Grade 2-2 Part 15

Image

Title : Grade 2-2

Author : Atika Razan (JBSung)

Length : Parted (10 Parts)

Genre : School, Romance, Comedy *huaah*

CAST :

  • Nana After School      : Im Jin Ah
  • Nichkhun 2PM                       : Nichkhun B. Horvejkul
  • Minho SHINee                        : Choi Min Ho
  • Victroria f(x)               : Song Qian
  • Jiyeon T-Ara               : Park Ji Yeon
  • Yoo Seung Ho
  • Suzy Miss A                 : Bae Sue Ji
  • Wooyoung 2PM         : Jang Wooyoung

OTHER :

  • Jung So Min
  • Shindong : Shindong (Shin Dong Hee)
  • Sun Ye : Min Sun Ye
  • T.O.P. : Choi Seung Hyun
  • Donghae : Lee Dong Hae
  • Eunjung : Ham Eun Jung
  • Yesung : Kim Joong Won
  • Krystal Jung
  • Sulli
  • Lee Hyun Woo
  • Lee Tae Sung
  • UEE : Kim You Jin
  • Park Jin Young
  • Baek Ji Young
  • Go Ha Ra

Ji Yeon POV

Huahhmm.. aku bangun dari tidurku yang cukup lelap. Begitu duduk di tepi ranjang, aku langsung menyambar jam beker yang ada di meja kecil berlaci yang tidak jauh dari keberadaanku sekarang.

“HAH? JAM DELAPAN?” aku panik.

Aku langsung memburu seragam sekolah dan memakainya dengan cepat. Lalu aku memasukkan buku-buku yang perlu ke dalam tas dan menggendong tas itu.

Lalu, aku berlari keluar kamar. Namun, baru saja keluar kamar, aku teringat sesuatu.

“Oh ya! Jas hujannya Min Ho?” aku menepuk jidadku sendiri.

Aku buru-buru masuk ke kamar lagi, dan menyapu seluruh isi kamar dengan mataku. Aduhh.. bagaimana jika nanti Min Ho menanyakannya?

Aku berusaha untuk berpikir positif : mungkin saja dia sudah mengambilnya. Akhirnya aku lupa juga dengan jas hujannya. Aku duduk di ruang tamu sambil memakai sepatu. Namun, gundukan di atas meja di depanku terlihat mencurigakan.

“Apa itu?” gumamku sendiri sambil mengangkat kain yang menutup gundukan tersebut.

Ah.. aku baru ingat, Min Ho kemarin ‘kan membuatkan makanan. Tapi malah aku ketiduran. Ternyata gundukan yang mencurigakan tadi adalah gundukan makanan. Haha.. sayangnya sudah dingin.

Ji Yeon POV end

 

Minho POV

Duduk di depan kelas sudah menjadi tradisi yang sering aku lakukan setelah meletakkan tas di mejaku. Tapi ada yang beda. Biasanya aku duduk bersama Nichkhun dan Wooyoung. Tapi sekarang mereka sibuk sendiri-sendiri.

Seseorang yang kunantikan sedari tadi adalah Ji Yeon. Kenapa jam segini dia malah belum nampak? Yang tidak aku tunggu malah menampakkan diri di depanku. Sekarang.

“Choi Min Hoooo!! Kemarin sama Ji Yeon yaa??” Jung So Min muncul tiba-tiba seperti hantu di hadapanku.

Aku menghela nafas panjang. Aku tidak menghiraukan So Min yang sudah duduk manis di sebelahku.

“Min Ho-yya, aku boleh cerita enggak?” katanya dengan suara yang sedikit berbeda dengan yang tadi.

“Malhae,” kataku pendek.

“Jangan mengacuhkanku, Min Ho-yya… Yoo Seung Ho sudah mengacuhkanku. Song Qian juga sudah mengacuhkanku. Sekarang hanya satu-satunya Choi Min Ho yang aku punya. Kenapa kau malah mengacuhkanku sekarang?” katanya.

Aku sedikit tertuduh.

“Tuh kan! Kau mengacuhkanku!” jeritnya.

“Aku tidak mengacuhkanmu. Aku harus bilang apa setelah kau bercerita seperti itu?”

