Grade 2-2 Part 3

Image

Title : Grade 2-2 / Love Love Love

Rating : PG-15

Genre : Romance School

Author : jaebyeong

Main Cast :

Nana After School

Nichkhun 2PM

Minho SHINee

Victoria f(x)

Jiyeon T-Ara

Yoo Seung Ho

Suzy Miss A

Wooyoung 2PM

Other Cast

-cari sendiri ajah yaa… hehe banyak banget-

enggak banyak ngomong deh author. eh, comment like oxygen buat author loh yah. butuh oxygen nih, patah atiii *hikz. terima kasih untuk pixlr.com buat poster nya. gue sendiri sih yang ngeoperasiin. tapi yah emang harus berterima kasih soalnya udah menyediakan media yang berguna banget buat dakuuh.

selamat membacaa….. ^,^

Jin Ah POV

Aku masih panik akan yang dikatakan Ju Hwan oppa kemarin. Aku sekarang sedang menunggu bus di halte bus dekat perumahan. Ahh, itu ada bus. Aku akan langsung masuk, tetapi seorang pria menubrukku sampai aku terjatuh dan lari begitu saja. Aku berdiri lagi dan mengacuhkan orang tadi. Aku masuk kedalam bus dan duduk di paling depan.

Kertas di tanganku sudah sangat kucel karena sedari tadi menggulung-gulung kertas ini. Ini adalah kertas yang berisikan cerita untuk aku sampaikan nanti di depan kepala sekolah Daebak. Aku masih khawatir dan gugup. Tapi setelah melihat SMA Daebak, aku berusaha untuk menyembunyikan kepanikanku.

Aku turun dari bus dan menyeberang ke Daebak. Hmm—memang ramai dan lebih ramai dari sebelumnya. Waa.. aku menemukan panggung dan mic yang kira-kira nanti pasti akan jadi tempat sambutan kepala sekolah.

Aku segera ke kantor kepala sekolah dengan langkah yang santai. Berusaha untuk menjadi anak yang permberani dan tidak lebay. Itu… aku mengutip dari perkataan Ju Hwan oppa (hehe).

Aku mengetuk pintu ruang kepsek. Dan kepsek pun mempersilahkan aku masuk.

“Siapa? Ada apa?” kepsek tidak melihat ke arahku setelah aku membuka pintu ruangnya.

Aku sengaja tidak mengatakan apapun sebelum wanita ini melihat ke arahku. Benar saja, wanita itu melihatku dan membenarkan kacamatanya.

“Aku—adalah Im Jin Ah, siswa yang…” kataku terputus karena dia membuka mulutnya.

“Im Jin Ah yang peringkat paling bawah?” katanya melepas kacamatanya.

Sepertinya aku mengenal wanita ini. Aku segera mengingat-ingat wajahnya yang mirip seseorang.

“Tidak kusangka, kita bertemu disini Nona Im,” katanya lagi mendekatiku.

Aku melihat matanya baik-baik. Sangat mirip dengan—ah, aku ingat. Dia adalah…….

“Nyonya Choi?” aku menebak-nebak. Mendesis.

“Yap. Pasti kau mau bertanya kenapa kau tidak diterima,” katanya berkacak pinggang.

Kukira dia sudah pergi, hilang entah kemana. Kukira dia sudah tidak ada di Seoul.

Aku hanya diam. Aku masih menatap matanya yang menggunakan soft lense hias berwarna coklat emas. Rambutnya masih seperti yang dulu, keriting hitam. Sekarang dia berdandan seba blink. Mencolok. Aku tidak tahan dengan fashionnya yang kata Ju Hwan oppa lebay.

“Kau tidak ikut tes praktik. Makanya tidak diterima. Kalau berani, kau boleh demonstrasi disini. Pasti kau akan diolok-olok. Memang dasar anak pelacur!” katanya kasar.

Mataku panas dan tenggorokanku tercekat. Air di pelupuk mataku mungkin sudah akan tumpah menjadi air mata. Namun, aku cepat memandang ke langit-langit. Ini cara ampuh supaya tidak menangis. Cara ini kubaca di novel One Litre of Tears.

“Nyonya Choi, lihat saja nanti!” aku undur diri dari ruang kepsek dan mempersiapkan segalanya.

