Grade 2-2 Part 8

Image

Title : Grade 2-2

Rating : PG-15

Genre : Romance, School.. kadang-kadang juga sad hikz

MAIN CAST : Nana, Nichkhun, Minho, Victoria, Jiyeon, Yoo Seung Ho, Suzy, Wooyoung

OTHER CAST : cari sendiri di post-post sebelumnyaahh.. hehe 😛

COMMENT DINANTI, jangan bikin aku menanti terus lohh..  entar kayak lagunya Vierra yang Terlalu Lama. dan jangan bikin aku ngomong soal comment. entar aku nge REPLAY mulu kata-kata Comment.. kaya lagunya SHINee dong yang Replay, hehe

eh, mmm HAPPY READING YAK!!

……………………………………….

“Yya! Kamu tuh.. malu-maluin! Lama-lama aku malu punya temen kayak kamu,” ujar Sue Ji di telepon kepada Jin Ah.

“Eh, jangan malu. Emangnya aku juga enggak malu punya temen ngomongnya pake dialek? Malu banget, Jang Sue Ji,” kata Jin Ah.

“Loh, loh. Jang Sue Ji?”

“Emm.. marganya Wooyoung ‘kan Jang.”

“Aneh.”

“Emang.”

“Tapi ngomong-ngomong kamu tadi malu-maluin.”

“Emang.”

“Kamu juga sih, Cuma gitu doang cemburu. Dasar cemburuan.”

“Emang.”

“Iiihhh…!!!” Sue Ji menutup telepon.

Im Jin Ah hanya tersenyum kecil, lalu baru saja akan masuk kamar karena hari sudah malam. Dia lebih suka sendiri di kamar. Yah, emang sih, dia juga sekarang sendirian di rumah. Secara. Ju Hwan oppa pergi main sama temen-temennya.

Hendak ke kamar, tiba-tiba seseorang mengetuk pintu rumah Jin Ah. Im Jin Ah hanya mengeluh dan langsung membukakan pintu. Dan… tamu malam ini adalah Choi Min Ho.

“Hai,” sapa Min Ho.

“Oh, hai.”

Hening. Mereka canggung.

“Mianhae,” mereka serentak mengatakan itu. Lalu mereka bertatapan dan …….. tertawa.

“Gwencana,” kata Min Ho.

Jin Ah tersenyum kepada Min Ho.

“Main, yuk!” ajak Min Ho.

“Hah?”

“Pasar malem.”

Author POV end

Nichkhun POV

Malam ini, aku sedang hang out dengan teman-temanku. Yah, dekat alun-alun ada pasar malam.

Enggak sendiri kok. Ada Tae Sung dan temen-temen yang lain. Dan kami mengisi kekosongan waktu dengan minum alkohol. Tapi… kami melakukannya dengan terang-terangan karena kami mengaku sebagai pegawai negeri.

Aku ingin merenung tentang Eun Jung. Aku merasa bersalah padanya. Aku memang tidak menyukainya. Apalagi mencintainya. Aku—yah, hanya berpacaran dengannya karena aku ingin menunjukkan kepada Tae Sung bahwa aku juga bisa memiliki……… *blah*

Saking merasa bersalahnya, aku enggak tega buat mutusin dia. Lagian aku juga tau, dia pacaran sama Tae Sung dibelakangku. Makanya… aku pengen kita putus. Biarlah, si Tae Sung ngambil Eun Jung.

Dari kejauhan, aku melihat motor yang sangat sering lewat di depan sekolah dan parkir di belakang sekolah. Platnya … C10. Punya Choi Min Ho. Dengan keadaan setengah mabuk, aku berdiri menghampiri Min Ho yang sedang berdiri dekat motornya dengan—seorang gadis. Im Jin Ah? Bukannya mereka tadi…?

“Nich..Nichkhun-aa?” Min Ho tergagap setelah melihatku menenteng botol alkohol.

Im Jin Ah menengok ke arahku dengan tatapan aneh. Dia mengernyitkan dahi dan melihat apa yang kutenteng. Dia terlihat sedikit kaget. Namun, dia juga terlihat ingin menyembunyikan perasaan itu.

“Mwol? Kaget?” kataku sambil tersenyum kepada Jin Ah.

Jin Ah menggelengkan kepala sambil setengah melongo. Aku tertawa melihat raut muka Jin Ah yang polos dan manis. Mirip dengan Qian yang dulu sering malu-malu.

Nichkhun POV

Author POV

Nichkhun, Min Ho, serta Jin Ah sedang berdiri di dekat wahana bianglala. Min Ho dan Jin Ah sebenarnya kaget karena Nichkhun sekarang dalam keadaan mabuk.