“Yah.. misalnya : sabar ya.. aku janji deh enggak bakal mengacuhkanmu.”

“Sabar ya, aku janji deh enggak bakal mengacuhkanmu. Sudah?”

“Nah, begini. Aku jadi ingin memelukmuu..” katanya sambil berancang-ancang ingin memelukku.

“STOP! Kau kan sudah punya Seung Ho! Kenapa memelukku?!” aku memandang So Min jijik.

Muka So Min berubah. Ia lalu duduk manis seperti semula sambil sedikit menunduk.

“Wae? Apa aku mengatakan hal yang salah?”

“Yoo Seung Ho dan aku sudah putus,” katanya.

Aku mengernyitkan dahi. Putus?

“Kau belum—“

“Ani! Pasangan yang paling mesra dan yang paling romantis di Grade 2-2 malah putus?” kataku memotong perkataannya.

“Haha.. kata siapa paling mesra? Paling romantis? Cih..” dia mengangkat kepalanya.

Aku tidak ingin melanjutkan topik ini lagi. Aku juga tidak ingin menyakiti hati Jung So Min. Dia sudah cukup tersakiti oleh Qian dan Seung Ho.

Tidak jauh di depanku, berjalanlah Jang Woo Young menuju ke arahku. Dia tersenyum kepadaku. Lalu aku membalas senyumnya.

Melihat Wooyoung, So Min berdiri. Pasti dia mau mengganggu Wooyoung.

“Jang Woo—“

“STOP! Kau berdiri disitu saja!!” Wooyoung memotong pekikan keras dari Jung So Min. Lalu ia berlari masuk ke kelas, diikuti So Min di belakangnya.

Bel berbunyi. Aku segera masuk kelas mengikuti Wooyoung dan So Min. Tapi Park Ji Yeon belum saja datang. Ini membuatku cemas.

Minho POV end

 

Author POV

“Pagi anak-anak,” kata guru Park Jin Young setelah masuk Grade 2-2.

Anak-anak tampak tidak berselera untuk menjawab sapaan dari guru Park. Mereka masih tidak terima jika guru Baek digantikan dengan guru Park.

Tiba-tiba pintu kelas dibuka dengan pelan. Ternyata Park Ji Yeon-lah yang membukanya.

“Saem.. mianhamida, saya telat..” kata Ji Yeon sambil masuk pelan-pelan.

“Ya, silahkan lari keliling lapangan sepuluh kali,” kata guru Park enteng.

Ji Yeon tertegun. Belum pernah ada sejarahnya ia disuruh untuk lari keliling lapangan. sepuluh kali lagi.

“Ne..” Ji Yeon keluar kelas lagi.

Setelah Ji Yeon keluar kelas, Yoo Seung Ho mengankat tangannya.

“Saem! Biasanya jika terlambat lari keliling lapangannya Cuma tiga kali. Kenapa ini jadi sepuluh?” kata Yoo Seung Ho.

“Yoo Seung Ho,” guru Park tersenyum kecut, “Kau sudah bagus mengangkat tangan sebelum bicara. Namun belum kupersilahkan kamu berbicara malah sudah berbicara. Lari keliling lapangan dua puluh kali!”

Yoo Seung Ho menatap guru Park dengan sinis. Ia lalu beranjak dari tempat duduknya, dan berjalan gontai ke luar kelas.

Setelah Yoo Seung Ho keluar kelas, guru Park berkata lagi.

“Siapa lagi yang mau lari keliling lapangan?” tanya guru Park kepada sisa anak-anak di Grade 2-2.

Nichkhun tampak menggeser mejanya dengan kasar dan berdiri, “Cho-yyo!”

Nichkhun lalu berjalan keluar dengan sangat cepat. Sebelum itu dia melirik ke arah Wooyoung dan yang lainnya. Lalu dia juga menatap Jin Ah lama.

“Choduyyo!” Wooyoung juga ikut berdiri.

“Aku—ikut Park Ji Yeon,” kata Jin Ah sambil beridiri mantap dan berjalan ke arah guru Park.

Guru Park tersenyum kecil kepada Jin Ah, “Silahkan anak-anak liar. Silahkan saja kalian keluar. Kalian lari keliling limapuluh kali!”

