Grade 2-2 Part 12

Image

Title : Grade 2-2

Rating : PG-15

Genre : Romance, School.. kadang-kadang juga sad hikz

MAIN CAST : Nana, Nichkhun, Minho, Victoria, Jiyeon, Yoo Seung Ho, Suzy, Wooyoung

OTHER CAST : cari sendiri di post-post sebelumnyaahh.. hehe :P

COMMENT DINANTI, jangan bikin aku menanti terus lohh..  entar kayak lagunya Vierra yang Terlalu Lama. dan jangan bikin aku ngomong soal comment. entar aku nge REPLAY mulu kata-kata Comment.. kaya lagunya SHINee dong yang Replay, hehe

eh, mmm HAPPY READING YAK!!

Min Ho POV

Aku sudah berada di depan ruang kepsek. Aku tahu yang ada di dalam adalah Guru Park Jin Young. Aku tidak mau mengganggu mereka, jadi aku menunggu di luar. Ada kursi tunggu sih. Tapi disana diduduki oleh Eun Jung noona. Entah ada urusan apa.

“Choi Min Ho?” panggil Eun Jung noona saat tahu aku sedari tadi berdiri di depan ruang kepsek.

“Eun Jung noona, kenapa kamu disini?” tanyaku.

“Akhirnya ada juga yang menanyaiku. Dari tadi tidak ada yang tanya ketika melihatku membawa tas,” katanya.

“Ohh.. Kamu mau pulang?”

“Aku tidak punya rumah disini. Bagaimana aku mau pulang.”

“Kamu menginap berarti?”

“Iya. Di rumah Ji Yeon. Tahu Park Ji Yeon, kan? Dia sekelas denganmu.”

“Geurom. Jadi kamu mau kemana?”

“Mau kembali ke Jepang,” kata Eun Jung noona sambil tersenyum kepadaku. Tapi aku tidak membalasnya.

“Ohh.. hati-hati di jalan. Tidak mau balik lagi?”

“Gomawo, mungkin aku lebih suka di Jepang. Disini—aku tidak punya teman.”

“Kata siapa? Buktinya Ji Yeon akrab denganmu.”

“Ji Yeon—dia tidak selalu memperhatikanku. Dia selalu saja memperhatikanmu.. haha,” Eun Jung noona tertawa.

Aku tersenyum lebar. Sebenarnya aku tahu, Ji Yeon menyukaiku. Mendengar Eun Jung noona berkata seperti itu aku jadi malu.

“Kenapa mukamu merah begitu?” tanya Eun Jung noona. Dia menggodaku.

“Berhentilah berkata seperti itu,” kataku bertepatan dengan Guru Park yang keluar dari ruang kepsek.

Eun Jung noona berdiri dan memberi hormat kepada Guru Park. Aku pun begitu. Setelah Guru Park pergi, aku mempersilahkan Eun Jung noona untuk masuk. Eun Jung noona menggeleng.

“Kau dulu. Aku masih ingin melihat seseorang lewat disini,” katanya.

Aku tersenyum kepadanya dan masuk. Kulihat ibuku –Nyonya Choi- duduk malas-malasan di kursinya. Ia tampak merapikan kukunya dengan pisau kecil yang biasanya untuk merapikan kuku.

“Ada apa Choi Min Ho?” tanyanya.

“Kenapa kau menggantikan Guru Baek dengan Guru Park?” tanyaku langsung.

Ibu mendongak, “Siapa yang kau bilang ‘kau’? kau sedang berbicara informal denganku,” katanya.

“Omma, kenapa kau menggantikan Guru Baek dengan Guru Park?” tanyaku sekali lagi.

“Itu karena Guru Baek tidak becus mengurusi kelasnya. Masih ingat insiden Nichkhun dan teman-temannya?”

“Hanya karena itu?”

“Dia tidak bisa membimbing Nichkhun ke jalan yang benar. Apa itu pelampiasan karena patah hati?”

Aku diam. Aku baru tahu. Aku paham dengan apa yang dikatakan ibu. Nichkhun—malam itu karena Eun Jung noona selingkuh begitu?

“Jadi—maksud ibu—“

“Ya! Dia sudah ceritakan semuanya kepada Kepala Bimbingan Konseling.”

“Bagaimana bisa dia menceritakannya?”

