Grade 2-2 Part 5

Image

Title : Grade 2-2 / Love Love Love

Rating : PG-15

Genre : Romance, School

Main Cast :

Nana

Nichkhun

Minho

Victoria

Jiyeon

Yoo Seung Ho

Suzy

Wooyoung, etc

tergesa-gesa nih admin mau gladi jadi enggak banyak-banyak omong yah

happy reading! all

Jin Ah POV

Sekarang, aku sudah berada di depan kelasku. Maksudnya, kelas baruku. Aku ternyata masuk kelas 2-2. Kelas yang dulu adalah kelas kebanggaan. Kelas paling top yang anak-anaknya kebanyakan anak-anak eksis dan favorit.

Aku melihat You Jin berlari-lari menuju ke arahku. Aku sudah menduga, pasti dia sekelas denganku. Mimik wajahnya menunjukkan kebahagiaan yang melebihi dari kebahagiaannya seandainya dia dipersunting Justin Bieber.

“JIN AH-YAA! AKU SEKELAS DENGANMUUU! 2-2!” You Jin melompat-lompat.

“Masa?” aku merebut kertas yang berada di tangannya. Kertas yang udah kucel.

Name : Kim You Jin

From Grade : 1-6

To Grade : 2-2

Aku membacanya. Isi kertasnya seperti ini :

“Tuh kaan.. berarti permintaanku terkabulkan.”kata You Jin merebut lagi kertas yang aku pegang.

“Hemm.. iya iya. Tinggal permintaanku nih.”

“Sekelas sama Khyeowo?”

“Mm..”

Aku melihat Choi Minho sedang berjalan menuju ke arah kami. Menuju ke arahku dan You Jin. Dia menunjukkan kertas yang ia pegang. Dan.. dia masuk kelas yang sama dengan kami. Grade 2-2.

Dan aku melihat Nichkhun merangkul Minho dengan kasar. Dia sekilas tersenyum kepadaku dan You Jin lalu memperlihatkan kertasnya. Dia—

“SEKELAS?” You Jin keceplosan.

“Yup. Sekelas sama kamu. Sama Jin Ah. Sama Minho. Dan sama Qian. GRADE 2-2!” kata Nichkhun dengan sangat senang.

Aku masih melongo dibuatnya. Aku? Aku sekelas dengan Nichkhun? Bagaimana ini? Pasti dia akan segera tau bahwa aku menyukainya dari dulu. Pasti Eun Jung eonni akan tau juga. Dan pasti.. itu akan terjadi, kalo aku sekelas sama Nichkhun. Sama-sama di Grade 2-2.

“Annyeong!” tiba-tiba Qian membuyarkan pikiranku.

“Oh.. annyeong!” aku dan You Jin membalas menyapa Qian.

Aku masih melirik-lirik ke arah Nichkhun dan Qian. Mereka terlihat seperti enggak terjadi apa-apa. Terlihat mereka biasa aja. Walaupun aku tahu, gimana sakitnya Qian.

“Yuk, masuk!” Nichkhun menggeret Minho masuk.

“Ayo!” Qian menyahut dan menggiringku dan You Jin masuk kelas.

Aku masuk ke kelas dan menemukan Bae Sue Ji sudah duduk di bangku yang paling depan. Aku juga dapat menemukan banyak anak-anak eksis dan favorit disini. Yah, salah satunya ya, Jang Wooyoung. Yang aku tahu, dia adalah anak dari salah satu guru disini. Mungkin guru Jang yang mengajar pelajaran Bahasa.

Setelah Jang Wooyoung, aku melihat Yoo Seung Ho. Seung Ho adalah anak yang berbakat di bidang basket. Dia sudah menjuarai lomba basket sampai ke tingkat nasional. Membuat bangga semua warga SMA Daebak.

Setelah masuk, aku sengaja duduk di belakang Bae Sue Ji. Yah, karena aku lebih suka dekat-dekat Bae Sue Ji. Soalnya, dia enggak banyak ngomong. Enggak kayak Kim You Jin.

Eh, tapi si You Jin malah duduk di sebelahku. Parah.

Tidak lama, wali kelas baru kami masuk. Dan dia adalah guru Baek Ji Young. Guru IPS khusus kelas imersi. Tetapi kok kesini?

“Anak-anak, coba kalian duduk,” katanya berusaha halus.

Anak-anak yang tadinya ribut, berisik, dan lari-lari patuh kepada perintah guru Baek. Mereka langsung duduk setelah mendengar suara guru Baek.

