[Part 1] Dream Chaser

Image

ini dia part 1 dari Dream Chasers atau judul lainnya Run. ada recomended songs-nya tuh. kalau bisa didengarkan yahh..

Part 1 : 꿈의 체이서

D r e a m     C h a s e r s

Title : Dream Chasers / Run

Rating : PG-1 5

Genre : School, Romance, Friendship, Family

Recomended Songs :

Gangsta Boy f(x) ; Run Epik High ; In Your Eyes Onew SHINee ; Its You Taemin SHINee ; Closer Taeyeon SNSD

 

…………………

“LEE TAE MIIIIIIIIIIINNNNNNNNNNNNN!!!!!!!!!!!!!” jerit guru Bimbingan Konseling setelah mendengar jawaban Tae Min atas pertanyaannya.

Mendengar gurunya menjerit, Tae Min menutup mata dan telinganya rapat-rapat, dan meringis, “Kenapa kau menjerit, saem?”

“Bagaimana aku tidak menjerit? Setiap aku bertanya kepadamu : Kenapa kau suka sekali berkelahi? Kau malah menjawab dengan santai : Karena aku anak gangster!”

“Memang seperti itu sifatku,” Tae Min memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.

“Pokoknya aku tidak mau tahu, ayahmu harus kesini, atau kalau tidak poinmu aku kurangi dua puluh!”

Tae Min komat-kamit menirukan nada bicara guru konselingnya itu.

…….

“Kim Ki Bum,” panggil seorang guru yang berdiri di depan kelas seni musik. Ia menyodorkan sebuah kertas begitu Ki Bum maju ke depan, “Selamat, kau yang terbaik.”

Ki Bum sudah biasa mendengar kalimat tadi dari guru musiknya. Dia menerima kertas ulangannya yang bernilai seratus dengan senang hati dan berterima kasih. Lalu duduk lagi tanpa disambut tepuk tangan yang meriah dari teman-teman sekelasnya.

“Kenapa kalian semua tidak bertepuk tangan? Apa kalian tidak bahagia melihat Ki Bum selalu mendapatkan nilai sempurna di mata pelajaranku ini?” kata si guru musik.

Semua penghuni kelas musik pun bertepuk tangan. Tapi, wajahnya mereka menunjukkan ketidak ikhlasan.

……..

Seorang murid laki-laki bertubuh atletis tampak sedang memainkan bola basket dengan lihainya. Ia men-dribble bola sambil belari kecil menuju ring. Dia pegang bola basket itu dengan kedua tangannya sambil melompat. Lalu dia lempar dengan sangat hati-hati si bola. Hasilnya, masuk.

Begitu si bola basket masuk ke ring, terdengar suara tepuk tangan. Tepuk tangan itu berasal dari sisi kanan lapangan basket. Murid laki-laki itupun langsung menoleh ke arah sumber suara.

Seorang murid perempuan bernama Amber-lah yang ternyata menepuk tangani aksinya barusan.

“Daebak!” Amber terus bertepuk tangan bahkan saat si murid laki-laki mendekatinya.

“O, Amber-a. Kenapa kau tidak masuk kelas?” tanya si murid laki-laki kepada Amber.

“Kim Jong Hyun, kau tahu? Aku tidak begitu suka pelajaran musik. Makanya aku kemari. Boleh aku pinjam bolanya?” Amber meminta bola kepada Jong Hyun –nama murid laki-laki tadi-.

“Igot!” Jong Hyun memberikan bola dengan kasar kepada Amber.

“Jangan kasar begitu terhadap perempuan,” kata Amber kepada Jong Hyun.

“Lain kali pakai rok kalau ke sekolah. Jadinya aku bisa menganggapmu seorang perempuan.”

“Shirreo! Aku tidak suka pakai rok mini!”

“Ya sudah kalau begitu.”

Dream Chasers

Pyongyang, Korea Utara

“Aboji,” panggil seorang gadis berambut ikal dan panjang. Ia mendekati ayahnya yang baru saja pulang dari kantor tempat bekerja.

