Grade 2-2 Part 13

Image

Title : Grade 2-2

Rating : PG-15

Genre : Romance, School.. kadang-kadang juga sad hikz

MAIN CAST : Nana, Nichkhun, Minho, Victoria, Jiyeon, Yoo Seung Ho, Suzy, Wooyoung

OTHER CAST : cari sendiri di post-post sebelumnyaahh.. hehe :P

COMMENT DINANTI, jangan bikin aku menanti terus lohh..  entar kayak lagunya Vierra yang Terlalu Lama. dan jangan bikin aku ngomong soal comment. entar aku nge REPLAY mulu kata-kata Comment.. kaya lagunya SHINee dong yang Replay, hehe

eh, mmm HAPPY READING YAK!!

Title : Grade 2-2 Part 7

Author : Atika Razan (JBSung)

Length : Parted (10 Parts)

Genre : School, Romance, Comedy *huaah*

CAST :

  • Nana After School      : Im Jin Ah
  • Nichkhun 2PM           : Nichkhun B. Horvejkul
  • Minho SHINee                        : Choi Min Ho
  • Victoria f(x)                : Song Qian
  • Jiyeon T-Ara               : Park Ji Yeon
  • Yoo Seung Ho
  • Suzy Miss A                 : Bae Sue Ji
  • Wooyoung 2PM         : Jang Wooyoung

OTHER :

  • Jung So Min
  • Shindong : Shindong (Shin Dong Hee)
  • Sun Ye : Min Sun Ye
  • T.O.P. : Choi Seung Hyun
  • Donghae : Lee Dong Hae
  • Eunjung : Ham Eun Jung
  • Yesung : Kim Joong Won
  • Krystal Jung
  • Sulli
  • Lee Hyun Woo
  • Lee Tae Sung
  • UEE : Kim You Jin
  • Park Jin Young
  • Baek Ji Young
  • Go Ha Ra

SULLI POV

Baru saja aku masuk rumah, sudah dicegat oleh Donghae oppa. Ia tampak sangat bahagia dengan senyumnya yang sangat lebar. Pasti ada hubungannya dengan Im Jin Ah.

“Tungsaeng! Darimana kamu?” tanya Donghae oppa kepadaku.

Aku garuk-garuk kepala. Aku tidak mungkin mengatakan kepada Donghae oppa kalau aku bertemu dengan Song Qian dan membuat perjanjian.

“A-aku baru saja main dengan Song Qian. Oppa tahu Song Qian, bukan?” kataku.

Donghae oppa diam sebentar, “Oo.. tapi, bukannya dia dengan Krystal sedang bermusuhan?”

“Ne. Aku juga tadinya bermusuhan dengan Qian. Tapi setelah kupikir-pikir, dia baik juga ternyata. Dan lagi—tidak ada gunanya bermusuhan, toh.”

Donghae oppa manggut-manggut.

“Oppa,” panggilku.

“Wae?” jawab Donghae oppa.

“Apa benar—Donghae oppa menyukai Jin Ah?”

“Geurom! Dia sangat yeppo kenapa aku tidak menyukainya?”

“Kenapa oppa tidak cerita ke aku? malah cerita ke Song Qian.”

“Jadi Qian memberitahumu?”

Aku mengangguk.

“Kamu dekat dengan Jin Ah, ‘kan? Aku tidak tahu dia menyukaiku atau tidak. Barusan aku mengirimi dia pesan teks,” kata Donghae oppa.

“Lalu? Apa yang kau tulis?”

“Selamat malam, ini Lee Dong Hae oppa. Begitu saja,” kata Donghae oppa sambil memutar-mutar phone di tangannya.

“Dia jawab apa?” aku penasaran.

“Ne, aku Im Jin Ah grade 2-2 SMU Daebak..” Donghae oppa tersenyum lebar, “Nah, aku bingung sekarang mau balas apa lagi?”

Aku berpikir, “Mungkin—bagaimana kalau oppa tanyakan langsung, apakah Jin Ah menyukai oppa..”

Hening. Dan Donghae oppa berhenti tersenyum.

“W-Wae?” aku mengerjap-ngerjapkan mata.

“Terlalu cepat…” katanya, “Apa aku tidak usah membalasnya? Pura-pura stay cool..”

