Grade 2-2 Part 18

Image

Title : Grade 2-2

Author : Atika Razan (JBSung)

Length : Parted

Genre : School, Romance, Comedy *huaah*

CAST :

  • Nana After School      : Im Jin Ah
  • Nichkhun 2PM           : Nichkhun B. Horvejkul
  • Minho SHINee            : Choi Min Ho
  • Victoria f(x)                : Song Qian
  • Jiyeon T-Ara               : Park Ji Yeon
  • Yoo Seung Ho
  • Suzy Miss A               : Bae Sue Ji
  • Wooyoung 2PM         : Jang Wooyoung

OTHER :

  • Jung So Min
  • Shindong : Shindong (Shin Dong Hee)
  • Sun Ye : Min Sun Ye
  • T.O.P. : Choi Seung Hyun
  • Donghae : Lee Dong Hae
  • Eunjung : Ham Eun Jung
  • Yesung : Kim Joong Won
  • Krystal Jung
  • Sulli
  • Lee Hyun Woo
  • Lee Tae Sung
  • UEE : Kim You Jin
  • Park Jin Young
  • Baek Ji Young
  • Go Ha Ra

Themesong :

  • Love Love Love – Epik High
  • I Can’t – 2PM
  • Is This Love – BoA
  • Fallin’ – BoA
  • My Angel – Fly To The Sky
  • Mot Gah – Brown Eyed Girls

“MWO? SULLI-YYA SULLI??” Jung So Min menggebrak meja begitu Ji Yeon mengatakan tentang mundurnya Jin Ah dari perlombaan komposing lagu.

Ji Yeon menutup matanya rapat-rapat ketika So Min berteriak di depan mukanya, “E-eoo..”

So Min melipat tangannya di dada lalu kemudian menghembuskan nafasnya keras-keras, “Teganya Im Jin Ah..”

Sue Ji tampak tidak terima mendengar perkataan So Min, “Tega bagaimana?”

Ji Yeon melirik ke arah Sue Ji, kemudian dia menatap So Min, “Eo, tega bagaimana?”

So Min memandangi dua teman sekelasnya itu. Ji Yeon dan Sue Ji. Lalu ia mendecakkan lidah, “Jin Ah tega sekali mengundurkan diri. Padahal  jika dia mewakili Daebak dan menang sampai nasional bahkan internasional, Grade 2-2 atau bisa saja Daebak dan Korea Selatan harum namanya.”

Ji Yeon menimbang-nimbang, “Benar juga. Berarti kesimpulannya Im Jin Ah itu keterlaluan.”

“MWORAGOO?” Sue Ji juga tidak terima apabila Jin Ah dibilang keterlaluan. Apalagi oleh Ji Yeon, sahabatnya sendiri dan juga sahabat Jin Ah, “Apa yang kau katakan tadi?”

“Jin Ah keterlaluan. Choi Sulli ‘kan anak Grade 2-1. Dan Grade 2-1 sudah banyak mewakili lomba-lomba,” kata Ji Yeon kepada Sue Ji.

“Tapi dia tidak keterlaluan. Dia rendah hati menyerahkan posisinya kepada Sulli!” Sue Ji ngotot.

“Dia mencampakkan kita berdua, dan serius dengan lagunya serta Kim Jong Woon sunbae kau masih saja membelanya? Belum juga, dia jika mengirim pesan kepada kita pasti tentang Nichkhun atau Donghae sunbae!” Ji Yeon lebih ngotot.

“Keumanhae, Ji Yeon-a. Jujur aku memang merasa dicampakkan. Aku diacuhkan. Jin Ah memang lebih memilih Nichkhun atau lagunya atau Jong Woon sunbae dan Donghae sunbae. Tapi kita berdua sahabatnya. Lagipula..”

“Lagipula apa? Kalau aku bilang dia keterlaluan ya keterlaluan!”

“PARK JI YEON!”

“Sue Ji-yya, sebaiknya kau yang sadar. Kita harus meninggalkan Jin Ah lebih dulu sebelum kita dilukai seperti Eun Jung eonni mungkin? Atau Ha Ra sunbae? Sulli? Lee Hyun Woo?”

“Eo?” Sue Ji menyipitkan matanya, “Dosa apa yang dilakukan Jin Ah kepada orang-orang tadi—“

“Jin Ah sudah menyakiti hati banyak orang. Sebentar lagi, yang akan tersakiti itu kita berdua, Sue Ji-yya..”

So Min memandangi Ji Yeon dan Sue Ji yang kini adu mulut secara bergantian. Dia garuk-garuk kepala karena bingung bagaimana cara menghentikan adu mulut ini. Dia menoleh ke belakang.

“Jin Ah-yya..” So Min terkejut ketika melihat Jin Ah berdiri di ambang pintu Grade 2-2.

