Grade 2-2 Part 9

Image

Title : Grade 2-2

Rating : PG-15

Genre : Romance, School.. kadang-kadang juga sad hikz

MAIN CAST : Nana, Nichkhun, Minho, Victoria, Jiyeon, Yoo Seung Ho, Suzy, Wooyoung

OTHER CAST : cari sendiri di post-post sebelumnyaahh.. hehe :P

COMMENT DINANTI, jangan bikin aku menanti terus lohh..  entar kayak lagunya Vierra yang Terlalu Lama. dan jangan bikin aku ngomong soal comment. entar aku nge REPLAY mulu kata-kata Comment.. kaya lagunya SHINee dong yang Replay, hehe

eh, mmm HAPPY READING YAK!!

Tidak lama, rombongan Grade 2 sudah sampai di Busan. Tepatnya di penginapan mewah yang sengaja disewa oleh Nyonya Choi dan SMU Daebak yang dekat dengan laut.

Im Jin Ah tampak menggendong tas-nya berjalan masuk ke penginapan. Ia berjalan beriringan dengan Ji Yeon dan Sue Ji.

“Kasian Jin Ah,” kaya Ji Yeon.

“Kasian kenapa?” tanya Sue Ji.

“Dia sekamar sama salah satu personil duo ribut, teu!” kata Ji Yeon lagi.

“Emm.,” Sue Ji mengangguk, “..kalo kita sih sekamar!”

Sue Ji dan Ji Yeon high-fiving. Dan Jin Ah hanya memandangi mereka berdua dengan sinis.

Mereka lalu berpisah ke kamar mereka masing-masing. Jin Ah sendirian berjalan di koridor-koridor yang ramai anak Grade 2-3 dan Grade 2-4. Dia tidak terlalu suka dengan anak-anak Grade 2-3 dan Grade 2-4.

Sedang berjalan, tiba-tiba dia menabrak seseorang sampai terduduk. Dia langsung berdiri dan meminta maaf kepada orang itu, yah belum melihat wajahnya. Setelah ia melihat wajah orang yang ia tabrak, ia begitu shock.

“Lee—lee Hyun Woo-yya?!” Jin Ah tergagap.

“Oh, Jin Ah-yya! Mianhae,” kata Lee Hyun Woo yang ternyata ia tabrak.

Muncullah Krystal dari balik punggung Hyun Woo tiba-tiba. Ia tersenyum kepada Jin Ah.

“Hei, kapten tim! Sedang apa kamu sama Hyun Woo berdua disini?” tanya Krystal ,”ommo! Jangan bilang kalau kamu selingkuh, Hyun Woo-yya!”

Lee Hyun Woo tersentak, “..Enggak. Kita temen sekelas waktu kelas 1. Enggak inget?”

“Emm.. lupa,” kata Krystal santai.

“Ka-kalian pacaran?” tanya Jin Ah.

“Iya. Baru tau? Udah dua minggu yang lalu, kok!” kata Krystal.

“Aku malah enggak tau kalo kita udah dua minggu,” kata Hyun Woo.

“Ish!” gumam Krystal, “kamu mau kemana?” tanyanya kepada Jin Ah.

“Ke kamar. Tau—kamarnya Qian enggak?”

Krystal diam saja. Im Jin Ah pun baru ingat kalau Krystal tidak akur dengan Song Qian.

“Mianhae, aku lupa kalo kalian—“ kata Jin Ah.

“Di pojok sana. Sebelah kamar Choi Min Ho,” kata Krystal.

“Ohh.., gomawo! Aku kesana dulu, ya!” kata Jin Ah sambil berlari ke kamar yang ditunjuk Krystal.

Lee Hyun Woo dan Krystal memperhatikan cara berlari Jin Ah yang lucu. Mereka saling pandang.

“Mungkin udah saatnya kamu baikan sama Qian, Krystal,” kata Hyun Woo.

“Enggak peduli. Tunggu dia duluan yang minta maaf,” kata Krystal.

Pintu kamar Qian dibuka. Qian tau dari cara berjalannya, yang masuk adalah Im Jin Ah. Dia hanya melirik tajam ke arah Jin Ah yang sedang menyalakan lampu. Memang, sedari tadi dia tidak menyalakan lampu karena sudah keburu ngantuk. Buktinya ia sekarang sudah mau tidur tetapi Jin Ah masuk.

“Kenapa enggak dinyalain lampunya, Qian-a?” tanya Jin Ah.

“Males,” jawab Qian pendek sambil meraih selimut yang ada di kakinya.

“Ohh..,” gumam Jin Ah sambil masuk kamar mandi.

BRAK! Pintu kamar mandi ditutup dengan kasar oleh Jin Ah. Qian pun mengernyitkan dahi.

“Pelan-pelan, Im Jin Ah!” kata Qian.

“Oke,” sahut Jin Ah sembari kumur-kumur.

