Grade 2-2 Part 2

Image

Title : Grade 2-2 / Love Love Love

Rating : PG-15

Genre : Romance School

Author : jaebyeong

Main Cast :

Nana After School

Nichkhun 2PM

Minho SHINee

Victoria f(x)

Jiyeon T-Ara

Yoo Seung Ho

Suzy Miss A

Wooyoung 2PM

Other Cast

-cari sendiri ajah yaa… hehe banyak banget-

enggak banyak ngomong deh author. eh, comment like oxygen buat author loh yah. butuh oxygen nih, patah atiii *hikz. terima kasih untuk pixlr.com buat poster nya. gue sendiri sih yang ngeoperasiin. tapi yah emang harus berterima kasih soalnya udah menyediakan media yang berguna banget buat dakuuh.

selamat membacaa….. ^,^

 

DAEBAK,,, oh DAEBAK. Tes masuk Daebak akan dimulai hari ini. Tampak SMA Daebak sangat sibuk mempersiapkan segalanya. Banyak sekali yang akan mendaftar sekolah favorit di Seoul dan di dunia juga.

Akhirnya Im Jin Ah pergi mendaftar juga ke Daebak. Bersama dengan Choi Minho, dia mendaftar di Daebak.

Jin AH POV

Aku sudah sampai di Daebak bersama Minho dengan motornya. Saat Minho memakirkan motornya, aku melihat siluet yang sangat aku kenal. Benar-benar aku kenal. Dia adalah…

“KIM YOU JIN!” panggilku berharap benar-benar Kim You Jin.

Orang yang aku panggil menengok ke arahku. Wah, ternyata benar You Jin. Feelingku memang sangat benar. Hanya melihat dari cara berjalan saja aku tahu.

Kim You Jin menghampiriku saat Minho selesai memarkirkan motornya. Aku dan Kim You Jin berpelukan. Setelah itu, aku perkenalkan You Jin dengan Minho.

“You Jin, ini Minho. Minho, You Jin,” kataku kepada keduanya.

Mereka berdua bersalaman. Bersamaan dengan datangnya seseorang yang aku tidak kenal. Seorang anak lelaki tampan yang merangkul Minho. Senyumnya membuatku tertarik. Sumpah, senyumnya manis. Matanya sipit, hampir bersentuhan dengan poninya yang berwarna coklat keemasan.

“Hello, Minho-yya!” kata orang tadi, merangkul Minho.

Minho terkejut dan menoleh ke samping. Dia tersenyum lebar.

“Hi, Horvejkul!” seru Minho menjitak kepala seseorang yang ia sebut Horvejkul.

“Hor—horpec.. apa?” You Jin kebingungan. Aduh, dia malu-maluin.

“Horvejkul. Nama lengkapnya Nichkhun Buck Horvejkul,” Minho menjelaskan.

Aku manggut-manggut sendiri dan melirik ke arah seseorang bernama Horvejkul tadi.

“You Jin, Jin Ah.. ini adalah Horvejkul tungsaeng, dan—“ kata-kata Minho terputus setelah mendapat tepukan keras di punggungnya dari Horvejkul.

“Appo—“ rintih Minho.

“Memangnya aku siapa? Kau panggil aku tungsaeng?” tanya Horvejkul.

Minho hanya mengusap-usap punggungnya. You Jin hendak bertanya. Namun aku injak kakinya. Karena aku tahu, pasti dia tanya yang tidak-tidak.

“Panggil saja aku Nichkhun—“ kata Horvejkul. Maaf, namanya sekarang ganti. Jadi Nichkhun.

“Atau boleh panggil Khunnie,” lanjut Minho yang disambut dengan tepukan di punggungnya lagi.

Ah, imut sekali namanya. Khunnie? Kyuu… imut sekali. Cocok untuk tipe wajah seperti Nichkhun. Mata sipit, alis tebal. Aku semakin tertarik dengan Nichkhun.

“Khunnie adalah panggilan yang diciptakan oleh Qian tauk!” kata Nichkhun.

“Qian? Siapa Qian?” tanya You Jin penasaran.

“Haha.. Qian, Song Qian adalah pacarnyaa-“ kata Minho enteng.

Krek.. dia sudah punya pacar? Tuhaann.. kenapa harus punya pacar sih?