Jin Ah POV end

Minho POV

#NP : My Angel – Fly To The Sky

Aku berada di depan rumah Jin Ah. Lenganku sakit karena barusan menabrak seorang gadis sampai ia terjatuh. Aku merasa bersalah kepada gadis tadi. Mudah-mudahan dia memaafkanku.

Pintu rumah Jin Ah terbuka. Ju Hwan hyung yang membukanya.

“Jin Ah?” tanya Ju Hwan hyung yang dapat membaca pikiranku.

“Emm.,” aku mengangguk.

“Dia—dia sudah berada di Daebak,” katanya santai.

Tanpa berkata apapun kepada Ju Hwan hyung, aku berlari menuju Daebak. Kali ini aku benar-benar berlari. Mengacuhkan setiap bus yang lewat. Aku hanya berpikir bagaimana perasaan Jin Ah ketika dia tahu bahwa tidak ada tes praktik susulan baginya.

Setiap langkahku, aku korbankan untuk Im Jin Ah. Entah mengapa. Mungkin karena aku sayang. Tapi rasa ini benar-benar bukan untuk seorang adik. Tetapi—untuk seorang wanita yang aku cintai.

Aku mengacuhkan rasa lelah untuknya sekarang. Aku tidak dapat melihatmu dipermalukan ibu dihadapan orang lain. Tujuanku hanya satu. Menjagamu dari segalanya yang benar-benar membuatmu sakit.

Aku sudah dekat dengan SMA Daebak. Tapi aku mendengar seseorang sedang menceritakan sesuatu dengan bahasa inggris. Yap, suara Jin Ah. Aku percepat langkahku.

“… because of his kindness, the princess want to marry him. She was falling in love with the prince…” katanya fasih dan percaya diri di atas panggung.

#STP : My Angel – Fly To The Sky

Aku kagum dengannya. Aku lihat ibu ada di sampingnya. Dan penonton pun menikmati kisahnya. Aku menghampiri Nichkhun, Qian, dan You Jin yang sedang ternganga mendengarkan kefasihan bahasa inggris milik Jin Ah.

“Minhoo-yya!” You Jin memanggilku.

“Wah.. dia sangat fasih berbicara inggris,” kata Qian.

“Jelas,” You Jin mengacungkan jempol saat aku duduk di sebelahnya.

Kulihat Nichkhun tersenyum kecil melihat Jin Ah bercerita. Dia duduk dengan santai sambil melipat tangannya di dada. Seakan-akan mengerti apa yang Jin Ah sampaikan. Saat Jin Ah melontarkan humornya, ia tertawa. Saat Jin Ah menunjukkan suasana yang serius, dia benar-benar serius mendengarkan. Sampai akhirnya pertunjukkan Jin Ah selesai.

“Kupikir, dia bakal masuk Daebak,” kata Nichkhun santai.

“Harus,” kata You Jin menyetujui.

Aku mempunyai pendapat sebaliknya. Karena mungkin saja ibu tidak menerimanya. Kalau ibu sampai menerimanya, pasti—Jin Ah akan menjadi korban dari pelampiasannya.

Ibu tampak merebut mic dari tangan Jin Ah setelah penonton bertepuk tangan. Dia membuka mulutnya sambil terus tersenyum.

“Saya nyatakan, murid Im Jin Ah…” ibu menahan perkataan selanjutnya,”… masuk ke Daebak!”

Penonton bersorak. Apalagi Nichkhun dan You Jin. Qian dan aku hanya melihat suasana yang riuh ini dengan khawatir. Tampak Qian menyembunyikan rasa cemburunya kepada Im Jin Ah. Dia terpaksa berdiri menyambut Jin Ah yang datang ke gerombolan kami.

“You Jin-aa… aku diterimaaaaaaaaaa!!!” Jin Ah sangat senang.

Dia memeluk You Jin dan tertawa karena mungkin tidak percaya ibu sebaik tadi. Dia lalu memperhatikanku dan kembali tertawa normal dengan You Jin.

Minho POV end

Author POV

Im Jin Ah dan Choi Minho turun dari bus bersamaan. Mereka berdua lalu berjalan menuju perumahan. Tidak ada kata-kata yang terucap dari mulut mereka berdua. Hening. Bukan karena ini malam hari.