“Hipnotis. Ia sebenarnya tidak menyukai pacarnya, Ham Eun Jung Siswi Grade 3 pindahan dari Jepang setahun yang lalu. Kamu teman baiknya malah tidak mengerti perasaannya..”

Aku diam lagi. Ternyata, Nichkhun tidak menyukai Eun Jung noona? Aku tahu, dia taruhan dengan Tae Sung untuk mendapatkan Eun Jung noona. Tapi aku tidak menyangka Nichkhun tega seperti itu.

Aku pamit dan memberi hormat kepada ibu untuk meninggalkan ruangannya. Ketika aku membuka pintu, Eun Jung noona berdiri dengan tatapan kosong menuju ke arahku.

“Eun Jung noona—“

“Min Ho-yya, benarkah Nyonya Choi ibumu?” tanyanya.

Seketika tenggorokanku sakit mendengar pertanyaan Eun Jung noona.

“Min Ho-yya, benarkah apa yang dikatakan Nyonya Choi?” tanyanya lagi.

Mati! Aku sebaiknya mati sekarang juga. Tadi aku menganggap Nichkhun tega. Ternyata aku lebih tega. Aku menyakiti perasaan Eun Jung noona.

“Sepertinya betul,” dia tersenyum. Matanya tampak berkaca-kaca, “Semua pertanyaan yang aku lontarkan tadi jawabannya betul semua”

“Eh.. maksud Nyonya Choi adalah—“

“Oke. Aku sudah membuat Grade 2-2 berantakkan. Aku sudah membuat Guru Baek sakit hati karena ditukar posisi dengan Guru Park. Dan aku juga sudah membuat—poin Nichkhun berkurang banyak..” katanya memotong perkataanku tadi dengan suara yang parau.

“Bukan. Bukan salahmu Eun Jung noona,” aku berusaha menghiburnya.

“Apa? Bukan salahku?” air mata Eun Jung noona tumpah juga.

Ingin rasanya aku menghapus air mata Eung Jung noona. Tapi, aneh juga rasanya aku mengelap pipi seorang sunbae.

Min Ho POV end

Author POV

Grade 2-2 sedang dalam keributan yang amat sangat besar. Mereka mengeluh terus menerus. Apalagi Min Sun Ye.

“Jang Woo Young, tidak bisa ya kalau ayahmu merajuk Nyonya Choi untuk mengembalikan posisi Guru Baek?” tanya Sun Ye kepada Wooyoung.

“Kalau itu aku tidak tahu dan tidak yakin pastinya,” kata Wooyoung.

Pintu kelas dibuka. Ternyata Choi Min Ho-lah yang masuk. Ia berjalan dengan cepat ke arah tempat duduk Qian dan Nichkhun.

“Min Ho kamu darimana?” tanya So Min kepada Min Ho.

Min Ho tidak menjawab pertanyaan So Min. Dia menghampiri Nichkhun.

“Aku tidak menyangka kau tega sekali dengan Eun Jung noona,” kata Min Ho kepada Nichkhun.

Nichkhun mendongak ke arah Min Ho. Ia lalu berdiri.

“Dan aku tidak menyangka kau sekarang sedang melabrakku hanya demi Eun Jung,” kata Nichkhun.

“Aku sedang tidak mau kasar denganmu. Kau hanya memikirkan dirimu sendiri? Bagaimana bisa kau memacarinya hanya karena taruhan dengan Lee Tae Sung berandalan itu?”

Setelah mengatakan itu, pukulan keras pun membentur wajah Min Ho. Ternyata Nichkhun memukul Min Ho dengan tangannya sendiri. Sesuatu yang belum pernah ia lakukan kepada sahabat dekatnya.

Seisi kelas pun terkejut dengan apa yang dilakukan Nichkhun barusan. Min Ho sendiri pun terkejut. Bibirnya mengeluarkan banyak darah.

“KHUN! Apa yang barusaja kau lakukan?!” jerit Ji Yeon.

Nichkhun menatap Min Ho dengan tatapan tidak bersalah. Sementara itu, Ji Yeon hendak menghampiri Min Ho. Namun tangannya dicegat oleh Sue Ji.

Ji Yeon menoleh ke arah Sue Ji. Begitu pula Sue Ji. Ia menggeleng-gelengkan kepala.

