Grade 2-2 Part 17

ImageTitle : Grade 2-2

Author : Atika Razan (JBSung)

Length : Parted (10 Parts)

Genre : School, Romance, Comedy *huaah*

CAST :

  • Nana After School      : Im Jin Ah
  • Nichkhun 2PM           : Nichkhun B. Horvejkul
  • Minho SHINee                        : Choi Min Ho
  • Victroria f(x)               : Song Qian
  • Jiyeon T-Ara               : Park Ji Yeon
  • Yoo Seung Ho
  • Suzy Miss A                 : Bae Sue Ji
  • Wooyoung 2PM         : Jang Wooyoung

OTHER :

  • Jung So Min
  • Shindong : Shindong (Shin Dong Hee)
  • Sun Ye : Min Sun Ye
  • T.O.P. : Choi Seung Hyun
  • Donghae : Lee Dong Hae
  • Eunjung : Ham Eun Jung
  • Yesung : Kim Joong Won
  • Krystal Jung
  • Sulli
  • Lee Hyun Woo
  • Lee Tae Sung
  • UEE : Kim You Jin
  • Park Jin Young
  • Baek Ji Young
  • Go Ha Ra

Themesong :

  • Love Love Love – Epik High
  • I Can’t – 2PM
  • Is This Love – BoA
  • Fallin’ – BoA
  • My Angel – Fly To The Sky
  • Mot Gah – Brown Eyed Girls

 

……..

 

Shindong POV

BRAK! Aku baru saja keluar dari toilet pria. Fuh.. rasanya agak segar mukaku terkena air. Untung saja, aroma ketiak Jang Woo Young tidak menyebar ke seluruh tubuh.

“Sialan, Jang Woo Young!” umpatku, “Ketiak atau apa sih? Baunya ya ampuunn..”

Karena sibuk mengumpat, aku menabrak seorang wanita yang baru saja keluar dari toilet wanita. BRUK! Wanita itu tersungkur di lantai. Untung dia tidak memantul lebih jauh setelah menabrakku.

“Tidak apa-apa, aggasi?” aku membantu wanita itu berdiri.

Ketika wanita itu mendongak, aku kaget setengah mati. Dia Jung So Min.

“Shindong-a?” So Min tertawa, “Kenapa kau disini?”

Aku gugup. So Min sangat manis ketika tertawa, “Berkumpul dengan Nichkhun, Yoo Seung Ho, dan—“

“Ada Woo Young?” So Min langsung memotong perkataanku.

Aku menoleh sebentar ke lain arah, “Ada. Kenapa kau—“

“WUAA!! ASYIIKK!! Aku mau kesana ah!”

“Jjakkaman!” aku menarik lengannya, “Kau sedang apa disini?”

So Min menunjuk wajahnya, “Aku? Oh.. aku ingin menemani Qian disini.”

Aku manggut-manggut sambil melepaskan tangannya, “Ajak Song Qian gabung bersama kami!”

So Min tampak menimbang-nimbang, “Boleh juga. Oke, akan ku ajak dia. Kau tunggu disana bersama geng-mu dan aku akan kesana bersama Song Qian. Annyeong!”

So Min berlari kecil ke arah Song Qian yang duduk di ujung ruangan. Sementara aku hanya memperhatikannya, “Annyeong..”

Shindong POV end

 

Nichkhun POV

Kini, di depanku duduklah dua orang gadis yang sudah sangat aku hafal. Tidak mungkin aku lupa mereka karena merekalah yang sering membuat trouble dimana saja, kapan saja, dan dengan siapa saja.

Song Qian tampak duduk dengan badan tegap. Tampaknya ia gugup duduk di depan kami berempat –aku, Shindong, Wooyoung, dan Yoo Seung Ho-. Tapi kelihatan, ia berusaha menutupi ekspresi gugupnya itu. Sementara Jung So Min? Dia duduk dengan santai di hadapan kami. Ia malah menaikkan satu kakinya ke atas kursi restoran. Kami sudah tidak kaget dengan perilakunya yang satu itu. Sudah biasa melihatnya.