Jin Ah berdiri di depan guru Park. Lalu ia tersenyum lebar.

“Siapa yang kau sebut anak-anak liar? Bukankah kau juga liar? Seenaknya saja merebut posisi guru Baek Ji Young?” kata Jin Ah sambil menatap tajam mata Guru Park yang juga menatapnya tak kalah tajam.

“Anak ini…” gumam Guru Park sambil melirik sinis ke arah Jin Ah yang sudah berjalan meninggalkannya bersama-sama Wooyoung.

“Eng—saem.. aku juga akan ikut Park Ji Yeon dan Im Jin Ah..” kata Sue Ji sambil menarik salah satu sisi seragam milik Jung So Min.

“Aku juga, saem!” So Min mengalah. Ia berdiri mengikuti Sue Ji.

“AH.. TUNGGU! Aku juga!” Sun Ye menghampiri So Min dan Sue Ji.

Di kelas itu tinggal dua orang saja. Choi Min Ho dan Song Qian. Mereka saling berhadapan dan mantap berdiri.

“Kami juga,” mereka berkata seperti itu dengan kompak.

Akhirnya, kelas itu kosong. Hanya tinggal guru Park yang menatap mereka bingung dari belakang.

 

 …

 

Ji Yeon dan Seung Ho menoleh ke belakang setelah mendengar suara ribut. Seung Ho tahu pasti semuanya mengikutinya. Namun Ji Yeon melongo melihat hampir seluruh anak-anak Grade 2-2 berjalan menuju lapangan.

Min Ho dan Qian muncul bersamaan dari ambang pintu. Min Ho tersenyum lebar kepada Ji Yeon yang hanya menatapnya malu.

“Ayo! Tunggu apalagi! Lari keliling limapuluh kali!” pekik si ketua kelas, Yoo Seung Ho. Ia lari terlebih dulu.

“Oo.. ayo! Jangan lelet!” Nichkhun lari di belakang Yoo Seung Ho.

Semuanya langsung berlari di belakang Nichkhun. Mereka berbaris dengan rapi dan lalu berlari kecil mengelilingi lapangan.

“Ayo,” Qian menyenggol Min Ho dan turun ke lapangan.

Min Ho langsung mengikuti Qian turun ke lapangan dengan santai.

“Teman-teman. Jangan seperti ini..” kata Ji Yeon yang berlari di belakang Song Qian.

“Wae? Kita hanya mencoba untuk kompak,” kata Qian sambil terus berlari.

“Emm.. ada benarnya kata Song Qian,” kata Min Ho yang ternyata sedari tadi berlari di belakang Ji Yeon.

Ji Yeon menoleh ke belakang, “Min Ho-yya?”

Min Ho tersenyum kecil kepada Ji Yeon.

 

 

“Kenapa di lapangan sangat berisik?” gumam Guru Baek yang sedang mengajar Grade 2-3.

Lee Hyun Woo yang duduk di bangku paling depan mencoba untuk menengok ke luar pintu. Namun ia belum bisa melihat dengan jelas.

“Baek saem, aku melihat dulu. Boleh?” tanya Hyun Woo kepada Guru Baek Ji Young.

“Em.. boleh. Aku juga ikut,” kata Guru Baek sambil beranjak dari tempat duduknya.

Hyun Woo langsung berdiri dan bergegas keluar kelas menuju ke beranda. Ia melihat anak-anak Grade 2-2 sedang berlari mengelilingi lapangan bersama-sama. Ia pun kagum. Apalagi Guru Baek yang sudah berdiri di sebelahnya.

Anak-anak kelas lain pun ikut melihat keluar. Seperti Grade 2-1, dan Grade adik kelas serta kakak kelas. Tak luput, Grade 3-3 seperti Donghae dan Jong Woon melihat ke luar. Ke lapangan.

“Kenapa mereka melakukan itu? Padahal mereka tidak sedang pelajaran olah raga,” kata Jong Woon.

“Molla,” Donghae mencari-cari siluet yang dari tadi memang sedang ia cari.

Go Ha Ra yang berdiri tidak jauh dari Donghae pun tahu bahwa Donghae sedang mencari Im Jin Ah.