Ketika Nichkhun memperhatikan Jin Ah yang salah tingkah, Min Ho memperhatikan Tae Sung dan teman-temannya yang ditangkap…. polisi.

“Ayo!” Min Ho menarik tangan Jin Ah.

“Apaan?” tanya Jin Ah.

“Cepetan kamu tarik itu si Nichkhun. Ada polisi!” ujar Min Ho cepat.

Jin Ah tanpa pikir-pikir, langsung menarik tangan Nichkhun dan berlari mengikuti Min Ho yang menarik tangannya juga. Berlari mengikuti langkah-langkah Min Ho yang lebar, yang biasanya sulit diikuti oleh anak perempuan pada umumnya. Namun, dia bisa mengikuti. Dari kecil.

Mereka lalu bersembunyi di sela-sela rumah penduduk sekitar situ. Dan mereka dengan hati-hati berjongkok, berusaha tidak membuat suara.

Min Ho melepaskan tangan Jin Ah pelan-pelan dan menengok ke arah tadi mereka berlari. Ia lihat beberapa polisi sambil memasukkan Tae Sung ke mobil polisi, tengak-tengok mencari satu personil geng hitam yang mabuk. Yang mereka cari itu Nichkhun.

Sementara itu, Jin Ah tidak melepas tangan Nichkhun. Ia terus mengenggam tangan Nichkhun, sambil memasang muka khawatir. Nichkhun tertawa kecil melihat Jin Ah tidak melepaskan tangannya.

“Yya, mau sampai kapan kamu gandeng tanganku?” kata Nichkhun, menggoda Jin Ah.

Im Jin Ah lalu melihat tangannya yang memegang erat tangan Nichkhun yang basah akan keringat. Setelah sadar bahwa sedari tadi dia menggandeng Thai Prince, ia pun melepaskan tangan Nichkhun.

“Jin Ah-yya, tolong tutup mulut Nichkhun. Aku mau memeriksa luar,” kata Min Ho sembari keluar dari tempat persembunyian.

“Min Ho-yya,” Jin Ah sedikit berteriak.

Nichkhun menarik tangan Jin Ah dan meletakkannya di mulutnya.

“Kamu harus menutupi mulutku,” kata Nichkhun seperti kumur-kumur.

Jin Ah dengan segera menarik tangannya kembali karena takut bau alkohol. Dia khawatir dengan keadaan Nichkhun tapi… dia malu untuk melindungi Nichkhun.

“Yya, aku mau tanya satu hal ke kamu,” kata Nichkhun.

Jin Ah hanya mengerjap-ngerjapkan matanya.

“Kamu suka aku kan? Kenapa kamu enggak kasih tau aku langsung?” tanya Nichkhun.

Jin Ah kaget. Dia menelan ludah. Bingung akan menjawab apa.

“Siapa bilang suka sama kamu? Aku suka sama kiper Grade 3-3!! Kalo aku suka sama kamu, aku udah suka dari sebelum masuk sini,” sangkal Jin Ah. Dia tidak begitu melihat wajah si kiper Grade 3-3 sebenarnya.

“Bener. Kamu harusnya suka sama aku dari sebelum masuk sini. Kamu suka aku dari waktu pendaftaran. Iya ‘kan?”

Muka Jin Ah memerah. Disorot oleh cahaya bulan purnama dan lampu taman salah satu rumah penduduk sini, wajahnya sangat penuh dengan kecemasan. Nichkhun tersenyum melihat raut muka Jin Ah untuk kesekian kali.

“Neo, diliat-liat imut juga,” Nichkhun mendekati wajah Jin Ah, lalu tersenyum menjauh dari Jin Ah, “mirip banget sama Song Qian.”

Tiba-tiba Jin Ah kesal mendengar nama Qian disebut.

“Aku akan datang ke sisimu, Nona Imut yang sok imut! Tapi, setelah aku putus dari Japan Princess. Sabar, ya!” kata Nichkhun.

Jin Ah tidak bisa berkata apa-apa lagi, karena polisi menangkap mereka seketika. Lalu, mereka dibawa ke kantor polisi bersama yang lainnnya.

Guru Baek Ji Yeong dan Nyonya Choi tampak tergesa-gesa keluar dari mobil mewah milik suami baru Nyonya Choi dan masuk ke kantor polisi.

Setelah masuk kantor polisi, mereka melihat lima muridnya, Tae Sung, Nichkhun, dan yang lainnya diborgol. Sementara itu, Min Ho dan Jin Ah sedang diinterogasi.