Aku menghembuskan nafas keras-keras kemudian hanya mengangkat bahu. Lalu aku berjalan menuju lantai dua, tepatnya kamarku.

Setelah sampai di depan kamar, aku langsung membuka pintu dan berlari menuju kasur. Melempar tubuhku ke kasur dan fuuh…

“Capeknyaa—“ gumamku.

Aku diam sebentar setelah melihat foto Jong Woon oppa di langit-langit. Jong Woon oppa, kalau oppa disuruh milih aku atau Krystal—oppa milih siapa? Pilih aku atau tetap Krystal?

Aku jadi ingat pertemuanku tadi dengan Song Qian.

 

 “Aku juga tahu, Jong Woon oppa sebenarnya menyukai siapa,” kata Qian.

Aku berhenti terkekeh, “Mwo?”

“Jong Woon oppa, menyukai Krystal. Tetapi Krystal malah berpacaran dengan Lee Hyun Woo,” kata Qian dengan penuh kemenangan.

Aku terdiam. Otakku masih berputar. Aku ingin sekali mendapatkan Jong Woon oppa. Dan aku ingin sekali Jin Ah bahagia tanpa menunggu Nichkhun, dan sekali lagi bahagia di samping Donghae oppa.

“Kalau aku membantumu—apakah kamu akan membantuku?” tanyaku kepada Qian.

“Yaa.. jelasnya.”

“Kalau aku membuat Donghae oppa pacaran dengan Jin Ah, dan Jin Ah menjauh dari Nichkun, apa itu semua cukup untukmu?”

“Ya. Mungkin begitu.”

“Lalu—baiklah. Hanya sekali ini aku membantumu. Dan aku sekarang minta bantuanmu.”

Qian terlihat berbinar, “Malhae..!”

“Buat Jong Woon oppa menyukaiku, dan berpacaran denganku. Lalu—buat Jong Woon oppa melupakan Krystal untuk.. selamanya. Bisakah kau melakukannya?” kataku dengan penuh keyakinan.

“Itu sangat mudah bagiku. Jadi kita buat perjanjian?”

Aku mengulurkan tangan ke Qian. Lalu ia menjabat tanganku dengan sangat erat dan kuat. Ia tersenyum kepadaku dengan sangat manis, bisa saja aku dihipnotis oleh kemanisan senyumnya.

Jadi sejak waktu itu, aku berjanji kepada Qian untuk membuat Donghae oppa jadian dengan Jin Ah. Dan Qian pun seharusnya berjanji membuat Jong Woon oppa menyukaiku.

Tapi, ada yang sangat membuatku yakin, Donghae oppa tidak akan berpacaran dengan Jin Ah. Aku sedang membaca waktu yang akan datang. Jin Ah—adalah orang yang tidak mudah melupakan seseorang yang ia cintai.  

SULLI POV END

Keesokkannya, di SMU Daebak.

AUTHOR POV

Sun Ye baru saja turun dari mobil ayahnya di depan gerbang SMU Daebak. Setelah ia turun, ia memberi hormat kepada ayahnya. Lalu ia berbalik untuk berjalan menuju kelas. Namun, belum satu langkah, ia berbalik lagi.

Ternyata, ia melihat Seung Hyun sedang akan menyeberang ke arahnya. Muka Seung Hyun tampak berseri-seri setelah melihatnya. Tampak headset menyumbat dua lubang kupingnya. Dengan cepat, mukanya berubah jadi merah.

“OPPAA!!!” jerit adik-adik kelas di depan gerbang  setelah melihat Seung Hyun.

Dengan sambil masih berjalan menyebrangi jalan, Seung Hyun memberikan senyuman dan melayangkan lambaian tangannya kepada adik-adik kelasnya yang pantas disebut fans.

Jalan di depan gerbang memang sangat lebar. Sun Ye belum berani menghampiri Seung Hyun lebih dekat lagi, karena selain Seung Hyun menyeberangi jalan, menurutnya belum tentu Seung Hyun berlari ke arahnya.

“Sun Ye-yya!” panggil Seung Hyun sambil berjalan menyeberangi jalan.

“Oo!” Sun Ye kaget dan mendekati Seung Hyun.

