Grade 2-2 Part 11

Image

Title : Grade 2-2

Rating : PG-15

Genre : Romance, School.. kadang-kadang juga sad hikz

MAIN CAST : Nana, Nichkhun, Minho, Victoria, Jiyeon, Yoo Seung Ho, Suzy, Wooyoung

OTHER CAST : cari sendiri di post-post sebelumnyaahh.. hehe :P

COMMENT DINANTI, jangan bikin aku menanti terus lohh..  entar kayak lagunya Vierra yang Terlalu Lama. dan jangan bikin aku ngomong soal comment. entar aku nge REPLAY mulu kata-kata Comment.. kaya lagunya SHINee dong yang Replay, hehe

eh, mmm HAPPY READING YAK!!

Author POV

Teriakan semakin menjadi. Seketika jantung Jin Ah seperti berhenti berdetak. Seketika waktu seperti terhenti.

“Terima! Terima! Terima!” jerit Ji Yeon dan Sue Ji yang membuat semuanya berteriak menirukan mereka.

Jin Ah hanya garuk-garuk kepala dan takut menatap mata Donghae yang tajam. Padahal Donghae sekarang sedang menatapnya.

“Terima saja. Hanya hiburan. Bukan betulan!” kata Donghae kemudian.

Jin Ah tersenyum lebar, dan mengambil si mawar merah dengan tangan gemetar.

“Gomawoyo,” katanya sambil kembali ke tempat tadi dia berdiri.

Dari kejauhan, Song Qian memperhatikan wajah Jin Ah yang bersemu merah. Kemudian dia mengalihkan pandangan ke Nichkhun yang sedang dengan tatapan kosong namun dingin melihat ke arah Donghae yang sedang menari.

Mata Qian mengekori arah tatapan Nichkhun tadi, dan jatuh kepada Donghae. Bolak balik matanya tertumbuk pada Donghae dan Nichkhun.

Dengan perlahan, Nichkhun yang berdiri di sebelah Qian, memperhatikan Jin Ah yang terlihat senang.

Dia terlihat senang. Apakah benar dia menyukaiku, Min Ho? Batin Nichkhun.

Sekali lagi, Qian mengekori tatapan Nichkhun yang ternyata mengarah pada Jin Ah. Ia lalu tertunduk. Dan seakan-akan menjawab pertanyaan Nichkhun kepada Min Ho.

Jin Ah. Orang itu– dia menyukaimu, Nichkhun. Apa kau juga menyukainya? Kau—sudah tidak menyukaiku? Batin Qian.

Merasa sudah mengkhianati Nichkhun, Jin Ah memperhatikan Nichkhun diam-diam dalam kerumunan yang bertanya-tanya kepadanya. Tetapi sayang, bertepatan dengan Jin Ah yang menoleh ke Nichkhun, Nichkhun malah membuang pandangannya ke lapangan.

Dua minggu kemudian….

 

“Aku sungguh sangat tidak sabar, untuk mengetahui siapa yang ditunjuk lomba komposing lagu!” kata So Min setelah sampai kelas di pagi hari.

“Emm.. sepertinya, tidak ada yang mewakili kelas kita untuk maju lomba ini,” kata Jiyeon.

“Tapi—ada yang berbakat dalam hal seperti ini di kelas kita,” kata Sue Ji.

“NUGU?!” sontak, anak-anak perempuan yang sedang menggerombol bertanya seperti itu.

Sue Ji menunjuk Im Jin Ah yang sedang tiduran di meja sambil memainkan phone-nya.

“IM JIN AH?” lagi lagi, dengan serentak anak-anak perempuan mengatakan itu.

“Em,” Sue Ji manggut-manggut, “..aku pernah melihatnya sedang meng-komposing lagu.”

“Oke, baiklah! Jadi kita tahu siapa wakil kita disini,” kata So Min bertepatan dengan Qian yang lewat di depan gerombolan itu.

“Im Jin Ah, akan maju sebagai finalis. Tapi bagaimana caranya?” tanya Sun Ye.

Qian berhenti melangkahkan kakinya setelah mendengar nama Jin Ah disebut.

“Jang Wooyoung akan membantu kita. Ayahnya adalah guru Jang ‘kan? Benar ‘kan? Nah, kita minta tolong Wooyoung untuk mendaftarkan nama Jin Ah sebagai calon finalis,” kata So Min.

“Kalau Im Jin Ah, aku yakin pasti menang,” kata Jiyeon.

Qian penasaran dengan apa yang dibicarakan sedari tadi oleh teman-temannya. Tapi dia gengsi untuk bertanya karena sudah dua minggu belakangan ini, dia menjauh dari mereka.

Qian berjalan menuju tempat duduknya yang berada di sebelah Jin Ah. Ia melihat ke arah Jin Ah yang sedang tiduran di meja dengan tatapan malas. Lalu dia duduk di bangkunya.