“Ahh.. ini dia Nyonya Choi Soo Eun. Kepala sekolah Daebak yang terkenal di seluruh media!” kata polisi bertubuh kurus.

Nyonya Choi hanya melirik sinis ke arah si polisi kurus dan duduk di ruang tunggu. Lalu, Jin Ah dan Min Ho keluar dari ruang interogasi. Mereka memberi hormat kepada Guru Baek dan Nyonya Choi.

Nyonya Choi menatap Min Ho dengan tatapan yang sinis, apalagi terhadap Jin Ah.

“Kalian.. tidak apa-apa, ‘kan?” tanya Guru Baek.

“Emm,” Jin Ah mengangguk. Lalu ia menoleh ke arah Nichkhun dan Tae Sung.

Nichkhun tersenyum kecil kepada Jin Ah. Namun, Jin Ah tidak membalas senyum Nichkhun.

“Nyonya Choi Soo Eun! Lima muridmu ini akan kami tahan—“ kata si polisi.

“Kalian mau tebusan berapa?” tanya Nyonya Choi dengan senyumnya yang licik.

Tuan Im dan Tuan Choi mondar-mandir di depan rumah Tuan Im. Mereka mendapat berita bahwa Min Ho dan Jin Ah berada di kantor polisi. Mereka khawatir.

Tidak lama, mobil mewah berhenti di depan rumah Tuan Im. Mobil yang dikendarai Nyonya Im. Segera, Nyonya Im turun dari mobil, lalu menyapa Tuan Im dan Tuan Choi.

“Annyeonghaseyo. Sudah lama tidak bertemu. Yojum oddoke jinaessoyo?” kata Nyonya Choi mencoba ramah terhadap Tuan Im.

“Jar jinaesso,” jawab Tuan Im pendek.

Kemudian, Nyonya Choi tersenyum kepada Tuan Choi.

Choi Min Ho merasakan suasana panas yang terjadi diantara Nyonya Choi dan Tuan Choi serta Tuan Im. Dia turun dari mobil dan membuka pintu belakang untuk membangunkan Jin Ah yang tertidur pulas.

“Jin Ah-yya, bangun,” Min Ho setengah berbisik.

Jin Ah hanya mengulet dan bertanya, “dimana ini?”

“Rumah,” jawab Min Ho.

“Ooh,” Jin Ah lalu tidur lagi.

Tanpa berpikir panjang, Min Ho menggendong Jin Ah keluar dari mobil, sekaligus masuk ke rumah Tuan Im.

Choi Min Ho masuk ke kamar Jin Ah dengan masih menggendong Jin Ah. Lalu dia menidurkan Jin Ah di kasur, dan melepaskan sepatu Jin Ah. Segera ia selimuti Jin Ah sampai dekat wajah. Namun, saat melihat bibir Jin Ah, jantungnya berdetak cepat.

“Oppa, oppa, oppa. Aku kakaknya,” gumam Min Ho sambil menyelimuti Jin Ah sampai bibir.

Kemudian, dia mematikan lampu Jin Ah dan keluar dari kamar Jin Ah.

Setelah Min Ho keluar dari kamar, Jin Ah membuka matanya dan menurunkan selimut sambil menggerutu.

“Apa-apaan dia menyelimutiku sampe mulutt??” katanya.

Lalu dia menerka-nerka maksud gumaman Min Ho barusan.

“Oppa? Oppa oppa? Kok kayak duet Donghae-Eunhyuk Super Junior? Terus, kakakku? Dia kakakku? Aku enggak ngerasa jadi adiknya,” katanya lagi.

Esoknya…

“Anak-anak, saya akan mengumumkan sesuatu. Sekolah, demi membuat kalian tidak stres sebelum ulangan semester akan mengadakan wisata khu-sus untuk Grade 2 ke BUSAN!” kata Nyonya Choi di aula sekolah.

Hari ini, anak-anak Grade 2 berkumpul di aula untuk mendengarkan pengumuman Kepala Sekolah. Setelah mendengar perkataan Nyonya Choi, mereka tidak berteriak kegirangan. Namun bingung.

“Wae? Kenapa tiba-tiba jadi tur ke Busan?” tanya Sue Ji.

“Ke Busan lagi! Mendingan juga Jeju,” celetuk Ji Yeon.

“Yya, ini bayar enggak ya?” tanya Jin Ah.

“Kayaknya bayar—“ jawab Ji Yeon.

“OH YA! Satu hal. Wisata ini gratis!” imbuh Nyonya Choi.