“Nae ddal,” ayah gadis itu berdehem, “Duduk dulu. Ayah punya berita.”

Tanpa berkata apa-apa lagi, gadis tadi langsung duduk di sofa ruang tamu. Begitu pula ayahnya.

“Berita apa aboji?” gadis tadi penasaran.

“Seol Ri-yya, baru saja ayah dapat telepon dari pengadilan Seoul—“

“Seoul Korea Selatan?” Seol Ri –nama gadis tadi- lebih penasaran daripada tadi.

“Iya. Pengadilan meminta kau pulang ke Korea Selatan karena hak asuh ayah atas kamu, nae ddal dicabut. Kau akan diasuh oleh ibumu disana.”

“Mwo?” Seol Ri sedikit shock, “Tapi aboji ikut ke Seoul ‘kan?”

Tuan Choi –ayah Seol Ri- tersenyum tipis, “Ani. Tuan Kim tidak memperbolehkanku ikut ke Seoul. Aku harus bekerja disini.”

Seol Ri kecewa dengan jawaban ayahnya. Dia menundukkan kepala sedikit. Dia tidak begitu suka kepada ibunya.

Ibunya lah yang meminta cerai dengan alasan yang tidak masuk akal menurut Seol Ri. Hanya karena ayahnya seorang warga negara Korea Utara dan bekerja di pabrik persenjataan Korea Utara. Sebenarnya permintaan cerai bukan sepenuhnya keinginan ibu Seol Ri. Itu juga keinginan ayah dari ibu Seol Ri. Kakek Seol Ri.

Kakek Seol Ri adalah seorang prajurit Korea Selatan yang sangat memusuhi Korea Utara. Hal yang berbau Korea Utara sangat tidak ia sukai. Makanya ia tidak merestui pernikahan orang tua Seol Ri.

Saat itu juga, mereka bercerai, dan hak asuh Seol Ri jatuh ke tangan ayah Seol Ri. Jadi Seol Ri yang waktu itu berumur lima tahun diasuh ayahnya di Korea Utara. Sampai sekarang. Sampai Seol Ri berumur tujuh belas tahun.

“Aboji.. apa tidak bisa, aku tinggal bersama aboji?” Seol Ri merengek.

Tuan Choi menghembuskan nafasnya keras-keras, “Mianhae, Seol Ri-yya. Aboji tidak bisa.”

Terpaksa, Seol Ri harus pergi ke Korea Selatan.

 

Baiklah, aku akan ke Seoul. Tapi aku akan lepas dari ibu bagaimanapun caranya. Batin Seol Ri.

Incheon, Korea Selatan.. lima hari kemudian..

Tampak seorang gadis berambut lurus panjang berjalan menuju ke pintu utama bandara sambil menarik kopernya yang super besar. Ada nametag di koper itu. Jung Soo Jung.

“Ish! Kok tidak ada yang menjemputku?!” Soo Jung hampir saja membanting koper yang ia pegang. Namun, karena koper itu berat sekali ia mengurungkan niatnya.

Jung Soo Jung terus saja berjalan sambil tengak tengok. Ia memang tidak mendapatkan informasi siapa yang menjemputnya hari ini. Padahal dia ingin cepat sampai ke rumah. Ingin cepat-cepat tidur di ranjangnya yang empuk.

“Argh..” Soo Jung menghentakkan kakinya, “Siapa yang—“

Seketika, Soo Jung tidak dapat melihat apa-apa. Seseorang menutup matanya dari belakang. Ia tersenyum lebar.

“TAE MIN!” Soo Jung melepaskan tangan itu dari matanya dan berbalik badan. Namun, setelah balik badan, senyuman lebar Soo Jung pudar, “Amber?”

Amber hanya terkikik melihat ekspresi Soo Jung.

“Ih!” sekali lagi, Soo Jung menghentakkan kakinya, “Mwoyya?”