Tidak jauh dari kamar Song Qian dan Im Jin Ah, Choi Min Ho bersama Shin Dong Hee menempati kamar. Malah persis disebelahnya. Mereka berdua sedang tiduran di kasur yang ‘tentunya’ berbeda. Min Ho sedang membaca buku, sementara Shindong hanya menatap langit-langit kamar yang gelap.

“Min Ho-yya,” panggil Shindong.

“Mwo?” jawab Min Ho sambil masih membaca bukunya.

“Pernah enggak kamu suka sama cewek yang enggak suka sama kamu?” tanya Shindong.

Min Ho akan menjawab namun sudah disambar oleh Shindong.

“Oh ya! Kamu ‘kan perfecto. Jadi enggak bakalan ada yang enggak suka sama kamu,” kata Shindong lagi.

“Aku— pernah,” kata Min Ho.

“MWOO?” Shindong shock. Pasalnya, ia menganggap Min Ho cowok paling perfect di SMU Daebak.

“Wae? Apa kamu.. lagi ngerasain sekarang?” tanya Min Ho.

“Begitulah,” jawab Shindong pendek.

Min Ho berhenti membaca buku dan menghadap ke Shindong.

“Dengan siapa?” tanya Min Ho lagi.

“Dia… adalah gadis yang sangat cantik apabila tersenyum dan tertawa. Dia adalah gadis yang… yang sangat jelek apabila menangis. Dan sangat imut apabila sedang marah,” kata Shindong senyum-senyum sendiri.

“Dia itu—siapa?” tanya Min Ho lagi.

“Emm.. kamu pasti tau orangnya. Soalnya kamu pinter banget main tebak-tebakan. Dia udah punya pacar sekarang,” kata Shindong, “..dan sialnya—pacarnya itu temen terbaikku.”

Min Ho terdiam. Dia begitu penasaran sampai ia pun sekarang berpikir dan menebak-nebak.

“Bukannya—temen baikmu itu aku?” lagi-lagi Min Ho bertanya.

“Kamu temen baikku yang pertama. Dan Seung Ho temen baikku yang kedua,” kata Shindong tanpa sadar.

Setelah beberapa detik, Shindong menyadarinya dan menutup mulutnya rapat-rapat. Lalu Min Ho tertawa.

“Apaan? Kamu suka sama Jung So Min?” tanya Min Ho.

Shindong dengan pasrah hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Melihat jawaban Shindong, Min Ho-pun menelentangkan badannya.

“Kamu masih ada kesempatan buat bikin So Min suka sama kamu. Sementara aku? Aku sama sekali tidak memiliki celah sedikitpun,” kata Min Ho.

“Emangnya.. kamu suka sama siapa?” sekarang gantian Shindong yang penasaran.

“Adikku sendiri,” kata Min Ho enteng.

“Perasaan kamu enggak punya adik,” kata Shindong yang juga enteng.

Min Ho tersenyum. Dalam hati dia sedikit lega karena sudah memberitahu seseorang tentang perasaannya.

Di depan kamar Min Ho dan Shindong, Ji Yeon berhenti dan mematung setelah mendengar apa yang dikatakan Min Ho barusan.

 “Kamu masih ada kesempatan buat bikin So Min suka sama kamu. Sementara aku? Aku sama sekali tidak memiliki celah sedikitpun,” kata Min Ho.

“Emangnya.. kamu suka sama siapa?” sekarang gantian Shindong yang penasaran.

“Adikku sendiri,” kata Min Ho enteng.

“Perasaan kamu enggak punya adik,” kata Shindong yang juga enteng.

Percakapan tadi masih terngiang di telinganya. Masih tidak pergi dari otaknya. Tidak terasa, kotak makanan yang tadinya ia bawa untuk Min Ho jatuh, sehingga isinya-pun berceceran di lantai.

Karena suaranya terdengar sampai ke kamar mereka, Shindong dan Min Ho keluar dengan tergesa-gesa.

Setelah dibukanya pintu kamarnya, Min Ho tertegun. Ia melihat Ji Yeon memunguti makanan yang berceceran di lantai. Tanpa kata-kata, ia membantu Ji Yeon memunguti makanan yang ternyata kue-kue kering.

“Udah, biar aku aja. Maaf aku ganggu kalian,” kata Ji Yeon kepada Min Ho dan Shindong.

Min Ho mengambil satu kue yang berbentuk mirip hati. Bentuknya sangat berantakkan, sehingga ia tertarik untuk mengambilnya.

“Ini lucu. Boleh enggak aku makan sedikit?” tanya Min Ho kepada Ji Yeon.

Ji Yeon menoleh kepada Min Ho dan segera merebut kue berbentuk hati berantakkan buatannya.

“Wae? Aku enggak boleh makan?” tanya Min Ho lagi.

“Bu-bukan kayak gitu.. ini kotor. Nanti aku bawain kamu yang baru deh,” kata Ji Yeon sambil masih memunguti kue-kuenya.

Min Ho diam saja dan hanya memperhatikan Ji Yeon memunguti para kue.