Bukannya ribut karena gembira, mereka ribut karena masih bingung.

“Apa-apaan pake gratis segala? Aku bisa bayar kok!” kata Ji Yeon.

“Wah, songong banget nih orang satu,” ujar Sue Ji.

Setelah itu, mereka dibubarkan untuk masuk ke kelas masing-masing dengan wali kelas masing-masing untuk mengatur tempat duduk di bis.

………….

“Oke, mumpung saya lagi baik, saya akan membiarkan perempuan memilih pasangan duduknya. Tapi… pasangan duduk kalian, harus CEWEK-COWOK. Enggak boleh cewek sama cewek, atau cowok sama cowok,” kata Guru Baek di kelas Grade 2-2.

“Yahh…,” Shindong mengeluh.

“Oke, karena kamu mengeluh Shindong, kamu duduk sama QIAN!” ujar Guru Baek.

“Oke!” Qian setuju. Enggak berat sih buat Qian. Soalnya dia akrab sama semua anak cowok di Grade 2-2 *di Grade 2 yang lain juga iya*

“Nah, mulai dari Park Ji Yeon! Kamu pilih siapa?” tanya Guru Baek kepada Ji Yeon.

Ji Yeon tampak malu-malu menjawab pertanyaan Guru Baek. Ia tersenyum lalu dia menoleh ke arah Min Ho yang sedang memperhatikannya.  Ternyata Min Ho tahu kalau Ji Yeon pasti memilihnya.

“Choi…. Min Ho,” kata Ji Yeon malu-malu.

Langsung.. Yoo Seung Ho dan Shindong menggoda Min Ho. Sepertinya mereka menjodoh-jodohkan Min Ho dengan Ji Yeon.

“Yap,” Guru Baek mencatat di buku catatannya, “..teruss, Im Jin Ah?”

“Saem.. silahkan saem yang me-nen-tu-kan,” kata Jin Ah.

“Kenapa jadi aku yang nentuin?” tanya Guru Baek.

“Yah, pokoknya aku mau guru Baek yang nentuin.”

“Oke!” Guru Baek setuju dan memperhatikan gerombolan anak-anak cowok, “emm… mungkin dengan Wooyoung? Atau Nichkhun?”

Mata Jin Ah berbinar. Mendengar nama Nichkhun, ia berharap dia bisa duduk bersama Thai Prince ganteng itu.

“Wooyoung dengan Sue Ji. Berarti Jin Ah dengan Nichkhun,” kata Guru Baek kemudian.

Jin Ah bertepuk tangan sendirian kemudian. Lain dengan Sue Ji yang protes.

“Saem! Kok aku sama Wooyoung?” protes Sue Ji hampir menggunakan dialek.

Jin Ah lalu menengok ke arah Sue Ji sambil memasang mimik memohon dengan sangat. Sue Ji hanya pasrah demi sahabatnya yang satu ini.

“Enggak apa-apa ‘kan? Teruss.. So Min?” kata Guru Baek.

“Emm.. Yoo Seung Ho aja deh,” kata So Min cuek.

Seung Ho gantian mendapat sorakkan dari Min Ho dan Shindong.

“Terus, Sun Ye dengan Choi Seung Hoon. Bener ‘kan?” kata Guru Baek lagi.

“Iya kali,” jawab Jin Ah yang kemudian menengok ke belakang tempat Sun Ye duduk.

“Apaan sih?” Sun Ye setengah berbisik.

Jin Ah tertawa. Namun matanya tertuju kepada Nichkhun yang sedang melamun dan murung.

MALAMNYA…..

Wooyoung sedang mondar-mandir di sekitar kamarnya. Dia cemas akan besok. Besok dia bakalan duduk sama Sue Ji dan pastinya bakal di samperin sama Jin Ah dan diteriakin di depan anak-anak Grade 2-1 yang se-bus sama Grade 2-2.

Udah ada sejarahnya kalo Grade 2-2 itu enggak akur sama Grade 2-1. Yah, buktinya kapten tim Grade 2-1 yang ternyata anak eksis bernama Krystal Jung suka banget ngejekin tim futsal Grade 2-2.

Wooyoung yang adalah anak eksis dari kelas 1, kenal dan dikenal sama seluruh warga Daebak. Dia dulu pernah deket sama Qian. Yah, waktu jamannya Qian masih pacaran sama Yoo Seung Ho.

Qian itu musuh banget sama Krystal. Qian yang mulai duluan. Dan Krystal segitunya benci sama Qian, sampe-sampe sekelas pun dimusuhin. Grade 2-1 terkenal dengan anak-anak eksis yang sangat cerdas dan kaya. Satu kelas, isinya enam anak.