“Oo? Itu Im Jin Ah juga ikut!” seru Jong Woon sambil menunjuk ke suatu arah.

“Oddiyya? Oddi?” Donghae penasaran.

“Itu…” Jong Woon menunjuk-nunjuk lagi, “Yang di belakang Nichkhun!”

Donghae menyipitkan matanya ia melihat Jin Ah memegangi pundak Nichkhun sambil berlari kecil mengelilingi lapangan. Namun, tidak hanya Jin Ah dan Nichkhun yang terlihat akrab. Yang lainnya juga terlihat akrab.

 “Jangan bilang kau cemburu?” kata Jong Woon kepada Donghae.

Ha Ra tampak ingin tahu apa jawaban Donghae. Dia mengerutkan dahi sambil memperhatikan wajah Donghae.

“Oo, aku cemburu..” kata Donghae dengan enteng.

Hati Ha Ra seperti terbelah menjadi dua. Lalu pecah berkeping-keping. Dan keping-kepingan itu jatuh entah kemana. Mungkin akan menimbulkan bunyi yang sangat berisik.

Kenapa kau tidak mengerti perasaanku, Donghae-yya…?

Kenapa kau tidak bisa mengerti perasaanku, Jin Ah-yya?

 

___

 

“APA-APAAN KALIAN INI?!!” bentak Nyonya Choi kepada semua anak-anak Grade 2-2.

Yoo Seung Ho tersenyum kepada Nyonya Choi. Lalu, Wooyoung menyikutnya karena takut akan bentakan Nyonya Choi sekali lagi.

“Nyonya Choi, kami hanya membantu Ji Yeon saja,” kata Seung Ho.

“Mworago?” Nyonya Choi melepas kacamatanya, “Cinta tidak bisa di nomor satukan disini!”

Ji Yeon terperangah. Apalagi Yoo Seung Ho.

“Aku tidak menyukai Ji Yeon, Nyonya Choi..”

“Hooh.. siapa yang mengatakan bahwa itu demi cinta?” Ji Yeon menirukan gaya bicara Shin Moon Suk ‘komentator sepak bola’.

“Aku tidak peduli itu. Kalian semua.. poin kalian semua dikurangi dua puluh karena berani melawan guru yang apalagi wali kelas kalian sendiri,” kata Nyonya Choi.

Semuanya terdiam.

“Terutama kau, Im Jin Ah! Jangan terlalu banyak membuat ulah di sekolah. Kau harus fokus untuk lomba komposing lagu lusa!” kata Nyonya Choi lagi.

“Ne? Komposing lagu?” Jin Ah tertegun, “Choyyo?”

“Bahkan hal seperti itu saja kau tidak tahu, Jin Ah-haksaeng..” kata Nyonya Choi lagi.

Nichkhun tersenyum kecil ke arah Jin Ah. Begitu pula yang lainnya. Namun sinar matanya sangat sangat bahagia untuk Jin Ah.

Aku senang kau bisa mewakili sekolah ikut komposing lagu. Artinya kau akan berjuang untukku dan juga untuk Grade 2-2.

Author POV end

 

Jiyeon POV

Setelah bel pulang sekolah berbunyi, aku sengaja meninggalkan Jin Ah dan Sue Ji karena aku ingin menyerahkan jas hujan yang kemarin kepada Min Ho. Aku membelinya tadi pagi. Makanya aku telat.

Aku takut Min Ho marah karena aku menghilangkan jas hujannya. Karena sudah aku cari, jas hujan itu tidak ada di rumah. Aku beli yang sama persis dengan jas hujan miliknya itu. Dan sekarang aku menentengnya sambil berjalan menuju tempat dimana Min Ho berada. Lapangan futsal.

Sudah aku hafal baik-baik, Min Ho pasti akan main futsal di belakang sekolah bersama Nichkhun dan yang lainnya. Tapi, yang aku lihat kini beda. Dia hanya bermain bersama anak-anak Grade 2-3 dan Grade 2-2. Tanpa Nichkhun Buck Horvejkul.

“Choi Min Ho!” aku memanggil namanya sambil melambai-lambaikan tangan ke arahnya.

Min Ho berbalik. Dia tersenyum lebar kepadaku dan dia berlari mendekatiku.

