Grade 2-2 Part 14

Image

Title : Grade 2-2

Author : Atika Razan (JBSung)

Length : Parted (10 Parts)

Genre : School, Romance, Comedy *huaah*

CAST :

  • Nana After School      : Im Jin Ah
  • Nichkhun 2PM                       : Nichkhun B. Horvejkul
  • Minho SHINee                        : Choi Min Ho
  • Victroria f(x)               : Song Qian
  • Jiyeon T-Ara               : Park Ji Yeon
  • Yoo Seung Ho
  • Suzy Miss A                 : Bae Sue Ji
  • Wooyoung 2PM         : Jang Wooyoung

OTHER :

  • Jung So Min
  • Shindong : Shindong (Shin Dong Hee)
  • Sun Ye : Min Sun Ye
  • T.O.P. : Choi Seung Hyun
  • Donghae : Lee Dong Hae
  • Eunjung : Ham Eun Jung
  • Yesung : Kim Joong Won
  • Krystal Jung
  • Sulli
  • Lee Hyun Woo
  • Lee Tae Sung
  • UEE : Kim You Jin
  • Park Jin Young
  • Baek Ji Young
  • Go Ha Ra

Nichkhun memang bosan berangkat sekolah. Ia sebenarnya ingin pergi sekolah, namun dia tidak mau mengikuti pelajaran yang membosankan. Ia putuskan untuk tinggal di rumah saja.

Dia sekarang sedang berada di kamarnya. Tiduran di kasurnya sambil melihat langit-langit kamar. Ia sekarang sendirian di rumah. Hanya saja, ada pembantu di lantai bawah. Ingin sekali dia keluar rumah.

Jadi, ia putuskan untuk bangun dari malas-malasnya, dan pergi ganti baju. Ia memilih sebuah kaus putih polos bertuliskan ‘SEOUL my SOUL’ dan rompi abu-abu, serta celana jeans tiga perempat berwarna abu-abu juga.

Setelah mengenakannya, Nichkhun segera menyambar sneakers coklat kesayangannya dan mengenakannya dengan sangat hati-hati. Lalu ia menyambar phone yang sedari tadi tergeletak di kasur.

Ia menyalakan phone-nya.

“Uh!?” Nichkhun kaget setelah melihat ada beberapa nottification.

“Sembilan panggilan tidak terjawab dari Min Ho? Ckck… ia pasti kangen aku,” gumam Nichkhun sambil melihat nottification lainnya.

“Eng—satu pesan.” Nichkhun membuka pesan di phone-nya. Dari Min Ho.

Kau tidak berangkat? Payah. Seung Hyun kecelakaan dan sekarang di rumah sakit In San. Ppali kesini!

“MWOO?!” Nichkhun terkejut setelah membaca message dari Min Ho.

Dengan tergesa, ia menyambar helm-nya dan memasukkan phone-nya ke saku. Ia membuka pintu kamar, dan keluar kamar serta menuruni anak tangga.

“Bi, aku ke rumah sakit In San!” kata Nichkhun sambil berlari keluar dari rumahnya.

Ia langsung menaiki motornya yang terparkir tepat di depan rumah. Menyalakan mesinnya dan hendak melaju. Namun, ia melihat Qian berlari ke arahnya.

“NICHKHUN-AA! Aku ikuutt!!” seru Qian sambil berlari ke arah Nichkhun.

“Oo! Ppalii!” Nichkhun menyuruh Qian untuk lebih cepat.

Setelah Qian sampai, Nichkhun memberikannya helm dan menyuruhnya naik.

“Sudah?” Nichkhun memastikan.

“Oo..” Qian sudah duduk di belakang Nichkhun.

“Pegangan yang erat. Aku akan mengebut!” seru Nichkhun.

Qian dengan ragu memegang ujung rompi yang dikenakan Nichkhun. Tapi Nichkhun menyuruhnya memegang pinggang, jadi ia turuti.

Melajulah MoGe Nichkhun ke Rumah Sakit In San.

Di kamar inap Seung Hyun, Yoo Seung Ho, Jang Wooyoung, Choi Min Ho, dan Shin Dong Hee serta Guru Baek dan ayah ibu Seung Hyun duduk berhadapan dengan tidak tenang. Mereka duduk di sofa dekat tempat tidur Seung Hyun.

Min Ho memutar-mutar phone-nya sedari tadi. Ia bingung kenapa Nichkhun sama sekali tidak menjawab call-nya dan membalas message-nya.

“Kau adalah yang paling gelisah dari yang lainnya, Choi Min Ho..” kata Wooyoung sambil menyenggol siku Min Ho.

Min Ho hanya menoleh ke arah Wooyoung sebentar dan tersenyum tipis.

“Apakah kau teman baik Choi Seung Hyun?” tanya ayah Seung Hyun.

“Ya bisa dibilang begitu. Tapi Yoo Seung Ho dan Shin Dong Hee yang paling baik,” kata Min Ho sambil tersenyum kepada ayah Seung Hyun.

“Aku tidak?” Wooyoung berbisik kepada Min Ho.

“Jjom,” Min Ho gantian berbisik.

Wooyoung memasang wajah masam, dan melipat tangannya. Seperti anak kecil yang sedang ngambek.

Seseorang masuk ke kamar Seung Hyun. Ternyata Guru Park-lah yang masuk. Ia tampak sangat berantakkan. Terlihat dari rambutnya yang semrawut, tidak karuan.