“Tunggu disitu!” pinta Seung Hyun.

Sebuah mobil lewat di depan Seung Hyun. Mobil itu menghalangi penglihatannya dan penglihatan Sun Ye. Dia berhenti di tengah-tengah jalan.

Setelah mobil itu lewat di depan Seung Hyun, Sun Ye melambai-lambaikan tangannya ke Seung Hyun.

“Apa yang kau katakan tadi?!” kata Sun Ye.

“MWO?” Seung Hyun tidak mendengarnya. Dia masih ada di tengah jalan.

Sun Ye berjalan lebih dekat ke jalan, “Tadi kau katakan apa?”

Seung Hyun berjalan pelan setelah tengak-tengok buat memastikan tidak ada kendaraan apapun.

Sun Ye menengok ke arah kanan posisinya. Ia melihat sebuah bus melaju kencang ke arah Seung Hyun. Bus itu semakin kencang dan semakin mendekati posisi Seung Hyun.

“Seung Hyun-a!” panggil Sun Ye sambil loncat-loncat.

Seung Hyun menoleh ke arah Sun Ye dan tersenyum.

“Ada bus!” kata Sun Ye sambil menunjuk-nunjuk keberadaan si bus.

“MWO?” Seung Hyun tidak dengar apa yang dikatakan Sun Ye sambil terus berjalan menyeberangi jalan.

“BUS! B. U. S!” eja SunYe.

Seung Hyun tetap tidak mendengar apa yang dikatakan Sun Ye. Ia tetap berjalan menyeberangi jalan dengan santainya. Mungkin karena headset di kupingnya, jadi di tidak mendengarnya. Bahkan ketika si bus membunyikan klakson.

BRRUKKK!! Mendengar suara itu, Sun Ye membelalakkan matanya. Dia telah melihat semua yang terjadi. Seung Hyun tertabrak bus. Seung Hyun sekarang terkapar di jalan raya.

Dengan cepat, Sun Ye berlari menuju Seung Hyun yang terkapar. Ia tidak bisa berkata apa-apa ketika melihat kepala Seung Hyun mengeluarkan darah begitu banyak.

Begitu juga saat si bus meninggalkan Seung Hyun dan dia begitu saja. Sun Ye tidak bisa berteriak. Tenggorokkannya sudah terlanjur tercekat dan sakit untuk berteriak.

Seung Hyun membuka matanya. Sun Ye sangat terkejut melihat itu.

“Sun Ye-yya, gomapta!” kata Seung Hyun.

Sun Ye menggelengkan kepalanya. Ia menahan air matanya yang ada di pelupuk matanya agar tidak jatuh.

Orang-orang yang ada di sekitar jalan raya, segera menghampiri Seung Hyun dan Sun Ye. Mereka membawa Seung Hyun ke rumah sakit, dan Sun Ye mengikuti mereka.

Ji Yeon, Sue Ji, dan Jin Ah berjalan beriringan menuju kelas. Mereka sedang membicarakan Song Qian dan Jung So Min.

“Kalian tahu, Qian sekarang berubah,” kata Sue Ji.

“Em,” Ji Yeon mengangguk, “Itu semenjak kita pulang dari Busan..”

“Apanya yang berubah?” tanya Jin Ah.

“Dia—sekarang lebih suka sendiri. Tanpa So Min, dan suka sekali meninggalkan So Min sendirian di kantin,” kata Sue Ji.

“Lalu, dia sekarang menjadi anak pendiam yang memiliki tatapan dingin,” tambah Ji Yeon.

“Jiahh! Dia memang orangnya begitu bukan?” kata Jin Ah.

Sue Ji dan Ji Yeon diam. Mereka sama-sama melipat tangan di dada. Jin Ah tidak bisa melipat tangannya seperti mereka berdua, karena tangannya menenteng sarapan untuk Donghae.

Dari arah yang berlawanan, Sulli dan Krystal berjalan juga. Mereka melambai-lambaikan tangan kepada Sue Ji, Ji Yeon, dan Jin Ah.

“Annyeong!” sapa Sulli.

“Annyeong!!” balas Ji Yeon, Sue Ji, dan Jin Ah.

Sulli melihat apa yang ditenteng Jin Ah. Ia sudah menebaknya.

