Grade 2-2 Part 16

Image

Title : Grade 2-2

Author : Atika Razan (JBSung)

Length : Parted (10 Parts)

Genre : School, Romance, Comedy *huaah*

CAST :

  • Nana After School      : Im Jin Ah
  • Nichkhun 2PM           : Nichkhun B. Horvejkul
  • Minho SHINee                        : Choi Min Ho
  • Victroria f(x)               : Song Qian
  • Jiyeon T-Ara               : Park Ji Yeon
  • Yoo Seung Ho
  • Suzy Miss A                 : Bae Sue Ji
  • Wooyoung 2PM         : Jang Wooyoung

OTHER :

  • Jung So Min
  • Shindong : Shindong (Shin Dong Hee)
  • Sun Ye : Min Sun Ye
  • T.O.P. : Choi Seung Hyun
  • Donghae : Lee Dong Hae
  • Eunjung : Ham Eun Jung
  • Yesung : Kim Joong Won
  • Krystal Jung
  • Sulli
  • Lee Hyun Woo
  • Lee Tae Sung
  • UEE : Kim You Jin
  • Park Jin Young
  • Baek Ji Young
  • Go Ha Ra

Themesong :

  • Love Love Love – Epik High
  • I Can’t – 2PM
  • Is This Love – BoA
  • Fallin’ – BoA
  • My Angel – Fly To The Sky
  • Mot Gah – Brown Eyed Girls

Donghae baru saja dari ruang penjaga sekolah. Ia menerima titipan dari satpam Kim. Titipan berupa payung plastik transparan. Ia diperintahkan untuk memberikan payung itu kepada anak kelas 3-7 bernama Ryu Jung Hee.

Sambil berjalan melewati ruang-ruang laboraturium IPA, dia mengetuk-ketuk gagang payung ke kepalanya, “Aah.. appo!” Ia mengelus-elus kepalanya sendiri.

Ada setetes air menetes di kepalanya. Ia langsung menengadah ke atas. Langit begitu cerahnya, dan tidak mungkin hujan. Namun dia malah membuka payung titipan tadi dan berlindung di bawah payung itu sambil berjalan gontai.

“Cerah begini, kenapa ada air hujan?”. Air sudah mulai menitik setetes demi setetes. Mengenai payung yang Donghae kenakan untuk berlindung sehingga menimbulkan bunyi ‘tik-tik’ yang teratur.

Ia menengadah lagi. Namun, dia bukan menengadah ke langit. Dia melihat seseorang berada di mulut jendela laboratorium kimia. Donghae mengernyitkan dahi. Seorang gadis berambut ikal panjang tampak memegangi pot berisi sesuatu. Ia tidak tahu apa yang ada dalam pot itu, namun firasatnya tidak bagus.

Dia mengalihkan pandangan ke bawah. Jauh di depannya, kini ada Im Jin Ah.

“Jin Ah-yya!!” Donghae melambaikan tangan kepada Jin Ah, namun Jin Ah tidak menoleh kepadanya sama sekali. Jin Ah malah berangsur masuk ke kelas 2-2.

Donghae mendengus, “Mungkin dia sedang ada masalah..”

Setelah Jin Ah, jauh di depannya berjalanlah Go Ah Ra ke arah yang berlawanan dengan Donghae. Donghae ingin menyapa namun entah mengapa matanya berlari ke jendela laboratorium Kimia. Gadis yang ia lihat tadi tampak akan menumpahkan sesuatu dari pot –yang dipegang gadis tadi dari tadi- ke bawah.

“Sulli?” Donghae menyipitkan mata setelah gadis tadi mulai menumpahkan isi dari si pot.

Donghae langsung melirik ke arah Go Ah Ra yang berjalan malas-malasan, “Ah Ra-yya!! Pikkyeo!!”

Ah Ra menoleh ke depan. Ia melihat Donghae berlari ke arahnya dengan wajah yang serius.

“Wae, Donghae-yya?” Ah Ra panik melihat Donghae berlari ke arahnya, “Ada ap—“

Donghae langsung memeluk Ah Ra sekaligus melindungi Ah Ra dengan payung dan juga badannya. Tepat sekali dengan air yang sudah tumpah di atas payung.

Ah Ra mendongak. Ia ingin melihat apakah itu benar-benar Donghae atau hanya halusinasinya saja. Ia juga mendongak untuk melihat apa yang terjadi sampai Donghae melindunginya seperti ini, “Donghae-yya..”