“Hehe.. apa kau begitu mengharapkan Tae Min sekarang? Ternyata lama di Amerika tidak berhasil melupakan Lee Tae Min?” goda Amber.

“Ah.. aku ke Amerika bukan untuk melupakan Tae Min,” kata Soo Jung, “Jadi kau kesini untuk menjemputku?”

“Eo.. kita harus pergi karaoke!” seru Amber bersemangat.

“Buat apa?” Soo Jung meninggikan nada bicaranya.

“Merayakan kembalinya Jung Soo Jung!”

Soo Jung tersenyum lagi. Ia bahagia karena ternyata kawan-kawannya di Korea tidak melupakannya.

“AYO!” Amber meraih pergelangan tangan Soo Jung.

“Eo!” Soo Jung mengikuti Amber yang menarik tangannya.

Tapi, baru saja jalan sebentar, seorang gadis menabrak mereka. Hingga Soo Jung terjatuh.

BRUK! Soo Jung terduduk. Tapi anehnya, Amber yang disenggol orang tadi tidak terjatuh sama sekali. Bukannya membantu Soo Jung berdiri dulu, Amber berlari menghampiri orang yang menyenggolnya tadi.

“JJAKKAMANNYEO!” Amber berteriak sambil meraih topi yang dikenakan orang tadi.

Tampak, orang itu mempercepat langkahnya begitu Amber hampir saja memegang topi yang dikenakannya. Tidak mau menyerah, Amber mempercepat langkahnya hingga ia berhasil mengambil topi orang tadi.

Amber terkejut setelah mengambil topi orang itu. Bukan seorang anak laki-laki seperti yang ia pikir. Setelah topi itu terlepas dari kepala sang pemakai, rambut panjangpun tergerai perlahan. Si pemilik topi itu bukannya merebut kembali topinya, malah berlari menjauhi Amber seperti ketakutan setelah melihat setan.

“Perempuan?” Amber tidak percaya bahwa pemilik topi itu seorang perempuan. Ia terus melihat ke arah topi yang ia pegang.

Ada tulisan yang tertera di balik topi itu. Amber melongo.

“Uhh..” Jung Soo Jung berjalan cepat ke arah Amber yang hanya berdiri mematung, “Amber-a, bukannya membantuku berdiri malah melongo disini!”

“Kau kira siapa yang tadi menabrakku?” Amber menatap lurus ke arah pintu utama bandara.

“Seorang anak laki-laki. Lebih tinggi dariku dan juga lebih tinggi darimu yang setengah perempuan setengah laki-laki,” kata Soo Jung.

“Bukan,” Amber geleng-geleng. Ia memegangi dadanya, “Dia perempuan. Tapi kenapa jantungku berdebar seperti ini?”

Kali ini, Jung Soo Jung yang melongo, “Baiklah. Aku ralat perkataanku sebelumnya. Kau bukan setengah perempuan setengah laki-laki. Kau seorang perempuan! Pe-rem-pu-an! Sepertiku juga! Kau ini tidak seharusnya menyukai seorang perempuan juga. Kau menyukai laki-laki. Mau aku ulangi?”

Amber menghembuskan nafasnya panjang, “Huh.. baiklah. Sebaiknya jangan kau ulangi lagi. Aku paham. Aku menyukai seorang laki-laki tampan bertubuh atletis dan keren.”

Jung Soo Jung mengernyitkan dahinya, “Tunggu. Itu Kim Jong Hyun?”

Amber tersenyum lebar. Ia garuk-garuk kepala, “Bisa saja iya… hehe.”

“Hmm.. terserah. Sekarang yang penting kita ke KTV.”

“Oke, Princess Soo Jung. Sebaiknya kau pegang topi ini, aku tarik kopermu,” kata Amber sambil menyerahkan topi yang dari tadi ia pegang kepada Soo Jung.

“Eo..” Soo Jung membaca tulisan yang ada di topi tersebut, “Eih? Choi Seol Ri?”