Jadi, Wooyoung khawatir bakal diapa-apain sama Jin Ah. Takut malu di depan anak-anak Grade 2-1 sama Grade 2-2. Sama Sue Ji sih juga.

Sudah selesai cemasnya, Wooyoung duduk di tepi ranjang di sebelah laptopnya yang menyala. Begitu ia melihat layar laptop, ia berteriak seperti anak perempuan yang ketakutan akan kecoak.

Yah, Cuma foto Sue Ji yang di zoom in penuh di layar laptopnya.

“Yya! Mengagetkanku! Siapa yang mencet akunnya Sue Ji sih?” Wooyoung mengutak-atik akun Me2day nya.

“Perasaan aku enggak mencet fotonya Bae Sue Ji kok?” Wooyoung ngomong sendiri.

Di kamar, Yoo Seung Ho sedang menyetel keras musik rock. Sambil lompat-lompat di kasur enggak jelas, dia nyanyi-nyanyi dengan suara fals-nya. Sungguh sangat apa adanya.

Dia sengaja mencuri tongkat mayorette milik adiknya yang biasa dipakai untuk menirukan tarian Bang! milik After School. Dia memutar-mutar tongkat mayorette dan kemudian menggunakannya sebagai gitar. Sungguh aneh.

Karena terlalu bersemangat, ia menyenggol figura yang ada di meja sebelah kasur. Karena si figura jatuh, Seung Ho langsung turun dari kasur dan memungutnya.

Ternyata, figura itu memfigura foto Seung Ho dan Qian sewaktu pacaran dulu. Seung Ho mengamati wajah Qian yang masih jadi cewek pemalu di foto itu.

Aku suka kamu yang dulu, Qian-a ..sekarang kamu udah berubah. Dan aku mungkin punya perasaan sama So Min. Batinnya.

Yoo Seung Ho membuka figura itu. Masih banyak fotonya dengan Qian dibalik foto yang tadi. Dia tersenyum setelah melihat foto yang ia pegang sekarang.

Di foto itu, ia berpose dengan Qian, Shindong, dan So Min. Seperti double date. Tapi So Min dan Shindong sama sekali tidak mengenal satu sama lain, waktu itu.

Ji Yeon baru saja masuk rumah setelah main dengan teman-temannya. Ia berniat akan menyiapkan semua yang akan dibawa besok. Tapi, phone di saku celananya bergetar. Sebuah call dari Choi Min Ho.

Segera ia angkat telepon dari Min Ho.

“Annyeong,” sapa Ji Yeon di telepon.

Hening disana. Ji Yeon akan menyapa sekali lagi. Namun—

“Ji Yeon-aa,” kata Min Ho di telepon dengan suara khas-nya.

“Ada apa, Min Ho-yya?”

“Boleh aku minta bantuanmu?”

“Ohh.. of course. Bantuan apa?”

“Mau enggak nemenin aku sebentar ke makam ibuku?”

“Eng—kenapa tiba-tiba kamu ngajak aku ya? Biasanya ‘kan ngajak Jin Ah?”

“Im Jin Ah enggak boleh tau. Aku enggak punya temen baik yang bisa jaga rahasia kayak kamu. Kamu—udah kayak batu pemecah masalahku.”

Ji Yeon diam.

“Ji Yeon-a, yya! Aku Cuma bercanda. Masa gadis secantik kamu aku bilang batu pemecah masalah?” Min Ho menggoda Ji Yeon.

“Na—yeppo?” Ji Yeon masih tidak percaya apa yang dikatakan Min Ho barusan.

“Semua gadis itu cantik.”

“Oke. Ke makam malem ini?”

“Em..”

“Aku jemput kamu jam berapa?”

Min Ho tertawa.

“Aku jemput.”

Author POV end

Ji Yeon POV

Aku sekarang berada di makam ibu Min Ho bersama Min Ho-nya sendiri. Aku hanya berjalan mengikuti Min Ho yang juga berjalan menuju makam ibunya.

Kami lalu berhenti di dekat sebuah gundukan kecil. Kurasa.. ini makam ibunya.

Kulihat Min Ho sedikit demi sedikit membersihkan makam ibunya. Lalu meletakkan karangan bunga. Melihatnya, aku juga ikut-ikutan meletakkan karangan bungaku sendiri.

Ketika aku meletakkan karangan bunga, aku melihat nama ibu Min Ho di batu nisan. Namanya… Goo Young Sae. Aku jadi ingat mendiang ibu Im Jin Ah yang namanya sama persis dengan ibu Min Ho ini. Goo Young Sae.