Min Ho kesal. Dia meraih kerah Nichkhun dan hendak memukul Nichkhun. Tapi ada yang aneh dengan Nichkhun. Nichkhun tidak menunjukkan perlawanan sama sekali.

Min Ho menatap mata Nichkhun dalam-dalam. Di dalam otaknya masih terdapat memorinya bersama Nichkhun. Dan juga dia masih ingat apa yang dikatakannya kepada Jin Ah.

“Jangan pakai kekerasan,” kata Minho lalu.

“Mwo?”

“Jangan main pukul,” kata Minho mengeraskan suaranya.

Niatnya untuk membalas Nichkhun akhirnya diurungkannya. Min Ho melepaskan kerah Nichkhun dari genggamannya. Ia menatap Nichkhun tajam dan pergi dari situ. Keluar kelas.

Malam ini, Qian sedang berada di sebuah restoran Cina. Ia memiliki janji bertemu dengan Sulli disitu.

Sambil menunggu Sulli datang, Qian masih memikirkan mengapa Nichkhun memukul Min Ho tadi siang. Padahal, Nichkhun dan Min Ho sangatlah akrab dari SMP.

Tiba-tiba seseorang duduk di depannya dengan sangat ribut. Dia adalah Sulli.

“Darimana saja kamu?” tanya Qian.

“Jangan berbasa-basi. Katakan apa yang mau kamu katakan,” kata Sulli.

Qian menghela nafas dalam-dalam dan menghembuskannya keras-keras.

“To the point, aku ingin kamu membuat Donghae oppa jadian sama Jin Ah,” kata Qian.

Sulli terperangah, “Mwo?”

“Itu sangat gampang. Apalagi Donghae adalah kakakmu, geudae?”

“Apa yang sebenarnya kamu mau dari mereka?”

Qian tersenyum sinis, “Jangan bilang kamu meniru Krystal yang semakin hari semakin membenciku.”

Sulli diam saja.

“Oke, aku tahu kamu sangat menyukai Kim Jong Woon oppa,” kata Qian lagi.

“Lalu? Aku harus berbuat apa?”

“Aku sangat mengenal Jong Woon oppa. Dia dan aku seperti kakak adik. Aku bisa membuatmu jadian dengan Jong Woon oppa.”

Sulli tampak berpikir.

“Ayolah! Anggap saja sebagai pertukaran budi,” kata Qian.

“Aku sudah kenal Jong Woon oppa dari dulu. Kami sudah dekat,” kata Sulli.

“Dan pastinya Jong Woon oppa menganggapmu sebagai adik.”

Sulli berpikir lagi.

“Jangan terlalu banyak berpikir. Kita berteman,” kata Qian.

“Siapa bilang kita berteman?”

“Aku memang membenci Krystal. Tapi tidak membencimu. Kau tega dengan orang yang tidak membencimu?”

“Aku tahu kau sedang merajukku.”

Qian diam. Dia kehabisan akal. Sementara itu, Sulli masih nampak berpikir. Dia tidak tahu apa yang Qian mau darinya, atau dari Jong Woon oppa, atau malah dari Donghae oppa dan Im Jin Ah.

“Sepertinya kau ingin sesuatu dariku,” kata Sulli.

“Bukan darimu. Dari Donghae oppa dan Jin Ah. Bagaimana? Kau mau membuat mereka jadian? Anggap saja ini bukan untukku.”

“Lalu buat siapa?”

Qian terhenyak.

“Apa kau tidak tahu?” tanya Qian.

“Tentang apa?”

“Tentang Donghae oppa menyukai Im Jin Ah.”

Sulli terlihat kaget. Namun dia bersikeras untuk tidak berlebihan di depan Qian yang sebenarnya menurutnya lebih berlebihan darinya.

“Kau tidak tahu ternyata. Aneh. Donghae oppa menceritakannya kepadaku, namun tidak kepadamu,” kata Qian.

Sulli diam. Dia berpikir lagi. Mencoba menggunakan ilmu ramalnya. Ia penasaran dengan apa yang akan dilakukan Qian apabila benar-benar Donghae oppa dengan Jin Ah jadian.

Dengan melihat jidad Qian, ia mengetahui sesuatu.

“Sebenarnya yang kau inginkan itu bukan Donghae oppa dan Jin Ah berpacaran. tapi kau menginginkan Nichkhun, benar ‘kan?” tanya Sulli kepada Qian kemudian.