“Mm—aku baru tau kalo.. kalo ibumu adalah kepsek Daebak,” kata Jin Ah memecahkan keheningan.

Mereka berjalan lambat sekali. Minho hanya menghela nafas dan menghembuskannya keras keras.

“Aku juga baru tau kemaren kemaren,” Minho setengah berbisik.

“Gara-gara itu, kau masuk Daebak?” tanya Jin Ah penasaran.

“Haha.. bukan. Hanya ayah saja yang ingin menyekolahkanku disana.”

“Ohh…”

“Ap—apa kau.. suka Nichkhun?” tanya Minho mengalihkan pembicaraan.

#NP : Is This Love – BoA

Jin Ah kaget. Dia menengok ke arah Minho. Dia menatap mata Minho yang penuh tanda tanya. Dia tiba-tiba teringat ibu apabila melihat bola mata Minho.

“Wae? Aku hanya tanya saja. Kan—bukan berarti kau…” kata Minho.

Tiba-tiba Jin Ah nyengir. Mukanya memerah. Dia sudah normal kembali. Dia sudah mulai tersenyum.

“Kau tau saja..,” Jin Ah memukul bahu Minho.

Minho melihat Jin Ah aneh. Tetapi dalam hati dia senang. Dia dapat melihat Jin Ah yang seperti biasa. Selain senang, dia merasakan kekecewaan. Kecemburuan.

“Berarti.. benar-benar menyukai Nichkhun nih?” goda Minho mencolek pipi Jin Ah.

“Fuuhh.. tapi jangan bilang siapa-siapa yaa!” Jin Ah kembali ceria.

Jin Ah berjingkrak-jingkrak menuju rumahnya. Di depan rumahnya, dia melambaikan tangan kepada Minho yang terus berjalan. Dia tersenyum seperti dulu. Dan bahagia seperti dulu.

#STP : Is This Love – BoA

“Aku pulaaangg!” Jin Ah masuk ke rumah dengan ceria.

Ju Hwan dan Tuan Im memandangi Jin Ah aneh.

“Yya—nona penyendiri sudah tidak murung lagi?” Tuan Im berdiri dari tempat duduk dan mencowel hidungnya.

“Soalnyaa—“ kata Jin Ah masih pikir-pikir. Kasih tau enggak ya?

“Diterima ‘kan?” Ju Hwan menerka-nerka.

“Itu sih udah pasti!” Tuan Im yakin.

“Soalnyaa.. ada Thai Prince!” Jin Ah melompat.

“THAI PRINCE?” Ju Hwan dan Tuan Im kaget.

“Emm.. anak cowok yang daftar ke Daebak. Ganteng banget. Terus dia asli dari Thailand. Sayaang…”

“SAYANG?” Ju Hwan dan Tuan Im penasaran.

“Dia.. udah punya pacarr!” Jin Ah duduk lemas di ruang makan.

“Pacarnya seperti apa? Biar aku pacari!” Ju Hwan duduk di sebelah Jin Ah.

“HEH! Kau lulus saja belum! Mau pacaran bagaimana?” Tuan Im duduk di depan mereka berdua.

“Namanya Qian. Dia cantik, manis, dan cerdas. Tapi dia pemalu,” kata Jin Ah.

“No problemo! Aku suka yang malu-malu,” kata Ju Hwan.

“Malu-maluin?” Tuan Im menggoda Ju Hwan.

“Ish!” Ju Hwan tidak rela Qian diplesetkan menjadi malu-maluin.

Mereka hari ini bahagia atas diterimanya Jin Ah di Daebak. Dan ini berarti permintaan terakhir Nyonya Im terkabulkan.

7 hari kemudian…

Im Jin Ah bersiap-siap menuju ke sekolah. Dia mengenakan seragam Daebak dengan rapi. Semua perlengkapan sudah dia masukkan ke dalam tas. Dan tas sudah ada di pundaknya.

“Oppa! Aku berangkat dulu. Kau memang lamban!” Jin Ah keluar rumah.

Ju Hwan oppa hanya melihat ke arah Jin Ah yang sedang mengayuh sepeda milik Jin Ah menuju keluar perumahan. Pagi ini, dia sengaja berangkat agak siang karena baru saja membantu Tuan Im. Tuan Im sendiri belum pulang dari pabrik.