“Sepertinya kau calon finalis komposing lagu,” kata Qian.

Jin Ah yang tadinya tiduran menghadap bangku Qian, mengubah posisi tiduran menjadi sebaliknya. Dia tidak mengatakan apa-apa.

“Terserah, kau suka sekali mengacuhkan aku,” kata Qian.

Jin Ah berpura-pura tidak mendengarkan Qian. Tapi setelah dia melihat nama Lee Dong Hae di layar phone-nya, ia segera menjerit.

“DONG HAE OPPA!” jerit Jin Ah sambil keluar kelas dan mengangkat telepon dari Donghae.

Qian yang disalip oleh Jin Ah sudah bosan mendengar Jin Ah menyebut nama itu keras-keras. Setiap pagi, pasti Jin Ah ditelepon oleh Donghae. Walaupun mereka tidak memiliki hubungan spesial.

“Donghae oppa!” panggil Jin Ah setelah melihat siluet Donghae oppa di kantin.

Merasa dipanggil, Donghae langsung menoleh ke arah Jin Ah yang berlari ke arahnya.

“Jin Ah-yya, annyeong!” sapa Donghae.

“Emm, annyeong.,” Jin Ah gantian menyapa.

“Semakin hari—semakin imut ya,” kata Donghae.

“Siapa?”

“Dia,” kata Donghae sambil menunjuk ke belakang Jin Ah.

Jin Ah menoleh ke arah tunjukkan Donghae. Setelah ia tepat menoleh, Donghae menunjuk wajah Jin Ah sampai Jin Ah memutar kepalanya balik.

“Oppa, bisa saja,” Jin Ah salah tingkah.

“Aku lapar. Bawa sarapan buatku?” tanya Donghae sambil mengelus-elus perutnya.

“Nih,” Jin Ah menyodorkan kotak makan hitam yang tersusun rapi dan terbungkus kain berwana ungu.

“Telur gulung?”

“O, spesial buat Donghae oppa. Tapi, oppa! Kau selalu tidak sarapan jika berangkat sekolah?”

“Em, tidak bisa memasak.”

“Ya, bisa minta dibuatkan ibumu mungkin.”

Donghae diam. Namun dia tetap tersenyum.

“OMMO! Aku mengatakannya lagi. Maaf,” kata Jin Ah.

“Gwencana. Aku mau makan dulu. Mau makan bersama?”

“Aku harus masuk kelas. Bel sudah mau bunyi. Oppa silahkan makan saja.”

Jin Ah berjalan menjauh dari Donghae. Tapi, karena ada yang mengganjal di hati, Donghae memanggilnya.

“Im Jin Ah!” panggil Donghae.

Jin Ah menoleh, “Apa?”

“Kau—ikhlas membuatkanku sarapan ‘kan?”

“Jangan bilang kalau kau meragukanku.”

“Aku tidak pernah meragukanmu.”

“Aku ikhlas membuatnya untuk oppa.”

“Are you sure?”

“Sure!”

“Gomawoo, Jin Ah-yya!”

“Cheonmaneyoo, Donghae Oppa!”

Dengan cepat, Jin Ah meninggalkan tempat itu sambil tersenyum senang.

Ibu, aku sudah bisa melupakan Nichkhun, lho! Ada satu orang yang membuatku memikirkannya terus. Donghae oppa adalah orang itu, Bu!

Saat istirahat tiba, Sue Ji sengaja pergi ke perpustakaan sendirian demi mengantarkan barang ke staff perpustakaan. Yah, Ji Yeon dan Jin Ah sedang ke kamar mandi. Sekalian ke perpustakaan, sekalian mencari buku yang ingin dia baca.

“Gomabdda, Sue Ji-yya,” kata si staff perpustakaan kepada Sue Ji.

“Cheonmaneyo,” kata Sue Ji sambil menyingkir dari ruang staff menuju rak-rak buku.

Ia berjalan menelusuri rak-rak buku. Jari-jarinya menyisir buku-buku yang tersusun rapi. Dia tidak sadar, dari arah yang berlawanan, Jang Wooyoung juga melakukan hal yang sama dengannya.

Dan ajaibnya, jari Wooyoung dan jari Sue Ji sama-sama berhenti di sebuah buku berjudul My Fingers. Mereka juga sama-sama akan membaca itu.

Sue Ji dan Wooyoung sama-sama menengadah dan terkejut setelah tahu satu sama lain.

“Wooyoung-a, kenapa kamu disini?” tanya Sue Ji dengan sedikit gugup.

“Ah, oh.. aku mencari buku ini,” kata Wooyoung sambil menunjuk buku My Fingers tadi, “..tapi sepertinya kamu akan membacanya. Ladies first.”

“K-kok kamu tahu aku mau baca ini?”

“Eng—aku.. aku.. yah buktinya kau berhenti disini.. haha,” Wooyoung tertawa garing.