“Bikin kue bareng ‘yuk!” ajak Min Ho tiba-tiba.

Ji Yeon menoleh dan tersenyum tipis, “Ayo!”

Sementara Ji Yeon dan Min Ho membuat kue bersama Shindong juga di kamar Ji Yeon dan Sue Ji, Qian dan Jin Ah tiduran di ranjang yang berbeda. Lampu kamar mereka dimatikan. Namun Jin Ah masih menulis diary dalam kegelapan.

“Qian-a,” panggil Jin Ah tiba-tiba.

Hening. Tidak ada jawaban dari Qian. Padahal ‘kan sebentar lagi jam makan malam. Kenapa dia tidur?

“Yah, tidur. Ah, males disini. Ditinggal tidur mulu!” Jin Ah bangkit dari kasurnya dan berniat menuju kamar Sue Ji dan Ji Yeon.

Setelah Jin Ah keluar dengan meninggalkan bunyi pintu yang dibanting keras, Qian terbangun dari tidurnya. Dia berusaha untuk duduk namun kepalanya membentur tembok yang ada di belakangnya.

“AUW!” rintih Qian sambil mengelus-ngelus kepala belakangnya, “..sakit banget.., aduh..”

Seseorang di sebelah kamarnya, mungkin terkejut karena mendengar benturan keras yang dihasilkan kepalanya. Yah, terdengar suara ribut dari kamar sebelah.

“Song Qian?” panggil seseorang yang menempati kamar sebelah.

Qian kaget plus bingung. Pasalnya, suara ini mirip dengan suara Nichkhun. Sedangkan yang menempati kamar sebelah adalah Min Ho dan Shindong.

“Shin Dong Hee? Atau… Choi Min Ho?” tanya Qian sambil menempelkan wajahnya dekat tembok.

Terdengar gelak tawa disebelah sana.

“Nichkhun Buck Horvejkul disini. Kamu—ngapain njedot-njedotin kepala ke tembok?” celetuk Nichkhun.

“Ohh.. aku kejedot,” kata Qian, “..kamu ngapain di kamar Min Ho sama Shindong?”

“Haha.. disuruh ngambil phone sama Shindong. Shindong sama Min Ho sendiri lagi bikin kue di kamar Ji Yeon sama Sue Ji. Aku lewat.. eh, dia main suruh,” jawab Nichkhun.

Qian tertawa kecil.

“Eh.. daripada ngambilin phone-nya Shindong, gimana kalo kita main ke pantai?” tanya Nichkhun kepada Qian.

“Emm.. boleh. Bosen juga disini,” jawab Qian.

Mereka berdua pun keluar dari kamar masing-masing dan berjalan beriringan menuju ke pantai.

“Ji Yeon-a, Sue Ji-yya!!” panggil Jin Ah begitu membuka pintu kamar Ji Yeon dan Sue Ji.

Lalu, dia terperangah setelah melihat Ji Yeon, Sue Ji, Min Ho, dan Shindong duduk-duduk di lantai kamar. Mereka sedang menikmati kue buatan mereka sendiri.

“Yya! Kenapa kalian enggak ngajak-ngajak sih? Jahat nih,” Jin Ah menggerutu.

“Yaudah, gabung aja sini!” ajak Shindong.

Jin Ah tersenyum lebar dan segera duduk di antara Min Ho dan Ji Yeon. Namun dia berpindah tempat ke sebelah Sue Ji setelah mendapat teguran dari Sue Ji.

“Kamar kalian rapi banget sih?” Jin Ah kagum.

“Emm.. maklumlah, Park Ji Yeon ‘kan seksi kebersihan,” kata Sue Ji.

“Ngawur! Mendingan juga aku nyium papan tulis daripada jadi seksi kebersihan,” kata Ji Yeon sambil mengambil kue.

Shindong tengak-tengok di kamar Sue Ji-Ji Yeon. Wajahnya menunjukkan kecemasan.

“Shindong-a, ada apa?” tanya Min Ho.

“Nichkhun-a. Dia tadi aku suruh ambil phone di kamar. Kok enggak balik-balik ya?” Shindong penasaran, “..atau jangan-jangan—dia lompat dari jendela gara-gara point-nya tinggal lima!”

“MWOO??!” Ji Yeon dan Sue Ji kaget.

Min Ho dan Jin Ah saling bertatapan. Mereka memahami apa yang dikatakan Shindong barusan. Karena kejadian malam itu.

“Ah, aku—membocorkan sebuah rahasia,” Shindong menutup mulutnya, “..mendingan aku cari Nichkhun aja.”

“Andwae!” kata Jin Ah mencegat Shindong.

“Wae?”

“A-aku aja. Biar aku aja. Please!” kata Jin Ah sambil berdiri dan berlari keluar kamar.

BRAK! Pintu kamar Sue Ji-Ji Yeon pun ditutupnya dengan sangat keras. Seperti biasanya.