“Uooh.. annyeonghaseyo. Saya Park Jin Young, Wali Kelas Grade 2-2..” kata guru Park sambil membungkuk, memberi hormat kepada ayah dan ibu Seung Hyun.

“Loh? Katanya, Guru Baek Ji Young yang wali kelas Seung Hyun. Apa—wali kelasnya ada dua?” Ibu Seung Hyun bingung.

“Ah Oh.. Guru Baek memang wali kelas Grade 2-2. Tapi dulu. Sekarang  saya-lah wali kelas yang baru,” kata guru Park.

Kedua orang tua Seung Hyun manggut-manggut. Sementara itu, Guru Baek memasang muka kecut dan melipat tangan di dada seperti Wooyoung. Guru Baek tidak sadar bahwa kelakuannya diperhatikan oleh Guru Park yang terlihat berusaha menahan tawa.

Tidak lama setelah Guru Park masuk, Nichkhun dan Qian masuk dengan hati-hati. Mereka masuk dan langsung memberi hormat kepada yang lebih tua disana. Melihat mereka datang, Yoo Seung Ho, Jang Woo Young, Shin Dong Hee, dan Choi Min Ho berdiri.

Seung Ho menatap Qian yang tersenyum kepadanya. Tidakkah kau masih menyukaiku? Batin Seung Ho.

“Phone-mu sudah kau jadikan kudapan ramen, ya?” Min Ho menunjuk-nunjuk Nichkhun yang tampak tidak bersalah.

Mendengar Min Ho berkata seperti itu, Nichkhun hanya menyeringai.

“Cih, bahkan tidak meminta maaf..” kata Min Ho lagi.

“Mianhae.. aku matikan phone-ku. Jadi aku tidak tahu kau meneleponku dan mengirimiku text,” kata Nichkhun.

Min Ho tersenyum kecut.

Suara ribut-ribut dari depan sudah terdengar. Mereka yang ada di kamar Seung Hyun sudah menebak-nebak. Pasti So Min cs. –lah yang mau masuk kamar ini.

“Fuuh.. kami sengaja belikan buah untuk—“ kata So Min yang lalu terputus karena melihat Qian dan Nichkhun.

Qian tidak berekspresi sama sekali. Ia buang muka setelah melihat So Min dan kawan-kawan sekelasnya. Sama sekali ia tidak mood bertemu dengan So Min.

“Qian-aa.. aku kira kau tidak masuk..” kata So Min sambil meletakkan parsel buah di meja yang terletak di sebelah tempat tidur Seung Hyun.

“Gomapta, So Min-saeng,” kata Ibu Seung Hyun.

“Gwencanayoo..” So Min tersenyum lebar kepada ibu Seung Hyun. Lalu ia melihat ke arah Qian yang tampak cuek dengannya. Sepintas, rasa sedih datang.

AUTHOR POV end

SEUNG HYUN POV

Aku rasa.. aku seperti tidur di atas kasur yang tinggi. Kepalaku sakit dan terasa berat. Enggan rasanya aku buka mata karena mataku terasa sangat berat.

Bisa kurasakan, ada perban di kepalaku. Kucoba untuk menggerakkan jari-jariku. Setelah kugerakkan, beberapa orang yang mungkin ada disekitarku mulai ribut.

“YEOBO! SEUNG HYUN SIUMAN!” jerit seseorang yang mungkin ibuku.

Aku segera membuka mataku. Kulihat ibu dan ayah berdiri di samping tempat tidurku. Lalu, teman-teman sekelas, Guru Baek, dan Guru Park juga ada di sekitarku.

“Eomma…” kataku pelan sambil tersenyum kepada ibu.

“Seung Hyun-a, syukurlah kau siuman. Yeobo panggilkan suster! Tolong..” kata ibu.

Ayah terlihat sangat bahagia karena aku siuman dan segera keluar untuk memanggil suster.

Aku mencoba untuk duduk. Tetapi seorang gadis menyuruhku untuk tidak duduk. Seorang gadis yang tidak aku kenali. Namun, dia mengenakan seragam SMU Daebak. Ia tampak akrab dengan Im Jin Ah, Bae Sue Ji, dan yang lainnya.

“Seung Hyun-aa..syukurlah kau sudah siuman.,” kata gadis itu dengan mata yang berkaca-kaca.

Aku bingung. Siapa dia? Aku tidak mengenalinya. Tapi dia mengenaliku. Aneh.

“Nuguseyo?” tanyaku kepada gadis itu.

Keributan di kamar rawatku menghilang seketika. Ibu memegangi tanganku.

“Seung Hyun-a, kau tidak…. kau tidak mengenali Sun Ye?” ibu bertanya kepadaku dengan wajah yang penasaran.

Aku semakin bingung. Sun Ye? Aku tidak pernah mendengar nama itu sebelumnya. Sudah kucoba untuk mengingat-ingat kembali. Namun, ketika aku mencoba mengingat nama itu, yang muncul di memoriku hanya seorang gadis yang mirip dengannya. Tetap saja aku tidak mengenali gadis bernama Sun Ye ini.

“Coba, Seung Hyun-a. Kau kenal anak ini?” ibu bertanya kepadaku sambil menunjuk Shindong.

“Eum.. dia Shindong. Ibu ini kenapa sih?” kataku.

Ibu tertegun.

“Lalu.. kalau ini?” ibu menunjuk Qian.

“Dia Qian.”

“Dari semua ini, kau kenal semuanya?” tanya ibu lagi.

Aku mengangguk.

“Namun—kau tidak mengenali Sun Ye?” ibu menunjuk gadis tadi.

Aku dengan ragu-ragu mengangguk lagi.