Lalu aku juga melihat tanggal kematian ibu Min Ho yang tertera dibawah nama. Sekitar 2 tahun yang lalu. Dan aku jadi ingat ibu Jin Ah yang meninggal 2 tahun lalu juga. Jin Ah pernah mengatakannya padaku waktu pertama masuk Grade 2-2.

Tapi—ini aneh. Mana mungkin suatu kebetulan itu betul banget? Goo Young Sae? Meninggal dua tahun lalu? Ini sungguh kebetulan yang sangat membuatku bingung. Dan aku mulai berpikir bahwa ibu Min Ho dan Jin Ah itu—sama.

“Ji Yeon-a,” panggil Min Ho sambil memegangi kedua pundakku.

“Wae?” jawabku sembari tersenyum.

“Aku.. butuh pelukan,” katanya.

Tanpa pikir panjang, aku segera memeluknya. Walaupun sedikit gugup. Ku tepuk-tepuk punggungnya yang sangat hangat ini. Dan kubiarkan dia menangis tanpa suara.

Ji Yeon POV end

Esoknya…

Author POV

Pagi-pagi, semua anak Grade 2 berkumpul di depan SMU Daebak. Mereka tampak mengenakan seragam kelas masing masing yang sudah direncanakan dari dulu.

Setelah dirasa, semua anak sudah datang, mereka semua diperbolehkan masuk bus dengan disiplin.

Im Jin Ah adalah siswi yang sangat enerjik pagi ini. Dia sangat bersemangat karena hari ini dia akan duduk di sebelah Thai Prince. Ia sudah tahu kelemahan pangeran yang satu ini. TAKUT DUDUK DEKAT JENDELA. Jadi dia akan duduk dekat jendela kali ini.

Setelah masuk bus, Jin Ah segera memilih tempat duduk yang ideal untuknya dan untuk Nichkhun. Lalu ia duduk dengan nyaman di dekat jendela.

“Biasanya kamu enggak suka duduk deket jendela, Jin Ah-yya,” kata Ji Yeon yang ternyata duduk di depannya.

“Eh, Ji Yeon-a. Kan soalnya—dia takut duduk dekat jendela,” jawab Jin Ah.

“Oohh,,” gumam Ji Yeon.

Tidak lama, Min Ho dan Nichkhun menghampiri mereka. Min Ho duduk di sebelah Ji Yeon tanpa kata-kata. Sementara Nichkhun tersenyum kepada Jin Ah.

“Annyeong!” sapa Jin Ah.

Nichkhun tidak membalas sapaan Jin Ah. Dia hanya tersenyum kecil kepada Jin Ah dan duduk dengan tenang di sebelah Jin Ah.

“Kamu suka duduk deket jendela?” tanya Nichkhun sambil mengambil snack-nya.

“Ohh.. banget!” jawab Jin Ah sambil tertawa kecil.

Nichkhun tidak berkata apa-apa lagi. Dia membuka bungkus snack-nya. Namun karena tidak berhati-hati, isi snack itu pun jatuh berceceran. Dan sebagian mengenai muka Jin Ah.

“Mianhae,” kata Nichkhun kepada Jin Ah.

“Gwencana,” Jin Ah lalu akan memakan snack yang ada di bajunya.

“EH! Jangan dimakan. Kotor,” kata Nichkhun lagi.

“Wae? Kasian ‘kan kalo dibuang.”

Nichkhun tersenyum kepada Jin Ah. Lalu Jin Ah membalas senyumnya.

“Kamu—udah bikin aku senyum berapa kali hari ini, ya?” kata Nichkhun.

Jin Ah kaget mendengar kata-kata Nichkhun.

“Apa.. aku bikin kamu ketawa?” tanya Jin Ah.

Nichkhun tertawa.

“Apa…. yang bikin kamu ketawa sih? Enggak ada lucunya,” kata Jin Ah.

“Haha..,” Nichkhun lagi-lagi tertawa.

Qian yang duduk tidak jauh dari Nichkhun dan Jin Ah mendengar percakapan tadi. Ternyata ia cemburu dengan apa yang dikatakan Nichkhun kepada Jin Ah.

Melihat Qian dari tadi diam saja, Shindong yang duduk dengan tenang selama perjalanan, menjadi penasaran.

“Qian-a,” panggil Shindong.

“Wae?” Qian tersenyum kepada Shindong.

“Lagi kenapa sih? Biasanya rame sendiri sama So Min.”

Qian menengok ke arah So Min yang asyik dengan si kapten tim Grade 2-1, Krystal dan Sulli yang adalah teman dekat Krystal.

