Grade 2-2 Part 10

Image

Title : Grade 2-2

Rating : PG-15

Genre : Romance, School.. kadang-kadang juga sad hikz

MAIN CAST : Nana, Nichkhun, Minho, Victoria, Jiyeon, Yoo Seung Ho, Suzy, Wooyoung

OTHER CAST : cari sendiri di post-post sebelumnyaahh.. hehe :P

COMMENT DINANTI, jangan bikin aku menanti terus lohh..  entar kayak lagunya Vierra yang Terlalu Lama. dan jangan bikin aku ngomong soal comment. entar aku nge REPLAY mulu kata-kata Comment.. kaya lagunya SHINee dong yang Replay, hehe

eh, mmm HAPPY READING YAK!!

Sementara itu, Sue Ji sedang membawa koper dan tas-nya yang super berat ke dalam bus. Tanpa bantuan siapapun. Jiyeon baru saja masuk penginapan untuk mengambil barangnya. Jadi, dia tidak bisa meminta bantuan kepada yang lainnya.

Wooyoung yang dari tadi sendirian duduk di bawah pohon kelapa, memperhatikan betapa susahnya Sue Ji membawa barang-barang tadi. Ia iba dan berniat untuk  menolongnya. Tapi dalam hati ia takut nanti ada Jin Ah yang berteriak-teriak dan menggodanya. Jadi ia urungkan niat itu.

Lalu, Wooyoung melihat Choi Seung Hyun yang mendekati Bae Sue Ji. Entah kenapa, ia cemburu.

“Seung Hyun-a, annyeong!” sapa Sue Ji kepada Seung Hyun.

“Em.. annyeong! Perlu bantuan?” tanya Seung Hyun dengan sedikit mengangkat alis.

Sue Ji meringis. Lalu ia mengangguk.

“Oke. Aku bantu!” kata Seung Hyun sambil membawakan barang-barang Sue Ji ke dalam bis.

Wooyoung berdiri dari tempatnya. Ia tidak menyangka, Sue Ji mau dibantu oleh Seung Hyun. Biasanya dia selalu menolak dan berlagak cuek. Jangan-jangan,…

“Beres!” Seung Hyun turun dari bis dan tersenyum kepada Sue Ji.

“Go-gomawo, Seung Hyun-a,” kata Sue Ji dengan manis.

“Gwencana,” kata Seung Hyun sambil melirik ke arah Wooyoung yang sedang memergokinya dengan Sue Ji.

Lantas, Seung Hyun tersenyum lebar dan berniat menjahili Wooyoung.

“Sepertinya, ada yang cemburu melihatku denganmu,” kata Seung Hyun.

“Oo?” Sue Ji tengak-tengok, “Siapa?”

“Tuh,” Seung Hyun menunjuk Wooyoung dengan cepat.

Tapi Seung Hyun terlambat. Begitu dia menunjuk ke arah Wooyoung berada, Wooyoung sudah tidak ada lagi. Bae Sue Ji jadi bingung.

“Eng—pohon kelapa?” tanya Sue Ji.

“Tadinya ada Wooyoung disitu,” kata Seung Hyun sambil garuk-garuk kepala.

“Jang Wooyoung?” gumam Sue Ji.

Minho menemukan Jin Ah di dalam kamar penginapan. Jin Ah tampak duduk di tepi ranjang sambil menghadap ke arah kopernya.

Minho masuk tanpa permisi dan duduk di samping Jin Ah. Lalu ia mengambil tangan Jin Ah yang penuh darah dan membersihkan darah dari telapak dan lengan Jin Ah.

“Kukumu harus dipotong,” kata Minho, “akhirnya kau melukai dirimu sendiri.”

“Besok-besok baru aku potong,” kata Jin Ah.

Minho tersenyum sambil membalut luka di telapak tangan Jin Ah.

“Jangan pakai kekerasan,” kata Minho lalu.

“Mwo?”

“Jangan main pukul,” kata Minho mengeraskan suaranya.

Jin Ah diam saja. Ia memperhatikan cara Minho membalut tangannya.

“Apalagi kamu ‘kan perempuan. Main pukul itu enggak pantes buat anak perempuan. Lebih-lebih anak perempuan yang suka ngambek kayak kamu,” kata Minho menggoda.

Jin Ah sebal dan memukul lengan Minho dengan sangat keras. Minho-pun merintih kesakitan.

“Auh! Sudah kubilang jangan main pukul!” kata Minho sambil melotot ke arah Jin Ah.