“So Min-a, bisakah kau turunkan kakimu? Ini tempat umum,” bisik Qian kepada So Min.

So Min menoleh ke arah Qian yang sama sekali tidak menatapnya saat berbicara kepadanya.

“Em, So Min-a!” Wooyoung menyetujui teguran Qian, “Turunkan kakimu!”

So Min melihat ke arah Wooyoung, lalu dia menurunkan kakinya, “Eo, eo..”

Aku melihat ke arah Qian. Dia meletakkan wajahnya di atas tangannya. Ia sedang memperhatikan Yoo Seung Ho yang sedang asyik dengan Shindong. Lalu dia menghembuskan nafas pelan-pelan. Dan tak kusangka, dia menoleh ke arahku. Sontak, aku membuang pandanganku ke arah So Min.

“So Min-a, kenapa kau kesini?” tanyaku kepada So Min.

“Eo, kau tahu kenapa Sulli tidak kelihatan akhir-akhir ini?” kata So Min kepadaku. Ia tampak antusias.

“Sulli yang mana?” aku bingung.

“Sulli ya…. Choi Sulli,” kata So Min, “Adiknya Donghae sunbae.”

Mendengar nama Donghae, aku jadi tidak berselera mendengar cerita Jung So Min. Aku juga sebenarnya penasaran kenapa Sulli tidak kelihatan. Walaupun aku tidak tahu Sulli seperti apa anaknya.

“Nichkhun-a, mau dengar tidak?” So Min sedikit berteriak.

“Eo. Malhae..” kataku.

“Dia sudah tidak pernah masuk sekolah dari tiga hari yang lalu.”

“Wae?” Wooyoung dan Shindong antusias.

“Kalau kudengar-dengar—“ So Min sedikit mendekatkan wajahnya ke arah Wooyoung dan Shindong. Tapi dia lalu menjauhkan mukanya lagi dan menepuk pahanya, “TAPI KALIAN JANGAN BILANG BILANG!”

Wooyoung dan Shindong menarik kembali wajah mereka yang hampir di atas meja, “EOOO!!”

“Begini, kawan-kawan satu angkatan dan satu hati,” So Min berdehem, “Sulli habis menyiram air dari laboratorium Science.”

“Menyiram kemana?” Yoo Seung Ho ikut-ikutan antusias.

So Min melirik sedikit ke arah Yoo Seung Ho. Dia lalu melihat ke arah Shindong dan Wooyoung lagi, “Menyiram ke arah Go Ha Ra sunbae.”

“MWOO?” Wooyoung menepuk pahanya menirukan So Min tadi.

“Untung saja, ada Donghae sunbae yang melindungi Go Ha Ra sunbae dengan payuung.. oh so sweet!” lanjut So Min.

“Ha Ra sunbae kan suka Donghae sunbae. Benar ‘kan?” kata Wooyoung sambil menunjuk-nunjuk So Min.

“Jauhkan tanganmu dari wajahku!” So Min menepis tangan Wooyoung yang ada di depan wajahnya, “Eo. Sepertinya begitu. Aku sering melihat Ha Ra sunbae mengekor Donghae sunbae dan Jong Woon sunbae.”

Aku manggut-manggut, “Lalu, Donghae sunbae mengetahui bahwa yang menyiram air itu Sulli?”

“Eo. Kau tahu, Donghae sunbae langsung menghajar Sulli begitu sampai di rumah,” So Min memasang muka sedih.

“Bagaimana kau tahu itu?” Seung Ho yang penasaran mulai menginterogasi So Min.

“Aku—tahu dari Krystal, hehe..” So Min menyengir, “Sulli bercerita kepada Krystal. Tapi aneh.”

“Aneh apanya?” Shindong lebih penasaran dari Seung Ho.