Im Jin Ah berjalan menusuri koridor yang ramai anak-anak Grade 2-1 dan 2-2. Ia lalu menaiki lift menuju koridor kamarnya bersama kamar-kamar anak Grade 2-3 dan Grade 2-4. Di lift ia masih khawatir tentang perkataan Shindong :

“Nichkhun-a. Dia tadi aku suruh ambil phone di kamar. Kok enggak balik-balik ya?” Shindong penasaran, “..atau jangan-jangan—dia lompat dari jendela gara-gara point-nya tinggal lima!”

“Anni! Anni! Enggak! Enggak bakalan! Mana mungkin manusia imut mati bunuh diri waktu wisata ke Busan yang sangat indah ini?” kata Jin Ah sendirian.

Bertepatan dengan selesainya ia berkata, pintu lift terbuka dan ia langsung keluar dari lift. Berjalan menorobos anak-anak yang ramai di koridor. Dan di depan kamar Min Ho dan Shindong ia berhenti.

Ia buka pintunya dan langsung melihat ke jendela yang terbuka lebar. Kordennya tertiup angin dan memberikan suasana angker. Ia shock. Jangan-jangan—yang dikatakan Shindong benar, pikirnya.

Dengan cepat, ia menuju si jendela yang terbuka. Di dekat jendela itu ada phone milik Shindong. Ia ambil dan hendak pergi. Namun di luar jendela ia melihat sesuatu.

Matanya menyipit ketika melihat seorang laki-laki dan seorang perempuan duduk-duduk di pantai. Ia seperti tahu dua orang itu.

“Ah! Nichkhun dan Qian?” gumamnya.

Dalam hati, Im Jin Ah cemburu. Walaupun mereka hanya duduk-duduk saja, tapi jelas terlihat masih ada cinta diantara Qian dan Nichkhun. Buktinya, sekarang wajah Nichkhun mendekat ke wajah Qian.

Tangan Jin Ah mengepal. Menggenggam erat-erat phone Shindong yang ada di tangannya. Di luar sana, terlihat Nichkhun akan mencium Qian. Namun Jin Ah tidak kuat untuk melihatnya. Ia membalikkan badan dan menutup mulutnya. Menahan air matanya yang entah mengapa menderas begitu saja.

Author POV end

Min Ho POV

Aku merasa tidak tenang saat aku dan teman-teman bermain-main. Aku langsung berdiri ketika Shindong membicarakan Jin Ah.

“A-aku harus mengambil sesuatu di kamarku. Jakkaman,” kataku yang lalu berjalan menuju keluar kamar.

Aku langsung menuju lift dan menaikinya. Dan setelah sampai di koridor kamarku, aku langsung berlari menuju kamar dan melihat pintu kamar terbuka sedikit. Pasti Im Jin Ah.

Betul dugaanku. Dan betul juga perasaan burukku. Im Jin Ah berjongkok di bawah jendela sambil menundukkan kepalanya. Dia—tidak mungkin tertidur disitu.

Aku berjalan menuju ke arahnya dengan hati-hati sambil memandang keluar jendela. Aku melihat dua orang sedang bersenang-senang di pantai. Namun aku segera tidak memperdulikan mereka karena Jin Ah mengangkat kepalanya.

“Min Ho-yya,” katanya dengan suara yang hampir tidak terdengar.

Aku tersenyum kepadanya. Namun seketika senyumku hilang karena aku melihat matanya yang merah, hidungnya, mukanya, dan tangannya yang memerah. Tangannya memegangi phone Shindong dengan sangat erat dan kuat.

“Jin Ah-yya, wae?” aku berjongkok menghiburnya seperti seorang kakak kepada adiknya. Memang harusnya seperti itu aku.

Jin Ah memukul-mukul dadanya dengan sangat pelan sambil menatap mataku dengan matanya yang berair.

“Neomu appoo,” katanya, “..sakit, Min Ho-yya.”

Aku iba. Aku ingin memeluknya. Namun dia berkata lagi.

“Apakah, kamu mau menggantikan Ju Hwan oppa?”

“Mwo?”

“Berikan aku pelukan, Choi Min Ho,” dia tersenyum kecil.

Aku pun tersenyum padanya dan memeluknya.

“Kamu—kenapa? Cerita ke aku,” kataku sambil mengelus-elus rambutnya yang tergerai.

Dia tidak menjawab. Dia semakin memelukku dengan erat.

“Aku… ingin punya oppa sepertimu. Aku ingin punya prestasi yang lebih tinggi. Aku ingin punya wajah yang cantik. Apa itu tidak boleh, Min Ho-yya?” katanya.

Aku terhenyak. Aku memang oppa-mu, Jin AH-yya. Kau sudah mendapatkannya!

“Wajah yang cantik kau sudah punya. Lebih cantik dari YoonA SNSD,” kataku menghiburnya.

Dia tertawa kecil.

“Aku—sudah memiliki wajah cantik katamu. Tapi Nichkhun tetap saja tidak menyukaiku,” katanya lagi.