“Mungkin nama orang yang tadi menabrakku.”

“Nama yang cantik. Tidak seperti namaku.”

“Hmm.. whatever you say tentang namamu atau nama Choi Seol Ri. Yang penting kita ke KTV sekarang juga!”

“LETS GOO!”

Author POV end

…..

Seol Ri POV

Sialan! Topi pemberian ayah kepadaku sudah diambil orang tadi. Sengaja aku tidak merebutnya kembali karena aku takut orang itu akan marah. Melihat penampilannya saja aku sudah berpikir bahwa dia seorang gangster yang sedang menjemput pacarnya di bandara.

Aku sekarang berada di halte bus dekat bandara. Menunggu bus jurusan Seoul dengan gelisah. Bagaimana nanti jika ibu bertanya kepadaku tentang banyak hal? Aku tidak begitu menyukai tinggal bersama ibu dari kecil. Tapi jika tidak aku jawab, aku akan melukai perasaannya.

Ibu juga sepertinya tidak begitu menyukaiku. Dia selalu memarahiku habis-habis ketika aku melakukan kesalahan.

Tiba-tiba aku jadi ingat sahabat kecilku, Kim. Aku tidak tahu nama lengkapnya siapa. Dia hanya memberitahu marganya, Kim.

Kim adalah teman pertamaku ketika aku pertama kali masuk taman kanak-kanak. Dia mengaku bahwa keluarganya adalah orang Korea Utara. Sama sepertiku. Tapi hanya keluarga ayahku saja yang berkewarganegaraan Korea Utara. Kim berkata kepadaku agar aku tidak memberitahu status warga negara kedua orang tuanya kepada siapapun. Tak terkecuali ayah dan ibuku.

Tapi, semenjak aku pindah ke Pyongyang, Kim tidak pernah kudengar kabarnya. Katanya, ayahnya bekerja di pabrik persenjataan juga seperti ayahku. Geundae, molla.

“Agassi! Mau naik tidak?” pekik seseorang.

Ternyata, si supir bus menawariku untuk naik bus jurusan Seoul. Aku langsung mengangguk dan mengiyakan tawaran si supir bus serta naik ke dalam.

Setelah di dalam, aku mencari-cari tempat duduk yang kosong. Penuh sekali. Tapi, ada satu kursi yang kosong. Di sebelah kursi kosong itu sudah ditempati orang. Baiklah, aku akan duduk disitu.

“Permisi,” kataku lembut kepada laki-laki berkaca mata frame hias. Laki-laki itu sedang membaca buku. Tapi setelah mendengarku, dia langsung menoleh ke arahku.

“Ada apa?” katanya tanpa ekspresi apa-apa.

“Eo, aku boleh duduk disini?” aku menunjuk tempat duduk yang dari tadi aku incar. Yah, yang bersebelahan dengan laki-laki tadi.

“Boleh saja. Asal tidak ribut,” laki-laki tadi kembali membaca.

“Kamsahamnida..” aku membungkuk sembilan puluh derajat kepada orang itu. Tapi orang itu malah mengacuhkanku.

Aku duduk dengan nyaman di samping laki-laki tadi. Ku perhatikan lagi wajah laki-laki itu. Lumayan cute. Ahh.. dia imut sekali. Apalagi jika sedang membaca seperti ini.

Sepuluh menit lamanya, dia tidak mengatakan apa-apa. Dia serius sekali membaca buku.

Karena dia tidak mengatakan apa-apa ketika aku duduk di sampingnya, aku memulai percakapan.

“Kau ingin kemana?” tanyaku dengan sopan.

“Apa urusanmu?” laki-laki itu menjawab pertanyaanku dengan ketus.

“Eih?” aku mengernyitkan dahi, “Aku—hanya bertanya.”

Dia tidak merespon. Mungkin dia sedang membaca. Jadi dia butuh konsentrasi. Aku jadi penasaran buku apa yang ia baca sampai-sampai ia ketus kepadaku. Dia terlalu memusatkan perhatian kepada si buku.