“Ooh,” Sue Ji hanya meringis.

“Ambil saja,” kata Wooyoung.

“Benar kamu enggak apa-apa kalau aku pinjam ini?”

“Memangnya kalau kamu pinjam itu, aku nanti mati? Enggak.. ambil aja.”

Sue Ji diam dan tersenyum lebar. Lalu dengan cepat dia mengambil buku itu.

“Gomawo,” kata Sue Ji.

“Oo..”

Setelah Sue Ji pergi dari hadapannya, Wooyoung menghembuskan nafas keras-keras dan mengelus-elus dadanya. Degupan keras di dadanya sudah mereda. Namun masih ada bekas walau sedikit. Dia benar-benar gugup.

Begitu pula Sue Ji yang tergesa-gesa keluar dari perustakaan. Dia segera berkari menuju kamar mandi tempat Jiyeon dan Jin Ah berada tadi.

“Uh.. Oh.. capeknyaa…” kata Sue Ji setelah sampai di kamar mandi, tepatnya di depan Jin Ah dan Ji Yeon.

“Ada apa sih?” tanya Jin Ah kepada Sue Ji.

Sue Ji tidak menjawab apa-apa. Dia hanya mengelus-elus dadanya dan menarik nafas lalu menghembuskan nafasnya.

“Dia mungkin sedang jatuh cinta. Benar ‘kan Ji Yeon-a?” kata Jin Ah kepada Ji Yeon.

Namun, setelah Jin Ah menengok ke tempat Ji Yeon tadi berdiri, Ji Yeon sudah tidak ada. Dan tepat ketika ia sedang bingung mencari Ji Yeon, Ji Yeon muncul dari kamar mandi.

“Kukira kamu terbang kemana,” kata Jin Ah.

“Kamu selalu berfantasi,” kata Ji Yeon sambil memegangi hidungnya.

Jin Ah dan Sue Ji menatap Ji Yeon aneh.

“Ada apa dengan hidungmu? Apa nafasku bau?” tanya Sue Ji kepada Ji Yeon yang lalu mengecek aroma nafasnya.

“Bu-bukan,” kata Ji Yeon dengan suara cempreng.

“Ayo lepaskan hidungmu. Tidak akan jatuh dari tempatnya,” kata Jin Ah.

Ji Yeon melepaskan hidungnya dan tersenyum.

“Tidak apa-apa tuh,” kata Jin Ah, “ Ke kelas yuk!”

Mereka bertiga lalu berjalan keluar kamar mandi, menuju ke kelas mereka.

—-

“Kalian memang sedang dekat, ya?” tanya Jong Woon kepada Donghae ketika waktu istirahat tiba.

Donghae mengangguk sambil terus melanjutkan menulis.

“Apa harus menulis surat cinta?” tanya Jong Woon lagi.

“Cerewet.”

Go Ha Ra yang duduk di seberang tempat duduk mereka, sedang memperhatikan dengan seksama percakapan mereka.

Jong Woon penasaran dengan apa yang ditulis Donghae sedari tadi. Jadi dia mendekati Donghae dan membaca sedikit tulisan Donghae.

“…mari kita melakukan ini bersama dengan baik?” Jong Woon mencerna kata-kata tadi.

Donghae berhenti menulis dan melipat surat itu dengan rapi lalu memasukkannya kedalam amplop kecil. Setelah itu, amplop tadi ia tulisi nama Jin Ah dengan sangat rajin.

“Im.. Im…,” Jong Woon tidak bisa membaca tulisan Donghae.

“IM JIN AH!” kata Donghae sambil berdiri dari kursinya tanpa menghiraukan ada tidaknya Jong Woon.

“Im Jin Ah?” desis Ha Ra, “..anak yang waktu itu diberi mawar oleh Donghae?”

Ha Ra memperhatikan Donghae yang keluar kelas bersama Jong Woon. Ia cemburu.

Dengan senyum yang mengembang, Donghae berjalan menuju kelas Jin Ah. Tapi ia lalu melihat sekelebat siluet adiknya yang sedang berjalan beriringan dengan Krystal. Adiknya adalah Sulli.

Segera, Donghae menghampiri adiknya, Sulli diikuti oleh Jong Woon.

“Sulli—yya!” sapa Donghae.

“Annyeong Sulli-yya!” sapa Jong Woon.

Sulli dengan malu-malu menyapa Jong Woon balik, “Annyeong… Jong Woon oppa!”

“Donghae oppa! Wae—“ Krystal penasaran dengan sikap Donghae yang dari tadi aneh.

“Berikan ini kepada Im Jin Ah ya! Aku tahu kau dekat dengannya,” kata Donghae kepada Sulli.

“Sebenarnya aku hanya kenal dengannya beberapa minggu yang lalu. Yang sudah akrab adalah Krystal,” kata Sulli sambil menunjuk Krystal yang ada disebelahnya.