“Sulli menyuruh Krystal untuk tidak menceritakan kisah tadi ke orang lain. Tapi Krystal malah bercerita kepadaku. Dan—“

“Dan kau sekarang bercerita kepada kami,” kata Qian.

Aku, Wooyoung, Shindong, Seung Ho dan juga So Min menoleh ke arah Song Qian. Benar! So Min baru saja menceritakan hal yang tidak boleh kami dengar. Tapi, sudah terlanjur kami dengar.

“Oh iya. Aku sedang menceritakannya kepada kalian…!!” So Min pura-pura panik, “Tapi gwencana. Kalian kan penasaran. Aku juga antusias menceritakannya kepada kalian.” Ia mengubah mimik wajahnya yang tadinya panik menjadi ceria seperti semula, “Keuchi?”

Aku menimbang-nimbang. Ada yang aneh dengan Krystal. Ia teman baik Sulli. Tapi kenapa dia mengkhianati Sulli yang adalah teman baiknya sendiri? Sulli memberitahu Krystal agar tidak memberitahukan kejadian itu kepada orang lain. Tapi kenapa Krystal menceritakannya kepada So Min?

“So Min-a, kau minta diceritakan atau Krystal langsung memberitahumu?” tanyaku kepada Jung so Min.

“Dia langsung menceritakan itu kepadaku. Molla, dia dan aku tidak begitu dekat. Tapi waktu itu dia menceritakannya kepadaku sambil merangkulku,” kata So Min.

Aku menimbang-nimbang lagi. Jangan-jangan, Krystal ingin membuat Sulli ‘jatuh’ lewat So Min yang tukang gosip ini! Semua warga SMA Daebak tahu kalau seorang Jung So Min adalah heboh-ers yang suka gosip dan bikin ulah. Sebuah rahasia yang ia ketahui, pasti akan bocor ke tangan orang lain.

Mungkin benar. Krystal ingin mendapatkan sesuatu dari Sulli, makanya ia menjatuhkan Sulli seperti ini.

“So Min-a,” Seung Ho memanggil So Min.

Aku menoleh ke arah Seung Ho begitu juga So Min. Bagaimana bisa aku dan Seung Ho punya telepati? Aku tadi akan memanggil So Min. Begitu aku akan membuka mulut, Seung Ho malah memanggil So Min duluan.

“Jangan ceritakan ini kepada siapapun lagi,” kata Seung Ho kepada So Min dengan tatapan serius.

So Min diam sebentar. Lalu dia mengangguk, “Eo.”

Begitu So Min mengangguk, Seung Ho langsung melihat ke arahku. Lalu dia tersenyum kecil kepadaku. Agaknya, kami berdua memang punya telepati.

Nickhun POV end

 

Esoknya…

 

Author POV

di ruang kesenian..

“Besok, kau harus membawa semua peralatan yang diperlukan. Ingat, kau hanya punya waktu tiga jam untuk merekam lagumu itu. Apa judul yang cocok?” kata Jong Woon sambil beres-beres kursi ruang kesenian.

“Emm.. mollayo. Aku masih belum menemukan yang pas. Reff-nya saja masih belum aku beri lirik. Mungkin nanti malam ada ilham,” kata Jin Ah sambil menggendong tas-nya.

“Ah.. apa kita harus konsultasi ke Lee Dong Hae?” kata Jong Woon. Membuat Jin Ah terkejut.

“Donghae sunbae?”

“Eo,” Jong Woon manggut-manggut, “Dia paling bagus dalam bidang lirik.”

“Kapan mau konsultasi?” Jin Ah terdengar sedikit gugup.

“Sepulang sekolah ke rumah Donghae. Sekalian aku ingin melihat keadaan Sulli.”

“Benar! Sulli! Dia tidak masuk sekolah akhir-akhir ini. Kenapa ya?” Jin Ah bertepuk tangan.

“Nanti kita lihat.”