“Buku apa yang kau baca?” tanyaku lagi.

Dia tidak menjawab. Akhirnya aku mengintip cover buku tersebut dengan cara membungkuk. Aku bisa membaca tulisan tangan bertuliskan ‘Kim Ki—‘

“Apa yang sedang kau lakukan??” laki-laki itu menjauhkan bukunya dari mukaku.

“Aku hanya ingin tahu buku apa yang sedang kau baca. Ngomong-ngomong siapa namamu? Aku hanya tahu namamu sebagian. Kim Ki… siapa itu.”

Laki-laki itu seperti tidak berselera menjawab pertanyaanku dan juga membaca buku tadi. Ia menutup bukunya dan meletakkannya di atas pahanya. Jadi, aku bisa tahu siapa nama laki-laki itu.

“Kim Ki—Bum!” aku membaca nama yang tertera di buku itu, “Ahh ternyata namamu Kim Ki Bum. Kau kelas berapa? Sepertinya lebih muda dariku.”

Ki Bum menoleh ke arahku. Aku terkesiap melihatnya menatapku dengan tatapan sinis.

“W-wae?” aku takut.

“Pikkyeo! Kita harusnya turun!” katanya kepadaku.

“Eo?” aku mengintip keluar jendela. Benar, ternyata kami sudah sampai di Seoul.

Aku melihat ke arah Ki Bum. Lalu aku meringis. Dan segera menggendong ranselku dan berdiri untuk mengambil koperku yang ada di atas.

Kim Ki Bum lalu beranjak dari tempat duduknya. Ia berjalan turun dari bus. Sementara aku masih kesusahan dengan koperku. Sudah tidak ada siapa-siapa di bus ini. Makanya aku mulai panik. Bisa saja aku tidak turun sampai halte selanjutnya.

Benar dugaanku. Si sopir tidak memeriksa dulu keadaan bus-nya yang masih ada penumpang atau tidak. Dia langsung saja menjalankan bus-nya dan tidak mendengarku yang berteriak minta berhenti.

Aduh bagaimana ini?

Seol Ri POV end

Ki Bum POV

Baru saja aku turun dari bus. Langsung saja aku memasang headset ke lubang telingaku. Memutar lagu keras-keras adalah salah satu hobiku.

Huh.. aku sungguh heran terhadap anak perempuan tadi. Dia terlalu begitu banyak bicara hingga membuatku tidak dapat memahami tekhnik main sepak bola yang benar.

Kenapa aku mempelajari sepak bola padahal aku mengambil jurusan seni dan ilmu pengetahuan di Sekolah Segala Bidang Koyuhgi? Lee Tae Min menantangku bertanding sepak bola besok. Makanya aku harus lebih baik dari Tae Min. Tapi, gara-gara perempuan tadi, aku kehilangan konsentrasi.

Karena takut gadis tadi membuntutiku, aku menoleh ke belakang. Tapi tidak ada gadis itu. Dan tidak ada bus tadi. Padahal baru saja aku turun, kenapa siluet gadis itu tidak aku lihat sekarang? Jangan-jangan dia masih ada di dalam bus.

 

“Pikkyeo! Kita harusnya turun!” kataku kepadanya.

“Eo?” dia mengintip keluar jendela. Lalu dia melihat ke arahku dan meringis. Segera ia menggendong ranselnya dan beranjak mengambil kopernya yang ada di atas.

Aku  lalu beranjak dari tempat duduk. Aku berjalan turun dari bus. Sementara dia masih kesusahan dengan kopernya. Sudah tidak ada siapa-siapa di bus.

Benar! Dia mau turun. Dan seharusnya lewat jalur ini. Lewat jalur yang sama denganku. Tapi kenapa dia tidak kelihatan? Tiba-tiba aku panik.

