depan kamarnya, dia berhenti sesaat. Dia memandangi sebuah foto.

“Appa. Aku akan pulang ke Seoul,” katanya setengah berbisik.

Tiba-tiba pembantunya yang bernama Kiyoshi keluar dari dapur. Dia tersenyum ke arah Eun Jung.

“Tolong jaga ibu baik-baik,” kata Eun Jung menepuk bahu Kiyoshi.

Kiyoshi mengangguk.

Author Pov end

Eun Jung Pov

“Appa. Aku akan pulang ke Seoul,” kataku setengah berbisik.

Tiba-tiba pembantuku yang bernama Kiyoshi keluar dari dapur. Dia tersenyum ke arahku.

“Tolong jaga ibu baik-baik,” kataku sambil menepuk bahu Kiyoshi.

Kiyoshi mengangguk.

Aku masuk ke kamar setelah Kiyoshi meninggalkan aku. Setelah masuk kamar, aku langsung menyambar koper besar berwarna coklat dan meletakkannya di atas kasur. Setelah itu, aku buka lemari bajuku dan menyambar semua pakaianku. Lalu menyambar buku-buku sekolahku. Dan semuanya yang merupakan milikku.

Tak lupa. Kamera kesayanganku yang telah menemaniku keliling Jepang. Ia akan kubawa untuk menyimpan memori di Seoul dan untuk membuatku teringat oleh Tokyo juga.

Barang-barang sudah siap untuk dibawa besok. Aku menutup pintu kamar dan segera masuk kamar mandi untuk mandi. Setelah mandi, aku berencana langsung tidur. Ibu pasti akan membangunkanku pagi-pagi sekali.

Eun Jung POV end

Author POV

Di klinik, Minho dan Jin Ah duduk di ruang tunggu. Jin Ah tertunduk, cemas akan keadaan ibunya. Sementara itu, Minho duduk dengan santai di sebelah Jin Ah. Minho sesekali melirik ke arah Jin Ah. Sesekali juga menarik nafas dan menghembuskan nafas dengan keras.

“Jika kau lelah, kau boleh pulang. Aku tidak mengharuskan kau menemaniku disini,” kata Jin Ah mengangkat kepalanya.

“A—aku tidak lelah. Hanya saja khawatir akan ibumu,” kata Minho.

“Mm.. ibuku telah membuatmu khawatir. Aku juga khawatir,” kata Jin Ah lagi.

Suasana sekarang hening. Jin Ah menyandarkan punggungnya di punggung kursi. Dia meluruskan kakinya dan melipat tangannya. Minho dengan santai meletakkan tangan di bawah kepalanya.

Tidak lama kemudian, ayah dan Im Ju Hwan muncul di ruang tunggu. Jin Ah dan Minho segera menghamipiri ayah dan Im Ju Hwan yang bermuka kusut.

“A—ada apa dengan ibu, Ayah?” tanya Jin Ah khawatir.

“D-dia sakit—“ kata ayah Jin Ah tidak bisa melanjutkan.

“Sakit apa, Ahjussi?” tanya Minho yang juga penasaran.

Jin Ah menanti-nanti jawaban ayahnya dengan mata yang berkaca-kaca.

“TBC. Kata dokter, dia tidak lama lagi—“ ayah mulai menangis.

Jin Ah hanya bisa melongo dan membelalakkan matanya. Dia meneteskan airmatanya. Dia tidak percaya apa yang dikatakan ayahnya barusan.

“TBC?” tanya Minho kurang percaya.

“Yap,” kata Ju Hwan ikut-ikutan lemas. Dia mulai duduk di kursi di ruang tunggu dengan lemas juga.

“Ib—ibu tidak pernah memberitahuku tentang ini, Yah,” kata Jin Ah sedikit serak.

“Kepadaku juga tidak, Jin Ah-yya,” kata ayah memeluk Jin Ah erat-erat.

Minho hanya bisa merasakan kepedihan yang mendalam yang dirasakan oleh Jin Ah sekeluarga. Dia hanya berdiri diam, melihat Jin Ah dan ayahnya yang luput dalam kesedihan.

“Ahjussi, bolehkah aku masuk menemui Nyonya Im?” tanya Minho.

Ayah Jin Ah melepaskan pelukannya dengan Jin Ah dan mengangguk pelan. Jin Ah langsung berjalan cepat menuju kamar ibunya. Diikuti oleh Minho dibelakangnya.

Setelah sampai di depan kamar, Jin Ah membuka pintu dengan sangat halus dan masuk secara perlahan. Dia menemukan ibunya tiduran di kasur klinik. Ibunya tersenyum kepadanya. Jin AH membalas senyuman ibunya dengan senyum yang paling manis yang pernah dia berikan seumur-umur.

“Jin Ah-yya,” panggil ibunya saat ia dan Minho duduk di samping tempat tidur.

Jin AH menggenggam erat tangan ibunya. Minho hanya dapat melihat. Minho melihat pemandangan yang sangat menyentuh hatinya.

“Omma-yya. Wae? Kenapa tidak memberitahuku?” Jin Ah hampir menangis.

Nyonya Im hanya diam. Jin Ah menangis.

“Jin Ah-yya. Apa kau mau mengabulkan permintaanku sebelum aku pergi?” tanya Nyonya Im.

Air mata Jin Ah bertamabah deras dan tidak bisa berkata apa-apa.

“Aku minta kau sekolah di Daebak. Aku ingin kau bisa bersekolah disana. Daebak memang pantas untukmu. Jangan pikirkan uang sekolah. Pikirkan masa depanmu. Jangan menengok ke belakang,” kata Nyonya Im sesenggukan.

Mata Minho berkaca-kaca.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s