Gadis bernama Sun Ye itu terlihat kaget setelah melihat jawabanku. Sumpah, aku tidak mengenalinya. Jujur aku kasihan kepada gadis bernama Sun Ye itu. Ingin sekali aku bilang bahwa aku mengenalinya. Karena wajahnya menunjukkan kekecewaan yang besar terhadapku.

Suster dan dokter masuk, lalu menyuruh semua orang yang ada di dalam kamarku keluar.

SEUNG HYUN POV END

AUTHOR POV

Kim You Jin baru saja sampai di bandara Incheon. Dia langsung tengak-tengok mencari kertas bertuliskan namanya. Dan ia akhirnya menemukannya di sudut bandara.

You Jin mendekati orang yang memegang kertas bertuliskan namanya yang ternyata adalah ibunya. Ibu yang bercerai dari ayahnya bertahun-tahun yang lalu.

“Eomma!” panggil You Jin yang lalu memeluk ibunya dengan sangat erat.

Mereka melepas pelukan. Tampak keterkejutan dari wajah ibu You Jin. Terkejut karena rambut You Jin sudah tidak panjang lagi.

“Ram-rambutmu..” Ibu You Jin menunjuk kepala You Jin.

“Emm.. ini masih mendingan. Beberapa saat setelah menjalani kemotrapi aku lebih jelek dari ini,” You Jin tersenyum lebar.

Ibu You Jin melongo, “Tapi—tapi kau sungguh berani. Kau tetap putri ibu yang cantik.”

Mereka tertawa kecil. Lalu Tuan Kim –Ayah You Jin- mendekati mereka berdua.

“Ayo! Katanya mau ke tempat Jin Ah. Tapi setelah ayah antar, kamu sendirian disana tidak apa-apa, ‘kan?” kata Tuan Kim.

“Ya.. aku juga tidak sendirian. Aku bisa menunggu Jin Ah pulang sekolah bersama Ju Hwan oppa dan Tuan Im,” kata You Jin.

Mereka langung keluar dari bandara Incheon dan berangkat ke rumah Jin Ah di Seoul dengan taksi.

Im Jin Ah, Min Sun Ye, Park Ji Yeon, Song Qian, Jung So Min, dan Bae Sue Ji sedang menunggu hasil dari dokter di ruang tunggu yang tak jauh dengan kamar Seung Hyun. Sementara itu, yang lainnya ada di kamar Seung Hyun.

Sun Ye tampak paling murung dari semua anak perempuan Grade 2-2. Ia masih memikirkan tentang keadaan Seung Hyun. Apalagi kenapa Seung Hyun hanya lupa tentang dia? Semua tentang dia.

“Yya! Sun Ye-yya, aku yakin Seung Hyun baik-baik saja…” Ji Yeon mencoba menghibur Sun Ye.

“Aku tahu dia baik-baik saja..” Sun Ye melengos.

“Mungkin saja, Seung Hyun hanya pura-pura amnesia kepadamu,” kata Sue Ji enteng.

Sun Ye mengangkat kepalanya. Ia tersenyum lebar, “Bisa jadi!”

Semua yang menggerombol di ruang tunggu ikut tersenyum lebar setelah mendengar kata-kata Sue Ji.

Namun, baru sebentar, senyum Sun Ye hilang, “Bagaimana mungkin Seung Hyun membohongiku. Tidak ada motif untuk melakukan itu..”

Setelah mendengar Sun Ye berkata seperti tadi, semuanya berubah menjadi lebih murung dari Sun Ye. Senyum mereka hilang seketika.

Tiba-tiba, pintu ruang dokter dibuka. Keluarlah Tuan dan Nyonya Choi dengan muka yang kusut. Seketika mereka dihampiri oleh segerombol anak-anak perempuan Grade 2-2.

“Bagaimana hasilnya, Nyonya Choi?” tanya So Min kepada Nyonya Choi.

Mata Nyonya Choi berkaca-kaca. Ia menahan tangis dari tadi.

“Choi Seung Hyun mengalami amnesia hanya kepada orang yang terakhir ia lihat sebelum kecelakaan terjadi, “ kata Tuan Choi dengan suara yang parau, “Yaitu Min Sun Ye-haksaeng..”

Tenggorokan Sun Ye sakit. Saking sakitnya, ia tidak bisa berkata apa-apa dan hanya dapat merasakan panas di matanya yang berkaca-kaca. Dia bisa melupakanku? Batinnya.

“Sudahlah Sun Ye.. Dia pasti lama-lama akan ingat siapa dirimu,” kata Jin Ah sambil mengelus-elus punggung Sun Ye.

“Eum.. Itu sembilan puluh persen kemungkinan terjadi. Kau lihat serial drama Boys Before Flowers? Jun Pyo lupa kepada orang yang sangat penting di kehidupannya. Yaitu Jan Di,” tambah So Min.

Di rumah Jin Ah, Ju Hwan sedang menonton TV sambil memakan camilan yang selalu tersedia di meja ruang keluarga. Sedang asyik-asyiknya, pintu rumah diketuk dengan sangat pelan oleh seseorang.

“Sebentar..” Ju Hwan oppa langsung berdiri dan berjalan ke pintu rumah, “Nuguseyo?”

Setelah membuka pintu, Ju Hwan terkejut karena yang mengetuk pintu adalah You Jin.

“Kim You Jin?” Ju Hwan menyipitkan matanya, “Rambutmu..”

“Ju Hwan oppa, aku habis kemotrapi. Jadi sedikit jelek..”