Author POV end

 

Jin Ah POV

Begitu keluar dari ruang kelas, Kim Jong Woon sunbae sudah ada di depan Grade 2-2. Aku agak terkejut karena baru pertama kali ditunggu seorang sunbae. Apalagi sunbae laki-laki. Tapi, sebelum aku menghampiri Jong Woon sunbae, Choi Min Ho memanggilku.

“Jin Ah-yya, ayo pulang bersama-sama!” Min Ho mengajakku.

“Pulang bersama Park Ji Yeon, Min Ho-yya. Aku ada urusan. Nanti aku bisa pulang sendiri,” kataku sambil melirik ke arah Ji Yeon yang senyam-senyum kepadaku.

“Aku bisa mengantarnya, Choi Min Ho. Jangan khawatir!” seru Jong Woon sunbae, “Ayo Im Jin Ah!”

“Ne..” aku menghampiri Jong Woon sunbae.

Kami berdua berjalan ke arah parkiran motor. Jong Woon sunbae menaiki motornya terlebih dahulu dan memakai helm-nya. Lalu dia memberikan sebuah helm kepadaku. Tanpa berkata apa-apa lagi, aku menerima helm itu dan mengenakannya dengan sangat hati-hati di kepalaku. Setelah itu, aku duduk di belakang Kim Jong Woon sunbae.

“Siap?” tanya Jong Woon sunbae kepadaku sambil menoleh sedikit ke belakang.

“Ne..” jawabku.

Berangkatlah kami ke rumah Lee Dong Hae sunbae dan Choi Sulli.

Jin Ah POV end

 

Donghae POV

Sudah beberapa hari ini, melihat Sulli murung di kamar. Kalau tidak di kamar, dia pasti hanya keluar untuk mengambil minum atau snack. Tapi dia kembali ke kamar lagi. Apa dia masih kecewa kepadaku?

Sudah kuputuskan untuk mendekati Sulli kali ini. Aku mengetuk pintu kamar Sulli dengan hati-hati awalnya. Namun, sudah beberapa kali aku mengetuk tidak ada jawaban, aku langsung membuka pintu kamarnya itu.

“Mwoaneun goya!” Sulli membentakku begitu aku muncul di ambang pintu.

“Sulli-yya, mari kita bicara,” kataku sambil mendekatinya.

“Siapa kau?! Aku tidak mau bicara dengan orang sepertimu!” Sulli menghardikku.

Aku tertegun melihat tingkah laku Sulli yang kasar terhadapku, “Wae Sulli-yya?”

“KAU BUKAN OPPA-KU! PERGI!” Sulli menjerit sambil menutupi kupingnya.

“Sulli-yya, apa kau masih kecewa denganku? Hentikan itu. Mianhae..”

Sulli mulai menangis. Dia menutupi mukanya dengan kedua telapak tangannya.

Di tengah-tengah suasana ini, aku mendengar bel tamu berdering. Dengan gontai, aku turun ke lantai dasar untuk melihat siapa tamu yang datang kali ini.

“Lee Dong Hae! Aku Kim Jong Woon!”

…..

“Jadi, kami kemari untuk mendengar pendapatmu tentang ini..” Jong Woon menyerahkan sehelai kertas kepadaku. Aku hanya bisa menatap kertas itu dengan tatapan aneh.

“Apa ini?” aku menerima secarik kertas itu.

“Lagu Im Jin Ah,” Jong Woon menyenggol Jin Ah, “Untuk lomba besok.”

“Ohh…” aku tersenyum kecil. Aku mulai membaca liriknya dengan serius. Lirik yang Jin Ah tulis memiliki perasaan yang sangat dalam. Terutama lirik ‘Nae apae inneun neo’, “Untuk siapa lagu ini?”

Jin Ah mendongak. Dia tersenyum tipis, “Bukan untuk siapa-siapa.”

“Benarkah? Tapi disini—kau seperti menggambarkan perasaanmu kepada seseorang. Siapa itu?” Donghae memaksa.

Jin Ah melipat bibirnya. Ia terlihat menimbang-nimbang. Katakan? Tidak. Katakan? Tidak.