Minho melihat pipi Jin Ah yang merah karena bekas tamparan Qian tadi. Ia pun meraih pipi Jin Ah dan mencoba merabanya. Jin Ah meringis perih.

“Sakit banget, ya?” tanya Minho, “salahnya jadi anak suka ngambek!”

Minho mengambil obat lebam dan mengoleskannya di pipi Jin Ah dengan sangat hati-hati. Sementara Jin Ah hanya menatapnya sambil tersenyum.

Sekarang, anak-anak Grade 2 sedang dalam perjalanan pulang ke Seoul. Susunan tempat duduk Grade 2-2 tidak berubah sama sekali.

Bae Sue Ji dan Jang Woo Young adalah pasangannya yang sedari tadi tidak mengatakan satu kata-pun. Yah, karena Wooyoung sudah tidur dan Sue Ji tidak punya teman ngobrol. Dia lebih suka diam di perjalanan sambil menikmati suasana di perjalanan.

Saat benar-benar pulas tidur, Wooyoung mendengkur dengan agak keras. Akibatnya, Sue Ji-pun terganggu dan berniat pindah tempat duduk. Tapi, dia tidak akan setega itu dengan laki-laki yang mencemburui Seung Hyun. Dia hanya sedikit tersenyum ketika Wooyoung lebih keras mendengkur.

“Seung Ho-yya!” panggil So Min.

“What’s up, Miss Ribut?” jawab Seung Ho.

“Bosen nih. Ngapain ya, kira-kira?”

Seung Ho tampak berpikir. Lalu ia mempunyai ide setelah melihat Sulli yang tidak jauh dari tempat duduknya.

“Sulli-yya!” panggil Seung Ho.

Sulli yang merasa dipanggil-pun menoleh kepada Seung Ho dan mendekati Seung Ho.

“Apaan?” Sulli sudah merasa curiga dengan Seung Ho yang tiba-tiba memanggilnya.

“Aku minta tolong,” kata Seung Ho.

“Tuh ‘kan yang ada minta toloong!”

“Bukan! Tolong ramalin dong.”

“Ramal apa?”

“Aku—sama So Min bakal awet enggak?”

Sulli melenguh dan mencoba meramal hubungan So Min dan Seung Ho.

“Aku—enggak tahu pasti. Kok aku ngeliat awan mendung di jidadmu, ya?” kata Sulli.

“Lihat! Dia selalu bercanda,” kata Seung Ho.

“Aku benar-benar melihatnya!”

“ANAK-ANAK, KITA SUDAH MAU SAMPAI SEOUL. PERSIAPKAN BARANG-BARANG KALIAN, JANGAN ADA YANG KETINGGALAN!” kata tour leader dengan pengeras suara.

Semua anak-pun dengan segera mengemasi barang-barang dan memasukkannya kedalam tas. Mereka memastikan tidak ada yang tertinggal.

Nichkhun santai-santai saja ketika diperintahkan begitu.

“Kamu enggak beres-beres?” tanya Jin Ah kepada Nichkhun.

“Dari tadi aku enggak ngeluarin apa-apa,” kata Nichkhun sambil melihat ke arah Jin Ah yang sedang beres-beres.

Setelah melihat tangan Jin Ah yang dibalut, Nichkhun curiga.

“Tanganmu kenapa dibalut?” tanya Nichkhun.

“Lecet,” jawab Jin Ah pendek.

“Ohh..”

Mereka lalu tidak berkata apa-apa lagi. Tapi Nichkhun iseng bertanya.

“Siapa yang membalut tanganmu?” tanya Nichkhun.

Jin Ah tertegun, “..kenapa tanya kayak gitu?”

“Enggak boleh? Aku penasaran.”

“Oh..”

“Jadi siapa yang membalut?” tanya Nichkhun lagi.

“Choi Minho. Choi Minho yang membalutnya.”

“Siapa?”

“Choi Minho!”

“Apa aku enggak salah denger? Dia adalah makhluk yang paling cuek terhadap sesama,” kata Nichkhun tidak percaya.

“Beneran? Dia—dari dulu kayak gitu kok!”

“Kamu kenal berapa lama sama Minho?”

“Emm.. aku juga enggak tahu. Yang pasti, lebih lama darimu.”

“Oh..”

Mereka diam lagi. Namun kali ini Jin Ah yang iseng bertanya.

“Khun! Aku mau tanya,” kata Jin Ah.

“Malhae.”

“Emm.. kalau ada dua perempuan yang menyukaimu, bagaimana?”

Sekarang gantian Nichkhun yang tertegun.