Aku hanya melihat reaksi Nichkhun yang kelihatan sangat percaya diri dengan apa yang dikatakan Minho. Dengan tidak sengaja aku melihat matanya sangat bersinar-sinar. Mirip mata anak kucing. Tiba-tiba dia melihat ke arahku. Aku cepat-cepat membuang pandanganku.

Jin Ah POV end

Nichkhun POV

“Khunnie adalah panggilan yang diciptakan oleh Qian tauk!” kataku.

“Qian? Siapa Qian?” tanya You Jin tampak penasaran.

“Haha.. Qian, Song Qian adalah pacarnyaa-“ kata Minho enteng.

Aku tertawa ketika mendengar apa yang diucapkan Minho barusan. Tapi aku seperti tidak ingin semua orang tahu kalau Qian adalah pacarku.

Aku merasa diperhatikan. Ahh, ternyata Im Jin Ah memperhatikanku sejak tadi. Aku menangkap basah tatapannya. Aku melihatnya sedang melihatku dengan tatapan putus asanya tadi. Ketika aku melihatnya, dia hanya membuang pandangannya ke gerombolan anak-anak yang lain.

“Yuk masuk!” ajak Minho merangkulku,”kita ‘kan sekelas.”

“Tes? Sekelas denganmu?” aku kaget.

“Ruang berapa?” tanya You Jin yang mulai berjalan di depanku dan Minho. Dia berjalan beriringan dengan Im Jin Ah.

“Emm.. ruang 11. Kamu?” kataku berbarengan dengan Minho.

“Samaa. Kamu Jin Ah-yya?” tanya You Jin menghadap ke depan lagi.

Tidak lama kemudian, You Jin berteriak girang. Mungkin karena kami berempat sekelas. Kim You Jin mungkin anak yang cepat sekali bergaul. Baru saja tadi berkenalan denganku, dia sudah merasa akrab denganku. Pernyataan tadi tidak sama sekali menggangguku.

Nichkhun POV end

Di klinik…

Author POV

Di kamar Nyonya Im, tidurlah Nyonya Im. Disebelah tempat tidurnya, duduk Im Ju Hwan dan Tuan Im. Mereka sangat gelisah akan penyakit Nyonya Im.

Tidak lama, Nyonya Im bangun sambil terbatuk-batuk. Ah, dia mengeluarkan darah lagi. Tentu saja membuat Im Ju Hwan dan Tuan Im khawatir sampai memanggil dokter.

“STOP!” Nyonya Im mencegah Tuan Im memanggil dokter. Tuan Im pun berdiri di ambang pintu.

“Sudah tidak ada gunanya lagi memanggil dokter. Ini—“ Nyonya Im batuk-batuk lagi. Im Ju Hwan menyuruh Tuan Im cepat memanggil dokter.

Saat dokter sampai disana, Nyonya Im muntah darah. Ju Hwan membantu Nyonya Im untuk tiduran. Dokter dengan cepat memeriksa detak jantung Nyonya Im.

“Detak jantungnya sangat lemah,” kata dokter terlihat putus asa.

Im Ju Hwan dan Tuan Im berhadapan. Mereka kaget ketika dokter mengatakan itu. Nyonya Im memejamkan matanya dan berkomat-kamit tidak jelas. Seketika, mesin penunjuk detak jantung menunjukkan garis lurus.

___

Di Daebak…

Im Jin Ah keluar dari kelas bersamaan dengan Kim You Jin. Dia tampak lega karena sudah menyelesaikan tes tertulis. Tinggal besok, tes praktik.

“Wuaa… aku lega sekali, You Jin-aa—“ kata Jin Ah sambil ngulet.

“Emm.. aku juga. Tapi, aku sedikit takut,” kata You Jin tidak seperti biasa.

“Wae?” tanya Jin Ah membulatkan matanya.

“Soalnya susah sekaliii—“ kata You Jin putus asa.

“Yya, kita tidak boleh putus asa tauk!” kata Jin Ah merangkul sahabatnya itu.

Tiba-tiba, Minho dan Nichkhun muncul di depan mereka. Minho mengajak Jin Ah pulang. Sementara itu Nichkhun dijemput oleh ayahnya. Dan—You Jin tinggal berjalan kaki ke seberang. Rumahnya ada di seberang SMA Daebak.