Untuk kedua kalinya aku terhenyak.

“Jadi—kau menangis gara-gara Nichkhun? Dengan—“

“Dengan Song Qian. Apakah dia tidak bisa melupakan Song Qian, Min Ho-yya?”

Aku terdiam sebentar.

“Coba saja kau lupakan Nichkhun dan mencari yang baru yang tentu menyukaimu,” kataku.

Kami masih berpelukan.

“Apa mungkin orang yang aku sukai menyukaiku?”

“Itu—memang susah dan menyakitkan. Mendapatkan kenyataan bahwa orang yang kita suka tidak menyukai kita malah cenderung membenci kita itu memang menyakitkan. Namun, hanya orang yang kuat menunggu-lah yang mendapatkan segalanya.”

“Min Ho-yya,”

“Em?”

“Apa—aku boleh memanggilmu oppa?”

Dan untuk ketiga kalinya aku terhenyak.

“Boleh,” kataku.

“Min Ho oppa, aku mencintaimu!”

Sebenarnya aku ingin menghindari kenyataan bahwa ia adikku. Adik kandungku. Namun, aku percaya bahwa apabila aku menunggu dan menjalankan kenyataan ini, aku akan menemukan jawaban yang tepat.

Min Ho POV end

Author POV

Di Seoul, tepatnya di SMU Daebak, murid-murid Grade 1 dan Grade 3 mempersiapkan pesta penyambutan untuk Grade 2 yang akan diselenggarakan nanti malam. Yah, acaranya di outdoor atau di luar ruangan. Kayak garden party, namun ini di lapangan.

Dan tampak Lee Dong Hae, Kim Jong Woon serta teman-teman mereka berlatih dance untuk tampil nanti malam. Mereka disaksikan oleh beberapa orang disekitar sana. Salah satunya Goo Ha Ra, yang udah lama banget naksir Dong Hae.

Dan selesai berlatih dance, Dong Hae dan Jong Woon berlatih menyanyikan lagu ‘Y’ yang diciptakan mereka berdua. Bisa dibayangkan betapa cepat Goo Ha Ra meleleh.

Sementara itu, jauh dari lokasi latihan, Ham Eun Jung duduk di pojok lapangan sambil memutar-mutar phone-nya. Ia menunggu pesan text dari Nichkhun.

“Jangan-jangan dia sengaja mengabaikan text-ku,” gumam Eun Jung.

Goo Ha Ra yang sedari tadi melihat Eun Jung duduk sendirian di pojok lapangan, tersenyum kecut. Dia lalu berjalan menuju Eun Jung.

“Annyeong!” sapa Ha Ra sambil melambai-lambaikan tangannya kepada Eun Jung.

Eun Jung hanya melirik sinis ke arahnya.

“Bagaimana bisa kau mengabaikan ku? Dan bagaimana bisa Nichkhun mengabaikan text-mu?” kata Ha Ra.

Eun Jung terganggu, “Mwo?”

Ha Ra tertawa kecil.

“Jadi, kau tidak tahu?” Ha Ra menunjukkan phone-nya, “Ini.. neo mollaseo?”

Eun Jung menyipitkan matanya kepada Ha Ra dan melihat dengan teliti phone Ha Ra. Dia terkejut.

“Ommo! Kau terkejut? Ternyata baru tahu, bahwa selama ini Nichkhun masih mencintai Song Qian?” kata Ha Ra menarik kembali phone-nya.

Eun Jung berdiri dengan rasa kesal. Dan pergi meninggalkan Ha Ra di pojok lapangan. sementara Ha Ra tertawa keras-keras.

Sedari tadi, Lee Dong Hae memperhatikan Eun Jung dan Ha Ra.

“Yya! Kau jangan memperhatikannya terus!” kata Joong Won sambil menepuk bahu Dong Hae.

“Tidak. Aku tidak memperhatikan Eun Jung,” kata Dong Hae.

“Em? Eun Jung? Yang aku maksud Goo Ha Ra,” kata Joong Won.

Mata Dong Hae terus membuntuti Eun Jung yang keluar dari lapangan. Dan tiba-tiba saja Goo Ha Ra ada di hadapannya.

“Dong Hae-yya! Kau tampan sekali hari iniii!!!” kata Ha Ra.

“Ha Ra-yya, aku sibuk. Aku mau makan siang dulu,” kata Dong Hae.

“Apa kau tidak mau menawariku makan?” tanya Ha Ra.

“Oke, oke. Yuk, makan!”

Ha Ra langsung tersenyum lebar dan menggelayut di lengan Dong Hae. Sementara itu, Jong Won hanya menggeleng-gelengkan kepala.

Author POV end

Eun Jung POV

Aku sedang sendiri di kelas. Aku ingin sendiri. Ingin mencerna foto yang tadi di phone Ha Ra. Mungkinkah Nichkhun masih mencintai Song Qian? Padahal Qian adalah adik kelas yang jelas-jelas dekat denganku. Setelah Park Ji Yeon.