“Sial! Bukuku juga ada di bus!” aku langsung mencopot headsetku dan berlari ke arah bus yang tadi aku naiki. Bus itu sudah melaju kencang menuju ke terminal mungkin.

Ki Bum POV end

Author POV

“Aduh…” Sulli bingung sendiri. Dia berusaha mengeluarkan kopernya dari tempat barang besar di atas tempat duduknya.

“Pak supir, tolong hentikan bus-nya. Ada aku disini!” seru Seol Ri. Tapi nihil. Pak supir tidak mendengarkan suaranya.

“YYA!!” seru seseorang di luar bus yang membuat Seol Ri mengintip lewat jendela.

Seol Ri melongo ketika melihat seseorang di luar sana sedang berlari mengikuti kecepatan bus ini, “Kim Ki Bum?”

“YYA! HENTIKAN BUS-NYA!” seru seseorang yang ternyata Ki Bum itu sambil memukul salah satu sisi bus.

Seol Ri menelan ludah. Dia berjalan terhuyung-huyung ke arah si supir. Kenapa dia tidak melakukan ini dari tadi?

“Ahjussi!” panggil Seol Ri sambil menyentuh sedikit pundak si supir.

Si supir kaget setengah mati ketika Seol Ri menyentuhnya dan hampir kehilangan kendali atas bus-nya. Dia langsung memberhentikan bus-nya dan menoleh ke belakang.

“Agassi! Kenapa kau masih disini?!” tanya si supir.

“Aku tadinya harus turun di halte sana,” Seol Ri menunjuk-nunjuk ke belakang, “Tapi kau malah terus menjalankan bus-nya!”

“Jjalmothaesseoyo, agassi. Baiklah, sekarang turunlah!”

“Ne. Kamsahamnida, ahjussi!”

Ki Bum muncul di ambang pintu bus dengan ngos-ngosan. Banyak sekali keringat di bagian wajahnya. Sampai-sampai rambutnya pun basah karena keringat. Ia langsung masuk ke bus dan mengambil bukunya bersamaan dengan Seol Ri yang berusaha menurunkan kopernya.

“Ki Bum-a, kau kesini untuk menolongku, ya?” kata Seol Ri kepada Ki Bum.

Dengan cepat Ki Bum meraih bukunya yang tergeletak di kursi, “Aku mengambil buku!”

Ketika Ki Bum hendak turun, Seol Ri memekik, “Ki Bum-ssi, bisa kau bantu aku mengambil koperku ini?”

Ki Bum mengambil nafas dan langsung kembali lagi ke tempat ia mengambil bukunya. Ia meraih koper Seol Ri dan berhasil menurunkan koper itu. Lalu dia turun dari bus diikuti Seol Ri yang bahagia ketika kopernya sekaligus dirinya, selamat.

Begitu turun dari bus, Seol Ri langsung menyamai langkah Ki Bum yang tergesa-gesa.

“Kim Ki Bum-ssi. Aku harus memanggilmu apa supaya akrab?” tanya Seol Ri sambil terus berjalan cepat dan menggeret kopernya yang super berat.

Ki Bum menghentikan langkahnya. Dia menatap Seol Ri sinis, “Jangan sok akrab denganku. Choi Seol Ri!”

Seol Ri setengah mati terkejut ketika mendengar namanya disebut oleh Ki Bum. Begitu menyebut nama Seol Ri secara lengkap, Ki Bum pergi begitu saja meninggalkan Seol Ri yang terdiam di tempatnya.

 

Bagaimana bisa dia tahu namaku secara lengkap? Apa dia…. Kim sahabat kecilku?  Batin Seol Ri.

_________________________________________________________

Advertisements

One comment

  1. Kurnia · March 8, 2014

    Pertemuan yg aneh antra ki bum sma sulli ,, eh , nti dulu ! Bearti ini sulli ktmu sma ank mntan rival bpk’a sndri ya ,,, waahhh , kira2 ki bum tw gx kloq sulli anak msuh bpk’a ? Penasaran thor , lnjut yaa , daebaakk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s