“Yuk, pulang!” ajak Minho kepada Jin Ah.

“Yuk!” Jin Ah memakai helm-nya dan segera menuju ke parkiran motor bersama Minho.

Setelah sampai di parkiran, tanpa ba-bi-bu lagi, Minho langsung menyalakan mesin dan berangkat setelah Jin AH naik.

Author POV end

Nichkhun POV

Aku sudah dijemput setelah Choi Minho, Im Jin Ah dan Kim You Jin pulang. Aku langsung masuk ke dalam mobil dan menceritakan semua yang aku lakukan. Teman baru, teman lama, soal tes dan jawabanku.

“Kau tidak bertemu dengan Song Qian, ya?” tanya ayahku setelah aku menceritakan semuanya.

“Tidak. Ahh, aku lupa. Dia juga mendaftar di Daebak. Apa dia tadi kesana?” tanyaku khawatir.

“Tidak perlu khawatir, anakku. Dia mendaftar. Tetapi dia tidak ikut tes tertulis. Yah, karena bakat melukisnya dia langsung diterima tanpa tes tertulis. Dia hanya akan mengikuti tes praktik.”

Aku mengambil nafas lega. Sangat lega. Huh, memang Qian adalah pacar yang paling membuatku khawatir seumur-umur.

Song Qian adalah pacarku yang ketiga. Yang pertama adalah anak Thailand asli. Nama samarannya adalah NM. NM adalah cinta pertamaku. Kami hanya berpacaran selama 3 minggu. Karena NM menderita leukimia. Dia telah—telah pass away.

Selanjutnya, yang kedua adalah HJ. Dia adalah gadis yang sangat cerdas, berpengetahuan luas. Dia sangat dewasa. Kami berpacaran selama 7 bulan. Karena dia memutuskan untuk tidak berpacaran terlebih dahulu dan pergi ke Australia.

Dan yang ketiga adalah Song Qian. Gadis yang sangat awet denganku. Dia sangat halus dan pemalu. Matanya sangat indah dan selalu berbinar-binar ketika bertatapan denganku. Memang sangat manis. Tetapi dia akan sangat mengerikan apabila sedang marah. Sudah kurang lebih 1 tahun kami berpacaran. Mungkin dia memang gadis yang aku butuhkan.

Tiba-tiba pikiranku melayang ke Im Jin Ah. Baru saja aku mengenalnya. Tapi aku sudah merasakan betapa tajam tatapannya tadi. Mirip Qian apabila sedang marah. Mata mereka berdua sangat mirip.

Nichkhun POV end

Jin Ah POV

Aku dan Minho langsung menuju klinik tempat ibu dirawat. Aku melihat banyak tetangga menangis di depan klinik, di sebelah klinik. Mereka mengenakan baju serba hitam. Terlihat juga ayah dan Ju Hwan oppa di dalam sedang menangis.

Melihat ini aku segera masuk ke klinik. Menanyakan hal apa yang telah terjadi.

“Appa! Oppa! I—ini apa-apaan?” tanyaku berharap sesuatu tidak terjadi kepada ibuku.

Aku merasakan Minho ada di belakangku.

“Jin Ah-yya.. ibu—“ Ju Hwan oppa tergagap.

Aku mulai menutup telingaku dengan kedua tanganku. Aku membaca karangan bunga yang terdapat persis di depan mataku. Ibu—

Kakiku terasa lemas setelah membaca nama ibu di karangan bunga tadi. Aku terduduk dan menangis. Tangisku semakin menjadi-jadi ketika Ju Hwan oppa memelukku erat-erat. Betapa jahat ibu meninggalkan kami semua! Mengapa ini harus terjadi kepadaku? Mengapa terjadi sekarang? Kenapa?

Badanku masih terasa lemas ketika aku memberi penghormatan terakhir untuk ibu. Aku melihat foto ibu yang terletak di sebelah guci kecil yang mungkin berisikan abu milik ibu. Ibu tersenyum dalam foto itu. Sangat ingin melihat senyumnya, Tuhan.

Setelah memberi penghormatan terakhir, aku tidak langsung pulang. Aku pergi menyendiri di Sungai Han. Aku biasa menyendiri disini. Aku biasa menenangkan diri disini. Bisa tenang karena disini tenang. Tidak ada yang tahu aku disini sekarang. Kecuali Tuhan tentunya.