“Jin Ah-yya, untuk siapa lagu itu?” Jong Woon bertanya kepada Jin Ah. Mengulangi pertanyaan Donghae.

“Eng..,” Jin Ah ragu untuk mengatakannya. Sebenarnya ada seseorang yang ia maksud. Tapi dia tidak berani mengatakannya di depan Donghae.

Author POV end

 

Jin Ah POV

“Jin Ah-yya, untuk siapa lagu itu?” Jong Woon sunbae bertanya kepadaku. Mengulangi pertanyaan Donghae sunbae.

“Eng..,” Aku ragu untuk mengatakannya. Sebenarnya ada seseorang yang aku maksud. Tapi aku tidak berani mengatakannya di depan Donghae sunbae.

Sulli dan Krystal pasti sudah memberitahu Donghae sunbae tentang perasaanku kepada Donghae sunbae. Aku menyukai Donghae sunbae. Tetapi, berapa besar perasaanku terhadapnya tidak akan lebih besar dari Nichkhun.

 

“Annyeong!” sapa Sulli.

“Annyeong!!” balas Ji Yeon, Sue Ji, dan aku.

Sulli melihat apa yang ditenteng olehku. Ia sudah menebaknya.

“Uoohh.. sarapan untuk Donghae oppa lagi?” tanya Sulli kepadaku.

Aku manggut-manggut, “Eum..”

“Kau—menyukai Donghae oppa,’kan?” tanya Sulli lagi.

Aku diam. Tapi mana bisa aku tidak menjawab pertanyaan adik Lee Dong Hae sunbae?

“Dia.. harus aku akui sangat tampan,” kataku malu-malu, “Bagaimana mungkin aku tidak menyukainya?”

 

Sejak pulang dari Busan, aku memang jadi terpesona oleh Donghae sunbae. Bahkan aku jadi lupa tentang segalanya. Tentang proyek percomblangan Sue Ji dan Woo Young, atau membantu Ji Yeon untuk lebih akrab dengan Min Ho. Tapi satu-satunya hal yang tidak dapat pergi dari otakku adalah Nichkhun.

Aku menyukai dua orang. Itu sangat lucu. Dua orang yang membuatku bingung. Nichkhun adalah satu-satunya orang yang membuatku selalu sabar menunggu kepastian, dan Donghae sunbae juga satu-satunya orang yang bisa membuatku berhenti menunggu untuk sejenak.

PRAANG!! Suara itu membuatku berhenti melamun. Hampir saja aku melompat dari kursi saking kerasnya suara itu. Seperti ada sesuatu yang jatuh dan kemudian pecah.

Donghae sunbae langsung beranjak dari kursinya dan berlari ke lantai atas. Karena penasaran, aku dan Jong Woon sunbae mengikuti Donghae sunbae ke lantai atas.

“Apa itu, Sulli-yya?!” Donghae sunbae bertanya dari kejauhan kepada Sulli yang ada dikamarnya.

Kulihat wajah Donghae sunbae menunjukkan keterkejutan ketika berdiri di ambang pintu kamar Sulli yang terbuka. Segera, aku dan Jong Woon sunbae berdiri di samping Donghae sunbae untuk melihat apa yang terjadi.

“KA!!” Sulli membentak ketika aku dan Jong Woon sunbae muncul di ambang pintu.

Ternyata suara tadi berasal dari guci cina. Sekarang guci cina itu sudah menjadi keping-keping kaca yang berserakan di lantai kamar Sulli. Begitu terkejutnya aku ketika Sulli mengambil salah satu kepingan tajam guci cina tadi dan mendekatkannya ke pergelangan tangannya sendiri.

“SULLI-YYA! CEPAT LETAKAN!” Donghae sunbae panik ketika melihat Sulli melakukan itu. Dia mendekat ke arah Sulli.

“Jangan dekat-dekat!!” jerit Sulli begitu Donghae bergerak mendekat ke arahnya, “Atau aku akan memutus urat nadiku sendiri!”

