Grade 2-2 Part 6

Image

Title : Grade 2-2

Rating : PG-15

Genre : Romance School

MAIN Cast :

Nana

Nichkhun

Minho

Victoria

Jiyeon

Yoo Seung Ho

Wooyoung

Suzy

bonus deh saya kasih tau cast lainnya :

UEE

Lee Hyun Woo

eh, enggak urut ya,

Donghae, Yesung, Sulli, Krystal, Eunjung, Jung So Min, Shindong, etc

______________________________

wakkkakak kembali lagi dengan saya authorjaebyeong dengan Grade 2-2 Part 6 hoho..

buat info aja, Grade 2-2 sebenarnya hanya sepuluh part. cuma, saya bagi satu part nya jadi dua. jadi, bisa sampe Part 20 kalo di post 😮

Author POV

Semenjak Im Jin Ah dan Choi Minho pacaran boong-boongan, mereka terganggu oleh sikap anak-anak SMA Daebak yang ingin tahu. Apalagi, biang gosip Jung So Min dan Song Qian.

Perlu diketahui, Song Qian berubah 180 derajat setelah berteman dengan So Min. Jadi haus gosip-lah, kecipratan eksis lah. Ini lah itu lah.

Pada suatu pagi, So Min dan Qian menghampiri Jin Ah yang sedang duduk di tempat duduknya.

“Jin Ah –yaa.. kamu pacaran ‘kan sama Minho? Haha..,” So Min memulai.

“Emang iya dari kemaren, So Min-aa,” Qian ikut-ikutan.

Jin Ah melengos dan meletakkan kepalanya di atas meja.

“Marahan ya?” tanya So Min.

“Ada masalah enggak, marahan gimana?” kata Jin Ah agak mendesah.

Tidak lama kemudian, Minho masuk kelas. So Min dan Qian segera menghampirinya.

“Choi Minho! Kalian marahan ya?” So Min menyambar.

“Kalian siapa?” Minho mengangkat alis.

“Im Jin Ah dan kamuu!” kata Qian bersamaan dengan masuknya Park Ji Yeon dan Kim You Jin.

Minho menoleh ke arah Kim You Jin dan Park Ji Yeon yang berjalan lemas.

“HEI!” So Min mengguncang-guncang badan Minho bersamaan dengan Nichkhun yang masuk ke kelas.

Nichkhun menghampiri So Min yang sedang mengguncang-guncangkan badan Minho. Dia melepaskan tangan So Min dari bahu Minho.

“Dia sudah punya pacar,”Nichkhun melirik ke arah Jin Ah yang sedang melihat ke arahnya.

“Oh iya,” So Min segera melepaskan tangannya dari bahu Minho.

Jin Ah hanya melenguh seperti sapi saat Nichkhun duduk di tempat duduk. Saat Minho dan Nichkhun keluar kelas, Jin Ah menghampiri Ji Yeon yang sedang tiduran di meja.

“Ji Yeon-aa,” panggil Jin Ah.

Ji Yeon hanya menghembuskan nafas keras saat Jin Ah memanggilnya.

“Kau marah kepadaku?” tanya Jin Ah lagi.

Ji Yeon tetap diam dan meninggalkan tempat duduknya. Dia keluar kelas. Jin Ah lalu menghampiri You Jin yang juga tiduran di atas meja.

“You Jin-aa kamu marah kepadaku?” tanya Jin Ah.

“Enggak. Cuma enggak enak badan aja.”

“Sakit?”

You Jin mengangguk. Lalu dia tersenyum dan Jin Ah membalas senyumannya.

___

Suasana kantin tidak seperti biasanya. Soalnya, akhir-akhir ini, 3 perwakilan dari masing-masing kelas sedang rapat. Rapat membicarakan Class Meeting yang akan diadakan 3 hari mendatang.

Perwakilan dari kelas 2-2 adalah Choi Minho, Kim You Jin, dan Shin Dong Hee. Yoo Seung Ho sibuk sekali berpacaran dengan adik kelas. Makanya, Shin Dong Hee-lah yang berangkat rapat.

Selesai rapat, You Jin dan Minho ke kantin untuk makan siang.