Ya, ini aneh. Dulu, aku dengar Nichkhun berpacaran denganku setelah beberapa hari putus dengan Qian. Ini aneh. Mungkin ada yang memaksanya memacariku. Tapi aku tidak peduli itu.

Tunggu, Eun Jung-a! Kau juga berselingkuh di belakang Nichkhun! Apa Nichkhun mengetahuinya dan sengaja berselingkuh dengan Qian di belakangku juga?

Aku memutar-mutar phone sementara aku berpikir tentang ibu dan Kiyoshi di Jepang. Aku jadi ingin pulang dan bersekolah di Jepang. Mungkin aku bisa. Tapi kasihan Ji Yeon dan keluarga Park yang sudah repot-repot menjagaku selama ini.

Aku menelepon Ji Yeon.

“Anyyeong?” jawab Ji Yeon setelah beberapa menit.

“Ji Yeon-a, sedang apa disana?” tanyaku.

“Emm.. sedang beres-beres mau pulang. Eun Jung eonni kau sedang apa?”

Aku diam. Aku tidak boleh memberitahu adik-adik kelas Grade 2 kalau Grade 1d an Grade 3 sedang mempersiapkan Pesta selamat datang.

“Eonni?” Ji Yeon memanggilku, “..ini ‘kan jam sekolah. Kenapa eonni meneleponku?”

“Ah.. oh, aku sembunyi sembunyi. Aku sedang di kamar mandi. Aku hanya ingin tahu keadaanmu.”

“Keadaanku atau keadaan Nichkhun??” dia menggodaku.

Aku tertawa kecil.

“Keadaanmu dan keadaan Nichkhun. Nichkhun tidak apa-apa ‘kan?”

“Dia ceongmal gwencana. Sekarang dia malah sedang bermain dengan Choi Min Ho dan yang lainnya di pantai.”

“Choi… Min Ho? Oh, ya! Bagaimana dengan Min Ho?”

“Min Ho? Dia juga tidak apa-apa—“

“Bukan. Maksudku, kau dengan Min Ho. Sudah ada peningkatan?”

“Eonni! Peningkatan apa? Aku dan dia tidak akrab..!”

“Nanti juga lama-lama akrab. Apa dia susah bergaul?”

“Tidak. Dia asyik jika diajak ngobrol.”

“Oohh.. dia berarti sering ngobrol sama kamu?”

“Bukan sama aku. Sama Im Jin Ah.”

Aku mendengar nama Im Jin Ah disitu. Tidak asing.

“Siapa dia?” tanyaku.

“Eng—dia temanku. Se perumahan dengan Min Ho.”

“Sepertinya namanya tidak asing. Bagaimana orangnya?” aku penasaran.

“Dia yang waktu itu eonni kira menyukai Nichkhun.”

“Oh… itu. Yang waktu itu menyangkal dan menunjuk-nunjuk Lee Dong Hae sebagai orang yang ia sebut Khyeowo?”

Ji Yeon diam sebentar, “..eh.. iya iya,” dia tertawa.

“Tolong sampaikan maaf padanya,” kataku.

“Emm.. siap bos!”

Eun Jung POV end

Ji Yeon POV

“Keadaanmu dan keadaan Nichkhun. Nichkhun tidak apa-apa ‘kan?” tanya Eun Jung eonni kepadaku lewat telepon.

“Dia ceongmal gwencana. Sekarang dia malah sedang bermain dengan Choi Min Ho dan yang lainnya di pantai.” Jawabku.

“Choi… Min Ho? Oh, ya! Bagaimana dengan Min Ho?”

“Min Ho? Dia juga tidak apa-apa—“

“Bukan. Maksudku, kau dengan Min Ho. Sudah ada peningkatan?”

“Eonni! Peningkatan apa? Aku dan dia tidak akrab..!”

“Nanti juga lama-lama akrab. Apa dia susah bergaul?”

“Tidak. Dia asyik jika diajak ngobrol.”

“Oohh.. dia berarti sering ngobrol sama kamu?”

“Bukan sama aku. Sama Im Jin Ah.”

“Siapa dia?”

“Eng—dia temanku. Se perumahan dengan Min Ho.”

“Sepertinya namanya tidak asing. Bagaimana orangnya?”

“Dia yang waktu itu eonni kira menyukai Nichkhun.”

“Oh… itu. Yang waktu itu menyangkal dan menunjuk-nunjuk Lee Dong Hae sebagai orang yang ia sebut Khyeowo?”

aku diam sebentar, “..eh.. iya iya,” aku tertawa.

“Tolong sampaikan maaf padanya,” katanya.

“Emm.. siap bos!”

“Oke. Nanti lagi, ya! Aku sudah akan pergi ke kelas.”

“Oke,” jawabku sambil mematikan phone.