“Sekarang langsung aja ya pemilihan ketua kelas.”

Hening. Sebagian menjawab ‘ya’ dengan enggak ikhlas.

Ternyata ceritanya gini :

Menurut Qian, guru Baek adalah guru yang paling cerewet yang cerewetnya melebihi sohibnya semenjak kelas 1, Jung So Min. Selalu saja mengatur yang enggak penting-penting. Mengaturnya malah yang sunnah-sunnah.

Menurut Seung Ho, guru Baek adalah guru yang juara bersolek. Mengajar saja bersolek. Katanya. Rambutnya selalu digerai dan kelihatan membuat risih.

Entah sudah berapa kali, Seung Ho dan Qian bertemu guru Baek dalam satu kelas. Katanya, pelajarannya membosankan. Dan anehnya, guru Baek suka sekali ngambek apabila tidak diperhatikan.

“Oke, anak-anak. Siapa yang sudah pernah menjadi ketua kelas waktu kelas 1?” tanya guru Baek sambil membetulkan rambutnya.

Yoo Seung Ho dan emm.. satu anak eksis lagi mengangkat tangan. Ternyata, nama anak eksis ini adalah Shin Dong Hee. Walaupun ini anak dari luar imut-imut, tetapi pikirannya sudah terlalu dewasa. Bisa dibilang dia anak bejad kelas mujair.

“Seung Ho saya pilih menjadi ketua kelas. Dan Dong Hee menjadi wakilnya. Sementara, saya mau Song Qian menjadi sekretaris 1, Bae Sue Ji sekretaris 2,” kata guru Baek yang lalu ngeloyor enggak tau kemana.

“Ciyee.. sekretaris duaa!” aku mengguncang-guncang badan Sue Ji.

Bae Sue Ji sesegera mungkin melepaskan tanganku dari pundaknya.

“Brisik, ih,” katanya. Dia tidak suka menjadi sekretaris.

Untung aku pensiun dari sekretaris. Eh, aku mau tahu Lee Hyun Woo si rese’ itu masuk kelas apa. Aku segera bertanya kepada You Jin yang sedang mengobrol dengan Ji Yeon, anak eksis juga.

“You Jin-aa.. kamu tau enggak Hyun Woo masuk kelas apa?” tanyaku.

“Dia masuk kelas 2-3, loh. Kelasnya anak-anak pinter,” Ji Yeon yang menjawab.

You Jin meringis.

“Emang iya?” tanyaku enggak percaya,”.. berarti Hyun Woo termasuk pinter?”

“Bisa jadi,” You Jin berkata.

Aku manggut-manggut.

Aku tidak suka kepada Hyun Woo karena semenjak aku menjadi sekretaris kelas 1, aku selalu dimarahi. Waktu itu, kelas 1-6 menang lomba vocal group waktu class meeting sekolah. Dan aku dipilih menjadi dirijen. Itu loh yang memberi aba-aba.

Aku juga yang menerima hadiah sebagai perwakilan dari kelas 1-6. Aku sengaja membagikan hadiahnya sama rata kepada anak-anak yang mengikuti lomba di kelas kami. Tetapi, Hyun Woo sewot.

“Jangan mentang-mentang kamu dirijen kamu bisa menggantikan posisiku,” katanya.

Aku hanya diam saja sewaktu dia mengatakan itu. Lalu, dia mengatakan sesuatu yang aneh lagi suatu hari.

“Kamu sama kayak anak cewek yang lain. Berlebihan,” dan ini yang bikin aku marahan sama Hyun Woo sampai sekarang.

“Tapi—kenapa tanya-tanya Hyun Woo?” You Jin kayaknya udah mulai ngaco, “.. cinta bilang benci ya?”

Aku langsung menghadap ke depan dan mengajak ngobrol Sue Ji. Tapi, sebentar-sebentar aku melihat ke arah Nichkhun, memandangi wajahnya yang mulus imut-imut itu.

Jin Ah POV end

Eun Jung POV

Aku sudah menunggu Nichkhun datang sore ini ke kafe dekat rumahnya. Aku ingin tau dia masuk kelas 2 apa. Soalnya, tadi dia enggak bales sms aku.

Aku duduk di set kursi yang satu meja berdua. Dekat jendela, dan jauh dengan orang lain yang berada di kafe ini juga. Aku paling tidak suka diganggu saat sedang bersama Nichkhun.