“Ti-tidak jelek. Siapa yang bilang jelek? Ayo masuk!”

You Jin tersenyum, “Nee..”

You Jin pun masuk dan mengikuti Ju Hwan yang berjalan ke ruang keluarga. Ketika Ju Hwan duduk, ia pun ikut duduk.

“Im Jin Ah mana?” You Jin tengak-tengok.

“Eng—dia ke rumah sakit,” jawab Ju Hwan.

“Mwo? Jin Ah sakit apa?”

“Bukan Jin Ah yang sakit. Teman sekelasnya..”

“Si-siapa?”

“Molla. Dia tadi menulis nama Choi Choi—Choi—siapa yah?”

“Choi- Choi Min Ho?”

“Ani! Satunya lagi.”

You Jin berpikir keras. Setelah lama berpikir, ia baru ingat bahwa ada dua Choi di kelasnya. Choi Min Ho dan Choi Seung Hyun.

“Choi Seung Hyun?”

Ju Hwan seperti terlalu bahagia setelah mendengar nama itu disebut, “Iya! Itu! Choi Seung Hyun namanya!”

You Jin tertegun, “Kenapa dia masuk rumah sakit?”

“Eng— molla. Tanyakan saja pada Jin Ah nanti.”

You Jin mengangguk pelan. Ia sangat kasihan kepada Seung Hyun. Sakit apa Seung Hyun sampai-sampai masuk rumah sakit? Batinnya.

“Sudahlah.. dia lama-lama akan mengingatmu kembali..” kata Ji Yeon sambil merangkul Sun Ye.

Sun Ye sulit percaya dengan Ji Yeon. Tapi dalam hati ia masih berharap bahwa kata-kata Ji Yeon nantinya benar.

Anak-anak Grade 2-2 keluar dari rumah sakit. Mereka muncul dari mulut pintu masuk rumah sakit dengan wajah yang tidak karuan.

Di luar rumah sakit, hujan sedang turun dengan derasnya. Min Ho tampak mengeluarkan jas hujan dari tas-nya. Sebuah jas hujan berwarna ungu gelap. Ia berikan si jas hujan kepada Jin Ah.

“Pakailah!” kata Min Ho sambil menyodorkan jas hujannya.

Jin Ah menoleh ke arah Min Ho. Dia lalu melirik sebentar ke arah Ji Yeon yang sedang menenangkan Sun Ye. Ia mempunyai ide bagus. Dengan cepat ia mengambil jas hujan yang disodorkan Min Ho kepadanya dan memberikannya kepada Ji Yeon.

Ji Yeon tampak bingung ketika Jin Ah melemparkannya sebuah jas hujan berwarna ungu gelap.

“Pakailah. Min Ho menunggumu!” ujar Jin Ah sambil menunjuk Min Ho yang sedang mengenakan helm.

Min Ho juga ikut bingung setelah ia ditunjuk-tunjuk. Sambil mengunci helm-nya, ia menoleh ke arah Jin Ah. Ternyata, Jin Ah sudah memberikan si jas hujan kepada Ji Yeon yang sekarang menatapnya.

“Min Ho-yya, antarkan tuan putri Ji Yeon ke rumahnya dengan selamat, yaa!” kata Jin Ah sambil menepuk bahu Min Ho.

“T-tapi.. kami tidak sejalan, Jin Ah-yya,” kata Ji Yeon.

“Sudahlah! Ini kesempatan emas!” bisik Jin Ah.

“Jin Ah-yya, bagaimana denganmu?” tanya Min Ho kepada Jin Ah.

“Aku tidak apa-apa. Aku bisa ikut Wooyoung!” kata Jin Ah sambil merangkul Wooyoung yang berdiri di sebelahnya.

Wooyoung agak menjauh sedikit dari Jin Ah karena dia takut Jin Ah akan mengapa-ngapakannya.

Jin Ah bingung dengan tingkah laku Wooyoung yang seperti takut dengannya.

“Oh ya! Sue Ji ‘kan bonceng Wooyoung! Berarti aku ikut Shindong!!” Jin Ah beralih merangkul Shindong.

Tidak nyaman dirangkul Jin Ah, Shindong melirik Jin Ah sinis dan membuat Jin Ah melepaskan rangkulannya.

“Sebenarnya kau bisa ikut aku. Tapi, aku sudah sepakat ikut dengan mobil ayah Yoo Seung Ho bersama So Min dan Sun Ye,” kata Shindong kepada Jin Ah.

Jin Ah tersenyum kecil yang tergolong agak tidak ikhlas kepada Shindong. Melihatnya, Ji Yeon segera bertindak.

“Aku akan pulang sendiri. Kau dengan Min Ho,” kata Ji Yeon sambil menyerahkan jas hujan.

Jin Ah melirik ke arah jas hujan yang disodorkan Ji Yeon. Lalu ia menengok dan kedip-kedip ke arah Min Ho. Dia memberikan isyarat untuk mengantar Ji Yeon pulang.

“Ji Yeon-a, lebih baik kau cepat pakai jas hujannya dan akan aku antarkan pulang,” kata Min Ho kepada Ji Yeon.

Ji Yeon melongo, “Ah.. o..”

Jin Ah tersenyum kecil. Lalu ia memberikan ‘jempol’ kepada Min Ho. Min Ho juga tersenyum kepada Jin Ah sembari naik motor.

Author POV end

Min Ho POV

Aku menaiki motorku yang agak basah karena hujan. Menyalakan mesinnya dan lalu memanasinya sebentar. Aku melihat ke arah Ji Yeon yang berjalan ke arahku.