Donghae membuka matanya yang sedari tadi tertutup. Ia menatap Ah Ra sebentar dan lalu mendongak ke atas. Melihat sebuah pot dari atas akan jatuh ke arahnya dan juga ke arah Ha Ra, ia menggeret Ah Ra untuk menjauh dari situ.

PRAANG!! Pot itu pecah.

“Pecahan kaca?” gumam Donghae setelah melihat di sekitarnya ada banyak pecahan kaca.

Ah Ra gemetar takut. Dia mendongak ke atas untuk melihat apa yang terjadi.

“Sulli?” sama dengan Donghae, Ah Ra juga menyipitkan matanya ketika melihat sekelebat siluet seorang gadis pergi menjauh dari jendela ruang laboratorium.

Apa benar itu Sulli?

Author POV end

 

Sulli POV

Mulutku seperti dijahit saat ini. Aku tidak bisa berkata apa-apa bahkan ketika Baek saem menanyakan kepadaku apa yang baru saja aku lakukan dan juga aku baru darimana. Aku hanya menatapnya sayu dan lalu pergi. Parahnya aku meninggalkan Baek saem tanpa memberi hormat. Aku takut sekali.

Aku berjalan cepat ke arah kelasku, Grade 2-1, yang tidak jauh dari laboratorium IPA. Di seberangku kulihat Im Jin Ah sedang berjalan ke arah yang berlawanan denganku. Kaget setengah mati setelah melihatnya tidak apa-apa.

Im Jin Ah melihat ke arahku, lalu dia tersenyum juga ke arahku. Kalau dia tidak apa-apa sekarang berarti yang tadi siapa? Siapa yang kusiram air dan juga ku jatuhi pot berisikan pecahan kaca?

“Sulli-yya!” Jin Ah menyapaku, “Ayo cepat masuk, sudah mulai pelajaran—“

Dia berdiri di hadapanku sekarang. Aku dibuat bingung, “Neo, gwencana?”

Jin Ah menatapku aneh, “Emm.. naega? Memangnya aku kenapa?”

Aku menggelengkan kepala, “Ani.” Kemudian aku meninggalkannya dan segera masuk kelas.

Sulli POV end

 

Author POV

Sulli menggeser pintu kelasnya. Ia menatap sebentar Guru Han yang adalah guru biologi.

“Chalmoteseoyo. Saya ada keperluan tadi,” kata Sulli kepada Guru Han.

“Eo. Duduklah!” perintah Guru Han.

Mendengar itu, Sulli segera menutup pintu kembali dan duduk di tempat duduknya. Ia berusaha untuk tenang. Namun, Krystal yang duduk di sebelahnya tahu bahwa Sulli sedang ada masalah.

“Sulli-yya, wae?” Krystal bertanya kepada Sulli. Sedikit berbisik.

Sulli menoleh ke arah Krystal. Lalu dia mengembangkan senyum lebar yang terlihat dipaksakan, “Ani.. ani.. Tidak kenapa-napa..”

Krystal terus memperhatikan Sulli sementara Sulli sedang mencari-cari buku Biologi. Sulli terlihat bingung mencari-cari dimana buku Biologinya. Padahal dari tadi buku biologi yang dicarinya itu sudah tergeletak di laci mejanya.

“Dimana itu?” Sulli memeriksa tas-nya.

“Di laci,” kata Krystal pendek sambil terus memperhatikan Sulli.

Tanpa berkata apa-apa dan juga terburu-buru, Sulli merogoh lacinya. Karena saking paniknya, buku biologi itu sampai terjatuh dari laci.

BRUK!

Guru Han menoleh ke arah sumber suara. Ia memelototi Sulli yang terlihat sangat ribut di dekat koridor.

“Choi Sulli! Jangan panik seperti itu!” Guru Han menegur Sulli.

“Eo! Eh, Ne saem!” Sulli akan mengambil buku biologinya yang terjatuh di lantai. Namun, Krystal sudah duluan meraihnya. Krystal memberikan bukunya itu. Secara tidak sengaja, tangan Krystal menyentuh tangan Sulli. Krystal tertegun.

“Sulli-yya, kenapa tanganmu dingin?” tanya Krystal kepada Sulli.

Sulli tidak berkata apa-apa. Dia hanya tersenyum kecil dan mencoba duduk dengan tenang.

Dia ada apa-apanya.. batin Krystal.

 

 

Di Grade 2-2…

“Jin Ah-yya,” Sue Ji memanggil Jin Ah begitu Guru Park Jin Young keluar kelas.

Jin Ah menoleh ke arah Sue Ji, “Mwo?”

“Tadi latihan komposing kan? Aku mau dengar lagumu!” Sue Ji mendekati Jin Ah. Ia meringis. Tidak seperti biasanya.