Qian tercengang.

“Kau tahu Jin Ah menyukai Nichkhun. Dan Nichkhun sedikit-demi sedikit menyukai Jin Ah yang juga menyukainya. Sementara kau masih mengharapkan Nichkhun.”

Qian masih tercengang.

“Kemudian setelah kehadiran Donghae oppa di kehidupannya, Jin Ah sedikit sedikit melupakan Nichkhun dan membagi bunga cintanya kepada Donghae oppa. Sedikit demi sedikit,” kata Sulli lagi.

Dia bisa mengetahui semuanya? Batin Qian.

“Dengan begitu, posisimu tergencet. Nichkhun tidak lagi memikirkanmu, tapi memikirkan Jin Ah. Nichkhun belum menyadari bahwa dia menyukai Jin Ah. Dengan perlahan, dia menerima kenyataan bahwa Jin Ah sudah tidak menyukainya dan hanya menyukai Donghae oppa. Padahal kau ingin Nichkhun menyukaimu lagi, memikirkanmu lagi,” Sulli terkekeh, “..ternyata malah tidak.”

“Aku juga tahu, Jong Woon oppa sebenarnya menyukai siapa,” kata Qian.

Sulli berhenti terkekeh, “Mwo?”

“Jong Woon oppa, menyukai Krystal. Tetapi Krystal malah berpacaran dengan Lee Hyun Woo,” kata Qian dengan penuh kemenangan.

Ham Eun Jung sedang berada di kamarnya sekarang. Ia sedang membereskan barang-barangnya untuk pulang ke Jepang sekarang juga.

Ketika memasuk-masukkan pakaian, JI Yeon masuk ke kamarnya dengan sangat ribut.

“Eonni! Kenapa mendadak ingin pulang?” tanya Ji Yeon.

“Aku sudah membuat susah semua orang di Korea, Ji Yeon-a,” kata Eun Jung.

“Kata siapa?”

“Kataku.”

Eun Jung tersenyum tipis. Ia menutup kopernya dengan sangat palan-pelan.

“Lalu—Nichkhun bagaimana?” tanya Ji Yeon.

“Bagaimana apanya?” Eun Jung balik tanya.

“Kalian masih pacaran ‘kan?”

“Sebentar lagi sudah tidak.”

Ji Yeon bingung, “Maksudnya?”

“Kau ini terlalu telat berpikir. Aku mau berangkat,” kata Eun Jung seraya menarik kopernya keluar kamar.

“Jjakkamanyeo,  Eonni! Aku akan mengantarmu!” kata Ji Yeon.

“Jangan! Aku bisa sendiri. Aku tidak mau kau repot.”

“Eonni-yya,” mata Ji Yeon berkaca-kaca.

Eun Jung menatap Ji Yeon dalam-dalam. Seakan-akan dia bisa memberikan kata-kata ‘acuhkan aku saja’ lewat sorot mata.

“Eonni-yya,” Ji Yeon merengek manja.

“Mwo-yya? Jangan menangis. Toh aku juga tidak bisa ditangisi oleh wanita cantik milik Choi Min Ho ini,” kata Eun Jung dengan mata yang juga berkaca-kaca.

Ji Yeon tidak dapat membendung air matanya lagi. Ia menangis tanpa suara. Sudah terlanjur ia tidak dapat melepas Eun Jung eonni. Eun Jung eonni baginya sudah seperti kakak perempuan sendiri.

Tanpa kata-kata, Eun Jung pergi dari hadapan Ji Yeon menuju ke luar rumah. Sementara Ji Yeon juga tanpa kata-kata mengiringi kepergian Eun Jung.

“Masuk saja. Aku bisa cari taksi dari sini,” kata Eun Jung.

Ji Yeon diam saja. Tidak lama, taksi muncul di depan rumah. Eun Jung eonni menyetop taksi tersebut dan segera naik.

Tampak, sebelum ditutupnya pintu taksi, Eun Jung melambaikan tangannya kepada Ji Yeon dengan terus tersenyum berusaha menyembunyikan rasa sakit hati di wajahnya.

Dengan masih sesenggukan, Ji Yeon melambaikan tangan kepada Eun Jung sambil tersenyum juga. Akhirnya, taksi itu pun meluncur juga ke bandara.