“Aku tak perduli! Persetan dengan akrab atau tidak. Yang penting surat ini sampai di tangan Jin Ah. Gomawo,” kata Donghae seraya meninggalkan Sulli dan Krystal.

Sulli dan Krystal saling bertatapan. Mereka bingung.

“Kamu aja yang kasih ini ke Jin Ah. Aku harus tanya ke Jong Woon oppa,” kata Sulli sambil menyerahkan surat tadi kepada Krystal.

Krystal tidak bisa menolak ketika surat itu sudah ada di tangannya sementara Sulli sudah pergi dengan cepat.

Qian baru saja dari kantin. Dia sedang berjalan menuju kelas dengan diekori Jung So Min. Dia memang risih dibuntuti oleh So Min. Namun dia kasihan kepada So Min yang dari dulu setia kepadanya.

Di depan kelas, Qian melihat Krystal yang sedang memberikan kartu kepada Yoo Seung Ho. Jelasnya, ia penasaran kartu apa itu. Ia mendekat.

“Surat apa itu?” tanya Qian kepada Seung Ho.

Krystal menyadari kedatangan Qian. Ia melipat tangannya di dada dan tersenyum lebar.

“Qian-a, jangan cemburu. Ini dari Lee Dong Hae oppa untuk Im Jin Ah,” kata Krystal.

Seung Ho mengernyitkan dahinya, “Dong Hae oppa? Ohh.. dia memang menyukai Jin Ah.”

Nichkhun yang tidak jauh dari Seung Ho, Krystal, Qian dan Jung So Min mendengar itu.

“Em, sepertinya begitu. Setiap pagi, Donghae oppa makan sarapan buatan Jin Ah. Dia sangat bangga menenteng wadah makanan milik Jin Ah,” kata So Min.

“Jin Ah tidak ada disini. Dia—“ kata Seung Ho tersendat karena melihat Jin Ah, Sue Ji, dan Ji Yeon di depannya, “Nah.. itu Jin Ah!”

Krystal langsung merebut kembali surat dari tangan Seung Ho dan berlari menuju Jin Ah dan memberikannya.

“Apa ini?” tanya Jin Ah.

“Donghae oppa. Dia memberikanku ini agar diberikan kepadamu,” kata Krystal.

“CIEE…. yang mau dipacarin!!” jerit Sue Ji bertepatan dengan Wooyoung yang lewat di depannya.

Yoo Seung Ho tersenyum kecil, “Akhirnya kau laku jugaa.. haha,” dia tertawa. Lalu, tiba-tiba pandangannya menuju ke Qian yang sedang memandangi Nichkhun.

Seung Ho lalu menoleh ke arah Nichkhun yang melihat ke arah luar dimana Jin Ah dan yang lainnya berada. Raut wajahnya tidak seceria dulu.

Begitu pula Jung So Min yang memperhatikan Seung Ho yang sedang melihat ke arah Qian. Cemburu tersemat dalam hatinya. Masih saja kau tidak bisa melupakan Qian? Batinnya.

“Dia mau dipacarin siapa?” tanya Wooyoung kepada Sue Ji sambil menunjuk-nunjuk wajah Jin Ah.

“Dia? Ohh.. Dong Hae oppa. Tahu enggak?” kata Sue Ji.

“Emm.. dia teman baikku. Kita sering bermain futsal bersama setiap Sabtu sore,” kata Wooyoung.

Ji Yeon dan Jin Ah bertatapan.

“Sejak kapan kalian jadi akrab gini?” Ji Yeon curiga kepada Wooyoung dan Sue Ji.

“O! Jangan bilang kalau kalian sudah berpacaran?” Jin Ah ngaco.

“Haha.. tidak!” Wooyoung dan Sue Ji kompak mengatakan tadi.

Mendengar kekompakan Wooyoung dan Sue Ji, Ji Yeon dan Jin Ah bertepuk tangan.

Tidak lama, bel berbunyi. Semuanya masuk ke dalam kelas. Namun, Krystal dan Qian masih di ambang pintu Grade 2-2.

“Aku harap kamu bisa membuat Jin Ah dan Dong Hae oppa jadian,” kata Qian yang lalu masuk ke kelas.

Krystal bingung. Dia masih menerka apa yang direncanakan Qian dengan kata-kata tadi.

“KRYSTAL-A! PPALI MASUK KELAS!” teriak Lee Hyun Woo yang ternyata memperhatikan Krystal dari belakang dari tadi.

Krystal menoleh ke belakang. Ia melihat Hyun Woo tersenyum kepadanya dan memberikan isyarat untuk ia masuk kelasnya sendiri. Krystal membalas senyum Hyun Woo dan berlari menuju kelasnya.

…….

Sekarang adalah pelajaran matematika untuk Grade 2-2. Guru Han yang mengajar matematika melihat kertas ulangan matematika minggu kemarin satu persatu. Setelah itu di membanting kertas ulangan itu ke atas meja.