Jin Ah memiringkan mulut, “Hari ini kau kenapa sih? Kau tidak enak badan?”. Jin Ah memegangi jidad Sue Ji. Lalu Sue Ji menyingkirkan tangan Jin Ah dari jidadnya.

“Ani. Aku hanya ingin dengar! Coba nyanyikan sedikiiiiiit saja!” Sue Ji tidak sabar mendengar lagu Jin Ah.

Song Qian memperhatikan Sue Ji dan Jin Ah sambil membereskan buku-buku nya yang berantakkan di atas meja. Ia lalu memasukkan buku-bukunya itu dan berdiri. Dia berjalan mendekati Jin Ah.

“Aku juga ingin dengar,” Qian duduk di atas meja Ji Yeon.

Ji Yeon menengadah sekaligus melongo. Belum pernah belakangan ini Jin Ah dan Qian berbicara satu sama lain. Sekarang, Song Qian-lah yang memulainya. Melihat itu, Ji Yeon secara refleks menoleh ke arah Nichkhun yang duduk tidak jauh di belakangnya. Namun, ia juga melihat ke arah Min Ho. Mereka berdua sepertinya juga ingin tahu seperti apa lagu Jin Ah.

Jin Ah sendiri malah tampak kebingungan. Ia garuk-garuk kepala terus sedari tadi. Dia nyengir, “Maaf, Qian-a, Sue Ji-yya.. ini surprise untuk perpisahan kelas 3 bulan depan.”

Sue Ji dan Ji Yeon bertukar pandang.

“Perpisahan?” gumam Qian.

“Eo.. aku akan tampil di perpisahan kata Jong Woon sunbae,” kata Jin Ah kepada Qian.

“Ohh..” Qian manggut-manggut.

Sementara itu, Min Ho tersenyum kecil melihat Qian dan Jin Ah sudah mulai cair. Walaupun sedikit. Ia lalu melihat ke arah Nichkhun.

“Bagaimana kalau semuanya mengisi acara di perpisahan kelas 3?” Nichkhun memberi usul.

Semuanya memandangi Nichkhun. Terutama Jin Ah. Dia terus memandangi wajah Nichkhun yang tersoroti sinar matahari yang menembus lewat jendela laboratorium biologi.

“Aku setuju!” seru Min Ho tiba-tiba.

Nichkhun menoleh ke arah Min Ho.

“Bagaimana kalau Sue Ji dan Wooyoung duet?” Jin Ah ikut-ikutan, “Aduh!”

BUK! Sue Ji memukul paha Jin Ah dengan sebuah buku. Ia merapatkan gigi belakangnya, “RASAKAN!”

“Boleh..,” Nichkhun menyetujui usul Jin Ah, “Nyanyikan saja laguku.”

“MWO?” Jin Ah kaget. Dia segera menutup mulutnya rapat-rapat.

Nichkhun mengerling ke arah Jin Ah, “Eo.. aku menulis lagu. Memangnya hanya Im Jin Ah yang bisa menulis lagu?”

Jin Ah melepas tangannya dari mulutnya, “Ohh.. baguslah. Boleh aku—eh, kami dengar lagunya?”

Nichkhun tersenyum lebar, “Maaf, Jin Ah-yya, ini surprise untuk perpisahan kelas 3 bulan depan.”

Jin Ah membelalakkan mata, “Ish! Bagaimana bisa kau menirukan perkataanku!”. Dia melemparkan buku Sue Ji yang dari tadi ada di atas pahanya ke arah Nichkhun.

Dengan mudahnya, Nichkhun menangkap buku yang dilemparkan Jin Ah, “Tidak kena!”. Dia menjulurkan lidah.

Author POV end

 

Qian POV

“Bagaimana kalau semuanya mengisi acara di perpisahan kelas 3?” Nichkhun memberi usul.

Semuanya memandangi Nichkhun. Terutama Jin Ah. Dia terus memandangi wajah Nichkhun yang tersoroti sinar matahari yang menembus lewat jendela laboratorium biologi.

“Aku setuju!” seru Min Ho tiba-tiba.

Nichkhun menoleh ke arah Min Ho.

“Bagaimana kalau Sue Ji dan Wooyoung duet?” Jin Ah ikut-ikutan, “Aduh!”

BUK! Sue Ji memukul paha Jin Ah dengan sebuah buku. Ia merapatkan gigi belakangnya, “RASAKAN!”

“Boleh..,” Nichkhun menyetujui usul Jin Ah, “Nyanyikan saja laguku.”

“MWO?” Jin Ah kaget. Dia segera menutup mulutnya rapat-rapat.