“Sulli-yya—“ suara Jong Woon sunbae bergetar setelah mendengar Sulli mengatakan itu.

Sulli tampak menoleh ke arah Jong Woon sunbae sebentar dan lalu menatap sinis ke arahku. Sungguh aku tidak tahu apa yang terjadi dengan Sulli atau apa yang sudah aku perbuat kepadanya sehingga dia menatapku sinis.

“NEO!” Sulli menunjukku dengan pecahan guci yang tadi ia pegang, “Pergi sekarang juga dari hadapanku!”

Aku merasa tertuduh. Kenapa Sulli menagatakan itu kepadaku?

“JANGAN PERNAH KAU MUNCUL DI HADAPANKU SEKALI LAGI! Atau..,” Sulli berteriak. Jong Woon sunbae mencoba untuk mendekatinya.

“Sulli-yya, letakkan yang kau pegang itu—“ kata Jong Woon sunbae kepada Sulli.

“Kau juga, Jong Woon oppa!” Sulli ganti menatap Jong Woon sunbae sinis, “Kau… jangan muncul di hadapanku lagi!”

Donghae sunbae merangkak mendekati Sulli. Dia mencoba merebut apa yang Sulli pegang. Namun, Sulli mengetahuinya.

“Donghae oppa,” kali ini suara Sulli sedikit pelan, “Kau tahu? Hatiku sangat sakit ketika kau mengatakan bahwa aku bukan adikmu lagi.”

“Aku tarik perkataanku. Jangan dimasukkan ke dalam hati, Sulli-yya. Sekarang kau—“

“Eo, perkataanmu benar. Kini aku tahu kenapa marga kita beda, Donghae oppa. Aku—anak pungut. Iya’ kan?”

“Mwo?” Donghae sunbae menyipitkan matanya.

Jin Ah POV end

 

Sun Ye POV

Aku berjalan di koridor rumah sakit dengan gontai. Ayah dan ibu Seung Hyun baru saja pulang. Ini sudah larut malam. Aku disuruh pulang oleh mereka. Tetapi entah kenapa aku masih ingin disini, melihat Choi Seung Hyun.

Begitu berdiri di depan pintu kamar rawat Seung Hyun, aku langsung membuka pintunya dengan perlahan. Aku melihat, Seung Hyun masih terbaring di ranjangnya. Kamar ini gelap. Tapi aku tidak ingin membuatnya bangun dari tidurnya sehingga kubiarkan saja lampunya mati.

Aku masuk dan menutup pintunya kembali. Lalu aku duduk di samping ranjang Seung Hyun.

Seung Hyun, belum bisa mengenaliku. Tapi dia baik terhadapku. Dia memanggilku MinMin karena dia suka mendengar margaku, Min. Min Sun Ye.

Wajah Seung Hyun sangat tampan ketika sedang tidur. Dia seperti tersenyum ketika menutup matanya seperti sekarang ini. Tapi, tidak lama, ekspresinya berubah drastis. Dia mengernyitkan dahinya. Sepertinya dia bermimpi buruk. 

“MinMin-a,” Seung Hyun bangun dari tidurnya.

“Ommo! Mianhae. Aku mengganggu tidurmu! Aku seharusnya lebih pelan-pelan kesini,” aku panik ketika melihatnya bangun.

“Aku.. bermimpi.”

Aku tertegun. Benar apa yang aku pikirkan, “Mimpi apa itu?”

“Aku tidak ingat pasti,” Seung Hyun mencoba untuk duduk di tepi ranjang.

“Kau tiduran saja,” kataku. Dan dia menurutiku, “Ceritakan kepadaku mimpimu.”

“Aku—bermimpi tentang seorang gadis.”

“Gadis?” Aku sangat berharap.

“Eo,” Seung Hyun manggut-manggut, “Tapi aku tidak mengenali wajahnya.”

Aku mendengus, “Oh.. ceritakan lagi. Aku penasaran!”