“Uoohh.. sarapan untuk Donghae oppa lagi?” tanya Sulli kepada Jin Ah.

Jin Ah manggut-manggut, “Eum..”

“Kau—menyukai Donghae oppa,’kan?” tanya Sulli lagi.

Jin Ah diam. Lalu, pipinya memerah. Dia tidak bisa berkata apa-apa lagi.

“Dia.. harus aku akui sangat tampan,” kata Jin Ah malu-malu, “Bagaimana mungkin aku tidak menyukainya?”

Sulli tersenyum lebar. Tiba-tiba, phone Ji Yeon berbunyi.

“Jjakkaman,” Ji Yeon menjauh dari Sulli, Krystal, Jin Ah, dan Sue Ji. Ia menjawab telepon dari Sun Ye.

“Wae, Sun Ye-yya?” tanya Ji Yeon.

Sun Ye tidak menjawab sepatah katapun. Hanya saja, Ji Yeon mendengar isak tangis Sun Ye.

“W-wae, Sun Ye-yya? Malhae? Ke-kenapa kau menangis?” tanya Ji Yeon dengan suara yang agak keras, sehingga Krystal, Sulli, Jin Ah, dan Sue Ji menengok ke arahnya.

“Ji Yeon-a,” Sun Ye terisak, “Katakan pada teman-teman… bah-bahwa Seung Hyun—“

“Choi Seung Hyun kenapa?”

“Di-dia…”

Sue Ji penasaran, “Siapa yang meneleponmu, Ji Yeon-a?”

Ji Yeon hanya memberi isyarat ‘sebentar’ kepada Sue Ji. Ia lalu melanjutkan percakapan misteriusnya dengan Sun Ye.

“Ppaliyya malhae!” kata Ji Yeon dengan tidak sabarnya.

Donghae hanya melongo ketika Sulli mendatanginya di kantin pagi-pagi. Dia menunggu Im Jin Ah, eh.. malah Sulli yang datang.

Sulli dengan gontai duduk di depan Donghae yang termangu di meja kantin. Setelah itu, Kim Jong Woon menghampiri mereka berdua.

“Annyeong, Jong Woon oppa!” sapa Sulli dengan manis.

Jong Woon hanya tersenyum kepada Sulli semanis mungkin.

“Aku sedang menunggu Jin Ah, kenapa malah kau yang datang?” tanya Donghae.

Sulli memonyongkan mulutnya kemudian menyodorkan sebuah bungkusan berisikan sarapan untuk Donghae.

“Dari Jin Ah,” kata Sulli pendek.

Donghae tersenyum lebar dan segera menerima bungkusan itu. Namun Sulli menarik bungkusan itu kembali, dan dia menyipitkan matanya.

“W-wae?” Donghae bingung dengan kelakuan adiknya.

“Jangan habiskan sendiri. Kata Jin Ah, ada porsi untuk Jong Woon oppa juga,” kata Sulli.

“Ah—tapi aku sudah makan. Barusan,” kata Jong Woon kepada Sulli.

“Geudae?” Sulli kecewa, “Yah…”

Donghae menarik si sarapan dari tangan Sulli. Ia membuka bungkusannya dengan sangat bahagia. Namun, raut wajahnya berubah seratus tujuh puluh sembilan derajat.

“Kenapa—dia tidak memberikan kepadaku secara langsung?” Donghae menutup kembali bungkusan sarapannya.

Sulli melonjak, “Ada sesuatu terjadi dengan teman sekelasnya. Kau tentu tahu Choi Seung Hyun ‘kan?”

Donghae dan Jong Woon manggut-manggut.

“Dia adalah seorang idol disini. Benar bukan?” kata Jong Woon.

“Oo..” Sulli mengangguk.

“Terus?” Donghae tidak sabar mendengar perkataan Sulli selanjutnya.

“Dia kecelakaan. Katanya pingsan dan belum siuman juga,” kata Sulli.

“Mwo?” Jong Woon kaget, “Kapan kejadiannya?”

“Molla..,” Sulli tiduran di meja, “Jadi semua anak Grade 2-2 ke rumah sakit tempat Seung Hyun dirawat tadi.”

“Lalu?” Donghae garuk-garuk kepala.