Nichkhun mengerling ke arah Jin Ah, “Eo.. aku menulis lagu. Memangnya hanya Im Jin Ah yang bisa menulis lagu?”

Jin Ah melepas tangannya dari mulutnya, “Ohh.. baguslah. Boleh aku—eh, kami dengar lagunya?”

Nichkhun tersenyum lebar, “Maaf, Jin Ah-yya, ini surprise untuk perpisahan kelas 3 bulan depan.”

Jin Ah membelalakkan mata, “Ish! Bagaimana bisa kau menirukan perkataanku!”. Dia melemparkan buku Sue Ji yang dari tadi ada di atas pahanya ke arah Nichkhun.

Dengan mudahnya, Nichkhun menangkap buku yang dilemparkan Jin Ah, “Tidak kena!”. Dia menjulurkan lidah.

Jin Ah dan Nichkhun tampak akrab kali ini. Seperti sudah pacaran. Aku—jadi merasa bersalah kepada Jin Ah. Dia sudah menunggu Nichkhun terlalu lama. Sebaiknya.. aku mundur.

Nichkhun terlihat sangat senang hari ini. Apalagi Jin Ah. Aku bisa melihat dari sorot mata mereka. Aku juga tahu Nichkhun menyukai Jin Ah, bukan menyukaiku.

Jin Ah-yya, ceongmal mianhae. Aku yang membuatmu terluka. Jadi, aku mundur.

Qian POV end

 

Author POV

Di rumah Donghae dan Sulli…

“SULLI-YYA!!” seru Donghae begitu sampai di rumah.

Sulli yang berada di ruang tamu pun terperanjat. Dengan segera ia berdiri dan lalu berjalan mendekati Donghae.

“Eo, Donghae oppa?” Sulli berlagak tidak tahu apa-apa. Padahal dia tahu, Donghae akan marah besar padanya.

“Apa yang kau lakukan saat Grade 2-1 pelajaran fisika?” tanya Donghae kepada Sulli. Wajahnya memerah.

“Apa yang kau katakan?” Sulli tersenyum lebar, “Aku kan murid Grade 2-1, pastinya aku belajar fisika di laboraturium.”

“Ani. Kau tidak belajar di laboratorium,” Donghae menggelengkan kepala, “Aku tahu kau yang melakukannya.”

Sulli menyipitkan matanya, “M-Melakukan apa oppa?”

Donghae memutar bola matanya. Ia mendengus lalu menatap Sulli tajam.

“Oppa, aku benar-benar tidak tahu apa yang oppa maksud,” kata Sulli.

“Memangnya apa yang membuatmu benci terhadap Go Ah Ra?”

Sulli tidak bisa menyembuyikan mimik wajah-terkejut-nya. Membuat Donghae semakin yakin bahwa yang melakukannya adalah Sulli.

“Jawab dengan jujur kali ini, apa yang membuatmu benci terhadap sunbae-mu sendiri? Go Ah Ra!” Donghae meninggikan nada bicaranya.

“Emm.. oppa. Aku tidak membenci Ah Ra sunbae. Eng- aku.. aku..—“

“Siapa yang menumpahkan air dari laboratorium kimia? Eoh? Siapa?” Donghae berusaha sabar menghadapi adiknya yang pintar ber-akting ini, “Nuguyya?!”

“Oppa, apa kau menuduhku?”

“Aku bukan menuduhmu! Tapi aku sedang bertanya kepadamu! Siapa yang menumpahkan air tadi siang?!”

Sulli menatap Donghae dalam-dalam. Namun Donghae tidak sudi menatapnya balik. Ia berkacak pinggang.

“Aku capek mendengar naskah drama mu,” kata Donghae, “Apa kau mau aku daftarkan ke Eden 9 Entertainment? Aktingmu—“

“Ya! Aku yang menumpahkan air, oppa!”

Donghae tertegun, “Dari awal aku sudah tahu kalau yang melakukan itu kamu sen—“

“Tapi yang ingin aku celakai bukan Go Ah Ra sunbae.”

“Lalu?”

“Im Jin Ah. Jin Ah gadis pujaanmu, oppa.”

“Mwo?” Donghae menyipitkan matanya, “Im Jin Ah? Wae?”

“Dia… sudah merebut apa yang sudah hampir aku miliki, oppa! Dia lancang sekali!” Sulli emosi.

“Geumanhae!” Donghae tidak mau Sulli membuatnya bingung. Jin Ah dan Ah Ra sudah membuatnya bingung. Sekarang Sulli membuatnya bingung lagi.