“Ada apa?” Wajah Min Ho tampak sangat kelelahan. Keringat pun membasahi wajah dan tubuhnya kini. Namun, dia terlihat tampan. Tetap saja tampan.

“Emm.. ini. Aku ingin mengembalikan ini..” aku menyodorkan jas hujan yang mirip dengan miliknya, “Ini milikmu. Kemarin ketinggalan di rumah- di rumahku..” aku berbohong.

Senyum di wajahnya menghilang. Dia hanya menatap si jas hujan yang ada ditanganku. Dia tidak segera menerimanya. Aku takut dia curiga. Takut sekali.

“Ini—jas hujanku?” Min Ho menatapku.

“Oo..” aku manggut-manggut. Namun, aku terlalu takut untuk membalas tatapannya.

“Kenapa kau berbohong?” katanya sambil terus menatapku.

“Oo?” nada suaraku meninggi.

“Kenapa mesti berbohong kalau ini jas hujanku?” ulangnya.

Tuh, dia curiga.

“Tapi ini milik—“ kata-kataku disambar cepat olehnya.

“Itu milikmu,” dia menunjuk jas hujan yang ada di tanganku. Lalu dia mengorek-ngorek isi tasnya yang sedari tadi digendongnya, “Dan yang ini punyaku..” dia lalu menunjukkan jas hujannya yang sebenarnya.

Aku melongo. Aku sudah sangat bersalah. Aku sudah membohonginya. Tapi.. dia malah tersenyum kepadaku.

“Jangan bilang kalau kau telat tadi pagi gara-gara membelikan jas hujan itu..” katanya sambil tersenyum.

“Eng—itu…” aku malu karena berbohong kepadanya, “Eng—maaf. Aku berbohong kepadamu. Aku akan membuang yang ini..”

“Jangan seperti itu, Park Ji Yeon.” Dia mencegahku pergi dari hadapannya, “Kita bisa mengenakan jas hujan ini seperti jas hujan couple. Benar ‘kan?”

Dalam hati aku terkejut. Namun, mungkin ekspresi luarku tidak menunjukkan itu. Karena yang aku harapkan adalah dia mengucapkan kata-kata tadi itu.

“Mau ‘kan?” Min Ho mengangkat mukaku, “Tersenyum lah.. kau tampak manis jika tersenyum. Jika kau tidak tersenyum, aku tidak akan memaafkanmu!”

“Min Ho-yya..” aku mengeluh. Membiarkan tangannya yang hangat menyentuh pipiku.

“Ayo tersenyum! Aku sudah tersenyum nihh..” dia melebarkan senyumnya.

Aku tersenyum lebar. Lebih lebar daripada senyumnya.

“Gomawo, Min Ho-yya,” refleks, aku memeluknya.

Ji Yeon POV end

 

Min Ho POV

“Mau ‘kan?” aku mengangkat muka Ji Yeon, “Tersenyum lah.. kau tampak manis jika tersenyum. Jika kau tidak tersenyum, aku tidak akan memaafkanmu!”

“Min Ho-yya..” dia mengeluh. Membiarkan tanganku menyentuh pipinya.

“Ayo tersenyum! Aku sudah tersenyum nihh..” aku melebarkan senyumku.

Akhirnya dia tersenyum lebar. Lebih lebar daripada senyumku.

“Gomawo, Min Ho-yya,” dia memelukku spontan.

Tubuhku kaku. Aku ling lung. Jantungku berdetak tidak karuan cepatnya. Tidak sadar, aku juga memeluknya dan membelai rambutnya yang halus.

“Terima kasih untuk apa?” tanyaku kepada Ji Yeon.

Dia tidak menjawab. Dia lalu melepaskan pelukannya dan menjauh dariku.

“Ah.. aku harus pulang awal. Ada yang harus aku kerjakan,” katanya. Lalu dia berlari menjauh dariku.

Dia.. sangat manis. Park Ji Yeon adalah gadis yang manis. 

Min Ho POV end

 

 Author POV

Malam-malam di rumah Keluarga Im :

“Komposing lagu?” Im Ju Hwan terkejut setelah mendengar Jin Ah mengatakan kata-kata tadi di depannya.