“Sabar, Han Yoo Baek. Sabar…,” kata Guru Han sambil mengelus-elus dadanya.

Anak-anak Grade 2-2 memandang Guru Han dengan aneh.

“Aku akan bagi tim menurut nilai kalian. Satu tim dua orang. Dimana dua orang itu terdiri dari satu murid bodoh, EH.. maaf!” kata Guru Han yang disambut oleh tatapan sinis dari semua orang yang ada di Grade 2-2.

“Aku ulangi lagi,” kata guru Han tidak berani menatap tatapan dingin dan sinis anak-anak Grade 2-2, “Satu tim terdiri dari satu murid yang lemah matematika, dan satu murid lagi yang pandai matematika. Arrasseo?”

Hening. Anak-anak Grade 2-2 masih saja menatap gurunya yang satu ini dengan tatapan sinis. Guru Han hanya bisa meringis dan garuk-garuk kepala.

“Oke! Terserah kalian mau seperti apa kepadaku,” kata Guru Han, “Park Ji Yeon dengan Choi Min Ho. Ji Yeon akan diajari oleh Min Ho.”

Tentu saja Ji Yeon senang dan langsung menjerit sebentar.

“Selanjutnya, Sun Ye dengann… Shin Dong Hee. Sun Ye yang akan mengajari Shindong. Lalu, Choi Seung Hyun dengan Bae Sue Ji. Sue Ji yang mengajari Seung Hyun. Lalu… Im Jin Ah dengan Jang Wooyoung.”

Jin Ah melirik ke arah Nichkhun. Dia ingin melihat ekspresi dari Nichkhun. Dan Nichkhun terlihat kecewa sedikit. Setidaknya bisa disebut kecewa.

Yoo Seung Ho dengan So Min, Qian dengan Nichkhun. Sekarang kalian semua duduk sesuai kelompoknya masing-masing!”

Author  POV end

Minho POV

Saat ini, aku sedang duduk di samping Ji Yeon untuk diajari matematika. Ji Yeon menggerakkan pensil dengan sedikit gemetar. Mungkin dia gugup duduk di sampingku.

“Min Ho-yya,” panggilnya sambil menggerakkan pensil dan menunduk ke arah buku matematika.

“Apa?” jawabku.

“Jangan dekat-dekat dengan wajahku,” kata Ji Yeon lagi.

Yah, memang wajahku terlalu dekat dengan wajahnya. Karena aku tidak tahu apa yang ditulisnya sejak tadi. Begitu penasaran sampai-sampai bisa saja aku mencium pipinya.

“Oh, maaf..,” aku menjauhi wajahnya. Aku duduk tegap di samping Ji Yeon yang duduk meringkuk sambil terus menulis apa.

Karena penasaran, aku mendekati wajahnya lagi. Tapi kali ini agak jauh dari yang pertama tadi.

“Min Ho-yya,” panggilnya lagi.

“Apa?” jawabku, “Jangan dekat-dekat wajahmu lagi?”

“Iya.”

Aku sudah menduga apa yang akan dikatakan Ji Yeon. Aku segera duduk tegap seperti tadi dan menghebuskan nafas dengan sangat keras.

“Mianhae, bukan maksudku seperti itu..,” kata Ji Yeon dengan sangat lirih.

“Sedari tadi kamu ngapain sih? Kenapa aku enggak boleh lihat?” tanyaku.

“Aku—aku.. anu.. nafasmu sampe ke leherku. Jadi aku geli.”

Aku melihat ada yang tidak beres dengan Ji Yeon. Aku tidak percaya apa yang dikatakannya. Masa hanya gara-gara hembusan nafasku, dia geli?

“Ji Yeon-a. Angkat kepalamu sekarang!” perintahku kepada Ji Yeon.

Ji Yeon diam.

“Mau aku bantu untuk mengangkat kepalamu?” kataku lagi.

Ji Yeon tidak bergerak. Tapi dia dengan jelas mengatakan, “Aku sedang serius….”

“Ji Yeon-a!” panggilku dengan suara yang sedikit galak.

“Nanti saja,” katanya.

Aku penasaran. Aku tidak peduli, aku mendekati wajahnya dan mengangkat kepalanya perlahan. Dan aku melihat darah menetes dari hidungnya. Buku matematikanya penuh dengan darah yang menetes dari hidungnya.

“Ji Yeon-a. Kamu—mimisan,” kataku lirih.

Ji Yeon mengangkat kepalanya. Dia tersenyum.

“Sudah biasa. Hanya kecapekan biasa,” dia hendak mengelapnya dengan seragamnya. Tapi aku mencegatnya. Memegangi lengannya.

“Biarkan aku saja yang mengelapnya. Seragammu nanti kotor,” kataku sambil melepas baju luarku.