“Dia membuat Go Ah Ra sunbae terluka! Ah Ra sunbae begitu menyukaimu, oppa. Tapi kenapa kau menyukai gadis lancang seperti Jin Ah? Dia juga sudah membuat Song Qian putus dari Nichkhun Horvejkul!”

“Kubilang cukup, Sulli-yya!” Donghae menaikkan nada bicaranya.

“Wae? Telingamu pedas mendengar kejelekan dari seorang gadis pujaan hatimu, oppa? Kau lebih baik sadar sekarang atau nanti menyesal belakangan. Selain itu, Jin Ah juga sudah merebut posisiku untuk maju di lomba komposing lagu. Lagi-lagi, dia mendekati Kim Jong Woon oppa. Aku menyukai Jong Woon oppa, kau tahu?” Mata Sulli berkaca-kaca, “Sudah banyak yang terluka karena Jin Ah, oppa! Aku sudah bisa membaca mata Jin Ah. Dia tidak menyukaimu! Dia menyukai Nichkhun dari dulu. Dari semenjak Qian berpacaran dengan Nichkhun. Apa itu tidak keterlaluan oppa!?”

PLAK! Pipi Sulli memerah bekas tamparan dari Donghae. Sebenarnya Donghae tidak mau melakukan itu kepada adiknya itu. Namun kini adiknya keterlaluan.

“Oppa..” Sulli berdesis. Ia memegangi pipinya yang baru saja kena tampar Donghae oppa.

Mata Donghae panas dan berair. Kepalanya pusing mendengar ocehan Sulli yang menyalah-nyalahkan Jin Ah, “Aku akan melaporkan ini kepada Nyonya Choi,” Donghae beranjak pergi. Namun Sulli mencegatnya. Sulli merentangkan tangan di hadapannya.

“Andwaeyo, oppa.. Jebal,” Sulli terisak, “Kalau kau melaporkannya, aku akan dikeluarkan.”

“Itu yang aku mau. Agar kau tidak membuatku malu di sekolah,” kata Donghae cuek.

“Oppa.. aku ini adikmu..” Sulli menangis sambil mengguncang-guncang badan Donghae dengan tidak sabar.

“Pikkyeo!” Donghae mendorong Sulli sehingga Sulli tersungkur di lantai, “Kau bukan adikku lagi!”. Ia merasa bersalah namun perasaan dan pikirannya sedang campur aduk. Dia pergi menjauh dari Sulli.

Sulli menangis sendirian di ruang tamu. Ia menjerit, meronta, dan memukul dadanya yang kini terasa perih karena saking banyaknya lecet dan goresan di hatinya. Goresan dari Donghae, Kim Jong Woon, dan Im Jin Ah.

 

 

Seperti biasa, Min Ho sedang duduk di luar malam ini. Dia tidak sadar bahwa dari tadi ia diperhatikan oleh Im Jin Ah lewat jendela kamar Jin Ah.

“Min Ho guuun!” Jin  Ah membulatkan suaranya.

Kaget, namun berusaha tenang, Min Ho menoleh ke arah Jin Ah, “Eo?”

“Hehe,” Jin Ah tertawa kecil, “Aku heran, kenapa kau membelikan Jiyeon mantel pasangan?”

Min Ho tersenyum kecil, “Dia yang membelinya. Bukan aku.”

Jin Ah manggut-manggut, “Oh.. lalu bagaimana hubunganmu dengan Jiyeon? Sudah pacaran belum?”

“Apa harus berpacaran?”

Jin Ah sedikit melompat dari tempat dimana ia berdiri sehingga kepalanya membentur sisi atas mulut jendela. Ia meringis kesakitan sambil mengelus-elus kepalanya yang kesakitan. Min Ho tampak panik melihat Jin Ah. Min Ho segera berlari ringan ke arah Jin Ah.

“Gwencana?” Min Ho memeriksa kepala Jin Ah.

“Em.. gwencana,” Nana menepis tangan Min Ho dari kepalanya secara halus, “Tadi kau bilang, harus berpacaran?”

Min Ho manggut-manggut, sementara Jin Ah mendengus.

“Memangnya harus berpacaran?” Min Ho bertanya sekali lagi. Dia membuat wajah imut yang membuat Jin Ah gemas.

“Kau begitu bodoh ya, ternyata! Iya! Ji Yeon sudah menunggumu bertahun-tahun tapi kau malah mencampakkannya,” kata Jin Ah.

“Aku mencampakkannya?”