Setelah taksi di depan rumahnya pergi, Ji Yeon masuk rumah dan menutup rapat pintu rumah. Dengan cepat ia mengambil phone-nya dan mengetik sebuah message.

Nichkhun sedang tiduran di kursi di ruang tamu. Tangan kanannya diletakkan di atas jidadnya. Sambil memejamkan matanya, ia mengingat-ingat kembali memorinya tentang gadis yang selama ini membuatnya bingung.

Author POV end

Nichkhun POV

 “Khunnie adalah panggilan yang diciptakan oleh Qian tauk!” kataku.

“Qian? Siapa Qian?” tanya You Jin tampak penasaran.

“Haha.. Qian, Song Qian adalah pacarnyaa-“ kata Minho enteng.

Aku tertawa ketika mendengar apa yang diucapkan Minho barusan. Tapi aku seperti tidak ingin semua orang tahu kalau Qian adalah pacarku.

Aku merasa diperhatikan. Ahh, ternyata Im Jin Ah memperhatikanku sejak tadi. Aku menangkap basah tatapannya. Aku melihatnya sedang melihatku dengan tatapan putus asanya tadi. Ketika aku melihatnya, dia hanya membuang pandangannya ke gerombolan anak-anak yang lain.

Dan memori yang lainnya …

 

“Im Jin Ah ituu.. bukannya suka sama aku?” Tanyaku.

“Tuh. Mana mungkin sih, Jin Ah enggak suka sama aku. Mana mungkin bisa move on?” kataku waktu itu..

Lalu memori yang lainnnya lagi …

 

“Kamu—anak mana sih? Aku tau dari dulu, kamu suka banget ngomongin Nichkhun dan manggil Nichkhun dengan sebutan Khyeowo,” kata teman Eunjung waktu itu.

“Yang aku maksud tuh bukan Nichkhun—“

“Terus siapa?” Eun Jung penasaran.

Im Jin Ah memutar kepalanya, dan berpikir.

“Aa!” Jin Ah memandangi lapangan futsal, tepatnya gawang milik kelas 3-3, “…yang kumaksud Khyeowo itu, kiper sebelah sana!” Jin Ah menunjuk kiper Grade 3-3.

Masih ada lagi…

Im Jin Ah menengok ke arahku dengan tatapan aneh. Dia mengernyitkan dahi dan melihat apa yang kutenteng. Dia terlihat sedikit kaget. Namun, dia juga terlihat ingin menyembunyikan perasaan itu.

“Mwol? Kaget?” kataku sambil tersenyum kepada Jin Ah.

Jin Ah menggelengkan kepala sambil setengah melongo. Aku tertawa melihat raut muka Jin Ah yang polos dan manis. Mirip dengan Qian yang dulu sering malu-malu.

 

Sementara itu, Jin Ah tidak melepas tanganku. Ia terus mengenggamnya, sambil memasang muka khawatir. Aku tertawa kecil melihat Jin Ah tidak melepaskan tangannya.

“Yya, mau sampai kapan kamu gandeng tanganku?” kataku, menggoda Jin Ah.

Im Jin Ah lalu melihat tangannya yang memegang erat tanganku yang basah akan keringat. Setelah sadar bahwa sedari tadi dia menggandeng Thai Prince, ia pun melepaskan tanganku.

Dan satu lagi…

“Yya, aku mau tanya satu hal ke kamu,” kataku.

Jin Ah hanya mengerjap-ngerjapkan matanya.

“Kamu suka aku kan? Kenapa kamu enggak kasih tau aku langsung?” tanyaku.

Jin Ah kaget. Dia menelan ludah. Bingung akan menjawab apa.

“Siapa bilang suka sama kamu? Aku suka sama kiper Grade 3-3!! Kalo aku suka sama kamu, aku udah suka dari sebelum masuk sini,” sangkal Jin Ah. Dia tidak begitu melihat wajah si kiper Grade 3-3 sebenarnya.

“Benar. Kamu harusnya suka sama aku dari sebelum masuk sini. Kamu suka aku dari waktu pendaftaran. Iya ‘kan?”

Muka Jin Ah memerah. Disorot oleh cahaya bulan purnama dan lampu taman salah satu rumah penduduk sini, wajahnya sangat penuh dengan kecemasan.  Aku tersenyum melihat raut muka Jin Ah untuk kesekian kali.