“Waeyo?” Jin Ah setengah berkumur-kumur, “Aku suka komposing lagu..”

Tuan Im mengangkat kepalanya yang sedari tadi menunduk, “Kau suka mengarang lagu? Kenapa tidak bilang-bilang?”

“Geunyang—aku hanya iseng-iseng saja menggabungkan beberapa nada yang berbeda lalu menambahkan lirik yang hanya satu kalimat saja,” kata Jin Ah. Dia lalu mengerutkan kening, “Memangnya kenapa harus bilang-bilang?”

“Teman ayah ada yang pandai sekali membuat lagu. Yah, kau bisa belajar dari teman ayah itu,” kata Tuan Im.

“Aniyo, aboji. Mulai besok aku akan diajar membuat lagu oleh seniorku. Kim Jong Woon seonbae,” Jin Ah antusias, “Dia juara komposing lagu tahun lalu, loh..”

“Jadi, aku harus ikut berbahagia gitu?” Ju Hwan nyeletuk.

“Terserah oppa,” Jin Ah mengangkat bahu. Lalu, tiba-tiba phone-nya berdering. Ada sms masuk.

 

Belajar komposingnya besok dengan Jong Woon hyung di ruang kesenian. Kunci ruang kesenian minta saja ke Sulli anak kelas 2-1. Tahu ‘kan? Aku hanya menyampaikan pesan dari ayahku..

 

“Kenapa Wooyoung mengirimiku teks seperti ini? Dia terlihat peduli denganku..” kata Jin Ah sendirian.

Im Ju Hwan berusaha melihat apa yang tertera di layar phone Jin Ah. Tapi Jin Ah malah menyingkir dari situ dan masuk ke dalam kamar.

 

 

Esoknya… :

 

“Im Jin Ah!!!!” pekik seseorang dari belakang.

Jin Ah yang merasa dipanggil menoleh ke belakang. Dia hafal benar pekikan itu. Dari Park Ji Yeon.

“Akhh..” Ji Yeon merangkul Jin Ah, “Aku senang sekali terlambat kemarin..”

Jin Ah merasa ada yang aneh dari Ji Yeon. Dia tidak menanggap pernyataan Ji Yeon. Dia hanya mengernyit dan menatap Ji Yeon aneh.

“Aku.. akhirnya memiliki jas hujan couple dengan Choi Min Ho..!” kata Ji Yeon.

“Geurae? Wahh.. beruntung sekali!” Jin Ah ikut melunjak.

Ji Yeon tersenyum lebar. Namun,  senyumnya menipis setelah Jin Ah menatapnya aneh dan berhenti melunjak.

“Tapi.. kenapa bisa seperti itu?” tanya Jin Ah kepada Ji Yeon.

“Em… itu? Eng.. bagaimana ya?” Ji Yeon menggaruk tengkuk.

Tiba-tiba seseorang menepuk punggung Ji Yeon. Tidak terlalu keras. Orang itu langsung saja berdiri di depan Ji Yeon dan Jin Ah.

“Min Ho-yya!” Jin Ah terkejut karena yang datang adalah Min Ho. Yang menepuk punggung Ji Yeon adalah Min Ho.

“Jin Ah-yya, annyeong.. selamat ya sudah terpilih lomba komposing lagu!” kata Min Ho sambil berjalan mundur mengikuti kecepatan langkah Jin Ah dan Ji Yeon.

“Gomawo..” Jin Ah tersenyum lebar. Setelah mengatakan itu, tangannya ditarik seseorang. Orang itu..

“Nichkhun-a?” Jin Ah mengikuti kemana arah Nichkhun menarik tangannya.

“Hehe.. jangan ganggu Ji Yeon dan Min Ho. Mereka baru saja jadian loh..” kata Nichkhun sambil menarik Jin Ah yang tergopoh-gopoh berjalan mengikutinya.

“KAMI BELUM!” Ji Yeon berteriak kepada Nichkhun.

Jin Ah menoleh ke belakang. Lalu dia tertawa kecil sambil melambaikan tangan kepada Min Ho dan Ji Yeon. Ia jadi teringat sesuatu.

“Oh ya! Kalian sudah berbaikan?” tanya Jin Ah kepada Nichkhun.