Jin Ah tersenyum kecil ke arah So Min. Matanya panas setelah mendengar perseteruan Sue Ji dan Ji Yeon. Rasanya ia ingin menangis, tapi apakah seorang gadis keterlaluan pantas untuk menangis? Menangis hanya karena mendengar dua orang yang paling penting di kehidupan adu mulut saja, bukankah itu keterlaluan?

Sue Ji dan Ji Yeon melihat ke arah pintu. Mereka berdua sama-sama terkejut. Ji Yeon langsung menutup mulutnya begitu Jin Ah tersenyum kepadanya.

“Jin Ah-yya, apa kau—“ Sue Ji hampir berbisik.

Jin Ah mengelap hidungnya yang basah dengan seragam bagian lengan miliknya, “Mianhae..”

Ji Yeon melepaskan tangannya sendiri dari mulutnya, “Mianhae, Jin Ah-yya. Bukan begitu maksudku.”

Jin Ah menatap ke langit-langit kelas. Takut menangis, makanya dia menahan air mata dengan cara menengadahkan muka ke atas. Lalu dia melihat ke arah Sue Ji dan Ji Yeon, lalu So Min, “Aku memang keterlaluan. Aku egois. Aku hanya mementingkan diri sendiri. Dan—“

“Ani, Jin Ah-yya. Bukan begitu—“ Sue Ji menghampiri Jin Ah.

“Mianhae sekali lagi..” Jin Ah pergi dari situ secepatnya.

Author POV end

 

Jin Ah POV

Aku merasa lebih baik setelah menangis di kamar mandi. Begitu selesai menangis, aku langsung cuci muka dan pergi ke UKS. Aku sudah meminta Woo Young untuk mengatakan kepada guru Jang bahwa aku pusing tiba-tiba.

Di UKS ini, aku sendirian. Aku duduk di tepi ranjang sambil melihat-lihat sekeliling ruangan kecil ini.

 

“Jin Ah keterlaluan. Choi Sulli ‘kan anak Grade 2-1. Dan Grade 2-1 sudah banyak mewakili lomba-lomba,” kata Ji Yeon kepada Sue Ji.

“Tapi dia tidak keterlaluan. Dia rendah hati menyerahkan posisinya kepada Sulli!” Sue Ji ngotot.

“Dia mencampakkan kita berdua, dan serius dengan lagunya serta Kim Jong Woon sunbae kau masih saja membelanya? Belum juga, dia jika mengirim pesan kepada kita pasti tentang Nichkhun atau Donghae sunbae!” Ji Yeon lebih ngotot.

“Keumanhae, Ji Yeon-a. Jujur aku memang merasa dicampakkan. Aku diacuhkan. Jin Ah memang lebih memilih Nichkhun atau lagunya atau Jong Woon sunbae dan Donghae sunbae. Tapi kita berdua sahabatnya. Lagipula..”

“Lagipula apa? Kalau aku bilang dia keterlaluan ya keterlaluan!”

“PARK JI YEON!”

“Sue Ji-yya, sebaiknya kau yang sadar. Kita harus meninggalkan Jin Ah lebih dulu sebelum kita dilukai seperti Eun Jung eonni mungkin? Atau Ha Ra sunbae? Sulli? Lee Hyun Woo?”

“Eo?” Sue Ji menyipitkan matanya, “Dosa apa yang dilakukan Jin Ah kepada orang-orang tadi—“

“Jin Ah sudah menyakiti hati banyak orang. Sebentar lagi, yang akan tersakiti itu kita berdua, Sue Ji-yya..”

 

Otakku sudah merekam semua yang dikatakan Ji Yeon dan Sue Ji. Apalagi yang ini :

 

“Sue Ji-yya, sebaiknya kau yang sadar. Kita harus meninggalkan Jin Ah lebih dulu sebelum kita dilukai seperti Eun Jung eonni mungkin? Atau Ha Ra sunbae? Sulli? Lee Hyun Woo?”

 

Eun Jung eonni, mungkin aku memang menyakitinya. Aku sudah berusaha sekuat mungkin untuk melupakan Nichkhun yang waktu itu pacarnya. Dan aku hampir berhasil ketika Donghae sunbae datang ke kehidupanku.

Go Ha Ra sunbae. Aku tidak tahu persis kenapa dia berubah menjadi pendiam jika di sekolah. Dulu, Ha Ra sunbae paling mencolok jika rombongan sunbae berjalan di kantin. Tapi sekarang, Ha Ra sunbae jarang terlihat di kantin. Aku tidak tahu jika yang merubahnya jadi seperti itu adalah.. aku sendiri. Gara-gara aku suka Donghae sunbae.

Sulli. Ini juga aku belum tahu apa sebabnya dia terluka karenaku. Mungkin juga, gara-gara aku. Tapi, aku tidak begitu dekat dengannya.

Lee Hyun Woo? Aku bingung dengan yang satu ini. Dia terluka karenaku? Bukankah aku yang terluka karena Lee Hyun Woo? Aku dimaki-maki olehnya sewaktu kelas satu. Dan kami berubah menjadi musuh begitu aku membalas makiannya. Mungkin saja dia sakit hati setelah aku membalas makiannya.