Pernah waktu itu, aku kencan dengan Nichkhun di salah satu kafe sore-sore. Kami memilih tempat duduk yang agak di tengah. Banyak kejadian yang tidak mengenakkan.

Salah satunya ini. Karena kami memilih tempat duduk yang setnya 4 kursi dan kafe yang ramai sampai kadang ada yang tidak kebagian kursi dan meja, beberapa orang sudah mengganggu kami.  Adik kelas bernama Jung So Min dan si Park Ji Yeon kebetulan juga disana. Tetapi, mereka tidak dapat meja. Akhirnya mereka semeja dengan kami.

Ahh, aku melihat motor Nichkhun terparkir di parkiran kafe ini. Aku segera duduk tegak setelah, Nichkhun masuk dan duduk di kursi yang telah aku sediakan. Dia tersenyum padaku sambil meletakkan kunci motor di atas meja.

“Udah nunggu lama, ya?’ Nichkhun bertanya begitu.

“Enggak kok,” aku membalas senyumannya yang tadi.

“Pesen apa?” tanya Nichkhun, “..aku yang traktir, deh.”

“Terserah kamu. Kan kamu yang traktir.”

“Oke,” Nichkhun membolak-balik halaman buku menu.

Diam-diam aku memandangi Nichkhun yang serius memilih menu. Rambutnya yang kecoklatan tampak berantakkan. Aku segera merapikannya.

Nichkhun mendongak. Tersenyum kepadaku dan membiarkan aku merapikan sekaligus mengelus kepalanya. Seperti anak kucing.

“Kamu.. mirip anak kucing, ya. Nggemesin,” kataku.

“Haha.. berarti imut dong?” dia mengangkat sebelah alis dan dia nge-wink. Membuatku tambah gemas.

Aku tertawa. Yap, dia memang imut. Aku memandang ke luar jendela. Aku melihat dua adik kelas itu lagi. Ji Yeon dan temannya, So Min. Duuh, Ji Yeon! Kamu selalu mengganggu!

Ji Yeon dan So Min masuk dan tengak-tengok. Kanan kiri. Lalu mereka berjalan mantap ke arahku dan Nichkhun.

“Eonni! Nichkhun!” jerit So Min setelah datang ke meja kami.

“Hey!” Nichkhun dengan santai membalas sapaan dari So Min. Aku hanya tersenyum kepadanya.

“Eonni, biasanya di meja yang kursinya empat!” Ji Yeon berkata tanpa beban.

Nichkhun memanggil pelayan, seakan tidak peduli dengan duo cerewet ini.

“Emm.. pindah meja yuk, Eonni! Berempat! Sama kita berdua! Tuh disana,” So Min menunjuk satu set tempat duduk yang empat kursi kosong.

Aku hanya tersenyum dan melirik ke arah Nichkhun. Berharap ada pembelaan darinya. Si pelayan pergi dan Nichkhun mendongak ke arah Ji Yeon dan So Min.

“Tadi kalian bilang apa?” kata Nichkhun.

Dalam hati aku lega, karena kemungkinan Nichkhun menolak permintaan duo cerewet ini.

“Makan bareng kita berdua aja, sih. Berempat disana,” So Min melirik ke arah meja kosong tadi, “..aku yang traktir.”

Nichkhun melirik ke arahku. Lalu dia mendongak lagi ke arah Ji Yeon dan So Min. Dia berdiri, “Yuk!” ajaknya.

HAH? Aku enggak percaya, Nichkhun mau aja diajak duo sial ini. Hh.. aku udah enggak suka sama kehadiran ni duo cerewet dari pertama. Tapi si Nichkhun keliatan biasa aja dan cenderung seneng sama kehadiran mereka berdua.

Aku terpaksa menuruti permintaan So Min dan Ji Yeon. Sementara Nichkhun tidak menyadari bahwa aku keberatan. Aku keberatan!

Eunjung POV end

Minho POV

Sore ini, aku berencana akan berjalan-jalan ke pusat. Yah, malam minggu. Biasanya enak jika jalan-jalan. Tapi, kalo sendirian enggak asik.

Sekarang aku sudah ada berada di depan rumah dengan jeans dan kaos putih yang agak besar sneaker abu-abu yang baru aku cuci kemarin. Aku menimang-nimang helm sambil menekan tombol handphone. Aku akan menelepon Im Jin Ah.

“Yyabbuseyo,” kata Jin Ah di ujung sana.

“Emm.. Jin Ah-yya. Kamu lagi ngapain?” tanyaku.