“You Jin-aa,” panggil Minho.

“Wae?” You Jin menoleh kepada Minho setelah mereka duduk di bangku kantin.

“Katanya kamu sakit?”

“Biasa, kok.”

“Boleh aku tau, kamu sakit apa?” tanya Minho bermimik serius.

“Emm.. kasih tau enggak ya?”

Minho tertawa.

Dari kejauhan, Ji Yeon dapat melihat pemandangan yang sangat akrab dimatanya tadi. Ji Yeon lalu berjalan berbalik menuju kelasnya lagi dengan lemas.

“You Jin-a, aku serius. Kamu sakit apa?” Minho bertanya.

You Jin tampak sedikit menerawang ke atap kantin. Dia lalu menatap dalam mata Minho. Dia akan mempercayai Minho.

“Hh.. kanker sekarang ada di otakku,” suara You Jin bergetar.

“Kanker?” Minho sedikit berteriak.

Mendengar kata kanker, Ji Yeon memberhentikan langkahnya. Dia kembali lagi ke tempat tadi ia melihat Minho dan You Jin di kantin. Dia mencoba mendengarkan percakapan selanjutnya.

“Tolong jangan beri tahu yang lain. Entar mereka repot,” You Jin meminta kepada Minho.

“Wae? Itu parah You Jin-aa, parah!” Minho sedikit berteriak.

“Emm.. memang parah. Tapi ‘kan—“

“You Jin-aa, apa teman-teman sekelas menjadi beban untukmu?”

“Malahan justru aku yang beban kalo kamu bil—“

“Siapa yang merasa terbebani?” Ji Yeon tiba-tiba muncul di depan Minho dan You Jin.

“Ji Yeon-aa, kamu mendengar—“ tutur You Jin.

“Siapa yang merasa terbebani? Aku enggak, Kim You Jin. Kami semua ‘kan temanmu. Kenapa kamu berpikir kayak gitu?”

“Park Ji Yeon? Aku enggak percaya ini kamu,” Minho setengah berbisik.

Ji Yeon melepaskan senyum kepada Minho dan lalu berbicara dengan You Jin lagi.

“Ji Yeon-aa, tolong jangan kasih tau mereka,” You Jin berlutut di depan Ji Yeon.

“YOU JIN-A! Kamu lagi ngapain sih? Ayo, berdiri!” Ji Yeon mengangkat tubuh lemas You Jin supaya berdiri.

“Enggak mau. Sebelum kamu janji, kamu enggak kasih tau ke siapa-siapa. Minho, kamu juga!”

“Kim You Jin!” sahut Ji Yeon dan Minho berbarengan.

Ji Yeon dan Minho bertatapan. Sementara itu You Jin berharap keduanya berjanji. Janji yang membuatnya nyaman.

“Oke,” Minho menganggukkan kepala.

“CHOI MINHO!” Ji Yeon berteriak keras.

“Sstt.. ini yang terbaik.”

“Bukan. Sama sekali bukan, Minho-yaa.”

You Jin berdiri setelah Ji Yeon pergi dari situ.

“Park Ji Yeon,” Minho memanggil Ji Yeon, namun Ji Yeon tetap tidak memberhentikan langkahnya. Pergi.

You Jin akan berlari mengejar Ji Yeon. Maksudnya untuk menjelaskan apa yang ia inginkan. Tetapi, Minho mencegatnya untuk tidak berlari.

“Biar aku saja. Kau tunggu saja di kelas,” Minho memegang bahu You Jin dan segera berlari meninggalkannya.

___

“Park Ji Yeon!” Minho memanggil Ji Yeon sambil berlari kecil di belakang Ji Yeon yang berlari cepat.

“JI YEON-A!” Minho memanggil Ji Yeon lagi. Minho mempercepat larinya hingga berada di depan Ji Yeon.

“YEON!” Minho sekarang berada tepat di hadapan Ji Yeon.

“Kamu kepengen berusaha meyakini aku? Enggak mempan,” Ji Yeon tersenyum kecut.

“Wae? Kamu nggak suka diyakinkan? Tolong, kali ini aja kamu turutin kemauan temen. Kenapa sih? Kamu tuh egois,” Minho malah marah-marah.