Author POV end

Jin Ah POV

Aku mengayuh sepeda dengan semangat pagi ini. Aku sengaja tidak naik bus untuk menghemat uang saku bulan ini. Fuhh.. ibu, lihat aku. Aku sudah menjadi siswi Daebak. Tolong lindungi aku, Bu.

Setelah memarkirkan sepeda, aku masuk kelas 1-6. Yahh.. karena aku masuk kelas 1-6. Aku sekelas dengan You Jin. Sementara Minho dan Nichkhun? Aku tidak tahu. Haha..

“Jin Ah-yaa!” You Jin memberiku tempat duduk di sebelahnya.

Tempat duduk kelas ini kulihat tidak seperti milik kelas lain. Tempat duduk di kelas 1-6 terbuat dari plastik dan kayu. Sementara tempat duduk di kelas 1 lain terbuat dari besi dan plastik. Papan tulis saja, kelas 1 yang lain masih bagus. Tapi milik kelas 1-6 tidak sama sekali.

Aku duduk di sebelah You Jin. Lalu, aku meletakkan tasku di gantungan tas yang berada di samping meja, mengambil buku pelajaran dan keluar kelas bersama You Jin. Kami memang tidak terlalu suka keadaan kelas yang sekarang. Sangat ribut.

“You Jin—aa, kelas kita kok paling beda, ya?” tanyaku setelah aku duduk di bangku di depan kelas.

“Emm.. molla. Mungkin memang belum mampu membeli yang baru,” You Jin mencoba positive thinking.

Aku mengangguk-angguk. Dan kulihat Nichkhun lewat di depanku. Lewat bersama dengan teman temannya. Tertawa bersama teman-temannya. Tapi dia tidak melihatku tadi. Ah, sungguh sangat mengecewakan.

“Nichkhun?” You Jin menunjuk-nunjuk gerombolan Nichkhun dengan teman-temannya.

“Mm.. wae?” aku penasaran. You Jin pasti akan menyampaikan khotbah penting.

“Kok—dia bergaul dengan anak-anak yang seperti itu ya? Aku jadi khawatir,” kata You Jin.

“Memangnya anak-anak tadi kenapa?”

“Kau tidak tau?”

Aku menggelengkan kepala.

“Mereka anak-anak bejad disini. Bahkan yang paling eksis disinipun kau tidak tau? Fuhh!” You Jin melipat kedua tangannya di dadanya.

“Ooo.. kau sekarang jadi eksis, ya?” aku meledeknya.

“Jangan kira aku tidak terkenal disini. Aku kenal banyak kakak kelas.”

“Kakak kelas disini ‘kan susah dideketin. Gimana cara ndeketinnya?”

“TWITTER.”

aku pergi dari situ karena tidak tertarik dengan Twitter atau segala macem. Aku masuk ke kelas. Begitu pula You Jin.

Jin Ah POV end

Author POV

Im Jin Ah masuk kelas 1-6. Begitu juga Kim You Jin. Sementara Choi Minho masuk kelas 1-5, Nichkhun masuk kelas 1-7, dan Song Qian masuk kelas 1-5.

Di kelas 1-6, datanglah seorang guru yang ternyata adalah wali kelas 1-6. Dia segera mengabsen semua anak yang hadir. Lalu dia memperkenalkan diri dengan cepat dan lantang.

“Anak-anak yang merasa mampu menjadi ketua kelas disini, harap tunjuk jari,” kata guru.

Kira-kira ada 2 orang laki-laki tunjuk jari. Diantara mereka, ada satu yang Jin Ah tau. Namanya Lee Hyun Woo. Seorang anak laki-laki yang dulu bersekolah di sebelah SMP nya.

“Lee Hyun Woo dan Bong Jin Young,” guru menulis nama mereka di papan tulis.

Kapur yang tadi dipegang oleh guru yang ternyata bernama guru Shi tadi, diberikan kepada anak yang duduk di pojok depan. Dan anak yang duduk di pojok depan tadi (panggil saja Cleo, karena potongan rambutnya seperti Cleopatra) maju ke depan. Memberi tanda  di bawah nama Lee Hyun Woo. Yang berarti dia memilih Lee Hyun Woo.

Setelah itu, si Cleo memberikan kapur ke teman di belakang tempat duduknya. Anak yang duduk di belakang Si Cleo bernama Bae Sue Ji. Sue Ji menerima kapur dari si Cleo dan memberi tanda  di bawah nama Bong Jin Young.