“Siapa dengan siapa?” Nichkhun pura-pura bodoh.

“Kau dengan – Min Ho.”

“Ohh.. memangnya kami bertengkar?” Nichkhun pura-pura bodoh lagi.

Jin Ah diam. Tangannya sudah dilepaskan oleh Nichkhun. Sekarang Nichkhun berjalan di sampingnya.

“Aku senang kau berbaikan dengan Min Ho..” kata Jin Ah.

“Sudah kubilang memangnya kami bertengkar?”

“Molla. Ahh.. madda! Aku harus mengambil kunci ruang kesenian ke Sulli! Aduuh.. Mianhae, Nichkhun-a.. aku harus ke—“

“Gwencana. Mau aku antar?” Nichkhun memotong perkataan Jin Ah.

“Ani. Aku bisa sendiri,” Jin Ah berjalan menjauh dari Nichkhun.

“Bye!” Nichkhun melambaikan tangan kepada Jin Ah.

“Bye-bye!” Jin Ah membalas lambaian tangan Nichkhun.

Author POV end

 

Jin Ah POV

Aku sudah berada di depan Sulli sekarang. Ia sedang merogoh-rogoh seisi tas-nya. Sudah menemukan kunci ruang kesenian, dia segera memberikannya kepadaku. Dia tidak menunjukkan ekspresi apapun.

“Gomawo..” kataku sambil menerima kunci ruangan kesenian.

“Hmm..” dia menutup kembali tas-nya.

Aku tidak melihat dia tersenyum kali ini. Dia tampak berbeda.

“Kau marah kepadaku ya?” tanyaku.

Dia mengangkat kepalanya. Dia tersenyum kecil, “Ani,” dia tampak memandang ke belakangku. Lalu dia menatap kepadaku, “Jong Woon oppa sudah ada di belakangmu, Jin Ah-yya..,” katanya kepadaku sekali lagi tanpa ekspresi.

Aku menoleh ke belakang. Eh iya! Ada Kim Jong Woon seonbae! Aku langsung saja memberi hormat kepada calon guru komposing laguku. Tanpa sadar aku mengacuhkan Sulli, dan dia sudah pergi dari tempatnya berdiri tadi.

“Annyeonghaseyo.. Pangawoyo..” kataku kepada Jong Woon seonbae sembari mendekat kepadanya.

“Annyeong! Sudah dapat kuncinya?” Jong Woon seonbae tersenyum kepadaku.

“Ne…”

“Ayo, ke ruang kesenian!”

“Arraseoyo,” aku berjalan di belakang Jong Woon seonbae.

Jin Ah POV end

 

Sulli POV

Fuuh.. seandainya saja Nyonya Choi memilihku untuk ikut lomba komposing lagu. Aku pasti bisa berduaan dengan Jong Woon oppa. Kenapa harus Jin Ah yang memiliki semuanya? Memiliki tempat untuk lomba komposing lagu dan juga berduaan dengan Jong Woon oppa?

Aku merasa menyesal memberikan kunci ruang kesenian kepada Jin Ah. Aku yang pegang kunci itu karena aku yang tadinya ditunjuk untuk ikut lomba itu. Tapi- kenapa jadi Jin Ah?

Jong Woon oppa dan Jin Ah tampak akrab mengobrol sembari berjalan menuju ruang kesenian. Aku mengikuti mereka berdua karena penasaran.

Sulli POV end

 

Author POV

“Akh.. kau tahu Donghae kan?” tanya Jong Woon setelah duduk di depan Jin Ah di ruang kesenian.

“Eo.. aku tahu. Waeyo?” Jin Ah manggut-manggut.

“Dia dan aku menciptakan lagu ‘Y’ yang dinyanyikan Super Junior,” ujar Jong Woon sambil menyodorkan kertas gubahan lagu Y.

“Ohh.. yang waktu itu kalian nyanyikan ‘kan? Yang waktu pesta penyambutan kelas dua..” kata Jin Ah sambil menerima dan membaca-baca isi yang tertera di kertas yang disodorkan Jong Woon. Dahinya mengkerut, “Ommo! Liriknya.. siapa yang membuat liriknya?” Jin Ah shock.