“Lagi sibuk sama temen barunya, tuh!” kata Qian kemudian.

“Yya, kamu iri?” tanya Shindong.

“Kenapa aku iri?”

“Mendingan kamu baikkan sama Krystal sama Sulli. Udah enggak jaman tau diem-dieman.”

Sekarang gantian Nichkhun yang memperhatikan percakapan Shindong dengan Qian.

Qian diam.

“Masalah yang dulu juga… lupain aja. Cari masalah baru!” Shindong menghibur Qian.

“Apaan sih!” Qian memukul bahu Shindong.

“Yya! Sakit tau!”

“Yeh.. emangnya aku pikirin?”

Mereka berdua tertawa.

Tidak jauh dari mereka, Sun Ye dan Choi Seung Hoon juga sedang bercakap-cakap.

Sun Ye sedang memakan snack yang ia bawa dari rumah. Ia lalu menoleh kepada Choi Seung Hoon yang asyik dengan iPad-nya. Mendengarkan lagu hip-hop adalah hobi Seung Hoon yang ia tahu.

“Mau?” Sun Ye menyodorkan snack-nya kepada Seung Hoon.

Seung Hoon lalu melirik ke arah Sun Ye yang sedang tersenyum manis kepadanya. Lirikannya itu sangat sinis sehingga membuat Sun Ye berhenti tersenyum.

“Gomawo. Tapi aku udah kenyang,” kata Seung Hoon sambil berangkat untuk tidur *mungkin*.

“Ohh.. oke,” kata Sun Ye pendek.

Sun Ye makan snack sendirian sambil memandangi wajah Seung Hoon yang dengan mata tertutup tiduran di punggung kursi. Ia kagum akan ketampanan Seung Hoon sampai-sampai ia tidak tahu bahwa Ji Yeon berdiri di sebelahnya.

“Yya! Lagi-lagi kamu ngeliatin muka Seung Hoon?” kata Ji Yeon.

“Sst! Jangan terlalu keras! Dia tidur,” kata Sun Ye setengah berbisik.

Ji Yeon mengangguk kecil,”Oke. Main yuk!” ajaknya.

“Main?”

“Em.. enggak main yang kayak petak umpet bukan. Ramal!”

“Ramal?”

“Em.. kapten tim Grade 2-1 ternyata orangnya asyik. Dia punya temen yang bisa ngeramal. Namanya Sulli. Kapten tim-nya sendiri namanya Krystal.”

“Krystal?”

Ji Yeon menghela nafas dalam-dalam, “semakin lama, kamu semakin kebanyakan tanya! Ayo!”

Ji Yeon menggeret Sun Ye keluar dari tempat duduk dan sampai ke gerombolan So Min, Krystal, dan Sulli yang dekat dengan tempat duduk So Min dan Yoo Seung Ho.

Setelah keduanya pergi, Seung Hoon membuka matanya. Ia menerka kata-kata Ji Yeon barusan :

“Yya! Lagi-lagi kamu ngeliatin muka Seung Hoon?”

Ia lalu tersenyum kecil dan melanjutkan tidur.

Hari sudah mulai gelap. Belum sampai juga di Busan, karena macet tadi siang. Dan So Min, serta Ji Yeon, Sun Ye, Krystal, Sulli belum bubar. Mereka masih berkumpul.

“Sulli-yya, dari tadi ‘kan udah So Min terus nih yang diramal. Gantian aku dong!” kata Ji Yeon kepada Sulli.

“Tunggu, Ji Yeon-a. Ada yang belum diramal,” kata So Min.

“Apa?” tanya Ji Yeon.

“Jodoh,” jawab So Min pendek.

“WAH! Iyatuh. Coba, aku pengen tau jodohnya So Min siapa,” kata Sun Ye.

Sulli menatap mata So Min. Dia sedang membaca jodoh So Min. Dan seketika, raut wajahnya berubah.

“DUH!” gumam Sulli, “..kamu bakal punya pacar hari ini! Hari ini!”

“EH?” So Min tidak percaya, “..orangnya kayak gimana?”

“Orangnya aneh. Dia enggak bisa dimengerti. Kadang-kadang baik, kadang-kadang jutek. Dia pemarah. Cemburuan. Tapi tulus banget suka sama kamu. Dia sekelas sama kamu,” kata Sulli.

“Mwo? Be..berarti… Yoo Seung Ho?” Ji Yeon menebak.

So Min tampak terkejut dan membelalakkan matanya. Namun sesaat kemudian dia nyengir.