“Jangan ngebut-ngebut, ya!” kata Ji Yeon kepadaku.

Aku mengangguk. Lalu Ji Yeon naik di belakangku dan kami berangkat untuk pulang ke rumah Ji Yeon.

Terdengar dari kejauhan Jin Ah berteriak :

“Nikmati waktu kaliaaann!!” jerit Jin Ah.

Ji Yeon mendengus saat mendengar Jin Ah berteriak tadi. Aku hanya tersenyum kecil karena tahu Ji Yeon pasti tidak bisa menikmati waktu kami. Nafasnya tidak teratur saat tangannya melingkari pinggangku.

Dalam perjalanan, kami banyak diam. Karena kami sama-sama tidak tahu apa yang akan menjadi topik pembicaraan. Jadi aku memulai pembicaraan terlebih dahulu.

“Waktu itu kenapa kamu mimisan?” tanyaku kepada Ji Yeon.

“O? Ah.. hanya kecapekan,” katanya.

“Benar hanya kecapekan?” aku kurang yakin.

“Em..”

Lampu lalu lintas di depan menyala merah. Aku mengerem perlahan agar Ji Yeon tidak kaget.

Saat berhenti di perempatan, tiba-tiba seseorang mencolek punggung dari samping. Aku menoleh ke sumbernya. Ahh.. ternyata Qian. Dia duduk di bagian belakang motor. Di belakang Nichkhun. Ternyata dia diantar pulang oleh Nichkhun.

“Min Ho-yya. Mengantar Ji Yeon?” tanya Qian kepadaku.

Aku mengangguk. Ji Yeon menoleh ke arah Qian.

“Nichkhun mengantar Qian?” tanya Ji Yeon.

“Oo.. rumah kami satu arah,” kata Qian.

Ji Yeon manggut-manggut.

Aduuh.. Nichkhun tidak mengantar Jin Ah pulang. Berarti siapa yang mengantarnya pulang? Ah, Jin Ah tidak sebodoh itu. Dia pasti minta tolong Ju Hwan hyung untuk menjemput.

Min Ho POV end

Author POV

Ju Hwan sedang asyik-asyik mengobrol dengan You Jin. Eh, phone-nya berdering sangat nyaring.

“Tunggu sebentar, aku mengangkat telepon dulu,” kata Ju Hwan kepada You Jin  sambil berjalan menjauh.

You Jin mengangguk kecil dan tersenyum kepada Ju Hwan.

“O, Jin Ah-yya. Wae?” Ju Hwan mengangkat telepon yang ternyata dari Jin Ah.

“Tolong kak jemput aku di Rumah Sakit In San, Ju Hwan oppa!” kata Jin Ah di telepon.

“Ahh..-“ Ju Hwan menengok ke arah You Jin yang sedang asyik dengan pot bunga di dekatnya, “Aku tidak bisa. Ada You Jin disinii. Mana mungkin aku meninggalkannya?”

“Ah? You Jin?” Jin Ah tertegun, “Oh.. baiklah. Aku akan mencari bus saja.”

“Kenapa kau tidak pulang bersama Min Ho?”

Dia sedang mengantar pacarnya! Enak sekali aku minta antar dengan pacar temanku sendiri!”

“Tapi hujan seperti ini bus jarang sekali muncul. Hati-hati ya! Atau mau aku panggilkan taksi?”

“Tidak! Jangan! Sekarang sedang menghemat uang! Kasihan ayah. Dia terlalu keras bekerja.”

“Emm.. terserah kau saja. Jadi, kau cari bus dan jangan sampai kehujanan!”

“Ne, oppa.”

“Ohh.. ini rumahmu?” tanya Wooyoung kepada Sue Ji yang diantarkannya pulang setelah motornya berhenti di depan sebuah rumah mewah.

Sue Ji turun dari motor Wooyoung, “Oo—Gomapta.”

“Cheonmanae,” Wooyoung tidak berani menatap Sue Ji. Padahal Sue Ji melihat ke arah wajahnya.

“Enggak—mampir dulu?”

“Ah.. hujan kayak gini, aku harus cepat pulang.”

“Oh..” Sue Ji manggut-manggut.

“Sudahlah, cepat masuk! Mandi air hangat dan ganti baju! Nanti masuk angin,” Wooyoung gugup.

Sue Ji tertegun, “Emm.. terima kasih banyak, Wooyoung-a.”

“Sama-sama,” Wooyoung ancang-ancang untuk pergi dari situ dengan motornya, “Aku pamit dulu..”

“Ne..”

Setelah Wooyoung pergi dari hadapannya, Sue Ji segera masuk rumah. Ia lalu menutup pintu rumah dengan sangat kasar dan berlari menaiki anak tangga menuju kamarnya.

Di depan kamarnya, Sue Ji membuka pintu dengan tergesa-gesa dan menutupnya dengan perlahan. Ia berdiri di belakang pintu dan mendengus keras.

“Aggh.. kira-kira dia mendengarnya tidak ya?” gumam Sue Ji sambil mengelus dadanya.

Degup jantungnya perlahan memelan. Tadi ia sangat gugup sampai-sampai bisa saja Wooyoung mendengar detak jantungnya.

Sue Ji lalu masuk kamar mandi di dekat meja riasnya. Ia raih keran air hangat di ujung bathtub. Dia mengulum senyum.