Dan persaingan berjalan ketat. Im Jin Ah memilih Lee Hyun Woo,  karena dia memang hanya kenal Lee Hyun Woo. Dia sedikit melirik ke arah Lee Hyun Woo saat memberi tanda di bawah nama Lee Hyun Woo. Takut tidak direstui.

“Nah, sekarang. Saya ada urusan sebentar. Ada rapat kecil di kantor. Saya nyatakan, Lee Hyun Woo menjadi ketua, dan Bong Jin Young menjadi wakilnya,” kata guru Shi.

Semua anak bertepuk tangan. Lee Hyun Woo hanya tersenyum kepada Bong Jin Young. Bong Jin Young juga.

“Eh.. Lee Hyun Woo, sambil saya tinggal sebentar, kamu menunjuk pengurus kelas yang lain,” kata guru Shi kemudian.

“Apa saja, saem?” tanya Hyun Woo dengan sangat sopan.

“Sekretaris dulu saja. Yang lainnya biar nanti kita bicarakan.”

Guru Shi keluar dari kelas. Dan Hyun Woo maju ke depan kelas. Semua anak bersiap-siap mendengarkan perkataan pemimpin mereka satu tahun ke depan nanti. Tetapi dalam ketenangan, semburat tidak mau menjadi pengurus kelas muncul juga. Terbukti lewat si Cleo.

“Kamu mau enggak jadi sekretaris?” tawar Hyun Woo kepada Cleo.

Cleo menggeleng. Hyun Woo tidak memaksa. Lalu dia memutar matanya lagi. Matanya tertumbuk pada Bae Sue Ji yang selalu tertunduk.

“Kamu?” Hyun Woo menunjuk Sue Ji.

Sue Ji mengangkat kepalanya dan membelalakkan matanya. Lalu dia menggeleng.

Lee Hyun Woo sudah putus asa. Tetapi dia terus menunjuk anak perempuan yang menurutnya tulisannya bagus. Setelah tidak ada pilihan lagi, barulah Lee Hyun Woo menunjuk Im Jin Ah.

“Im Jin Ah?” Lee Hyun Woo memanggil nama Jin Ah.

Jin Ah kaget dan bingung. Kenapa Hyun Woo tahu namaku? Pikirnya.

“Mau jadi sekretaris?” tanya Hyun Woo sambil mengangkat alis.

Im Jin Ah pikir-pikir. Dia sih, memang mau menjadi sekretaris. Tetapi, bosan juga menjadi sekretaris. Dari SD sampai SMP, dia terus jadi sekretaris.

Tidak enaknya menjadi sekretaris adalah, selalu disalahkan apabila jurnal pelajaran tidak diisi. Selalu disalahkan apabila absensi siswa kelas lupa diisi. Disalahkan apabila tidak mau menulis di papan tulis. Menyimpan dokumen dokumen penting kelas, dan apabila hilang disalahkan. Apalagi jika dimarahi ketua kelas. Ini memalukan.

Menurut Jin Ah, Hyun Woo adalah tipe anak yang sangat menakutkan apabila marah. Jadi, kalau dia menerima tawaran Hyun Woo menjadi sekretaris, sama saja bunuh diri. Sama saja babak belur.

“Emm.. gimana ya?” Jin Ah menggumam.

Hyun Woo masih mengangkat alis dan mendelik ke arah Jin Ah. Jin Ah tidak berani melihat mata Hyun Woo dan berkata…

“YA!” Jin Ah berkata begitu sambil menutup matanya.

“Give applause to our secretary!” seru Hyun Woo sambil bertepuk tangan.

Semua anak pun bertepuk tangan. Jin Ah dengan sok kenal sok dekat, berdiri dan memberi hormat kepada semua. Tak terkecuali Lee Hyun Woo.

Author POV end

___

Nichkhun POV

Aku berada di gerbang sekolah sekarang. Memang sudah jam-nya untuk pulang. Aku menunggu ayah menjemputku. Tapi…

“Khun!” panggil seseorang.

Aku menoleh ke sumber suara. Ada temanku. Lee Tae Sung. Teman sekelasku. Dia mendekatiku dan menepuk bahuku.