Aku duduk di tepi Sungai Han. Langit sudah mulai gelap. Tetapi aku tidak peduli. Aku terus memandangi air tenang di Sungai Han. Sesekali aku meneteskan air mata dan melempar kerikil ke air.

#NP : Falling – Park Jin Young

Di Sungai Han sudah mulai ramai. Banyak memang orang yang memilih Sungai Han sebagai objek pacaran yang romantis. Aku mulai berjalan meninggalkan Sungai Han. Tetapi saat aku berjalan pulang, aku menemukan motor Minho.

“C10?” aku mendesis.

Aku melihat ke sekeliling. Ahh, itu dia Choi Minho. Duduk di bangku panjang yang berada di tepi sungai Han. Dia tampak mencari seseorang. Mungkin dia mencariku. Tapi, aku sedang tidak berselera untuk menghampirinya sekarang. Jadi aku melanjutkan berjalan ke rumah.

Tapi tiba-tiba aku mendengar suara Minho memanggilku dari kejauhan. Aku mendengar langkah kakinya yang berlari kecil menuju ke arahku. Aku sangat berharap dia tidak mengusik perasaanku.

“Jin Ah-yya,”Minho muncul di depanku persis. Dia tersenyum kecil. matanya berkaca-kaca.

“Minho-yya, aku sedang tidak ingin bertemu dengan siapapun hari ini. Tolong—“ tenggorokanku tercekat seketika karena Minho memelukku dengan sangat erat.

“Jin Ah-yya—“ dia memanggilku lagi dengan suara yang serak.

“Minho-yya. Kenapa? Kau menangis?” tanyaku. Aku mulai mengelus-elus punggungnya.

Jin Ah POV end

Minho POV

“Jin Ah-yya,”aku muncul di depan Jin Ah persis. Aku tersenyum tipis.

“Minho-yya, aku sedang tidak ingin bertemu dengan siapapun hari ini. Tolong—“ dia menolak untuk bertemu denganku. Tetapi aku segara memeluknya dengan erat.

“Jin Ah-yya—“ aku memanggilnya lagi dengan suara yang serak.

“Minho-yya. Kenapa? Kau menangis?” tanyanya. Dia mulai mengelus-elus punggungku.

Aku tidak mungkin memberi tahu yang sebenarnya kepada Im Jin Ah. Bahwa—

Saat Nyonya Im hamil, ayah meninggalkannya begitu saja. Karena dia memang orang yang tidak bertanggung jawab. Ayah menikah dengan ibu dan tinggal jauh dari desa. Yaitu ke Seoul. Dan Nyonya Im sendiri, meratapi nasibnya sampai akhirnya dia menikah dengan ayah kandung Im Jin Ah dan pindah ke Seoul.

Ayah kandung Jin Ah adalah Tuan Im yang sekarang. Tuan Im dan Nyonya Im menikah saat Nyonya Im mengandung bayi yang bayi itu adalah aku sendiri. Setelah menikah dengan Tuan Im, Nyonya Im melahirkanku yang baru saja berusia 7 bulan.

Aku yang berusia 7 bulan terpaksa dirawat oleh Nyonya Im dan Tuan Im selama 2 tahun. Baru setelah itu, mereka menyerahkanku kepada ayah. Tetapi ibu tidak terima atas kehadiranku. Kehadiranku di tengah-tengah mereka berdua menimbulkan konflik yang sangat besar, hingga mereka bercerai sewaktu aku berumur 5 tahun.

Sejak aku berumur 5 tahun, aku diasuh oleh ayah sendiri. Dan secara tidak sengaja, ayah dengan Nyonya Im bertetangga sampai sekarang. Ayah menjadi kurang enak dengan keluarga Im dan berusaha baik di hadapan keluarga Im.

Setelah aku lahir, 1 bulan kemudian Nyonya Im mengandung Im Jin Ah. Dan baru aku tahu, bahwa Im Ju Hwan hyung bukan anak kandung dari Tuan Im dan Nyonya Im. Mereka mengadopsi Ju Hwan hyung tanpa sepengetahuan Ju Hwan hyung.