“Neo, diliat-liat imut juga,”  aku mendekati wajah Jin Ah, lalu tersenyum menjauh dari Jin Ah, “mirip banget sama Song Qian.”

 “Aku akan datang ke sisimu, Nona Imut yang sok imut! Tapi, setelah aku putus dari Japan Princess. Sabar, ya!” kataku.

Im Jin Ah. Adalah nama seorang gadis yang tampil tidak apa adanya menurutku. Aku tahu dia sedang menarik perhatianku. Aku tahu.. dia menyukaiku dari pertama masuk.

Aku sedang bingung sendiri dengan perasaanku. Aku memacari Eun Jung. Lalu, aku kemarin mencium Qian. Namun, aku memikirkan Jin Ah. Anak itu membuatku pusing. Membuatku ingin membuangnya jauh-jauh agar aku tidak bingung.

Selama Donghae hyung dekat dengan Jin Ah, jujur aku kesal. Aku pikir, Jin Ah menyukaiku. Aku jadi kecewa dengannya. Dan dengan Choi Min Ho.

Min Ho pernah mengatakan kepadaku bahwa Jin Ah menyukaiku. Dengan gampangnya aku percaya, karena aku terlalu percaya diri dengan sebutan Thai Prince-ku. Dan juga karena Jin Ah terlalu polos bagiku. Ternyata tidak.

Aku pikir, Jin Ah adalah anak polos yang pastinya selalu menyukai satu hal. Dan aku pikir, Jin Ah selalu menyukaiku. Tidak menyukai yang lainnya. Hanya aku. hanya menyukai aku seorang.

Ternyata pemikiranku salah. Salah sekali. Jin Ah sekarang move on ke Donghae hyung. Dan entah mengapa aku seperti.. seperti dikhianati.

Tiba-tiba phone-ku bergetar. Sebuah message masuk. Dari Park Ji Yeon.

“Ada apa dia mengirimiku text malam-malam?” gumamku.

Aku membuka message dan membacanya dengan seksama.

Setelah melihatnya, aku segera berdiri dan mengambil kunci motor dan helmm-ku. Dan aku mengenakan jaket hitam bulukku yang sedari tadi tersampir di punggung sofa.

Nichkhun POV end

Jin Ah POV

Aku sedang ada di kamar sendirian. Ju Hwan oppa dan aboji sedang menonton sitkom di ruang keluarga. Aku sedang mencerna kata-kata yang tertulis di surat Donghae oppa. Mari kita lakukan hubungan ini dengan baik. Hanya kata-kata itu yang terngiang di otakku. Lalu—Wooyoung mengatakan Donghae oppa akan menyuruhku mengumpulkan surat-surat dari Donghae oppa.

Aku memandang ke sekeliling kamar. Mataku berputar menyapu bersih apa yang ada di kamarku. Namun, setelah melihat tirai ‘All About Nichkhun’, pikiranku melayang ke Nichkhun si manusia imut. Sudah lama, aku tidak memikirkannya, curi-curi pandang ke arahnya, bahkan ngobrol dengannya.

Ada yang aneh dengan Nichkhun. Dia jadi pendiam. Bahkan tadi memukul Choi Minho. Setahuku, mereka berteman baik. Seharusnya Nichkhun tidak memukul Minho seperti tadi siang. Padahal hanya karena masalah Eun Jung eonni.

Tanganku bergerak untuk mengambil phone di meja di samping tempat tidurku. Aku menelusuri setiap nama di kontak phone-ku. Aku berhenti mencari setelah membaca kontak nama Bae Sue Ji.

“Sue Ji-yya, aku bingung,” aku bergumam sendiri.

Aku mengetik pesan untuk Sue Ji.

Sue Ji-yya, siapa yang bakal aku lebih suka? Donghae oppa atau Nichkhun?

Sudah lega rasanya mencurahkan kebingungan kepada Sue Ji. Yah, Sue Ji adalah satu-satunya sahabatku yang sangat suka memarahiku. Tapi aku malah lebih tenang apabila dia memarahiku *loh*…

Tidak lama, ada balasan dari Sue Ji.

Kalau aku jadi kamu, aku bosan menunggu Nichkhun.