“Kau dijemput?” tanyanya sambil tersenyum licik.

“Emm. Wae?” kataku.

Dia lalu tertawa kecil, “Kau.. kukira jantan selama ini. Ternyata kau betina!” ejeknya.

Aku masih tidak mengerti. Aku hanya diam, dan mengangkat sebelah alisku.

“Jantan—harus melawan peraturan. Bawa motor lain kali,” katanya.

Aku masih diam.

“Jantan—harus punya pacar,” katanya lagi.

Aku tersenyum tipis, “Aku.. punya pacar. Ketiga kalinya. Aku tahu kau hanya punya pacar untuk kedua kalinya. Itu saja jaraknya dekat-dekat,” gantian aku mengejeknya.

Tae Sung terlihat tidak suka dengan perkataanku.

“Wae?” aku tersenyum licik.

Tapi dia tiba-tiba tertawa keras. Dia menepuk bahuku lagi. Dengan sangat keras.

“Pacarmu yang Song Qian, ya?” tanyanya dengan senyum mengembang di wajahnya.

Aku bingung dengannya. Bagaimana dia tahu? Padahal aku tidak memberi tahunya.

“Bener. Wae?” tanyaku melepaskan tangannya dari bahuku.

“Gadis seperti itu kau pacari?” dia tertawa lagi, “..gadis pemalu dan pendiam di kelas?”

Aku terganggu dengan nada bicara Tae Sung yang mengejek. Aku tidak tahan lagi. Aku pergi dari situ dan –

“AKU TANTANG KAU UNTUK BAWA MOTOR DAN GANTI PACAR BESOK!” teriaknya setelah aku masuk mobil.

Setelah aku masuk mobil, ayah tidak langsung menjalankan mobil. Ayah membeli jajan pinggir jalan dulu untuk Yuh. Jadi, aku masih bisa melihat Tae Sung yang memanggil Qian.

Nichkhun POV end

Qian POV

Aku baru keluar kelas. Aku duduk dengan teman-teman baruku untuk menunggu dijemput. Tetapi, aku melihat Khunnie bersama Lee Tae Sung berbicara.

Setelah berbicara agak lama, aku melihat Khunnie meninggalkan Tae Sung dan menuju mobil ayahnya. Dan aku mendengar Tae Sung berteriak :

“AKU TANTANG KAU UNTUK BAWA MOTOR DAN GANTI PACAR BESOK!” ……. setelah Khunnie masuk mobil.

Ganti pacar? Apa maksud Tae Sung untuk menyuruh Khunnie ganti pacar? Pacar Khunnie kan—aku? Aku melihat Tae Sung memanggilku dan menyuruhku mendekat. Ya, aku mendekat.

“Wae?” aku berusaha untuk menjadi gadis non-pemalu.

“Kau pacar ‘Khunnie-Khunnie-Khunnie’, ya kan?” tanyanya dengan nada yang mengejek.

“Ne—apa urusanmu?” aku berkacak pinggang.

“Woaa.. gadis ini bukan gadis pemalu, tapi sok berani denganku ya?”

Tae Sung memegang pipiku dengan kedua tangannya yang besar dan mendekati wajahku.

“Kau mau apa?!” aku berusaha memberontak.

“Mau menciummu!” dia lalu mencium bibirku.

Aku berusaha melepaskan ciumannya dariku, tetapi tidak bisa. Ketika sudah banyak orang menonton kami, tak terkecuali Khunnie, Tae Sung melepaskan ciumannya. Aku masih shock karena aku belum pernah ciuman sebelumnya.

“Wae? Gadis Khunnie belum pernah ciuman ya ternyata?” katanya sambil melihat ke arah ku yang menunduk.

Semua anak yang menonton kami langsung bisik-bisik yang bisikan mereka tidak dapat aku dengar. Aku melirik ke jalan, memastikan agar Khunnie tidak melihat kejadian tadi. Tetapi mobilnya sudah tidak ada.

Qian POV end

_____________________

akk.. gilaaaa.. apalagi adegan kissing kissingan. aduh, enggak bisa menempatkan kata-kata yang pas! aduh, kok bisa yak Victoria ciuman sama Lee Tae Sung?

Advertisements

One comment

  1. byyeong · September 17, 2012

    [first]
    komen like oxygen *shawooll

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s