Aku mengetahui ini ketika aku secara tidak sengaja melihat buku harian dan foto ayah sewaktu masih muda. Aku yang waktu itu berumur 13 tahun merasa kecewa dengan ayah dan kurang enak dengan keluarga Im.

aku memang pernah bertemu dengan Nyonya Im. Sewaktu aku dan ayah berkunjung ke rumah Nyonya Im dan Tuan Im, aku terus memandangi wajah Nyonya Im yang cantik. Tidak kusangka ibu yang melahirkanku adalah ibu kandung dari Im Jin Ah juga.

Selain aku memandangi Nyonya Im, aku juga melihat ke arah Ju Hwan hyung yang hanya beda 2 tahun denganku dan 2 setengah tahun dengan Jin Ah. Aku selalu bermain dengannya dulu. Dia sangat menyenangkan dan mengasyikkan. Dia memiliki mata yang ramah dan senyum yang sopan.

Berbeda dengan Jin Ah yang memiliki tatapan mata yang sinis kepada seseorang yang belum pernah dia kenal. Tetapi dia juga memiliki tatapan mata yang menyenangkan kepada seseorang yang sudah sangat ia kenal. Senyumnya terkadang sangat nakal, sesuai dengan perilaku dan sifatnya yang jahil dan aktif.

 

Author POV

Esoknya, di rumah keluarga Im…

Im Jin Ah sama sekali tidak mau keluar kamar. Apalagi keluar rumah. Sama sekali tidak. Dia merasa lebih tenang di kamar. Sambil membaca-baca novel yang ia pinjam dari Kim You Jin, ia mencoba tidak terlalu menyalahkan ibunya.

Dia mendengar ayah dan Ju Hwan oppa berbicara dengan seseorang. Sepertinya bukan seseorang. Melainkan 2 orang.

Ternyata 2 orang itu adalah Minho dan You Jin. Jin Ah tau itu karena dia hafal sekali dengan suara mereka. Jin Ah mencoba untuk mengacuhkan segalanya yang berada di sekitarnya.

“Tuan, mm—apa Jin Ah baik-baik saja?” tanya You Jin dengan sangat halus kepada Tuan Im.

Tuan Im tersenyum,”Baik-baik saja. Hanya sedikit terpukul. Dia sama sekali tidak mau keluar dari kamar,” katanya.

Minho mengangguk kecil. dia tahu persis bagaimana kehilangan seorang ibu kandung. Dia pun merasakannya. Tiba-tiba Tuan Im melihat ke arahnya. Dia hanya bisa menunduk.

“Minho itu—anak yang sangat tegar, ya,” kata Tuan Im tiba-tiba.

You Jin tidak mengerti,”Kenapa Tuan?” tanyanya.

“Haha.. tidak apa-apa. Soalnya—Nyonya Im dan Choi Minho itu sangat dekat. Im Jin Ah dan Choi Minho itu dekat dari kecil,” kata Tuan Im berusaha tidak membocorkan sesuatu.

“Ohh—jadi, gimana Minho-yya?” tanya You Jin menyenggol lengan Minho.

Minho kaget,”Hah?” dia menengok ke arah You Jin yang tingginya sekitar di bawah bahunya.

“Hah? Kok malah ‘hah’?” You Jin bingung.

“Mm—oh ya Tuan. Kami ingin mengajak Jin Ah tes praktik di Daebak,” kata Minho.

Tuan Im hanya menggelengkan kepala. Dia terlihat putus asa.

“Sudah pasti dia tidak mau. Dia memang sedang butuh sendiri. Apa susulan tidak bisa?” tanyanya.

“Kayaknya bisa, Om.” Kata You Jin,”Om, kami—turut berduka cita.”

Tuan Im mengangguk dan tersenyum. Tatapannya menuju ke arah Choi Minho. Tatapan tadi dirasakan juga oleh Kim You Jin. You Jin merasakan ada suasana yang aneh disini.

Di Daebak, Minho dan You Jin bertemu dengan Nichkhun. Seperti biasa, mereka menggerombol lagi. Tapi, kali ini tidak ada Im Jin Ah. Dan posisi Jin Ah digantikan oleh Qian. Song Qian.

“Wuaa—inikah yang namanya Song Qian?” seru You Jin setelah datang di gerombolan Nichkhun.