“Aku? Egois? Sejak kapan? Aku enggak pernah mikirin diri sendiri. Aku selalu aja berbagi. Sama Sue Ji-lah, Jin Ah-lah. Mungkin kamu aja yang egois. Atau You Jin yang egois.”

“Mwo? You Jin egois katamu?”

You Jin mengintip mereka di balik tembok.

“YA! Aku tau dia kepengen nyaman. Biar enggak ada yang ngeganggu. Maksudnya yaitu itu. Dia kepengen sendiri. Dia kepengen—emm.. pokoknya dia egois.”

Minho tersenyum kecil.

“WAE? Senyam senyum.”

“Enggak boleh?” Minho mencubit pipi Ji Yeon sejenak dan lalu melepaskannya.

“Jangan-jangan kamu naksir aku.”

“Haha.. enggak tuh. Denger ya, Ji Yeon. You Jin itu kepengen temen-temen apalagi kamu enggak repot-repot ngurusin dia. Dia kepengen—“

“Oke, aku gak bakal kasih tau temen-temen.”

Minho lalu tersenyum dan mencubit pipi Ji Yeon lagi. You Jin melihat itu.

___

Di Grade 2-2…

Yoo Seung Ho sedang menggrebek tempat Shin Dong Hee. Mereka berdua terlihat sedang berdiskusi. Yah, mungkin tentang lomba-lomba Class Meeting yang tadi dirapatkan.

“Yoo Seung Ho! Kapan rapat kelasnya nih? Laper!” So Min ribut.

“Hooh. Yuk, cepetan!” Qian menambahkan.

Yoo Seung Ho maju ke depan kelas bertepatan dengan Ji Yeon yang masuk kelas. Berikutnya yang masuk adalah You Jin dan Minho. Yoo Seung Ho melirik ke arah mereka.

“Habis pipis bareng, ya? Kok rombongan?” Seung Ho dengan kasar mengucapkan itu.

“Mulutmu!” Ji Yeon menyahuti kata-kata Seung Ho. Sementara Minho dan You Jin hanya diam duduk di tempatnya masing-masing.

“Oke, kata Dong Hee, Classmeet dimajukan jadi besok. Dan lomba pertama adalah lomba basket putra,” kata Seung Ho.

“Bukannya harusnya lady-first?” So Min bawel.

“Ngapain kamu ngomong kayak gitu?” Seung Ho melotot ke arah So Min.

“Enggak boleh?” So Min berkacak pinggang.

“BRISIK!” Jin Ah ikut-ikutan.

“Yang brisik kamu!” Seung Ho menunjuk-nunjuk Jin Ah.

“KAMU!” sekelas gantian menunjuk-nunjuk Seung Ho. Sementara itu, Seung Ho hanya menelan ludah dan melanjutkan bicaranya.

“Jadi, ini kemauan sendiri apa ditunjuk?” kata Seung Ho.

“Blablabla..” So Min sudah mulai bosan dan laper.

“YYAA!” Seung Ho menunjuk-nunjuk So Min.

“So Min-aa, ke kantin yuk!” Qian menarik tangan So Min untuk keluar kelas.

Yoo Seung Ho hanya melihat Qian yang menarik So Min keluar kelas. Dia ingin memanggilnya. Namun, yah… jaga image.

“Oke, jadi ditunjuk ya. Emm.. basket putra tim nya itu..,” Seung Ho menulis nama-nama anak cowok yang ikut lomba basket.

___

“YOO SEUNG HO? MILIH SENDIRI?” Qian dan So Min serentak mengatakan itu saat istirahat di kantin.

Suasana kantin agak sepi setelah suara ini keluar dari mereka berdua. Pandangan sinis menyerbu mereka.

“Im Jin Ah, siapa aja sih yang ikut? Naega mollaseo,” kata Qian menggiyang-goyangkan tangan Jin Ah.

“Emm.. Choi Seung Hyun, Yoo Seung Ho, Choi Minho, Nichkhun, dan Jang Wooyoung,” Jin Ah melirik ke arah Bae Sue Ji setelah menyebutkan nama ‘Wooyoung’.