“Belajar. Wae?”

“Belajar?”

“Iya. Kenapa?”

“Malem minggu belajar? Ada apa sih?”

“’Kan bentar lagi Ujian Tengah Semester. Emang kenapaa?”

“Emm.. jalan-jalan yuk!”

“HAH?”

“JALAN-JALAN! Mau enggak?”

Terdengar tidak ada suara di ujung sana. Mungkin Jin Ah sedang pikir-pikir.

“Kemana?”

“Ke pusat.”

“Oohh.. oke. Tunggu bentar, ya!”

“Oke. Dandan yang cantik ya!”

“Pastinya!”

Telepon ditutup. Aku segera mengenakan helm, naik motor dan menuju ke rumah Jin Ah dengan sumringah.

Minho POV end

Jin Ah POV

Setelah diajak Minho jalan-jalan lewat telepon, aku segera mengabaikan buku pelajaranku dan memanggil Ju Hwan oppa. Aku ijin kepada oppa, bukan kepada ayah. Soalnya, ayah kerja. Lembur. Aku diijinkan untuk jalan-jalan.

Aku langsung menuju kamar dan menutup pintu kamar. Mengobrak-abrik lemari pakaian. Emm.. skinny jeans, kaos hitam yang lengannya sengaja ku gulung dan ku jahit, dan crocs putih jadi sasaranku.

Setelah itu aku mengucir rambutku dan menyambar handphone dan dompet, lalu aku masukkan ke tas hitam kecilku.

“Tungsaeng! Minho menunggu!” jerit Ju Hwan oppa.

“Iya, wait a second!” jeritku.

Terdengar gelak tawa di depan rumah. Emangnya lucu?

Aku keluar dari kamar dan berlari-lari ke luar rumah. Ju Hwan oppa tampak menunggu dengan Minho di ambang pintu. Minho keliatan ganteng kalo enggak pake seragam sekolah. Aku jadi cengar-cengir sendiri.

“Cantik,” kata Minho yang langsung menarikku keluar rumah.

“Siapa dulu dong, oppa-nya!” Ju Hwan oppa udah mulai ngawur.

“Brisik!” kataku kepada Ju Hwan oppa sambil menerima helm yang ada ditangan Minho, “..makasih.”

“Yuk!” Minho menaiki motornya.

Aku segera menaiki moge Minho yang keliatan mengkilap sore ini. Mungkin dicuci tadi siang?

Setelah aku berpegangan pada pinggang Minho, Ju Hwan oppa menutup pintu dan berangkatlah kami menuju date pertama kami. Eh?

Jin AH POV end

Nichkhun POV

Setelah bersenang-senang dengan Jung SO Min, Park Ji Yeon, dan Ham Eung Jung di kafe, aku segera menuju alun-alun yang berada tidak jauh dari kafe. Hanya aku berdua dengan Eun Jung. So Min dan Ji Yeon memilih ke KTV.

Eun Jung manyun sedari tadi. Aku tidak tahu sebabnya. Bahkan selesai makan, dia masih manyun. Sampai sekarang dia masih manyun. Aku segera merangkulnya dan mencium pipinya.

“Eun Jung-aa..,” panggilku dengan suara yang mirip ngeongan kucing.

Eun Jung masih belum menjawab dan masih manyun.

“Eun Jung-aa.. Japan Princess yang cantikk.. meong,” aku mengeong-ngeong lagi. Seperti orang gila.

“Hentikan. Aku geli!” serunya berusaha menjauh dariku.

“Kamu marah sama aku kenapa sih?” tanyaku mulai serius.

“Kamu sih, ngapain pake mau diajak semeja sama duo berisik itu!” Eun Jung masih manyun.

“Emang, kamu maunya gimana? Kan asik bareng-bareng.”

“Kata siapa, asik bareng-bareng. Aku ‘kan pengennya berdua. Masa dari kemaren double date muluu?”

“Oke. Malem ini single date,” aku ngawur.

Eun Jung tiba-tiba tergelak. dia terus memukul-mukul lenganku sambil tertawa.

“Istilah single date itu aneh di kuping,” Eun Jung berkata sambil masih tergelak.

Aku tertawa dan merangkul Eun Jung lagi. Berjalan menuju bangku yang berada di pojok alun-alun. Bangku yang muat untuk empat orang sih. Tapi, demi Eun Jung, aku berusaha untuk membuat bangku itu hanya untuk kami. Kami berdua saja.