“Emm.. iya. Ini Qian. Qian, ini Kim You Jin,” kata Nichkhun tersenyum.

“Ooh.,” Qian menyambut uluran tangan You Jin,”…dan mana yang satunya lagi?”

Minho dan You Jin saling menatap.

“Di—dia…” You Jin bingung.

“Dia masih berduka dengan ibunya yang baru saja pass away kemarin,” kata Minho menyambung kata-kata You Jin.

“Ooh.,” Qian sekali lagi mengucapkan kata ‘oh’.

Nichkhun lalu mengajak mereka bertiga masuk ke ruang praktik. Parktik kali ini adalah praktik story telling.

Author POV end

Jin Ah POV

Aku masih terpukul atas kepergian ibu. Aku masih ingin melampiaskannya dengan sendiri. Jadi aku memutuskan untuk tidak mendaftar ke Daebak. Lebih baik aku bekerja daripada aku bersekolah disana. Uang SPP-nya sangat mahal. Masuk kesana sama saja aku membunuh ayah dan Ju Hwan oppa.

Ju Hwan oppa masuk kamarku. Ahh, aku lupa mengunci kamar. Fuuh.. memang cerdik kakakku yang satu ini.

“Permisi, Nona Penyendiri—“ kata Ju Hwan oppa berusaha menghiburku.

Aku masih duduk di tepi ranjang ketika oppa masuk. Ju Hwan oppa lalu duduk di sampingku.

“Tadi Minho dan… dan—“ Ju Hwan oppa ternyata tidak mengenal You Jin.

“Kim You Jin?” aku tertunduk.

“Ne, Kim You Jin. Aku tidak yakin dia You Jin. Dia sudah berubah menjadi gadis kalem yang manis,” kata Ju Hwan oppa sendirian (mungkin).

“Hah?” aku tidak percaya dengan apa yang dikatakan Ju Hwan oppa. Aku lalu menengok ke arah Ju Hwan oppa dan tertawa terbahak-bahak.

“Yo! Girl! Kalo kamu ketawa, baru namanya Im Jin Ah,” kata Ju Hwan oppa bergaya seperti rapper.

“Memangnya kalo nggak ketawa, bukan Im Jin Ah?”

“Kalo nggak ketawa, berarti Im Ju Hwan.”

“Ish? Sok cool Oppa!”

“Emang cool ‘kan?”

Aku memukul bahu Ju Hwan oppa.

“Bisa ‘kan kamu enggak terlalu sedih buat Ibu?” tanya oppa.

Aku hanya diam. Ju Hwan oppa duduk lebih dekat denganku.

“Kalo sedihnya sampai seperti ini, namanya lebay. Lebay itu membesar-besarkan sesuatu. Hidup itu dibikin enteng. Gak usah yang dibikin besar-besaran, berat. Emang sih Life is Never Flat. Tapi Never Flat-nya itu.. dibikin hepi,” kata Ju Hwan oppa menerawang ke langit-langit kamar.

“Emm.,” aku masih mencerna perkataan Ju Hwan oppa.

“Tes praktik tadi kamu enggak ikut. Sayang banget,” kata Ju Hwan oppa.

“Iya sih. Tapi ‘kan besok ada susulan.”

“Kata siapa?”

“Kata You Jin.”

“You Jin tadi kesini. Katanya pengumuman besok. Enggak ada yang namanya susulan.”

Aku kaget setengah mati,”HAH? Jadi, aku—aku enggak kabulin permintaan ibu yang terakhir?”

“Apa—itu permintaan ibu?” Ju Hwan oppa ikut-ikutan panik.

“DUH! Gimana nih?” aku panik.

Ju Hwan oppa keluar karena panik. Dia teriak-teriak kepada ayah memberi tahu apa yang terjadi. Lalu terdengar ayah mengatakan sesuatu dengan santai. Ju Hwan oppa pun reda.

Jin Ah POV end

Author POV

Esoknya…

SMA Daebak tidak seperti biasa. Ramai dengan anak-anak. Tapi anak-anak ini bersama dengan orang tuanya. Jadi terlihat lebih banyak dari biasanya. Anak-anak menggerombol di papan pengumuman. Yah, ini berlaku bagi yang suka nggerombol. Nichkhun, Qian, Minho, dan You Jin sudah berada disana dari pagi-pagi sekali.