“Apaan sih lirik-lirikkan?” Sue Ji memonyongkan mulutnya.

“Biarin kali. Eh, liat Ji Yeon enggak?” Jin Ah menyantap kentang sausnya.

“Emm.. molla. Sedari tadi, dia enggak keliatan. Mungkin di perpus,” So Min dengan cuek mengunyah roti yang ia makan.

Jin Ah manggut-manggut. Kenapa ya Ji Yeon dari tadi enggak mau ngomong sama aku terus? Marah? Tapi aku salah apa sama dia? Pikirnya.

“Ih, ganteng banget itu..!!” jerit Qian sambil menunjuk-nunjuk seseorang di rombongan kakak kelas.

Jin Ah terbangun dari lamunan dan segera melihat ke arah yang ditunjuk Qian.

“Anak baru kelas 3, tauk!” celetuk So Min.

“Emm.. oh, keponakannya kepsek ya?” Qian manggut-manggut.

“MWO? KEPONAKAN?” Jin Ah berteriak.

“Yya, kenapa teriak? Sakit telingaku,” Sue Ji mengelus-elus kupingnya.

“Mianhae.”

“Jin Ah, jangan beri tahu kalau aku anak dari kepsek. Tolong,” kata Minho waktu itu.

“Wae? Kayaknya kamu tau sesuatu yang kami enggak tau. Apaan tuh?” Qian penasaran.

“Aniyya, anni..,” Jin Ah tersenyum selebar mungkin.

“Beneran?” Sue Ji ikut-ikut penasaran.

Jin Ah sekali lagi manggut-manggut sambil melihat ke arah keponakan kepsek. Di sebelah keponakan kepsek, ada seorang anak laki-laki yang menurutnya sangat tampan. Bahkan sepertinya lebih tampan dari Nichkhun yang sudah 1 tahun lebih ia sukai. Kakak kelas.

“Jin Ah-yaa, kamu hari ini sering banget melamun,” kata So Min.

“Ohh, enggak.”

“Apa.. masih mikirin Nichkhun?”

Jin Ah kaget setengah mati setelah So Min menyebut nama itu.

“Ba-bagaimana kamu tau?” Jin Ah tergagap.

“Kayaknya bukan ‘kamu’ lagi. Tapi anak-anak sekelas,” Qian merangkul So Min.

“MWO? Jadi sekelas tau??” jantung Jin Ah berdegup kencang.

Qian dan So Min dengan santainya mengangguk. Lalu, Jin Ah menoleh ke arah Sue Ji. Dan Sue Ji hanya tersenyum nakal.

“SUE JI!” Jin Ah berteriak lagi.

“Bukan aku. Mereka tau sendiri dan menyebarkannya. Salah siapa dan siapa suruh curhat tentang Nichkhun keras-keras di dalem kelas?” tutur Sue Ji jujur bertepatan dengan lewatnya rombongan anak-anak cowok kelas 2-2.

“Bisa enggak sih, kamu ngomong enggak pake gas?” Jin Ah menutupi mulut Sue Ji.

Nichkhun diam-diam melirik ke arah Jin Ah yang sedang menutupi mulut Sue Ji. Nichkhun juga diam-diam menyembunyikan tawa.

Author POV end

Jin Ah POV

Waktunya pulang sudah tiba. Aku segera menggendong tas-ku dan keluar kelas setelah berdoa bersama. Seperti biasa, aku menunggu Ji Yeon dan Sue Ji keluar kelas.

Aku melihat Ji Yeon dan Sue Ji ngobrol dengan asyik seperti biasa sambil tertawa. Segera aku menghampiri mereka.

“Sue Ji-yaa, Ji Yeon-aa! Yuk, pulang!” aku menggaet tangan mereka berdua.

Tiba-tiba saja, Ji Yeon melepaskan tanganku dari lengannya. Dan lalu dia mengucapkan selamat tinggal kepada Sue Ji saja. Tidak kepadaku.

“Emm.. kau harus memberi tahu tentang pacaran boong-boonganmu dengan Minho kepadanya,” kata Sue Ji.

“Ke siapa?”

“Park ji Yeon. Apa kamu lupa, kalo dia naksir berat sama Minho?”