“Kenapa kamu tanya kayak gitu?”

“Enggak apa-apa. Penasaran. Tadi kamu bilang Minho paling cuek. Sekarang lebih cuek mana kamu sama Minho?”

“Aku bisa menolak mereka semua, menerima mereka semua, dan memilih salah satu dari mereka. Tapi aku lebih suka kalau menolak mereka semua,” kata Nichkhun menerawang.

“Jahat,” gumam Jin Ah.

“Mwo?”

“Bagaimana bisa kamu menolak perempuan yang menyukaimu?”

“Aku akan menerima perempuan yang enggak suka aku. Gampang ‘kan?”

“Cish..!”

“Aku serius. Menyukai seseorang yang juga menyukai kita itu—menurutku aneh. Rasanya aneh.”

Jin Ah mencerna kata-kata Nichkhun barusan. Menyukai seseorang yang juga menyukai kita itu rasanya aneh.

Di Daebak Senior High School, semuanya sudah siap. Tinggal menunggu kedatangan rombongan Grade 2 di Daebak.

Acara yang pertama adalah Welcome Dance dari perwakilan masing-masing kelas Grade 1 dan 3. Rencananya, Welcome Dance ini akan dibawakan begitu Grade 2 sampai di SMU Daebak.

“Oi! Gimana musik Welcome Dance-nya? Enggak rusak ‘kan? Sebaiknya kayak gitu,” kata salah satu siswa Grade 3 dengan sangat keras kepada petugas pemutar kaset.

Tampak, siswa Grade 3 yang tadi, membagikan topeng kepada para penari Welcome Dance. Topeng-topeng yang biasa dipakai di pesta topeng.

“Untuk apa kita mengenakan topeng?” tanya Kim Jong Woon sambil memandangi topeng putih emas yang ada digenggamannya sekarang.

“Molla,” jawab Donghae singkat dan langsung mengenakan topeng yang baru ia terima. Topengnya berwarna hijau lumut dengan hiasan bulu-bulu *mungkin* dari kemoceng bekas berwarna ungu.

Tidak lama, rombongan Grade 2 sudah terlihat di mulut pagar masuk Daebak Senior High School. Para penari Welcome Dance-pun segera membuat formasi sesuai posisi masing-masing.

“Jin Ah-yya, pesta penyambutan! Whoaa… pakai topeeng!” kata Jiyeon setelah melihat keadaan sekolahnya kepada Jin Ah.

“Biasa aja! Emangnya baru pertama kali kamu liat pesta penyambutan?!” kata Jin Ah dengan ketus.

Tepat setelah Jin Ah mengatakan itu, Minho lewat dan berhenti di sampingnya.

“Belum. Tapi aku suka banget sama pesta pesta kayak gini. Apalagi pake topeeng!” kata Jiyeon.

Min Ho memperhatikan Jiyeon yang tampak kegirangan melihat Welcome Dance mulai ditarikan. Tanpa sadar ia tersenyum senang ketika melihat Jiyeon senang juga. Lucu sekali, batinnya.

“Jiyeon-aa!” Sue Ji merangkul Jiyeon dari belakang.

“Sue Ji-yya!” Jiyeon risih dan melepaskan rangkulan Sue Ji.

“Kau diperhatikan Minhoo..,” bisik Sue Ji.

Jiyeon menoleh ke arah Min Ho yang berdiri disebelah Jin Ah. Melihat Min Ho tersenyum kepadanya, ia pun tersenyum. Lalu memukul bahu Sue Ji.

“Aku punya firasat dia menyukaimu,” bisik Sue Ji lagi.

“Mudah-mudahan. Aku berharap seperti itu,” kata Jiyeon sambil memegangi pipinya yang merah karena malu.

Setelah semua anak-anak Grade 2 berkumpul dengan rapi, barulah Welcome Dance berhenti dan diisi acara selanjutnya.

“WELCOME BACK TO DAEBAK!!” sambut anak-anak Grade 1 dan 3 yang menarikan Welcome Dance dengan kompak.

Sambutan tadi diikuti oleh Dance yang dibawakan Lee Dong Hae, Kim Jong Woon, dan teman-teman mereka. Dengan masih menggunakan topeng, Dong Hae dan yang lainnya menarikan dengan baik porsinya dan mendapatkan banyak teriakan dari penggemar dadakannya.

“Yya, dia sangat—stay cool,” kata Jin Ah sambil memperhatikan Donghae.

“Emm.. dia memang terkenal stay cool,” kata Jiyeon.