“Kalau kamu yang mengelapnya malah seragammu yang kotor,” kata Ji Yeon.

Aku diam saja. Hanya tersenyum dan lalu mengelap hidungnya dengan seragam luarku. Tangan kananku membersihkan hidungnya sementara tangan kiriku memegangi tengkuknya yang tertutup oleh rambutnya yang tergerai.

“Min Ho-yya…,” katanya lirih.

“Jangan bicara. Bibirmu juga kena darah,” kataku sambil mengelap bibirnya.

Aku sudah sering melihat seorang wanita yang paling aku sayangi mimisan. Ibu kandungku –Nyonya Im-, Kim You Jin, dan Jin Ah –waktu kecil-. Sekarang, malah Ji Yeon yang mimisan.

Min Ho POV end

Ji Yeon POV

“Ji Yeon-a. Kamu—mimisan,” kata Min Ho lirih.

Aku mengangkat kepala dan tersenyum.

“Sudah biasa. Hanya kecapekan biasa,” aku hendak mengelap darah di hidungku dengan seragam. Tapi Min Ho mencegatnya. Memegangi lenganku.

“Biarkan aku saja yang mengelapnya. Seragammu nanti kotor,” katanya sambil melepas baju luarnya.

“Kalau kamu yang mengelapnya malah seragammu yang kotor,” kataku.

Dia diam saja. Hanya tersenyum dan lalu mengelap hidungku dengan seragam luarnya. Tangan kanannya membersihkan hidungku sementara tangan kirinya memegangi tengkukku.

“Min Ho-yya…,” kataku lirih.

“Jangan bicara. Bibirmu juga kena darah,” katanya sambil mengelap bibirku.

Aku diam saja. Membiarkan bibirku disentuh oleh tangannya. Membiarkan nafas kami bertabrakan. Dan jantungku berdebar cepat.

“Sudahlah, Min Ho-yya,” kataku sambil menyingkirkan wajahku dari tangan dan wajahnya.

Min Ho melepas pegangannya dari tengkukku. Dia menatapku.

“Kamu sekarang sedang menghindariku?” tanyanya.

“Ti-tidak. Gimana kamu bisa ngomong kayak gitu?” aku kaget.

“Jelas saja. Aku mendekatimu tidak boleh. Aku mengelap hidungmu juga tidak boleh.”

“Bukan itu maksudku…” andai kau tahu, Min Ho-yya. Aku takut kau mendengar detak jantungku yang sangat keras dan cepat ini bila kau dekat-dekat denganku.

“Apa maksudmu?” tidak kusangka Min Ho menanyakan ini.

Aku diam. Tidak tahu mau jawab apa.

“Benar ternyata. Kamu mau menjauhi aku. Baiklah kalau seperti itu,” katanya sambil mengenakan kembali seragam luarnya yang penuh dengan darahku tadi.

“Jangan dipakai lagi. Aku akan mencucinya,” kataku sambil menunjuk seragamnya.

Min Ho mengangkat alisnya, “Coba kamu lepaskan jika berani.”

Aku menelan ludah. Dalam hati aku tidak berani. Tapi takut dia akan mengira aku menghindarinya. Akhirnya dengan perlahan, aku berdiri dan berniat melepaskan seragamnya. Ketika aku menarik seragamnya ke belakang, dia malah menarik seragamnya ke depan.

“Jangan main-main denganku,” kataku dengan suara yang agak serak.

Wajahnya mendongak. Melihat ke arahku yang terlihat berusaha melepaskan seragamnya. Wajahnya tepat di bawah wajahku, namun jaraknya jauh. Aku tidak ingin menatapnya.

Entah bagaimana, setetes darah kembali menetes dari hidung dan jatuh di wajah Min Ho. Aku segera mengelap hidungku dengan seragamku.

“Mianhae, Min Ho-yya..,” kataku sambil mengelap darah yang ada di hidungku.

Min Ho tersenyum. Dia akan mengelap setetes darah yang ada di dagunya. Namun gantian aku yang mencegatnya.

“Aku saja yang bersihkan. Giliranku,” kataku sambil mencegat lengannya.

Dengan hati-hati, aku mengelap dagunya dengan seragam bagian lenganku. Jarak antara wajahku dengan wajahnya tidak terlalu dekat. Dan aku bisa melihat tanpa harus menatapnya, matanya berbinar sangat menggemaskan dan bibirnya terus mengembangkan senyum.

Setelah selesai membersihkan dagunya, aku duduk agak jauh darinya. Takut merepotkannya lagi. Dan aku duduk meringkuk di depan buku matematika yang penuh darah itu. Aku membalikkan halamannya jauh-jauh dan membaca.

“Buat apa kamu sekarang? Harusnya kamu mengajariku,” katanya sambil mendekatkan wajahnya persis di wajahku.