“Jelas saja iya. Babo,” Jin Ah menyipitkan matanya. Namun, begitu melihat tangan Min Ho matanya membulat. Ia meraih tangan kanan Min Ho dan meletakkannya di atas kepalanya, “Boleh kau mengelus kepalaku sekali lagi?”

Mata Min Ho membesar, “Mwo? Kapan aku mengelus kepalamu?”

“Tadi,” Jin Ah menggerakkan tangan Min Ho agar Min Ho mau mengelus kepalanya.

Min Ho menuruti perkataan Jin Ah. Dia mengelus kepala Jin Ah pelan-pelan. Ia tersenyum kecil, “Kau kekanak-kanakkan.”

Jin Ah mengacuhkan Min Ho. Dia sedang melihat suatu benda di langit yang bergerak perlahan ke bawah. Seperti bintang jatuh.

“Apa yang sedang kau lihat?” Min Ho menoleh ke belakang dan lalu menengadah ke langit, “Bintang jatuh?”

Jin Ah menghembuskan nafas, “Em.. seadainya saja kalau aku berharap sewaktu ada bintang jatuh bisa jadi kenyataan.”

Min Ho menoleh ke arah Jin Ah, “Coba saja. Bisa saja jadi kenyataan. Malhae!”

Jin Ah menatap Min Ho sebentar, “Aku ingin punya kakak seperti orang yang sedang mengelus kepalaku.”

Mendengar apa yang diharapkan Jin Ah, perlahan Min Ho berhenti mengelus kepala Jin Ah.

“Aku ingin menukar Ju Hwan oppa dengan Choi Min Ho!” seru Jin Ah dengan nada riangnya yang khas.

“APA YANG KAU KATAKAN BARUSAN?” Ju Hwan berteriak dari ruang keluarga.

Jin Ah menoleh ke belakang. Padahal di belakang tidak ada siapa-siapa, “Aku ingin menukar Min Ho denganmu, oppaaa!!”

Min Ho menundukkan kepalanya. Ia merasa tidak enak dengan Im Ju Hwan. Ingin rasanya ia memberi tahu Jin Ah bahwa ia adalah kakak kandung Jin Ah sendiri. Tapi waktunya belum tepat.

Jin Ah tertawa kecil sambil memutar balik kepalanya. Ia melihat Min Ho yang menundukkan kepala. Senyum di wajahnya dengan cepatnya hilang.

“Min Ho-yya, aku salah berharap ya?” kata Jin Ah.

“Ani,” Min Ho mengangkat mukanya, “Sama sekali tidak salah berharap. Sejujurnya aku juga ingin kau jadi adikku.”

“Ceongmal? Kalau begitu bagaimana kalau Ju Hwan oppa bertukar tempat denganmu??” Jin Ah terlihat begitu senang.

Min Ho tersenyum tipis. Matanya berkaca-kaca, “Tanya Ju Hwan hyung kalau begitu.”

“MASA AKU DIBUANG? AKU JUGA INGIN JADI ADIK MIN HO!” seru Ju Hwan begitu mendengar perkataan Min Ho.

“Boleh..” kata Min Ho.

Perkataan Min Ho membuat Jin Ah tergelak sendiri.

 

Tiga hari kemudian….

 

Shindong sedang membuat janji dengan Yoo Seung Ho dan Jang Woo Young serta Nichkhun bertemu di restoran China. Ia sudah sampai duluan. Jadi dia makan ramen duluan juga.

Sambil mengunyah apa yang di dalam mulutnya, dia melongok keluar dengan mengandalkan lehernya.

“Dimana mereka semua? Aku bisa memakan lima mangkuk ramen disini,” kata Shindong.

Bukan Yoo Seung Ho, atau Wooyoung, atau Nichkhun, yang muncul di restoran China itu adalah Lee Hyun Woo dan Krystal. Tentu saja dua sejoli itu mengenali Shindong dan Shindong juga mengenali mereka. Mereka adalah kaum tenar di SMA Daebak.

“Shin Dong Hee!” Lee Hyun Woo menghampiri Shindong.

Shindong tersenyum lebar  kepada Lee Hyun Woo, “Eo.. kalian kenapa ada disini?”

“Makan jjajangmyun,” kata Lee Hyun Woo.

“Tapi ini restoran China. Tidak ada jjajangmyun,” kata Shindong.

“Ada. Memang tidak masuk ke menu. Kami sudah berlangganan disini,” kata Lee Hyun Woo lagi, “Kami sering makan disini.”

“Berarti kalian sering kencan malam-malam?” Shindong menunjuk-nunjuk Krystal dan Hyun Woo.

“Tidak juga. Kadang-kadang makan siang juga disini,” kata Krystal, “Terus kenapa kamu disini?”