Aku senyam senyum sendiri. Memang sih, aku bosan menunggu Nichkhun. Setiap hari hanya bisa memandangnya dari jauh tanpa berani mendekatinya. Ingin sekali ada keajaiban : Nichkhun mencintai Jin Ah. Aku terkekeh sendiri jadinya.

Kalau begitu aku memilih Donghae oppa saja?

Sue Ji membalas lagi :

Ya, anggap saja seperti itu. Aku malas membicarakan dua cowok dengan kepribadian yang berbeda namun sama-sama anak eksis yang membuatmu bingung dan galau sendirian. Mendingan aku buka laptop dan mengurusi blog-ku.

Aku tersenyum lagi. Sendirian.

Entah mengapa jika kau membalas message-ku seperti ini, aku jadi mendapatkan kekuatan. Aku jadi kangen dengan Kim You Jin.

Agak lama Sue Ji tidak membalas. Baru lima menit kemudian, phone-ku getar. Message dari Sue Ji :

Freak. You Jin baru saja membuat post di Me2Day.

Aku manyun.

Aku malas membuka Me2Day. Tapi, oke! Aku akan chatting dengannya!

Sue Ji tidak membalas. Kebiasannya memang seperti itu.

Dengan cepat, aku menyalakan komputerku. Aku menekan mouse dengan sangat bersemangat sehingga terkadang bukan Mozilla, atau Opera dan saudara mereka.

Aku membuka akun Me2Day-ku. Dan yah, Kim You Jin memang barusaja membuat post : KEMBALI KE KOREAAA!!!

Aku jadi senang melihat post-nya. Berarti dia akan kembali kesini, dan kanker-nya sudah sembuh. Aku comment post-nya yang tadi.

“A-ku sangat…. menan—tikan kekembalianmu, You Jin-aa!!” ejaku sambil mengetik comment.

Tiba-tiba aku teringat Choi Minho. Masihkah dia mengingat You Jin? Masihkah dia menyukai You Jin?

Aku berlari kecil menuju korden bertirai ‘All About Nichkhun’. Aku tahu pasti jam segini, Minho sedang berada di teras depan rumahnya. Dan rumahnya sedikit persis di depan kamarku.

Ternyata benar, Minho sedang duduk di teras dengan laptopnya. Ia tampak serius memperhatikan laptop. Melihat itu, aku menunjukkan kepalaku keluar dari jendela.

“Minho-yya!” panggilku.

Minho mendongak dari laptopnya. Ia langsung menoleh ke arahku. Dia tersenyum, dan aku membalas senyumnya.

“Wae?” tanyanya.

“Kamu.. gwencana?” tanyaku karena masih khawatir. Takut giginya ada yang lepas, dan tampan dari wajahnya hilang.

“Jeongmal gwencana.”

“Ohh.. ngomong-ngomong kamu lagi ngapain?”

“Emm.. lihat posting blog seseorang.”

“Siapa?”

“Ada saja.”

Aku terkekeh.

“Oh iya! Kim You Jin akan kembali lagi ke Korea. Ke Seoul!” kataku.

Minho masih tersenyum, “Jeongmal? Kalau begitu adakan pesta penyambutan.”

“Geudae! Pesta penyambutan! You Jin dan Ji Yeon sama-sama menyukai pesta penyambutan!”

“Tapi—kapan dia datang kembali kesini?”

“Tidak tahu,” aku meringis lebar.

Minho memperhatikan laptopnya lagi. Aku ingin bertanya satu hal lagi.

“Min Ho-yya,” panggilku.

“Oo?” Min Ho masih konsentrasi ke laptopnya.

“Kamu—masih menyukai You Jin atau sudah move on?”

Min Ho menoleh ke arahku dengan matanya yang bulat. Aku sangat senang memandangi matanya yang sangat mirip mata ibu.

“Kamu menyukaiku ya?” katanya. Aku tahu dia menggoda.

“Jangan bercanda seperti itu. Kalau nanti aku betulan menyukaimu bagaimana?” kataku.

“Aku harap seperti itu,” Min Ho tersenyum lebar.

“Jangan berharap terlalu tinggi. Yang ada nanti kamu sakit,” kataku.

Min Ho tampak mencerna perkataanku. Perlahan senyumnya hilang.

“Oo, aku mengerti perkataanmu tadi,” katanya.

Aku diam.

“Tapi ngomong-ngomong kata-kata tadi nyontek darimana?” tanyanya.