Jin Ah memutar otaknya dan…

“OH IYA!” Jin Ah memukul jidadnya, “..astaga, aku enggak tau. Aku lupa. Astaga-astaga-astaga!!”

“Lebay! Makanya cepet kasih tau! Sekarang!” Sue Ji mendorong Jin Ah supaya mengejar Ji Yeon.

Jin Ah menuruti perkataan Sue Ji dan berlari mengejar Ji Yeon. Dengan bersusah payah, Jin Ah akhirnya dapat meraih bahu Ji Yeon.

“Ji Yeon-aah,” Jin Ah ngos-ngosan.

“Jin Ah-yaa, wae?” Ji Yeon menjawab dengan lesu.

“Park Ji yeon, aku mau ngasih tau sesuatu.”

Ji Yeon berbalik dan melipat tangannya.

“A-aku.. sebenernya enggak pacaran beneran sama Minho. Cuma pacaran boong-boongan. Kamu marah kan sama aku soal aku pacaran sama Minho?”

“Eih? Pacaran boongan?”

“Emm.. ne. Pacaran boongan. Kan kamu tau aku suka sama Nichkhun aja. Enggak sama yang lain kok.”

“Masa?”

Tiba-tiba aku melihat sekelebat siluet kakak kelas ganteng yang tadi aku lihat di kantin. Aku jadi merasa bersalah kepada Nichkhun. Masa sih aku suka sama oppa itu? Oppa yang kalo enggak salah jadi The Most Handsome di SMA Daebak?

“Jin Ah-yaa, gomawoo!” tiba-tiba Ji Yeon memelukku.

“Ah—ne. Buat apa?” aku masih memperhatikan oppa tadi.

“Gomawoo!” Ji Yeon memelukku erat.

“Emm..,” aku mengelus-elus punggungnya sambil masih memperhatikan oppa tadi.

Eh, oppa tadi melihatku. Dia melihatku sambil mengernyitkan kening. Dia lalu tersenyum kepadaku. Eih? Padahal aku enggak kenal sama sekali. Dan dia enggak kenal aku sama sekali juga. Kenapa dia senyum?

“Jin Ah-yya, kamu emang temenku yang paling baik,” Ji Yeon melepaskanku, “..tapi, kamu berencana kapan mau mutusin Minho?”

Aku terhenyak. Mutusin?

“Ji Yeon-aa,” aku kaget.

“Wae?” Ji Yeon mengangkat alis, lalu memukul halus bibirnya, “Aa.. oke, aku tau kok, kamu pasti—pacaran sama Minho buat nyemburuin Khyeowo?”

“Iya, hehe..”

“Ohh, oke. Asal—“

“Asal?”

“Asal, kamu enggak nyakitin perasaan Minho aja.”

“Nyakitin? Maksudnya? Ya enggak lah! Kalo misalnya dia tersakiti karna aku, kamu hukum aku apa aja deh.”

Ji Yeon mengangkat sebelah alisnya dan tersenyum tipis.

Jin Ah POV end

Ji Yeon POV

“Jin Ah-yya, kamu emang temenku yang paling baik,” aku melepaskan Jin Ah dari pelukanku, “..tapi, kamu berencana kapan mau mutusin Minho?”

“Ji Yeon-aa,” dia setengah berbisik.

“Wae?” aku mengangkat alis, lalu memukul halus bibirku, “Aa.. oke, aku tau kok, kamu pasti—pacaran sama Minho buat nyemburuin Khyeowo?”

“Iya, hehe..”

“Ohh, oke. Asal—“

“Asal?”

“Asal, kamu enggak nyakitin perasaan Minho aja.”

“Nyakitin? Maksudnya? Ya enggak lah! Kalo misalnya dia tersakiti karna aku, kamu hukum aku apa aja deh.”

Aku tersenyum tipis. Dia enggak tau kalo sebenernya, sebenernya Minho itu suka sama dia. Suka banget. Tapi, aku bahagia, kalo Jin Ah enggak nyakitin perasaan Minho kali ini. Minho bahagia aku bahagia juga.