Jong Woon tertawa kecil, “Na. Aku yang membuatnya. Wae?”

“Eomma.. ini bagus sekali. Aku tersentuh..” Jin Ah mengelus dada.

Wajah Sulli muncul di mulut pintu. Ia mengawasi Jin Ah dan Jong Woon.

“Gomapdda,” Jong Woon tersenyum lebar, “Lirik adalah yang terpenting di dalam lagu..” katanya.

Jin Ah mengangkat kepalanya, “Bukannya nada yang terpenting?”

“Nada memang penting. Tapi, lirik menggambarkan perasaan kita. Nada tidak bisa melakukan hal seperti lirik. Menurutku,” kata Jong Woon mulai menjelaskan.

Jin Ah manggut-manggut.

“Coba. Aku ingin dengar apa yang kau rasakan saat-saat ini? Ah, jangan saat ini. Saat kau jatuh cinta,” kata Jong Woon.

Tiba-tiba saja Sulli membenci Jin Ah. Jong Woon melontarkan perkataan yang sangat ingin dia terima. Dia cemburu. Karena tidak kuat melihat Jin Ah dan Jong Woon, Sulli pergi dari situ, ingin memberikan Jin Ah perasaannya saat itu. Sulli ingin menuangkan semua perasaan bencinya kepada Jin Ah.

Tiba-tiba saja aku membencimu, Im Jin Ah. Aku tidak bisa menjadi temanmu. Mungkin aku bisa jadi musuhmu.

 

___

 

Jin Ah tampak mengetuk-ngetuk dagunya dengan pensil yang ia pegang. Ia terus berpikir tentang lirik. Not-nya sudah ia buat. Taip liriknya..

“Kau belum menemukan liriknya?” tanya Jong Woon kepada Jin Ah secara tiba-tiba.

“Eo?” Jin Ah terperanjat, “Ne. Belum menemukan lirik..” Jin Ah cengengesan.

“Coba kemarikan kertasmu!”

“Ini,” Jin Ah memberikan kertas yang berisikan not yang ia buat.

Jong Woon melihat sebentar not-not yang dibuat Jin Ah. Lalu dia menyerahkan kembali kertasnya, “Ini.. lebih cocok tentang patah hati. Rasa sakit. Apa kamu pernah merasakannya?”

Jin Ah memutar bola matanya pelan-pelan. Dia teringat sesuatu. Ehh.. dia manggut-manggut sendiri. Dia akan membuka mulutnya untuk bercerita kepada Jong Woon. Tapi Jong Woon menyegahnya.

“Jangan ceritakan kepadaku! Tuangkan disitu!” Jong Woon menunjuk-nunjuk kertas yang ada di depan Jin Ah.

Jin Ah menatap kertas itu baik-baik. Ia tersenyum kecil. Aku.. selalu saja menunggu orang itu, eomma..

Tanpa disadari, tangan Jin Ah sudah menari-nari di atas kertas berisikan not-not yang ia buat. Mengalir perlahan seperti lagu. Perlahan juga, dia bersenandung.

Neol gidarida honja saenggakhaesso..

Ttonagan neon jigeum neomu apa dasi..

Naegere ddoraol gilwi-eh ulgo itdago..

Neol baraboda mundeok saenggakhaesso..

Oneunnal haneuri balgajimyeon matchi..

Ttonattonal choreom gamanhi neonun naege ogetji..

Tangannya berhenti menari. Jin Ah bingung akan menulis apa lagi. Kim Jong Woon melihat tulisan Jin Ah. Ia tersenyum kecil.

“Cukup untuk hari ini. Kau istirahat dulu baru masuk untuk pelajaran. Besok disini lagi, oke?” Jong Woon berdiri dari tempat duduknya.

Jin Ah mendongak, ia tersenyum, “Ne.. kamsahamnida..”

“Oo.. Cheonmanhae.”

Jong Woon pergi dari ruang kesenian. Sementara itu, Jin Ah menatap lagi kertas yang ada dihadapannya. Tidak lama ia juga keluar dari ruang kesenian. Berniat menuju ke kelas untuk mengikuti pelajaran.

Ini perasaanku, Nichkhun-a.. Lagu ini perasaanku.

 ____________________________________

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s