“Ke depan, yuk!” kata Jin Ah sambil menarik Jiyeon dan Sue Ji maju ke barisan paling depan.

Setelah berada di barisan paling depan, Jin Ah memandangi dengan puas wajah oppa yang stay cool tadi. Dia pernah melihatnya dulu. Dia sangat hafal dengan oppa yang stay cool tadi walau si oppa mengenakan topeng.

Author Pov end

Jin Ah POV

“Yya, dia sangat—stay cool,” kataku sambil memperhatikan salah satu oppa.

“Emm.. dia memang terkenal stay cool,” kata Jiyeon.

“Ke depan, yuk!” kataku sambil menarik Jiyeon dan Sue Ji maju ke barisan paling depan.

Setelah berada di barisan paling depan, aku memandangi dengan puas wajah oppa yang stay cool tadi. Aku pernah melihatnya dulu. aku sangat hafal dengan oppa yang stay cool tadi walau si oppa mengenakan topeng.

Tiba-tiba, tanganku ditarik untuk maju oleh si oppa stay cool tadi. Dan tanpa kata-kata, aku pun maju dan mengikuti gerakan dance si oppa. Yah, sedikit-sedikit.

Lalu, tiba-tiba ia berlutut di depanku yang seketika mengundang teriakan histeris dari segala penjuru. Si oppa menyodorkanku sekuntum mawar merah boong-boongan. Dan dia membuka topengnya.

flashback

“Ji Yeon-aah,” aku ngos-ngosan.

“Jin Ah-yaa, wae?” Ji Yeon menjawab dengan lesu.

“Park Ji yeon, aku mau ngasih tau sesuatu.”

Ji Yeon berbalik dan melipat tangannya.

“A-aku.. sebenernya enggak pacaran beneran sama Minho. Cuma pacaran boong-boongan. Kamu marah kan sama aku soal aku pacaran sama Minho?”

“Eih? Pacaran boongan?”

“Emm.. ne. Pacaran boongan. Kan kamu tau aku suka sama Nichkhun aja. Enggak sama yang lain kok.”

“Masa?”

Tiba-tiba aku melihat sekelebat siluet kakak kelas ganteng yang tadi aku lihat di kantin. Aku jadi merasa bersalah kepada Nichkhun. Masa sih aku suka sama oppa itu? Oppa yang kalo enggak salah jadi The Most Handsome di SMA Daebak?

“Jin Ah-yaa, gomawoo!” tiba-tiba Ji Yeon memelukku.

“Ah—ne. Buat apa?” aku masih memperhatikan oppa tadi.

“Gomawoo!” Ji Yeon memelukku erat.

“Emm..,” aku mengelus-elus punggungnya sambil masih memperhatikan oppa tadi.

Eh, oppa tadi melihatku. Dia melihatku sambil mengernyitkan kening. Dia lalu tersenyum kepadaku. Eih? Padahal aku enggak kenal sama sekali. Dan dia enggak kenal aku sama sekali juga. Kenapa dia senyum?

Aku jadi ingat peristiwa itu. Oppa yang sekarang berada di hadapanku adalah oppa yang pernah membuatku berpaling dari Nichkhun. Oppa yang sekarang berlutu di depanku adalah oppa yang waktu itu. Dan sekarang aku baru tahu. Namanya Lee Dong Hae. Lee Dong Hae adalah satu-satunya murid Daebak yang membuatku meleleh dan sekejap melupakan kelelahanku setelah mengejar Nichkhun yang susah untuk diraih.

Teriakan semakin menjadi. Seketika jantungku seperti berhenti berdetak. Seketika waktu seperti terhenti. Seketika aku—aku bisa melupakan Nichkhun. Itu semua terjadi ketika Donghae oppa menyodorkan mawar merah.

“Terima! Terima! Terima!” jerit Ji Yeon dan Sue Ji yang membuat semuanya berteriak menirukan mereka.

Aku hanya garuk-garuk kepala dan takut menatap mata Donghae yang tajam. Ia mungkin sekarang menatapku.

“Terima saja. Hanya hiburan. Bukan betulan!” kata Donghae oppa kemudian.

Aku tersenyum lebar, dan mengambil si mawar merah dengan tangan gemetar.

“Gomawoyo,” kataku sambil kembali ke tempatku berdiri.

Aku tidak mendengar dia mengucapkan sepatah kata lagi. Dia hanya mengenakan topengnya lagi dan menari lagi. Sungguh seluruh badanku panas dingin dan gemetar. Tapi jujur aku ingin menatapnya sebentar lagi.

Jin Ah POV end

____________________________________________________

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s