“Sudahlah, cepat masuk! Mandi air hangat dan ganti baju! Nanti masuk angin,”

Sambil senyam senyum sendiri, Sue Ji duduk di tepi bathtub untuk menunggu air hangat-nya memenuhi bathtub. Ia mengingat-ingat kejadian apa yang ia alami bersama Wooyoung beberapa waktu silam.

Author POV end

Sue Ji POV

“Hey Miss Ribut!”

“Aneh.. perasaan aku enggak ribut..,” lagi-lagi aku bergumam sendiri.

“BAE SUE JI! TIDUR!” ibuku lewat sambil ngomong banyak banget dan yang aku denger Cuma in.

“Ne, omma!”

Aku menutup pintu kamarku dan berbaring di tempat tidurku sambil mnegetik jawaban sms tadi :

“Kamu siapa?” ketikku.

“Oh, maaf. Aku kira kamu Jung So Min. Kontakmu ada dibawah SO Min jadi.. keblabasan. Mianhae!” balasnya.

Sms ini… aku jadi berfikir nih. Kalo dia kenal So Min dan aku, berarti dia anak yang sekelas denganku.

“Kamu kenal aku?” ketikku.

“Ne. Aku Jang Wooyoung. Maaf mengganggumu. Aku sebenernya mau sms So Min.”

“Gwencana.”

Sudah. Enggak ada jawaban lagi dari Wooyoung. Masih terngiang kata-kata Jin Ah waktu itu :

“Kalo Nichkhun suka sama aku, berarti Wooyoung suka sama kamu,” katanya.

Fuh, aku jadi penasaran. Wooyoung punya nomer phone-ku, apa berarti..? Em, aku penasaran banget. Satu-satunya kunci jawaban ada di Nichkhun. Kalo Nichkhun suka sama Jin Ah, Wooyoung suka sama aku. *kok aku bisa percaya sama omongannya Jin Ah, ya?*

Ahh.. kok aku jadi mikirin Wooyoung? Duh! Semuanya gara-gara Jin Ah! Selama ini, aku enggak pernah yang namanya naksir cowok. Apa—Wooyoung cinta pertamaku?

Aku geleng-geleng sendiri.

“Sepertinya, ada yang cemburu melihatku denganmu,” kata Seung Hyun.

“Oo?” aku tengak-tengok, “Siapa?”

“Tuh,” Seung Hyun menunjuk Wooyoung dengan cepat.

Tapi Seung Hyun terlambat. Begitu dia menunjuk ke arah Wooyoung berada, Wooyoung sudah tidak ada lagi. aku jadi bingung.

“Eng—pohon kelapa?” tanyaku.

“Tadinya ada Wooyoung disitu,” kata Seung Hyun sambil garuk-garuk kepala.

“Jang Wooyoung?” gumamku.

Sue Ji POV end

Wooyoung POV

Yakin sekali tadi Sue Ji menatapku. Huh.. tapi tadi untung saja aku tidak melihat matanya. Aku takut sekali dengan matanya.

Sambil menyetir motor, aku memutar kembali apa yang dikatakan Jin Ah kepadaku tentang Sue Ji :

Aku tiduran di lantai beralaskan karpet bulu enggak jelas di kamar. Tanganku sibuk memutar-mutar phone. Tiba-tiba phone-ku geter. Message dari Jin Ah :

“Wooyoung! Mikirin Sue Ji, yaa?”

Hh… anak ini udah dari berabad-abad yang lalu menggangguku dengan nama Sue Ji di inbox phone-ku. Tapi sama sekali aku enggak keberatan.

“Enggak,” balasku.

“Munafik. Aku tau kamu suka sama Sue Ji. Dia tuh cewek paling sempurna di dunia. Cantik, pinterr..”

“Enggak ada yang sempurna. Pastinya dia juga punya kelemahan.”

“Ada. Judes banget, kadang-kadang. Dia juga sering keceplosan ngomong pake dialek.”

Lucu sekali dia sesekali bicara pakai dialek. Aku jadi ingin mendengarnya.

Wooyoung POV end

Ji Yeon POV

Aku turun dari motor bersamaan dengan mesin yang Min Ho matikan. Aku mencopot helm dan jas hujan. Lalu segera aku menuju teras rumah.

“Min Ho-yya, sebaiknya kamu ganti baju,” kataku kepada Min Ho.

Min Ho melepas helm-nya dan menggantungnya di spion. Lalu ia tersenyum kepadaku dan berjalan ke arahku.

“Boleh. Tapi aku tidak bisa lama-lama menemanimu disini,” kata Min Ho.

“Hah? Siapa yang minta ditemani?” aku bingung sendiri.

Min Ho tersenyum lebar. Aku tidak bisa membalas senyumnya karena dingin menjalar ke tubuhku. Aku saja yang pakai jas hujan dingin. Apalagi Min Ho yang basah kuyup seperti ini.

Aku membuka pintu utama rumahku. Lalu aku masuk dengan diikuti Min Ho yang berjalan mengikuti langkahku di belakang. Pasti dia sangat kedinginan.

“Tunggulah disini, aku akan mengambilkanmu pakaian yang cocok,” kataku sambil berlari mundur menjauhinya.

“Pakaian laki-laki,” katanya.

“Pasti!” aku masuk ke kamarku dan menggeledah lemari pakaianku. Setelah menemukan yang pas, aku keluar dan memberikan pakaian itu kepada Min Ho.

Min Ho memeriksa pakaian yang aku berikan. Lalu dia melirik ke arahku.

“Ini pakaian laki-laki. Sejak kapan kau punya ini?” tanya Min Ho.

“Itu.. punya kakakku,” kataku.

“Dimana sekarang kakakmu?”