Shindong garuk-garuk kepala, “Aku janji ketemuan disini. Tapi mereka tidak muncul dari tadi. Aku menunggu mereka lebih dari satu jam,” lagi-lagi dia tersenyum lebar.

“Ketemuan dengan siapa?” Lee Hyun Woo penasaran.

“Yoo Seung Ho, Jang Woo Young, Nichkhun,” Shindong menjawab dengan muka sok polos.

“Eo? Mereka dari tadi ada di restoran China yang sebelah sana,” Krystal menunjuk sebuah restoran China yang berada di seberang keberadaan mereka.  

“MWO!?” Shindong langsung membanting sumpitnya ke meja dan berdiri.

Lee Hyun Woo dan Krystal langsung menatap Shindong aneh dan dengan sedikit takut. Kemudian mereka pergi dari situ, berharap tidak jadi bahan pelampiasan Shindong.

“Apa-apaan mereka? Aku sudah bilang di restoran China ini!” Shindong langsung menyambar jaketnya dan keluar. Namun, ia dicegat oleh ahjumma yang punya restoran. Ahjumma itu minta makanan yang dimakan Shindong di bayar. Namun Shindong hanya geleng-geleng.

“Ahjumma, apa tidak bisa kasihani aku dan memberikanku diskon?” kata Shindong.

“Andwae! Anakku saja kalau makan disini bayar! Cepat bayar!” si ahjumma itu tidak ingin kalah dengan Shindong.

Shindong menatap si ahjumma sebal. Lalu di merogoh saku celananya untuk mengambil dompet. Namun, dompetnya ketinggalan. Bagaimana ini?

 

 

“Akh… lama sekali Dong Hee!” Yoo Seung Ho terus melihat ke jam tangannya.

“Em.. apa kita pulang saja? Aku agak malas menunggu Shindong,” kata Wooyoung.

Nichkhun dan Yoo Seung Ho menatap Wooyoung. Lalu mereka berdua tertawa. Sementara Wooyoung hanya menatap mereka berdua secara bergantian dengan muka innocent-nya yang khas.

“Wae?” Wooyoung penasaran kenapa Nichkhun dan Yoo Seung Ho tertawa.

“Haha.. gwencana,” Nichkhun mengucek matanya, “Kalau disuruh menunggu Bae Sue Ji kau langsung bersemangat.”

Wooyoung membelalakkan matanya. Dia langsung salah tingkah, “Terserah kalian. Jinahsius Toxinisius udah meracuni kalian ternyata.”

“Apa? Jinahsius Toxin—blah! Apa?” Yoo Seung Ho kebingungan dengan istilah yang satu ini.

“Eo..!” Wooyoung manggut-manggut, “Jin Ah Toxin adalah nama pendeknya.”

Yoo Seung Ho menatap Nichkhun lalu menatap kembali manusia innocent Wooyoung. Ia lalu tertawa terbahak-bahak sendirian. Sementara Nichkhun dan Wooyoung bertukar pandang.

Pintu restoran dibuka dengan kasar oleh seseorang. Seung Ho, Nichkhun, dan Wooyoung langsung menengok ke arah pintu. Berharap Shindong lah yang muncul. Dan harapan itu terkabul.

“Doooong Heee-yyaaa!!” Seung Ho beranjak dari kursinya.

Shindong manyun dan langsung menyerbu trio tampan SMA Daebak dengan banyak pertanyaan.

“YYA! Sudah kubilang ke restoran China yang disana!” Shindong menunjuk-nunjuk restoran yang tadi ia kunjungi.

Nichkhun mengedip-ngedipkan mata. Satu kali, dua kali, beberapa kali, “Katanya restoran China-nya Kim In Jung. Ini Kim In Jung. Yang sana Jung In Sung.”

Shindong menyipitkan matanya. Lalu dia menunjuk-nunjuk lagi si restoran yang tadi ia kunjungi, “Yang sana Kim In—Jung In Sung?”

Yoo Seung Ho dan Wooyoung menepuk jidad berbarengan.

“Sudahlah, ayo duduk!” Nichkhun menggeret Shindong untuk duduk di sebelahnya.

Shindong menuruti perintah Nichkhun dan langsung saja duduk di sebelah Nichkhun. Bobot badannya membuat si kursi sedikit bergoyang karena Shindong membanting pantatnya. Ia masih kesal.

“Aku sudah makan banyak sekali di Restoran China Jung In Sung. Aku lupa membawa dompet lagi!” kata Shindong.

“MWO? Terus? Bagaimana?” Wooyoung penasaran dengan kisah selanjutnya.