Aku hanya tertawa kecil dan garuk-garuk kepala.

Jin Ah POV end

Author POV

Motor berwarna hitam pekat itu, berhenti di depan pintu bandara begitu saja. Pemiliknya –Nichkhun– malah pergi meninggalkannya dan tidak menghiraukan perkataan petugas. Tentu saja, di petugas yang ada di pintu depan bandara dengan terpaksa memarkirkannya ke tempat lain.

Nichkhun, dengan penampilan seadaanya –belum mandi, tapi tetep ganteng dan wangi-, mencari sebuah siluet, seseorang yang selama ini dibuatnya sakit.

Akhirnya dia menemukan Eun Jung di dekat kursi tunggu. Ia langsung berlari mendapati Eun Jung yang berdiri dengan resah.

“Eun Jung-a!” panggil Nichkhun.

Eun Jung menoleh ke arah sumber suara. Ternyata Nichkhun.. batinnya.

“Eun Jung-a, teganya kau pergi tanpa pamit denganku!” kata Nichkhun dengan nafas yang tidak teratur setelah berada di depan Eun Jung.

“Apakah harus aku pamit dengan seseorang yang telah aku sakiti?”

Nichkhun tertegun, “Mwo?”. Nichkhun berpikir bahwa selama ini dialah yang menyakiti Eun Jung.

“Lebih baik aku pergi tidak pamit daripada tinggal disini dan menyusahkanmu, menyakitimu, menyakiti semua orang yang membantuku.”

“Siapa bilang kau merepotkan orang la—“

“Nyonya Choi mengatakan itu jelas-jelas kepada Choi Min Ho,” Eun Jung memotong perkataan Nichkhun.

“Nyonya Choi berbohong kepada Choi Min Ho.”

“Ani. Aku tahu mengapa Guru Baek digantikan Guru Park. Aku tahu mengapa kau melakukan tindak kriminal sementara kau tahu aku benci tindakan seperti itu.”

“Eun Jung-a,” Nichkhun tertegun.

Eun Jung tersenyum. Namun, matanya berkaca-kaca. Matanya panas dan mungkin air mata sudah menumpuk di pelupuk matanya. Dan akhirnya air matanya tumpah juga.

“Sudah, jangan pedulikan aku. aku ingin pulang. Bukannya aku ingin menghindar dari kesalahanku. Tapi jika aku pulang, Daebak Senior High School akan baik-baik saja,” kata Eun Jung.

Eun Jung masih tersenyum kepada Nichkhun yang hanya menatapnya dengan tatapan kosong.

“Nichkhun-a, lebih baik kita putus. Itu yang kamu harapkan, benar?” kata Eun Jung dengan masih sesenggukan.

“Ham Eun Jung, jangan pergi. Ini semua bukan salahmu!” Nichkhun memegangi lengan Eun Jung.

Eun Jung melepaskan tangan Nichkhun dari lengannya.

“Jarkka, Nichkhun-a,” air mata Eun Jung semakin deras, “Kau bisa mencintai Qian dengan sangat bebas. Tanpaku, cintamu kepada Qian tidak akan pernah dan tidak akan pernah bisa terhalangi.”

Nichkhun tertegun setelah mendengar Qian disebut dari mulut Eun Jung.

“Annyeong, Nichkhun-a,” Eun Jung pergi menjauh dari Nichkhun sambil melambai-lambaikan tangannya.

Nichkhun masih diam di tempatnya. Ia merasa bersalah kepada Eun Jung. Ingin sekali dia memanggil Eun Jung dengan tambahan ‘noona’ di belakangnya.

“Eun Jung noona!!” panggil Nichkhun sambil berlari mendekati Eun Jung.

Eun Jung menoleh dengan rasa heran. Saat dia menoleh, dengan cepat Nichkhun memeluknya. Eun Jung semakin heran.

“Kkajima, Eun Jung noona. Kkajima,” Nichkhun masih memeluk erat Eun Jung.

Nichkhun-a, aku harus pergi. Aku tidak boleh terlalu lama disini. Semakin lama disini, semakin banyak orang yang aku sakiti. Sebenarnya berat meninggalkan Seoul. Tapi lebih berat lagi rasa kangenku kepada ibu di Jepang. Batin Eun Jung.

_______________________________________________

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s