Aku sudah nyampe dirumah. Aku sudah terbiasa sendirian disini. Pasti, ibu sedang main di klub malam. Dan ayah masih bekerja. Aku tau sebenarnya ayah tidak mau pulang ke rumah.

Keluarga memang begini. Berantakkan. Apabila aku sudah tidur, ayah dan ibu pasti bertengkar. Aku mendengar sayup-sayup tangisan ibu, dan barang pecah belah yang dibanting ayah. Dulu.

Sekarang, aku jarang mendengar itu. Karena ayah dan ibu udah enggak pernah ketemu lagi. Aku enggak pernah tau apa yang bikin mereka selalu bertengkar.

Aku dengan segera menuju kamarku. Aku masuk, dan duduk di tepi ranjang. Mencopot sepatu dan kaus kaki. Lalu menuju kamar mandi untuk mandi. Setelah itu, aku tiduran di ranjang sambil mendengar lagu favoritku, Kissing You milik Girls Generation.

Tiba-tiba, lagu yang aku setel berhenti, dan berganti menjadi dering telepon. Segera aku mengambil handphoneku. Aku melihat nama yang terpampang jelas disana. CHOI MIN HO?

Choi Minho tumben sekali menelepon. Aku baru pernah ditelepon dia. Ini yang pertama kali. Dengan hati-hati, aku menggeser tanda jawab ke kiri, dan mendekatkan handphone ke telinga kananku.

“Halo,” aku dengan sedikit gugup menjawab.

“Ji Yeon-aa, cepat keluar rumahmu! Aku butuh bantuanmu sekarang!” Minho setengah berteriak.

“Kamu dimana? Bantuan apa?” aku panik, karena Minho terdenngar seperti panik.

“Aku didepan rumah You Jin. Masalah You Jin!”

Aku kaget. Sakit. Minho panik gara-gara You Jin?

“Ji Yeon-a, ppali! Kamu aja yang bisa bantu aku! You Jin pingsan! Keluarganya enggak ada!” kata Minho setengah berteriak.

“Oh..,” aku terbangun, “o-oke,” aku mematikan telepon dan berlari menuju keluar rumah.

Ji Yeon POV end

Minho POV

Aku menunggu Ji Yeon sampai di rumah You Jin. Sambil menunggunya, aku mencoba mencari taksi untuk ke rumah sakit. Tapi, susahnya minta ampun.

Enggak lama, Ji Yeon sampe dengan mengenakan kaos oblong, dan enggak pake jaket sama sekali. Padahal udara disini dingin banget.

“Ji Yeon-aa, kamu gila!” aku berkata kepadanya setelah dia menghampiriku.

“Wae? Ayo, cepetan. Keburu Kim You Jin kenapa-kenapa. Aku panggil taksi, ya!” Ji Yeon dengan buru-buru berlari menuju jalan raya.

Dan sekali melambai-lambaikan tangan, dia berhasil membuat sebuah taksi berhenti. Aku langsung menggendong Kim You Jin ke arah taksi tadi dan memasukkannya kedalam taksi.

“Cepet, kamu di depan, aku jaga You Jin,” Ji Yeon dengan cekatan akan masuk ke dalam taksi.

Karena aku enggak tega dengan Ji Yeon, aku melepaskan jaketku dan kukenakan di badannya yang kecil yang sedang menggigil.

“Yya, kamu entar kedinginan!” Ji Yeon melepaskan jaketku dari badannya dan melemparkannya kepadaku. Lalu dia masuk dan menutup pintu mobil.

Aku tanpa ba-bi-bu, langsung naik taksi dan menyuruh si sopir untuk cepat menuju rumah sakit.

Aku dan Ji Yeon menunggu di ruang tunggu setelah keluarga You Jin datang ke rumah sakit. Ji Yeon duduk jauh dariku sambil mengelus-elus lengannya yang menggigil.

“Kedinginan kan?” aku duduk dekat Ji Yeon.

“Ah, oh.. enggak begitu,” Ji Yeon meringis. Dipaksakan.

“Beli kopi yuk,” Aku berdiri, “biar anget.”

Ji Yeon lalu berdiri. Dan aku berjalan di depannya. Menuju kedai kopi terdekat langgananku.