Aku menoleh ke arahnya. Sekarang wajahnya persis berada di depanku. Hanya berjarak beberapa senti. Dengan cepat, dia mencium daguku. Aku kaget setengah mati. Rasanya jantungku sudah akan berhenti berdetak.

Dia… tadi mencium daguku. Ya, dia menciumku. Apa dia menyukaiku, Jin Ah-yya? Apa dia berpaling dari You Jin? Dang juga berpaling darimu?

Ji Yeon POV end

Author POV

“Yya, Wooyoung-a! Berhenti belajar! Aku hampir mati bosan..,” kata Jin Ah bosan mendengarkan Wooyoung mengajarinya.

“Aku juga. Aku juga bosan mengajarimu. Sedikit-sedikit rewel. Sedikit-sedikit mengeluh,” kata Wooyoung.

“Aku beda dengan Bae Sue Ji yang kalem.”

“Dan sekarang Sue Ji…”

“Oh ya! Aku penasaran isi surat dari Donghae oppa!” Jin Ah mengambil surat tadi.

“Malah suraat..”

“Aku penasaran,” Jin Ah membuka suratnya dengan kasar.

“Paling-paling dia juga minta kamu enggak bikin sarapan lagi buat dia.”

“Kok kamu tahu aku suka bikinin dia sarapan setiap pagi?”

“Tahu lah! Donghae hyung suka menceritakan kepadaku. Aku sampai bosan mendengarnya. Sama sepertimu membicarakan Bae Sue Ji kepadaku.”

“Sekarang kamu sedang membicarakan Sue Ji!”

Wooyoung diam. Dia memperhatikan keadaan kelas. Dia lihat Guru Han keluar kelas meninggalkan kelas yang sekarang menjadi ribut. Lalu dia memutar kepalanya ke arah Bae Sue Ji dan Choi Seung Hyun. Lagi-lagi dengan Seung Hyun! Batinnya kesal.

Wooyoung bisa melihat, Sun Ye sedang memperhatikan Seung Hyun dan Sue Ji juga dari seberang tempat duduknya sekarang. Dia tersenyum kecil.

“Apa—Sun Ye menyukai Seung Hyun?” gumamnya.

“Mwo?’ Jin Ah ingin tahu apa yang dikatakan Wooyoung.

“Obbseo,” kata Wooyoung.

Berpaling dari Sue Ji dan Seung Hyun, ia melihat Ji Yeon dan Min Ho yang berjauh-jauhan duduk. ia mengkerutkan dahi. Min Ho dan Ji Yeon tampak canggung ia lihat.

“Apa mereka sedang berpacaran? Kenapa mereka canggung?” lagi-lagi Wooyoung bergumam.

“Mwo?” dan lagi-lagi Jin Ah juga ingin tahu apa yang dikatakan Wooyoung.

“Obbseo..”

Jin Ah melenguh, “..Aku tidak yakin dengan isinya. Dia menyuruhku untuk mengumpulkan surat-surat darinya.”

Wooyoung tidak bereaksi, “Baguslah. Dia pasti akan memacarimu.”

“Apa—kau cemburu?”

“Enak saja cemburu! Aku tidak suka tipe cerewet sepertimu!”

“Jadi suka tipe kalem seperti Sue JI?”

“Sue Ji lagi..”

Mereka diam. Wooyoung kembali memperhatikan seisi kelas. sekarang ia memperhatikan So Min dan Seung Ho. Dua sejoli yang baru saja pacaran itu sangat ia sukai. Pasalnya, Seung Ho sangat romantis kepada So Min. Dan So Min juga selalu merengek manja kepada Seung Ho. Pasangan yang cocok menurutnya.

Ada yang aneh dengan Seung Ho dan So Min. Mereka tidak memperhatikan buku. So Min memperhatikan Seung Ho yang sedang tidak menatap buku. Wooyoung langsung mengikuti arah tatapan Seung Ho. Dan Seung Ho ternyata sedang memperhatikan Qian yang mengajari Nichkhun.

“Tidak seperti biasanya. So Min menatap Seung Ho. Sementara Seung Ho menatap Qian. Aneh,” katanya sambil melihat ke arah Qian.

Dan sekarang, Wooyoung memperhatikan Qian dan Nichkhun. Qian tampak serius mengajari Nichkhun. Namun Nichkhun memandang entah kemana. Wooyoung merasa bahwa ia sedang diperhatikan Nichkhun. Namun, ketika ia tersenyum, Nichkhun tidak bereaksi.

“Jadi.. Khun, y = -1 x 3,” kata Qian sambil mendongak ke arah Nichkhun.

Melihat Nichkhun memperhatikan yang lain, Qian mengekori mata Nichkhun.

“GAWAT! Cinta segi berapa ini??” Wooyoung berlebihan, “So Min ke Seung Ho, Seung Ho ke Qian, Qian ke Nichkhun, dan Nichkhun ke…. aku?”