Entah mengapa aku ingin seseorang datang malam ini. Datang ke tempat yang sama dan entah siapa dia.

Nichkhun Pov end

Minho POV

Aku dan Jin Ah sudah sampai di alun-alun. Kami sengaja memilih alun-alun sebagai objek ‘pacaran’ kami, karena ramai. Jin Ah sangat suka sekali dengan keramaian.

Kami mulai berjalan dari ujung alun-alun ke ujung lainnya. Mencari penjual makanan pinggir jalan, yah, karena sangat ingin makan itu. Apalagi sosis goreng dan kentang pedas serta sedikit soft drinks.

“Kemana ya?” tanyaku kepada Jin Ah sambil tengak-tengok.

“Emm.. nah, itu sosis goreng!” Jin Ah menunjuk satu gerobak penjual makanan pinggir jalan yang tepat berada di pojokan alun-alun.

Kami berdua langsung menuju kesana. Lebih tepatnya, ke sasaran kami. Bangku. Jadi, kami bisa mkan sambil duduk dan bercerita di bangku itu. Tetapi, ada dua orang yang sudah menduduki bangku tersebut.

“Jin Ah-yya. Sepertinya aku kenal dua orang itu,” kataku menunjuk sepasang kekasih yang sudah duduk di sasaran kami.

“Hah? Siapa?” Jin Ah menyipitkan matanya.

Aku diam dan melanjutkan berjalan. Lebih dekat, lebih jelas. Dan pasangan kekasih tersebut adalah…

“NICHKHUN DAN HAM EUN JUNG?” kami berdua langsung menyebut nama itu setelah dapat melihat mereka dengan jelas.

Tampak Nichkhun dan Eun Jung menyadari kedatangan kami. Mungkin mereka aga terganggu? Mungkin.

“Hei! Dating?” Tanya Nichkhun sambil mengangkat kedua alisnya ketika kami menghampiri mereka berdua.

“Haha.. bukan. Dia ‘kan bukan pacarku,” aku nyengir.

Eh, Jin Ah menggelayut. Dia ikut-ikutan nyengir. Lebar.

“Kita pacaran teuu!” kata Jin Ah.

Wah, pasti dia mau pacaran jadi-jadian sama akuu. Buat bikin Nichkhun cemburu. Eun Jung noona monyong-monyongin mulut. Yah, seenggaknya dia enggak mau date nya keganggu sama dua makhluk aneh ini.

“Pacaran?” Eun Jung noona kaget.

“Eng—iyasih, iya,” aku berusaha untuk tidak membuat suaraku getar.

Nichkhun tiba-tiba menarik lenganku. Setengah terkejut, setengah sakit. Nichkhun seperti penasaran dengan hubungan palsuku dengan Jin Ah.

Di tempat yang sepi, Nichkhun berhenti. Dan dengan manisnya, dia manyun.

“Im Jin Ah ituu.. bukannya suka sama aku?” Tanya Nichkhun.

Aku diam.mulai memutar otak. Alibi apa yang akan aku beri ke Nichkhun unyu-unyu ini?

“Heh, bengong!” Nichkhun memukul bahuku.

“Wae? Enggak boleh bengong?” aku mencoba mengalihkan pembicaraan.

“Aku tauu. Kamu pasti mau ngalihin pembicaraan, ‘kan?” Nichkhun menunjuk-nunjuk,”Udahlah. Boongan kan?”

Aku mengangguk sambil tersenyum. Senyum yang dipaksakan. Sebenarnya aku ingin mengakui bahwa Jin ah pacarku. Seenggaknya pacaran boong-boongan.

“Tuh. Mana mungkin sih, Jin Ah enggak suka sama aku. Mana mungkin bisa move on?” Nichkhun marah-marah sendiri,”.. tapi sori, ya. Seleraku itu bintang sepuluh.”

“Adanya juga bintang lima paling tinggi,” gentian aku yang manyun.

Minho POV end

Jin Ah POV

Aku menunggu dengan tidak sabar di bangku alun-alun dengan Eun Jung eonni. Aku takut ditanya apa-apa dengan kakak cantik ini. Katanya Japan Princess.

“Sini duduk,” Eun Jung eonni menyuruhku duduk sambil menepuk-nepuk bangku alun-alun.

“Emm,” aku menuruti kata-kata eun Jung eonni.

“Nichkhun itu.. di kelas ada yang naksir enggak?” Eun Jung eonni bertanya dengan alis yang dibuat seperti tokoh kartun Jepang yang jahat.