Aku memandangi Nichkhun dan Min Ho yang sedang bermain-main di pantai. Min Ho tampak tampan ketika hanya mengenakan kaus oblong dan celana tiga per empat. Rambutnya basah karena keringat. Dan dia tersoroti sinar matahari yang agak redup.

Kaki Min Ho tampak sangat panjang ketika ia berlari. Sepatu yang ia kenakan beberapa kali menapak di pasir pantai, tampak sangat kucel. Tetapi itu menambah keren penampilannya hari ini.

“Whoaa..! lihat siapa yang sedang memelototi Choi Min Ho!” kata Krystal dengan sangat keras.

Ternyata sedari tadi, Krystal ada di belakangku bersama Sue Ji dan Sulli.

“Dimana Im Jin Ah?” tanyaku setelah tidak melihat manusia sedheng itu.

“Emm.. molla. Dia tidak ada di kamar Qian. Dan Qian juga tidak ada di kamar. Tidak ada yang tahu,” kata Sue Ji.

Aku manggut-manggut sambil kembali meneruskan memperhatikan Min Ho. Tadinya. Sekarang Min Ho pun luput dari pandanganku. Dia tidak ada di pantai. Hanya Nichkhun, Wooyoung, Shindong, Yoo Seung Ho, dan Choi Seung Hyun disana.

Ji Yeon POV end

Min Ho POV

Aku sedang bermain bersama Nichkhun dan yang lainnya siang ini. Aku selalu saja jadi objek yang dilempari pasir dan disiram air. Makanya aku lari.

Sewaktu lari, aku merasa diperhatikan. Aku menoleh ke arah Ji Yeon. Aku tahu dari tadi Ji Yeon disitu. Mungkin saja dia yang memperhatikanku.

“Whoaa..! lihat siapa yang sedang memelototi Choi Min Ho!” kata Krystal dengan sangat keras dibelakang Ji Yeon.

Ternyata sedari tadi, Krystal ada di belakang Ji Yeon bersama Sue Ji dan Sulli.

“Dimana Im Jin Ah?” tanya Ji Yeon setelah tidak melihat Jin Ah.

“Emm.. molla. Dia tidak ada di kamar Qian. Dan Qian juga tidak ada di kamar. Tidak ada yang tahu,” kata Sue Ji.

Aku berhenti berlari setelah mendengar apa yang dikatakan Sue Ji. Aku menyetop Shindong yang dari tadi melempariku pasir.

“Aku ke kamar dulu,” kataku pendek sambil berlari ke penginapan.

Wooyoung memandangiku dari belakang. Aku tahu karena terlihat dari kaca jendela penginapan. Aku tersenyum kecil.

Min Ho POV end

Qian POV

Dihadapanku kini ada Im Jin Ah. Tidak seperti biasanya, Jin Ah selalu mengenakan rok selutut *untuk menarik perhatian Nichkhun katanya dulu*. Dia sekarang mengenakan celana jeans skinny dan kaus kelelawar berwarna putih polos. Rambutnya sekarang dikucir tidak rapi. Dulu dia sering sekali dikucir dan mengenakan pita atau assesoris lainnya. Dia sekarang—benar benar polos.

“Kau kira aku tidak tahu?” katanya dengan mata yang tajam. Mata yang ia hiasi dengan kacamata hias super besar. Lebih besar dari wajahnya mungkin.

“Apa yang kau coba katakan?” tanyaku. Sedari tadi dia hanya mengatakan itu. Berulang kali.

“Kau kira—aku tidak tahu? Kau kira aku tidak tahu?” katanya lagi sambil tersenyum sinis.

Aku sungguh benar-benar tidak tahu apa yang ia katakan. Dan benar-benar kali ini aku melihat Jin Ah yang penuh kesinisan. Matanya yang sinis dan tajam terus saja menatap mataku. Senyumnya yang sinis, kata-katanya, suaranya, tingkah lakunya sinis. Sama sekali bukan Im Jin Ah.

“Kau kira aku tidak tahu, Qian-a?” katanya lagi.

Aku diam saja karena aku tidak tahu.

“Jin Ah-yya, nan—ceongmal ceongmal mollaseo. Kau sedang mencoba untuk katakan apa aku tidak tahu,” kataku.

“Kau kira aku tidak tahu? Kau tahu…”

“Aku tahu?”

“Kau tahu bahwa aku menyukai Nichkhun bukan?”

Aku seperti tertuduh. Ya, aku memang tahu itu dari dulu. Dari pertama masuk Grade 2-2 sudah jelas bahwa dia menyukai Nichkhun, tanpa diberitahu.

“Kau tahu bahwa aku menyukai Nichkhun bukan? Kau—mempermainkanku,” katanya lagi.

“Jin Ah-yya, jangan-jangan kau mencurigaiku—“

“Kau—mempermainkanku,” katanya tersenyum sinis, “—sudah berapa kali dan berapa lama kau mempermainkanku? Kau bilang aku boleh menyukainya. Kau bilang aku boleh mengambilnya.”

“Jin Ah-yya,” aku pasrah.