“Sebentar—aku akan mencari namaku!” You Jin ngebet.

Jari-jari You Jin menyapu semua nama. Sampai akhirnya berhenti di sebuah nama. KIM YOU JIN DINYATAKAN MASUK DAEBAK. Pernyataan ini membuatnya sangat bahagia sampai-sampai membuat rusuh.

Selanjutnya adalah giliran Qian. Qian dengan teliti melihat nama-nama yang marganya Song. Tentu saja dia mencari dari atas. Dan betul. Dia diterima. Dia hanya tersenyum bangga dan memeluk erat-erat Nichkhun.

Selanjutnya lagi adalah Nichkhun. Dia benar-benar khawatir. Dia tidak yakin dirinya masuk Daebak. Dia melihat dari bawah nama-nama yang berhuruf dengan ‘N’. Tiba-tiba dia berhenti menunjuk satu nama. NICHKHUN BUCK H. Dinyatakan menjadi cadangan. Dia benar-benar tidak tahu maksud cadangan tadi.

“Qian-aa. Cadangan itu maksudnya apa?” Nichkhun bertanya kepada Qian.

“Kau cadangan keberapa?” tanya Qian balik.

Nichkhun kembali melihat papan pengumuman. Lalu kembali ke hadapan Qian.

“Satu,” kata Nichkhun pendek.

“Emm.. masih ada kemungkinan masuk, Khunnie!” Qian terlihat senang.

Sekarang giliran Minho. Terlebih dahulu dia mencari nama Im Jin Ah. Dia menemukan nama Jin Ah berada di paling bawah. Dan dinyatakan tidak masuk Daebak. Minho langsung keluar dari kerumunan.

Nichkhun, Qian dan You Jin melihat tingkah Minho yang aneh tadi. Tapi, mereka tidak mengerti mengapa Minho keluar dari kerumunan dan pergi meninggalkan mereka bertiga menuju halte bus di depan.

Author POV end

Jin Ah POV

Aku masih panik akan yang dikatakan Ju Hwan oppa kemarin. Aku sekarang sedang menunggu bus di halte bus dekat perumahan.

Ahh, itu ada bus. Aku akan langsung masuk, tetapi seorang pria menubrukku sampai aku terjatuh dan lari begitu saja. Aku berdiri lagi dan mengacuhkan orang tadi. Aku masuk kedalam bus dan duduk di paling depan.

Kertas di tanganku sudah sangat kucel karena sedari tadi menggulung-gulung kertas ini. Ini adalah kertas yang berisikan cerita untuk aku sampaikan nanti di depan kepala sekolah Daebak. Aku masih khawatir dan gugup. Tapi setelah melihat SMA Daebak, aku berusaha untuk menyembunyikan kepanikanku.

Aku turun dari bus dan menyeberang ke Daebak. Hmm—memang ramai dan lebih ramai dari sebelumnya. Waa.. aku menemukan panggung dan mic yang kira-kira nanti pasti akan jadi tempat sambutan kepala sekolah.

Aku segera ke kantor kepala sekolah dengan langkah yang santai. Berusaha untuk menjadi anak yang permberani dan tidak lebay. Itu… aku mengutip dari perkataan Ju Hwan oppa (hehe).

Aku mengetuk pintu ruang kepsek. Dan kepsek pun mempersilahkan aku masuk.

“Siapa? Ada apa?” kepsek tidak melihat ke arahku setelah aku membuka pintu ruangnya.

Aku sengaja tidak mengatakan apapun sebelum wanita ini melihat ke arahku. Benar saja, wanita itu melihatku dan membenarkan kacamatanya.

“Aku—adalah Im Jin Ah, siswa yang…” kataku terputus karena dia membuka mulutnya.

“Im Jin Ah yang peringkat paling bawah?” katanya melepas kacamatanya.

Sepertinya aku mengenal wanita ini. Aku segera mengingat-ingat wajahnya yang mirip seseorang.

“Tidak kusangka, kita bertemu disini Nona Im,” katanya lagi mendekatiku.

Aku melihat matanya baik-baik. Sangat mirip dengan—ah, aku ingat. Dia adalah…….

___________________________________-

hoeks..

penasaran? baca part selanjutnya yah.. maaf kalo gaje..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s