Di kedai, kami duduk berhadapan menunggu dua cangkir kopi panas. Aku melihat Ji Yeon masih mengelus-elus lengannya. Aku sebenernya juga kedinginan, dan—yah, aku lepas jaketku lagi dan menyelimuti badan Ji Yeon yang kedinginan dengan jaketku.

“Kamu entar dingin, Minho-yya,” dia melepaskan jaketku lagi.

Aku mengambil jaket yang ia ulurkan kepadaku, dan masih memperhatikan gerak geriknya yang berusaha menghangatkan dirinya.

Enggak lama, kopi datang. Aku enggak segera minum kopi. Aku sejenak melihat Ji Yeon yang langsung meneguk beberapa teguk kopi.

“Ahh.. mendingan,” katanya setelah minum kopi.

“Emm.. Ji Yeon-a,” aku memanggilnya dengan rasa bersalah.

“Wae?”

“Kamu yakin enggak dicariin orang tuamu? Atau kakakmu mungkin?”

Ji Yeon terdiam dan menatap mataku. Dia tersenyum.

“Sampai beribu-ribu taun pun, enggak bakal ada yang nyariin aku, kali,” dia mengaduk-ngaduk kopi dengan sendok.

Aku kaget,”Wae?”

“Wae?” dia tertawa kecil, “yah.. kenapa ya?”.

“Ji Yeon-a,” aku memanggilnya lagi.

“Mwo?” dia kali ini tersenyum lebar dengan matanya yang berkaca-kaca.

“Mianhae.”

“Buat apa minta maaf? Toh, kamu ngelakuin apa yang bersalah buat aku?”

Aku mendekatinya. Mengajaknya berdiri. Dia pun menuruti perintahku.

Sekali lagi aku menyelimuti badanyya dengan jaketku. Dan lagi-lagi dia menolak jaket ini.

“Kamu yang but—“

“Apa kamu sengaja biar aku meluk kamu heh?” aku tersenyum tipis.

Ji Yeon tampak terkejut. Aku lalu menyelimuti badannya lagi dengan jaket. Kali ini dia enggak menolak. Cuma ngeyel.

“Minho-yya, aku gwencana. Ceongmal ceongmal ceongmal gwencana,” katanya sambil sesekali menarik ingus di hidungnya.

“Besok kamu pasti flu.”

“Dan, sekarang kamu pasti kedinginan.”

“Iya. Makanya biar enggak kedinginan—“ aku memeluk Ji Yeon agak renggang.

“Choi Minho,” aku dengar sayup-sayup dia memanggil namaku.

“Wae? Kamu ‘kan suka kalo gini.”

“Ka-kamu—“

“Pasti kamu mau bilang, ‘kamu tau dari mana?’ gitu ‘kan?”

Ji Yeon lalu melepaskan pelukanku, dan melepaskan jaketku dari tubuhnya. Dan lari dari kedai, entah kemana. Aku biarkan saja, karena mungkin dia malu.

Minho POV end

Jiyeon POV

Minho mendekatiku. Mengajakku berdiri. Aku pun menuruti perintahnya.

Sekali lagi dia menyelimuti badanku dengan jaketnya. Dan aku menolak.

“Kamu yang but—“

“Apa kamu sengaja biar aku meluk kamu heh?” dia tersenyum tipis.

Aku terkejut. Dia lalu menyelimuti badanku lagi dengan jaket. Kali ini aku enggak menolak. Cuma ngeyel.

“Minho-yya, aku gwencana. Ceongmal ceongmal ceongmal gwencana,” kataku sambil sesekali menarik ingus di hidung.

“Besok kamu pasti flu.”

“Dan, sekarang kamu pasti kedinginan.”

“Iya. Makanya biar enggak kedinginan—“ dia memelukku agak renggang.

“Choi Minho,”

“Wae? Kamu ‘kan suka kalo gini.”

“Ka-kamu—“

“Pasti kamu mau bilang, ‘kamu tau dari mana?’ gitu ‘kan?”

Aku lalu melepaskan pelukannya, dan melepaskan jaketnya dari tubuhku. Dan lari dari kedai, entah kemana. Aku sangat malu, karena Minho sudah tau kalo aku suka sama dia.