Seung Hyun menoleh ke arahku, dan dia tertawa kecil, “Apa kau sebegitu penasarannya?”

Aku mengangguk, “Apa lucu kalau aku penasaran?”

“Sedikit. Kau imut.”

“Mwoya?” aku sedikit senang ketika dibilang imut.

“Gadis itu sedang berdiri di seberang jalan,” Seung Hyun mulai bercerita, “Dan aku seperti bahagia sekali melihatnya. Aku ingin mendekatinya, tapi dia malah pergi begitu saja.”

Jangan-jangan gadis itu adalah…

“Dia meninggalkanku selagi aku menyeberang jalan. Aku tidak bisa meneriakkan namanya. Kemudian aku mencoba menyeberang lebih cepat dan aku seperti jatuh ke jurang.”

Aku mengernyitkan dahi, “Aneh.”

“Mwo?”

“Mana ada jurang di tengah jalan?” aku tertawa. Dipaksakan.

“Iya. Makanya aneh. Setelah itu aku bangun dan melihatmu disini, MinMin-a!”

“Kau takut atau bagaimana setelah bangun dari mimpi itu?” tanyaku.

“Aku takut. Tapi setelah melihatmu, rasa takut hilng seketika. Rasanya, aku seperti sudah mendapatkan si gadis di mimpi tadi. Lega.”

Aku menelan ludah. Jangan-jangan gadis itu adalah aku.

Sun Ye POV end

 

Author POV

Jin Ah masuk ke kamar begitu pulang dari rumah Donghae. Dia langsung saja tiduran di ranjangnya, tanpa menutup pintu terlebih dahulu. Ayahnya, muncul di ambang pintu.

“Aboji!” Jin Ah bangkit duduk di tepi ranjang.

“Eo wae?” Tuan Im mendekat ke arah Jin Ah.

“Apa aku harus mundur dari kompetisi?” Jin Ah menatap lurus ke arah pintu.

“Waee??” Tuan Im ikut-ikutan menatap si pintu.

“Choi Sulli, menginginkan posisiku. Ternyata,” Jin Ah tersenyum tipis.

“Posisi apa?”

“Hhh…” Jin Ah melirik sinis ke arah Tuan Kim, “Posisi wakil SMA Daebak untuk kompetisi komposing laguu!”

Tuan Im cemberut, lalu tertawa kecil, “Ohh.. kenapa kau harus mundur? Kenapa kau harus mengalah?”

“Aboji,” Jin Ah mulai berbicara serius, “Aku sudah terlalu menyakiti Sulli.”

Tuan Im mendengarkan Jin Ah dengan seksama.

“Donghae sunbae mengulas kembali hubungannya dengan Sulli di depan Sulli sendiri karena aku,” kata Jin Ah.

“Apa hubungan mereka?” Tuan Im bingung.

“Mereka kakak adik angkat. Bukan kandung.”

Tuan Im tertegun. Kasus itu sama persis seperti kasus Im Ju Hwan dan Im Jin Ah, anaknya yang sedang berbicara di depannya ini. Karena merasa tertuduh, Tuan Im batuk-batuk. Dadanya sesak seketika. Karena itu, Jin Ah terkejut.

“Aboji, gwencanayyo?” Jin Ah menepuk-nepuk punggung Tuan Im.

Tuan Im mengelus-elus dadanya begitu batuknya mereda, “Gwencana. Sesak nafas.”

“Jjeongmalyyo? Sesak nafas? Waeyo?” Jin Ah panik.

“Memang seperti itu. Aku terlalu keras bekerja di pabrik. Jadi, mungkin sesak nafas biasa. Tidak masalah..” Tuan Im tertawa kecil.

Jin Ah masih mencerna perkataan ayahnya. Bekerja terlalu lama di pabrik? Iya, memang begitu. Tetapi bekerja di pabrik memang bisa menyebabkan sesak nafas. Dan tidak hanya sesak nafas. Pasti ada penyakit.

Itu pasti.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s