Aku diam sejenak, “Dia pergi. Entah keman—“

“Mianhae. Ngomong-ngomong dimana kamar mandinya?” Min Ho memotong perkataanku.

“Jeoggii..” aku menunjuk kamar mandi yang tidak jauh dari keberadaanku.

“Gomawo. Aku ganti pakaian dulu,” kata Min Ho sambil berjalan ke kamar mandi.

Jiyeon POV end

Jin Ah POV

Aku sudah berdiri di halte bus selama beberapa jam. Tapi tidak ada bus lewat. Ju Hwan oppa jelas tidak bisa meninggalkan tamu. Aku ingin menelepon Min Ho. Tapi tidak enak dengan Ji Yeon. Huuh.. pasrah saja aku menunggu sambil sedikit berfantasi.

Bayangkan saja.. Donghae oppa bisa melihat keadaanku dari sebuah bola kristal. Lalu dia pergi menjemputku sekarang juga dengan sepeda. Aku lebih suka sepeda daripada MoGe.

Lalu, akhirnya aku naik di belakang Donghae oppa dan dia menyuruhku untuk pegang erat-erat pinggangnya. Dia pun mengayuh dengan sangat perlahan supaya angin dingin tidak terlalu banyak menyerang badanku.

“Jin Ah-yya,” dia memanggilku seperti itu.

“Ne—oppa?”

“Em.. aku ingin mengatakan sesuatu..”

“Malhae, oppa.”

“Eng—“

“YYA! IM JIN AH!” seseorang memecah fantasiku.

Aku segera membuka mata lebar-lebar untuk melihat seseorang yang berdiri dengan sebuah kendaraan jauh dariku.

“Ppali! Naiklah!” perintah orang itu.

Ternyata, dia adalah Nichkhun. Dia membawa sepeda kemari. Sama seperti fantasiku. Namun bukan Donghae oppa.

Aku berdiri dalam keadaan terkejut karena tidak menyangka Nichkhun menjemputku dengan sepeda.

“Ada apa dengan motormu?” aku mendekati Nichkhun.

“Tiba-tiba saja dia mogok saat aku akan kemari,” katanya.

“Lalu—Qian sekarang ada dimana?”

“Dia sudah sampai rumah. Ppali!”

Aku menuruti perintahnya untuk naik di belakangnya dengan cepat. Dia lalu memberikanku jaketnya yang ia kenakan.

“Taruh di lututmu,” kata Nichkhun, “Pegangan yang erat, dan tenang saja, aku tidak akan mengebut.”

“Gomawo,” kataku pendek.

Kami pun meluncur entah kemana. Mungkin dia mau membawaku pulang. Tapi dia tidak memberitahuku. Jadi aku belum bisa yakin seratus persen.

“Babo.. kenapa kau tidak pesan taksi saja?” kata Nichkhun dalam perjalanan.

“Eh? A-aku harus menghemat uang. Lebih baik ‘kan aku menunggu bus daripada naik taksi.”

“Lalu kenapa tidak menelepon aku?”

Aku terkejut karena dia barusan melontarkan pertanyaan yang aneh. Dia—terlihat seperti berharap aku meneleponnya.

“Ah.. eng—aku.. aku.. aku—aku tidak punya pulsa..” kataku.

“Bohong! Kata Min Ho kau menelepon kakakmu tadi,” katanya memotong perkataanku.

“Min Ho?”

“Dia meneleponku. Katanya dia dimintai tolong oleh kakakmu untuk menjemputmu. Tapi dia sedang menemani Ji Yeon, jadi Min Ho menyuruhku.”

“Ohh..”

Tangan kananku memegangi ujung bajunya. Sementara tangan kiriku memegangi jaketnya yang aku letakkan di lututku, agar jaketnya tidak kabur tertiup angin dingin.

Hujan sudah reda. Tinggal gerimis saja yang tersisa dan juga angin dingin yang merasuk tulang. Ingin rasanya jaket Nichkhun aku kenakan. Tapi dia menyuruhku untuk menutupi lututku.

Wajahku aku sembunyikan di balik punggung Nichkhun. Tidak terlalu dekat sih. Memangnya aku nekat?  Tapi, setelah melirik sedikit ke arah punggungnya, jantungku berdetak sangat cepat.

Jin Ah POV end

Donghae POV

Sore ini, aku sedang berada di tempat kursus pelajaran. Ujian kelulusan sudah tinggal beberapa jengkal lagi. Jadi aku harus giat belajar.

Tidak seperti biasanya, Go Ha Ra jadi pendiam dan sudah tidak membuntutiku lagi. Entah kenapa sepanjang pelajaran disini dia tidak berselera. Dia bahkan tiduran dan suka melamun. Itu yang membuatnya hari ini sering sekali ditegur guru les saat pelajaran.

Setelah pelajaran selesai, aku berjalan santai ke pintu utama. Aku melihat ke luar dari pintu kaca tembus pandang. Gerimis. Selain gerimis, aku juga melihat Ha Ra dari arah yang sama denganku, berjalan keluar dengan gontai. Tangannya memegangi payung putih kecil dari plastik.

“Ha Ra-yya,” aku mendekati Ha Ra.

Ha Ra tidak menoleh. Tapi tepat sekali aku sudah berada di hadapannya. Tapi dia tidak memberikanku senyuman lebar seperti biasanya.

“Wae?” Ha Ra sama sekali tidak melihat wajahku.

“Marah sama aku?” aku menunjuk-nunjuk wajahku.

“Ani.”