“Eih??” aku kaget. Tertuduh,”enggak tau kalo itu, eonni. Hehe..” aku meringis sejadi-jadinya.

“Oohh,, terus Nichkhun di kelas itu kayak gimana?” eun Jung eonni seperti sudah tau bahwa aku menyukai Nichkhun dari kelas 1. Sorot matanya selalu menuduhku.

Aku menelan ludah,”jail aja,” kataku.

“Cuma itu?”

“Sebenernya banyak sih,” aku menerawang.

“Yaudah, kayak gimana dia?”

“Dia itu sering dibilang Thai Prince. Karismanya melebihi pangeran Charles. Ketampanannya melebihi Brad Pitt. Kecerdasannya melebihi Einstein. Kelembutannya melebihi.. melebihi apa ya?” kataku. Yah, puitis gitu.

“Kamu—suka sekali bikin puisi ya?” tanyanya lagi.

“haha.. enggak.”

“Tapi bahasamu puitis. Oke, jadi siapa yang suka sama Nichkhun? Mungkin kamu bisa membantuku mencari dia. Siapa ya kira-kira?”

“Jiyeon mungkin?” aku ngawur.

“EIH? Ji Yeon kan teman baikku. Lagian dia menyukai Minho. Eh?” Eun Jung eonni ternyata keceplosan.

Aku bengong. Park Jiyeon, menyukai pacarku? Eh, Choi Minho? Duhh, bisa jadi… bisa jadi… apa ya?

“Jiyeon juga teman baikku, mana mungkin dia suka Minho,” kataku membalikkan kata Eun Jung eonni.

“Emm.. mianhae,” katanya.

“No problemo,” aku berusaha tersenyum selebar mungkin.

Kami berdua diam. Enggak tau mau ngomong apa lagi. Ngomongin pacar? Aku enggak punya dalam kehidupan nyata. Ngomongin pacarnya Eun Jung eonni, adanya aku yang sakit. Tapi, aku penasaran.

“Eonni, Nichkhun itu diluar kelas kayak gimana?” tanyaku.

“Emm.. sama aja. Jail. Nakal. Tapi.. sayangnya dia enggak romantis.”

“Seorang Thai Prince enggak romantis?”

“Emm..”

Enggak romantis? Enggak percaya aku.

“Emang kenapa?” Eun Jung eonni ternyata penasaran dan udah mulai curiga kenapa aku tanya itu.

“Engg—enggak kenapa-kenapa sih. Yang suka itu temenku sih.. dia sering banget cerita-cerita tentang Nichkhun di kelas.”

“Siapa namanya?” Eun Jung eonni bertanya dengan halus.

“Mianhae, aku enggak boleh nyebut namanya. Tenang aja, Eonni. Lebih jelek dari kamu.”

Eun Jung eonni manggut-manggut. Aku menarik nafas dalam-dalam. Tiba-tiba Minho duduk di sebelahku. Sementara Nichkhun berdiri di hadapan Eun Jung eonni.

“Habis ngapain sih?” tanya Eun Jung eonni kepada Nichkhun.

“Enggak. Main bareng yuk!” Nichkhun menggeret tangan Eun Jung eonni.

Eun Jung eonni tersenyum kepada Nichkhun dan membiarkan tangannya digeret dengan halus oleh Nichkhun. Sementara aku dan Minho hanya duduk-duduk di bangku dan melihat kemesraan mereka di tengah alun-alun.

“Ngomong apa aja dia?” tanyaku kepada Minho yang asik memakan sosis gorengnya.

“Dia enggak percaya kita pacaran,” jawabnya enteng.

“Emang kita enggak bisa dipercaya kali. Kamu ngasih tau ke dia kalo aku suka sama dia ya?”

“Emm.”

“HAH?”

“Iya, biar dia juga suka sama kamu.”

“Suka dari mananya? Huh, tapi enggak boleh nyerah.”

“Emang Im Jin Ah enggak boleh nyerah.”

Tiba-tiba Minho menatapku dengan sorot matanya yang hangat. Jantungku sedikit berdebar ketika merasakan tatapannya tadi.

“Eh, pulang yuk,” ajakku. Salah tingkah aku.

“Oke, yuk!” Minho berdiri.

Kami berdua meninggalkan alun-alun dan meninggalkan Eun Jung eonni serta Nichkhun si Thai Prince.

Jin Ah POV end

______________________________________________

TBC

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s