Tampak tidak yakin dengan perkiraannya –Nichkhun menyukainya *Wooyoung*-, ia segera melihat Jin Ah yang ada di belakangnya. Jin Ah tampak asyik dengan surat dari Donghae. Ternyata…

Tunggu.. tidak mungkin Nichkhun memperhatikanku. Aku ini cowok. Dan dia juga cowok yang mantan pacarnya sudah beribu. So Min ke Seung Ho, Seung Ho ke Qian, Qian ke Nichkhun, Nichkhun ke—Im Jin Ah, dan Jin Ah ke Donghae hyung?

Wooyoung segera menghitung berapa sisi cinta beberapa temannya ini. SEGI LIMA?

“Segi lima?” kata Wooyoung.

“Apanya yang segilima?” tanya Jin Ah.

Melihat Jin Ah mendongak, Wooyoung segera menoleh ke Nichkhun. Namun Nichkhun segera membuang pandangannya dan beralih ke buku. Lalu ia melihat Jin Ah lagi.

“Obbseo,” kata Wooyoung.

“Yya! Dari tadi kamu bilang obbseo mulu’!”

“Mwo? Choi Soo Eun-ssi! Bagaimana posisiku bisa digantikan oleh guru Park Jin Young?” jerit guru Baek Ji Young di ruang kepsek.

“Jangan selalu berteriak. Gendang telinganku bisa meletus bahkan meledak karena suaramu yang kurang merdu!” kata Nyonya Choi dengan santai duduk di kursinya.

“Apakah kau tidak tahu bahwa aku sangat mencintai Grade 2-2?”

“Aku—tidak tahu. Tentu saja aku tidak tahu.”

“Aku tidak mau ganti posisi dengan guru Park Jin Young! Pokoknya aku tidak mau!”

Nyonya Choi menggeretakkan giginya.

“Kau tidak tahu bagaimana rasanya ketika berpisah dengan seseorang yang kau sayangi dan cintai,” kata Guru Baek.

Nyonya Choi merasa tertuduh.

“Apa yang kau katakan?” kata Nyonya Choi.

“Kau mau aku katakan sekali—“

“Jangan! Jangan katakan lagi!”

“Bayangkan kau akan berpisah dengan suami atau anakmu yang kau cintai dan sayangi! Apa reaksimu? Apa tindakanmu? Apa yang akan kau—“

“Kubilang jangan katakan hal itu!”

Guru Baek heran, “..jangan bilang kau pernah merasakannya?”

Nyonya Choi diam.

“Iya kau pernah merasakannya. Aku lupa dengan semua itu. Choi Min Ho dan Choi Dong Gun-ssi, adalah orang yang—“

“GEUMANN-EH!” Nyonya Choi menjerit.

“Ternyata benar desas desus selama ini?”

“Neo! Keluar dari ruangku dan Grade 2-2! Aku tidak mau anakku dipimpin oleh wali kelas bodoh sepertimu!”

Guru Baek hanya menatap Nyonya Choi sinis dan pergi dari ruangnya.

Aku sungguh tidak mau meninggalkan Grade 2-2. Wajah-wajah yang sangat menyenangkan. Masa’ aku akan meninggalkan wajah-wajah seperti itu kali ini? Batin Guru Baek.

Ketika Guru Baek membuka pintu, di depan ruang kepsek sudah ada Go Ha Ra yang berdiri sambil menatapnya kosong. Sementara itu, dibelakang Ha Ra, ada Guru Park Jin Young yang tersenyum kepadanya. Namun ia tidak membalas dan segera pergi dari situ.

Tunggu! Guru Baek digantikan Guru Park? Batin Ha Ra heran.

“Guru Baek diganti dengan Guru Park?!” lengkingan So Min membuat seluruh kelas menoleh ke arahnya.

“MWO?!” Yoo Seung Ho tidak percaya apa yang dikatakan So Min.

“Em,” So Min mengangguk-angguk, “..Aku diberitahu oleh Ha Ra unnie barusan lewat phone text!”

Seluruh kelas jadi lebih ribut dari sebelumnya.

“Jujur, aku lebih suka Guru Baek daripada Guru Park. Katanya pelajaran IPS-nya sangat membosankan dan membuat kita ngantuk,” kata Sun Ye.

“Aku sependapat dengan Sun Ye,” kata Sue Ji.

“Semuanya sih sependapat,” kata Shindong.

“Omma,” gumam Min Ho.

Ji Yeon menoleh kepada Min Ho dengan heran. Samar-samar tadi dia melihat Min Ho mengatakan sesuatu. Omma.

“Ada apa dengan ibumu?” tanya Ji Yeon.

“Jakkaman, Ji Yeon-a.,” kata Min Ho yang lalu berjalan keluar kelas.

Ji Yeon mengangguk dan memandang Min Ho aneh. Apa yang terjadi dengan ibunya? Ji Yeon heran.

Author POV end

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s