“Ahh.. mana mungkin. Jangan terlalu dipercaya. Sulli ‘kan Cuma bercanda. Lagian dia juga enggak beneran kok bisa ngeramal,” kata So Min kemudian.

“Wah, kamu meragukan kemampuan Sulli ternyata? Dia bener-bener bisa ngeramal kok!” kata Krystal.

“Oke, terlepas dari itu, kalo pacarku nantinya gimana?” tanya Ji Yeon kepada .

Sulli menatap sebentar Ji Yeon, lalu dia tersenyum lebar.

“Sungguh benar-benar beruntung! Apa yang kamu harapkan kayaknya bakal terjadi,” kata Sulli.

“Apa yang aku harapkan?”

Sulli mengangguk. Lalu muncullah Jin Ah di hadapannya. Menggeser Ji Yeon yang dari tadi duduk di hadapannya.

“Aku? Aku? Aku gimana?” tanya Jin Ah.

“Siapa namamu?” tanya Sulli.

“Im-Jin-Ah!” Jin Ah mengeja nama lengkapnya.

Sulli seperti biasa, menatap mata pasiennya dalam-dalam. Kemudian dia mengernyitkan dahi.

“Agak enggak jelas. Kamu bakal suka sama dua orang sekaligus. Dan…. percintaanmu itu—rumit kalo aku bilang,” kata Sulli.

Jin Ah langsung lemas mendengar perkataan Sulli.

“ANAK-ANAK!!” kata Guru Baek dengan pengeras suara tiba-tiba, “..masih lama sampai di Busan-nya. Kalian tidur dulu. Soalnya makan malam nanti bakal telat. Biar enggak ngantuk kalian tidur dulu. Aku matikan lampunya!”

Lampu di bus mati, seperti diperintah oleh Guru Baek. Dan juga secepat kilat anak-anak Grade 2-2 dan Grade 2-1 duduk di tempatnya masing-masing. Mereka berangkat tidur.

So Min agak gugup duduk di sebelah Yoo Seung Ho kali ini. Dia masih memikirkan perkataan Sulli tadi.

“So Min-a,” panggil Seung Ho setelah So Min duduk.

“Mwo? Jangan suruh-suruh aku ambil snack atau komik atau yang gak penting lainnya,” kata So Min.

“Kalo kayak gitu enggak jadi ah,” kata Seung Ho.

So Min diam saja. Akhirnya Seung Ho berhenti menyuruh-nyuruhnya.

Sementara itu, Ji Yeon baru saja duduk disebelah Min Ho. Ia melihat Min Ho sudah tidur dengan pulasnya. Setelah ia duduk dan memakai selimutnya, ia meletakkan kepala Min Ho ke pundaknya dan ikut-ikutan tidur.

Kembali ke pasangan Seung Ho dan So Min yang tidur saling memunggungi. Mereka tidak seperti biasanya. Mereka diam ketika duduk bersama seperti ini. Mereka gugup dan canggung.

“So Min-a?” panggil Seung Ho, “..udah tidur ya?”

“BE-LUM!” kata So Min.

“Aku mau ngomong,” kata Seung Ho sambil terus membelakangi So Min.

“Malhaebwa,” kata So Min.

“Aku—aku… maaf aku suka ngerjain kamu,” kata Seung Ho.

So Min terdiam.

“Maaf aku suka suruh-suruh kamu, dan juga maaf—aku enggak bisa…. ngehindar dari perasaan ini,” kata Seung Ho setengah berbisik.

So Min masih terdiam.

“Perasaan ini… susah banget buat dimengerti. Dan mau tau enggak perasaan ini kayak apa?”

Hening. Namun Yoo Seung Ho yakin bahwa So Min belum tidur.

“Perasaan ini… aku—aku suka… suka sama kamu, So Min-a. Entah kenapa aku bisa suka sama kamu. Aku enggak tau,” Seung Ho tertawa kecil. Tapi dia merasakan keganjilan.

“Yya! Kamu udah tidur??” tanya Seung Ho sambil membalikkan badan.

So Min berbalik dan dia tersenyum.

“K-kamu? Suka sama aku? T-terus, kkamu ini.. la-lagi nembak aku?” tanya So Min.

Sekarang gantian Yoo Seung Ho yang terdiam.

“I LOVE YOU TOO!” kata So Min yang lalu mencium pipi Seung Ho dengan lembut.

Ternyata, sedari tadi, Qian memerhatikan mereka dari jauh. Dan entah mengapa dia cemburu. Semakin lama, dia semakin membenci So Min.

_______________________________________________________________________________________________________

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s