“Kau bilang kau tidak menyukainya lagi. Kau bilang kau rela memberikannya padaku.”

Aku diam. Tertunduk.

“Angkat wajahmu! Aku mau tanya sesuatu!” katanya dengan suara yang menakutkan.

Aku mengangkat wajahku dengan pelan. Seperti seorang anak kecil yang takut dimarahi ibunya.

“Apa kau—masih menyukai Nichkhun?” katanya dengan halus.

Aku menelan ludah. Jujur dalam hati ada dua pilihan. Aku ingin mengatakan ‘tidak’ karena aku ingin Jin Ah tidak terluka. Dan juga aku ingin jujur mengatakan ‘ya’ karena aku masih menyukai Nichkhun.

“Malhae!” kata Jin Ah.

Aku diam sebentar, lalu, “..O—aku masih menyukainya.”

Qian POV end

Author POV

“Kau bilang kau tidak menyukainya lagi. Kau bilang kau rela memberikannya padaku.”

Qian diam. Tertunduk.

“Angkat wajahmu! Aku mau tanya sesuatu!” kata Jin Ah dengan suara yang menakutkan.

Qian mengangkat wajahku dengan pelan. Seperti seorang anak kecil yang takut dimarahi ibunya.

“Apa kau—masih menyukai Nichkhun?” kata Jin Ah dengan halus.

Qian menelan ludah. Jujur dalam hati ada dua pilihan. Dia ingin mengatakan ‘tidak’ karena dia ingin Jin Ah tidak terluka. Dan juga ingin jujur mengatakan ‘ya’ karena masih menyukai Nichkhun.

“Malhae!” kata Jin Ah.

Qian diam sebentar, lalu, “..O—aku masih menyukainya.”

Jantung Jin Ah seperti berhenti berdetak. Tangannya mengepal erat. Sehingga kukunya peelahan menggores telapak tangannya. Dan sedikit demi sedikit darah keluar.

“Aku masih menyukainya. Nichkhun Buck,” kata Qian gantian menatap Jin Ah sinis, “..aku tidak mungkin membohongi perasaanku sendiri.”

“Dan aku juga tidak mungkin membohongi perasaanku yang semakin lama semakin membencimu,” kata Jin Ah.

Choi Min Ho menghentikan langkahnya ketika melihat Qian dan Jin Ah dibelakang penginapan. Sudah ia duga.

Qian diam. Sementara Jin Ah tertunduk.

“Aku.. tidak mungkin melepas Nichkhun begitu saja,” kata Jin Ah.

“Aku.. juga begitu.”

“Qian-a, aku benar-benar membencimu.”

Min Ho menghela nafas tegang mendengar percakapan dua kubu tadi. Ia memperhatikan tangan Jin Ah yang mengepal. Dilihatnya, ada darah yang sedikit demi sedikit menetes dari tangan Jin Ah.

“Dia sekarang sudah menjadi milikku,” kata Qian lagi.

“Mwo?” Jin Ah menoleh ke arah Qian dan menyipitkan matanya.

“Eun Jung eonni, dia menyelingkuhi Nichkhun dengan Tae Sung. Kamu tidak tahu?”

Jin Ah masih menyipitkan matanya.

“Kamu benar-benar tidak mengetahuinya.”

Jin Ah masih mencerna perkataan Qian. Dan setelah menemukan jawabannya, Jin Ah tersenyum.

“Apa-apaan ini?” gumam Jin Ah.

“Mwo?” Qian penasaran.

“Aku tahu sekarang. Eunjung eonni selingkuh, dan Nichkhun terpukul,” kata Jin Ah penuh percaya diri, “..dan kau hanya pelarian Nichkhun untuk membalas keterpukulannya.”

Qian panas. Tanpa kendali, ia menampar Jin Ah.

Jauh dari sana, Minho terkejut dan segera berjalan menuju Jin Ah dan Qian.

Setelah mendapat tamparan keras dari Qian, Jin Ah hanya memandangi Qian sinis sambil memegangi pipinya dengan tangannya yang penuh darah. Ia pun akan membalas Qian, namun Minho mencegatnya.

“Im Jin Ah!” Minho memegangi lengan Jin Ah.

Jin Ah melepaskan tangan Minho dan berlari menjauh darinya dan juga dari Qian.

“Lihat, lihat. Siapa yang sering sekali membela Jin Ah?” kata Qian.

“Dia benar. Kau mungkin saja jadi pelarian Khun,” kata Minho kepada Qian.

“Kau curiga pada temanmu dari SMP? Dia tidak mencintai Eunjung eonni, seperti yang kau tahu.”

Minho terdiam, “Mwo?”

“Kukira selama ini, kau mengerti. Ternyata tidak sama sekali. Eunjung eonni adalah taruhan Tae Sung dan Nichkhun. Ternyata kau hanya teman pajangan Khunnie.”

Minho tidak memperdulikan perkataan Qian dan pergi mencari Jin Ah.

_______________________________________

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s