“Jadi dia tidak bisa langsung memberikan sarapan kepadamu, Donghae oppa!” Sulli greget dengan kelakuan Oppa-nya.

Donghae agak kecewa mendengar perkataan Sulli. Ia memandangi sarapan dari Jin Ah untuknya. Ia tersenyum tipis.

“Ia tidak menyukaiku, benar?” gumam Donghae.

“Ani, oppa-yya! Dia menyukaimu!” kata Sulli.

Donghae melompat dari kursinya, “Mwo?”

“Kau selalu membuatnya mengatakan hal yang sama sebanyak dua kali!” kata Jong Woon, “Jin Ah menyukaimu, bodoh!”

“Eum, oppa! Dia bilang begini, ‘harus aku akui Donghae oppa sangat tampan. Bagaimana mungkin aku tidak menyukainya?’ Begituuuu..” kata Sulli.

Senyum di wajah Donghae semakin melebar. Ia menunduk malu.

Akhirnya kau bisa melupakan Nichkhun Horvejkul yang selama ini melukaimu. Dia membuatmu menunggu terlalu lama.

Sun Ye duduk di sebelah tempat tidur Seung Hyun bersama kedua orang tua Seung Hyun di rumah sakit.  Ia ingin menangis, tapi dia harus menahannya karena ada orang tua Seung Hyun.

Choi Seung Hyun pingsan ketika dalam perjalanan menuju rumah sakit. Kepalanya terluka, sehingga saat ini diperban. Pergelangan kaki kirinya  mengalami retak tulang, sehingga nanti saat dia berjalan, harus menggunakan kruk.

Ibu Seung Hyun tampak sangat sabar sewaktu tahu Seung Hyun kecelakaan. Ia tetap tersenyum di depan Sun Ye saat sampai di rumah sakit. Sun Ye tahu betapa terpukulnya ibu Seung Hyun.

“Ahjumma, ahjussi.. tidakkah kalian lelah?” kata Sun Ye kepada ibu dan ayah Seung Hyun.

“Ani, Sun Ye-saeng. Kami bersedia menunggunya sampai siuman,” kata ayah Seung Hyun.

“Kalau begitu, aku juga akan menunggunya sampai siuman,” kata Sun Ye sambil memperhatikan wajah tampan Seung Hyun.

“Apakah kau tidak bersekolah?” tanya ibu Seung Hyun.

“Aniyyo, ahjummanim. Khusus hari ini, murid-murid sekelasku dan sekelas Choi Seung Hyun akan menjenguk Seung Hyun. Wali kelas kami pun setuju,” kata Sun Ye.

Mata Ibu Seung Hyun berkaca-kaca, “Gomapta..”

“Cheonmaneyo,” kata Sun Ye.

“Choi Seung Hyun.. dia adalah anak yang sangat berbakti kepada orang tuanya. Tidak pernah sama sekali ia membantah perintahku,” kata Ibu Seung Hyun.

“Ne- itu benar. Dia juga sangat baik terhadap kami semua,” kata Sun Ye.

Ibu Seung Hyun ternyata penasaran satu hal. Mengapa Sun Ye-lah yang membawa Seung Hyun ke rumah sakit?

“Aku—penasaran satu hal. Apa boleh aku bertanya?” kata ibu Seung Hyun.

“Katakan saja..” kata Sun Ye.

“Emm.. apakah kau Seung Hyun choanne?” tanya ibu Seung Hyun.

Whooshh.. seperti ada angin yang menerpa wajah Sun Ye.

“Ne?” Sun Ye mengangkat alisnya, “O.. aniyyo. Aku teman sekelasnya saja.”

Ibu Seung Hyun manggut-manggut, “Gomapta, kau sudah membawa Seung Hyun ke rumah sakit.”

“Jangan begitu, ahjummanim. Yang membawaku ke rumah sakit itu orang-orang sekitar lokasi kejadian,” kata Sun Ye.

“Tapi, jika tidak ada Sun Ye-haksaeng, Seung Hyun pasti tidak akan bisa ke rumah sakit secepat tadi,” kata ayah Seung Hyun.

Sun Ye melongo. Tiba-tiba pintu kamar Seung Hyun dibuka. Sontak, ibu dan ayah Seung Hyun, serta Sun Ye bangkit dari tempat duduk mereka masing-masing.