Jiyeon POV end

Author POV

Hari Classmeet pun tiba. Anak-anak dari berbagai grade pun membanjiri lapangan basket. Dan ada sebagian yang berada di lapangan futsal.

Hari ini adalah lomba basket putra, dan futsal putri. Pertandingan futsal kedua adalah giliran Grade 2-2 dan Grade 2-7. Padahal, grade 2-2 belum sama sekali memilih pemain.

Semua anak perempuan grade 2-2 berkumpul di kelas. Song Qian dan Jung So Min bolak-balik ke lapangan futsal dan ke kelas. Mengatur waktu pertandingan futsal.

“Oke, jadi. Aku minta, Bae Sue Ji, Jung So Min, Min Sun Ye dan Kim You Jin bergabung denganku untuk ikut lomba futsal ini!” Jin Ah berkata di depan kelas.

“MWO!!??” Ji Yeon berteriak.

“Ahh, mianhae Ji Yeon-a. Aku enggak bisa milih kamu,” Jin Ah meringis.

“Bu-bukan itu masalahnya. You Jin-aa—“

“Aku enggak apa-apa, Ji Yeon,” You Jin berbisik sambil menarik baju Ji Yeon.

“Emm.. ada apa sih sama You Jin?” Jin Ah penasaran.

“Enggak apa-apa,” You Jin tersenyum lebar kepada Jin Ah.

Pintu dibuka dengan kasar kemudian oleh Jung So Min dan Qian. Lalu Jin Ah menunjuk So Min.

“Kamu ikut fut—“ kata Jin Ah yang terputus.

“Ssttt!! Cepet ke lapangan basket! Grade 2-2 nihh!” Qian mengajak semua anak-anak ke lapangan basket.

Semua anak perempuan Grade 2-2 pun meninggalkan kelas menuju ke lapangan basket.

“NEE!! Sekarang giliran dari Grade 2-7 melawan Grade 2-2! Oke, saya selaku kepsek mengucapkan selamat bertanding untuk Grade 2-7 dan—“ Nyonya Choi menghembuskan nafas keras, “Grade 2-2.”

Jung So Min, dan Song Qian secara kompak menyanyikan yel-yel yang berasal dari lagu Wonder Girls, Nobody.

“I WANT NOBODY NOBODY BUT TWO! I WANT NOBODY NOBODY BUT TWO!” so Min dan Qian bernyanyi serentak bersama dengan gerak gerik koreonya.

“So Min-aa, lagi ngapain sih? Cepet ganti baju olahraga!” Sun Ye menggeret lengan baju So Min.

“Wae??” So Min mengernyitkand dahi.

“Kamu ikutan futsal entar!” kata Sun Ye.

“Oohh.. nantian aja lah. Liat ini dulu!”

“Oke, posisimu diganti kalo gitu.”

“Yaudah. Dari tadi kek,” So Min dengan cuek berkata.

Di lapangan futsal, Grade 2-2 sedang bertanding dengan Grade 2-7. Tanpa yel-yel, Grade 2-2 bertanding dengan semangat. Jin Ah dan Ji Yeon tampil menonjol karena mereka emang paling jago main tendang-tendangan.

Bola sekarang dikuasai oleh Grade 2-7. Grade 2-7 mendekati gawang, dan ditendangnya bola itu. Tetapi bola itu dapat dipegang oleh You Jin, walaupun akhirnya You Jin terjatuh.

“YOU JIN-A!” Ji Yeon tampak paling terkejut saat You Jin jatuh.

Kim You Jin tidak bisa berdiri, karena kepalanya mulai pusing. Dia merasakan panas dingin badannya. Dan, darah di lututnya mulai keluar. Lalu, dia tidak dapat melihat apa-apa lagi.

Kim You Jin pingsan di tempat dan membuat pertandingan diberhentikan. Keputusan wasit yaitu, Grade 2-2 menang karena memang sudah mendapat score 5-1.

___________________________________________________

BONUS FACT : Dalam dunia nyata, Im Jin Ah (Nana After School) bener-bener tertarik sama Nichkhun 2PM.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s