“Terus kenapa enggak lihat mukaku sekarang?”

Ha Ra lalu mendongak, menatap mataku dengan sayu dan akhirnya dia tersenyum tipis.

“Yuk, pulang!” ajaknya sambil membuka pintu utama. Lalu dia berjalan keluar.

Aku menghela nafas lega dan berjalan di belakangnya. Dia membuka payungnya dengan sangat hati-hati dan memberikan payung itu kepadaku.

“Ini payungmu,” kataku.

“Kamu yang pegang payungnya. Kamu ‘kan lebih tinggi. Yuk!” katanya santai.

“Ohh..” aku meringis dan meraih gagang payung.

Kami berdua lalu berjalan beriringan dengan sebuah payung di atas kepala kami. Dan untuk sekali lagi, suasana hening yang sekarang merambat ini tidak seperti biasanya.

“Eng–.. sedang ada masalah?” tanyaku untuk memecah keheningan.

“Ani,” jawabnya pendek.

“Lalu kenapa seperti ini?”

“Seperti ini bagaimana?”

“Kamu.. enggak kayak biasanya, Ha Ra-yya. Sudah ganti nama marga, ya?”

Ha Ra tertawa kecil, “Kalau aku seperti biasanya bagaimana?”

“Yah.. kamu suka sekali membuntutiku, lalu menggelayut di bahuku, di lenganku. Seperti itu. Terus, kamu juga cerewet.. selalu menceritakan hal-hal yang—“

“Ohh.. aku ingin berubah saja,” dia memotong perkataanku.

“Mwo? Ingin berubah kenapa?”

“Aku selalu saja berisik dan mengganggumu. Makanya aku ingin merubahnya agar kamu enggak terganggu.”

“Jujur.. aku enggak terganggu. Kalau kamu diam seperti ini malah justru aku terganggu. Aku—jadi merasa bersalah.”

Donghae POV end

Author POV

“Aku masih bingung, Ji Yeon-a,” kata Min Ho kepada Ji Yeon saat mereka sedang berada di ruang tamu Ji Yeon menunggu hujan kecilnya reda.

Ji Yeon menoleh ke arah Min Ho, “Tentang apa? Matematika?” dia tertawa kecil.

Min Ho juga ikut tertawa, “Ani. Yakin, tidak ingin tinggal bersama Jin Ah atau Sue Ji?”

Air muka Ji Yeon berubah, “Wae?”

“Tidak takut sendirian?”

“Haha.. kenapa harus takut. Aku udah biasa, kok!”

JDDARR!! Bunyi menggelegar dari sebuah petir membuat Ji Yeon sedikit melunjak dari tempat duduknya. Dan juga, membuatnya tutup kuping.

“Aish.. suaranya menakutkan..” rintih Ji Yeon.

Min Ho melepaskan tangan Ji Yeon dari telinga Ji Yeon sendiri sambil terkikik, “Berarti kamu belum biasa. Apa perlu aku temani kamu disini?”

Ji Yeon menoleh ke arah Min Ho. Dia menatap Min Ho dengan pandangan memelas.

“Wae?” Min Ho bingung dengan tatapan Ji Yeon.

“Aku lapar…,” kata Ji Yeon.

Min Ho tertawa, “Hah? Oke.. aku bikinin makanan. Tunggu yah,” dia pun beranjak dari kursinya. Ia berjalan ke arah dapur.

Setelah Min Ho meninggalkannya, Ji Yeon menghembuskan nafas lega. Dia mengelus-elus dadanya dan terus saja berbisik, “Oddokke? Oddokke?”

“Ji Yeon-a, aku sudah membuatkan—“ kata-kata Min Ho terputus ketika melihat Ji Yeon tertidur di sofa ruang tamu. Dalam hati dia kesal. Namun setelah melihat wajah Ji Yeon yang terlihat imut ketika sedang tidur, kesal itu hilang berubah menjadi gemas.

Min Ho tersenyum kecil. Ia mendekati Ji Yeon lalu mencolek pipi Ji Yeon.

“Tidak mau makan?” kata Min Ho sambil terus mencolek pipi Ji Yeon.

Mendengar suara berat Min Ho, Ji Yeon membuka matanya sedikit. Tapi hanya beberapa detik, dia tidur lagi.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Min Ho langsung membopong Ji Yeon ke kamar tidur Ji Yeon. Ia letakkan Ji Yeon dengan hati-hati ke kasur. Lalu dia duduk di tepian kasur tersebut.

Min Ho mengambil selimut yang ada di pojok ruangan dan meletakkannya di atas tubuh Ji Yeon. Setelah itu, dia tengak tengok memperhatikan seluruh sisi kamar. Matanya membulat ketika ia melihat foto berfigura yang tergantung di dekat jendela kamar.

Min Ho mendekati foto itu dan mengamatinya dengan seksama. Ternyata foto itu adalah foto Ji Yeon dan dia sendiri bersama teman-teman sekelas zaman SMP.

“Kenapa dia masih menyimpan ini? Punyaku saja sudah hilang..” kata Min Ho sambil mencari-cari wajahnya di foto itu.

“Akh.. aku tidak terlihat seperti prince charming disitu..,” gumam Min Ho setelah melihat wajahnya di foto tadi.

Lalu ia menoleh ke arah ranjang Ji Yeon. Ia tersenyum kecil ketika melihat wajah Ji Yeon yang menggemaskan.

“Semakin hari, semakin terlihat imut,” gumam Min Ho

_______________________________________

nah nah, semakin panjang ‘kan part-nyaa

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s