Ternyata, yang membuka pintu adalah Guru Baek. Diikuti oleh Yoo Seung Ho, Choi Min Ho, Jang Woo Young, dan yang lainnya. Mereka masuk ke kamar dan memberi hormat kepada kedua orang tua Choi Seung Hyun.

“Annyeonghaseyo..” sapa Guru Baek kepada kedua orang tua Seung Hyun. Ia membungkuk sembilan puluh derajat.

“Ommo.. annyeonghaseyo..” ibu Seung Hyun membalas hormat Guru Baek dan diikuti oleh ayah Seung Hyun.

Sun Ye, dan anak-anak perempuan lain sedang ada di taman rumah sakit. Mereka tidak bisa menunggu siumannya Seung Hyun di kamar Seung Hyun karena akan membuat kegaduhan.

“Sun Ye-yya, bagaimana kau bisa ada di lokasi kejadian?” tanya Sue Ji tanpa basa-basi. Logat dialeknya agak-agak keluar.

“Dia—sedang menyeberangi jalan ketika aku baru turun dari mobil,” kata Sun Ye.

Sue Ji manggut-manggut.

“Aigoo.. Jjinja! Dalam keadaan genting seperti ini, Song Qian tidak masuk sekolah,” kata So Min sambil berjalan gontai menuju kursi taman.

Semuanya terdiam ketika So Min menyebut nama Qian.

“Kau sangat setia sekali kepada Qian, Jung So Min,” kata Jiyeon, “Qian sudah jauh-jauh darimu, kenapa kau menempel terus di sekelilingnya?”

“Yah, aku ingin buktikan kalau aku adalah orang yang setia.”

Ji Yeon panas. Ia ingin sekali memberitahu kepada So Min, bahwa Qian menjauhi So Min karena So Min berpacaran dengan Yoo Seung Ho.

“Aku.. neomu neomu neomu neomu neomu ingin mengatakannya padamu,” kata Ji Yeon.

“Katakan apa?” So Min penasaran.

“Apa kau tidak mengerti selama ini Qian menjauhimu karena apa?”

“Molla.. w-wae?”

“Itu— karena kau berpacaran dengan mantannya.”

“Bu-bukannya mantan Qian itu Nichkhun? Aku tidak berpacaran dengan Nichkhun. Aku berpacaran dengan Seung—“

So Min mengerjap-ngerjapkan matanya. Nampaknya ia menyadari sesuatu.

“Aah, madda! Yoo Seung Ho ‘kan mantan Qian..” So Min memukul jidadnya.

Jin AH menoleh ke arah Ji Yeon, “Jangan bilang kalau Qian masih menyukai Yoo Seung Ho? Tapi jelas-jelas ia menyukai Nichkhun.”

Ji Yeon menghela nafas dalam-dalam, “Ya.. Qian itu—“ Ji Yeon menengok ke arah So Min yang sedang memukul-mukul kepala sendiri.

“Qian itu apa?” Sue Ji mengguncang-guncangkan bahu Ji Yeon.

“Qian sedikit egois. Ia tamak harus aku akui,” kata Ji Yeon.

So Min berhenti memukul-mukul kepalanya, “Tamak bagaimana?”

“Dia—menyukai Nickhun dan Seung Ho. Apa tidak tamak? Dia menginginkan keduanya. Sudah jelas itu,” kata Ji Yeon.

Sue Ji pikir-pikir, “Apa yang dikatakan  Ji Yeon ada benarnya. Aku setuju.”

“Ini bukan voting, bodoh!” Jin Ah melengos, “Tapi ngomong-ngomong Nichkhun juga tidak berangkat..”

Sue Ji dan Ji Yeon memukul punggung Jin Ah dengan agak keras.

“Ternyata Im Jin Ah juga tamak,” kata Sun Ye.

“M-mwo?” Jin Ah tidak suka mendengar perkataan Sun Ye.

“Dia.. menyukai Donghae oppa dan Nichkhun…” kata Sun Ye lagi.

Im Jin Ah menaruh dagunya di kedua lututnya. Ia merenung. Benar juga kata Sun Ye. Aku ternyata lebih tamak dari Qian..

__________________________________________

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s