“Em.. untung saja ada Lee Hyun Woo dan Krystal. Aku jadi bisa minta duit sama mereka, hehe..” Shindong cengar cengir.

“Eihh…,” Wooyoung mendecakkan lidah, “Sedang apa mereka disana?”

“Berhubung mereka adalah pasangan kekasih yang paling pas dan cocok–,” Shindong menatap Wooyoung dalam-dalam, “Mereka pacaran lah!”

“Terus, kenapa kau menatapku seperti itu?” Wooyoung mengedip-kedipkan mata. Dia tidak tahan melihat Shindong menatapnya dengan tatapan serius. Seperti Shindong akan menciumnya.

“Kapan ya, Wooyoung double date?” Shindong merubah tatapan seriusnya dengan tatapan nakal. Dia menepuk punggung Wooyoung berkali-kali. Dan dengan kasar Wooyoung menepis tangannya.

“Double date dengan siapa?” Wooyoung siap mental dengan jawaban Shindong. Dia merem-melek merem-melek.

“Dengan Nichkhun!” Yoo Seung Ho menyambar. Dia menunjuk-nunjuk Nichkhun yang akan meminum teh susu yang baru saja dipesan. Setelah ditunjuk Seung Ho, Nichkhun buru-buru meletakkan kembali cangkirnya.

“MWO? Aku tidak mau date dengan Wooyoung! Memangnya aku sudah tidak waras berkencan dengan seorang pria?” seru Nichkhun.

“Bukan. Bukan itu maksudku,” Yoo Seung Ho tertawa kecil, “Maksudnya, Wooyoung dengan Sue Ji, kau dengan Jin Ah.”

“Sue Ji lagi, Sue Ji lagi..” Wooyoung geleng-geleng.

Shindong melirik ke arah Nichkhun. Nichkhun tampak tersenyum kecil, lalu meneguk tiga tegukan teh susunya.

“Eng, ngomong-ngomong, Trio Permen Karet itu ‘kan Jin Ah, Sue Ji, lalu siapa lagi ya?” kata Yoo Seung Ho tiba-tiba, “Aduuh.. satu lagi siapa ya?”

“PARK JI YEON! Begitu saja lupa!” Shindong ngotot, “Kalau Wooyoung sama Sue Ji, dan Nichkhun sama Jin Ah, Ji Yeon berarti sama Min Ho.”

“Kok bisa Min Ho?” Wooyoung memasang muka oon.

“Oh my gosh!” Shindong memegangi kepalanya, “Kamu yang a-da-lah te-man ba-ik nya tidak tahu?”

Wooyoung geleng-geleng dengan gaya imut-nya yang khas.

“Begini.  Ji Yeon menyukai Min Ho dari SMP. Arrasseo?” kata Shindong kepada Wooyoung.

Wooyoung memutar bola matanya. Ia tampak mengingat-ingat, “Eo! Eo! Aku ingat sekarang!”

“Geureossae.. Tapi Min Ho pernah mengatakan kepadaku bahwa dia menyukai adiknya sendiri.”

“MWO?” Yoo Seung Ho hampir saja melompat dari kursinya, “Setahuku dia tidak punya adik. dia anak tunggal.”

“Mungkin anak pamannya?” Nichkhun menebak-nebak, “Tapi mana mungkin seorang kakak menyukai adiknya sendiri?”

“AKU MENDENGARNYA SENDIRI! MIN HO MENCERITAKANNYA KEPADAKUU!!” Shindong ngotot lagi.

Dengan sigap, Wooyoung menutup mulut Shindong sebelum Shindong sendiri melontarkan kata-kata ngotot lagi. Juga sebelum semua pengunjung Restoran China ini menoleh ke arah F4 abal-abal SMA Daebak. Namun, dengan sigap juga, Shindong melepaskan tangan Wooyoung dari mulutnya.

“BAH!” Shindong menjulurkan lidahnya, “Kau habis pegang apa sih? Rasanya pahit!”

“Mianhae. Aku baru saja menggaruk ketiakku,” Wooyoung berbohong.

“MWO?!” secepat kilat, Shindong pergi ke kamar mandi.

Smentara Shindong lari terbirit-birit ke kamar mandi, Wooyoung, Nichkhun, dan Yoo Seung Ho terbahak-bahak. Ini bisa dijadikan program diet Shindong.

“Apa benar kau habis menggaruk ketiakmu, Wooyoung-a?” tanya Nichkhun.

“Ani,” Wooyoung geleng-geleng.

__________________________________________

nah loh, ending setiap part-nya enggak ngeeh banget kan?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s