“Jin Ah-yya, katanya kau pusing,” seseorang membuka pintu UKS, dan itu membuatku melonjak kaget.

Aku langsung menghembuskan nafas lega begitu aku tahu yang masuk adalah Jang Woo Young dan Choi Min Ho.

“Aku sudah hampir sembuh,” kataku kepada mereka.

Entah kenapa, Min Ho menatapku terus dari tadi. Matanya yang belo itu membuatku ingin terus-terusan ditatapnya.

“Wae, Min Ho-yya? Kenapa kau menatapku seperti itu?” aku berkata kepada Min Ho.

“Ani,” Min Ho membuang pandangannya entah kemana.

Jin Ah POV end

 

Dua hari kemudian….

 

Author POV

Sulli sudah duduk di bangku yang bertuliskan namanya serta nama sekolah asalnya, SMA Daebak. Dia sering tersenyum akhir-akhir ini. Dia—yang mewakili perlombaan komposing lagu, menggantikan Jin Ah yang mengundurkan diri.

Kim Jong Woon berdiri di depan pintu ruang perlombaan dengan cemas. Dia takut kalau-kalau Sulli gugup dan akhirnya tidak dapat melakukannya dengan baik. Tapi, Jong Woon tetap positive thinking : Sulli pasti bisa lebih baik dari Jin Ah, karena pernah melakukannya sewaktu SMP.

Melihat Jong Woon berdiri dengan tidak tenang, Donghae menghampiri Jong Woon.

“Kenapa kau begitu gelisah, Jong Woon-a?” Donghae menepuk bahu Jong Woon.

“Ani. Aku tidak gelisah,” Jong Woon menggigiti ibu jarinya.

“Bagaimana tidak gelisah? Lihat! Kau sekarang menghisap ibu jarimu sendiri,” kata Donghae.

Jong Woon cepat-cepat berhenti menggigiti ibu jarinya. Sementara itu, Donghae terkikik melihat kelakuan Jong Woon.

 

Di ruang lomba..

 

Sulli memperhatikan para pengawas perlombaan yang berjalan mondar-mandir di sekitar ruang lomba. Dia tidak konsentrasi membuat lagu karena pengawas pengawas itu. Beberapa detik kemudian, dia menghela nafas dan menggeleng-gelengkan kepalanya sendiri. Dia tidak mengerti, kemarin ide mengalir begitu saja ketika sudah berhadapan dengan kertas folio polos. Sekarang?

Babo! Batin Sulli sambil memukul kepalanya pelan. Dia menatap kertas folio yang masih putih bersih tidak ada coretan sedikit pun.

“PENGAWAS!” Sulli memberanikan diri untuk mengacungkan jari.

Semua peserta lomba berserta orang-orang yang mendengarnya tadi, melihat ke arahnya. Sulli gugup, tapi dia harus berani untuk mengatakan…

“Apa kalian bisa diam di tempat?” Sulli mengambil kertasnya yang masih kosong dan menunjukkannya kepada para pengawas, “Aku tidak bisa konsentrasi membuat lagu..”

Salah satu pengawas mengiyakan permintaan Sulli. Sementara sisanya menatap Sulli tajam.

“Apa kau berkehendak terhadap kami? Cepatlah kau buat lagu! Aku benci disini!” seru salah satu pengawas, “Jika kau seperti itu lagi, kau akan di diskualifikasi.”

Jong Woon dan Donghae yang mengintip lewat kaca jendela pun terperangah.

“Sulli-yya, pasti tidak melakukan itu lagi—“ Jong Woon bergumam.

Donghae menoleh ke arah Jong Woon, dia tersenyum kecil, “Kau cemas sekarang. kau mencemaskan Sulli.”

Jong Woon menoleh ke arah Donghae, “Tidak. Aku cemas karena—“

“Kkojimal,” Donghae memperhatikan Sulli lagi.

 

…..

 

Ji Yeon tengak-tengok setelah keluar dari ruang kelas. Dia mencari Jin Ah, karena dia ingin meminta maaf.

“Ji Yeon-a,” Min Ho muncul tiba-tiba di hadapan Ji Yeon dengan helm di kepalanya.

“Min Ho-yya?” Ji Yeon tersenyum kecil, lalu berjalan menjauh dari Min Ho.

Min Ho mengernyitkan dahi. Kenapa dia menjauhiku? Batinnya. Dia kemudian berjalan di belakang Ji Yeon tanpa berkata apa-apa lagi dengan Ji Yeon. Dia mengikuti Ji Yeon, kemanapun Ji Yeon pergi. Merasa dibuntuti, Ji Yeon menoleh ke belakang.

“Min Ho-yya,” Ji Yeon berbalik badan memanggil Min Ho.

“Eo?” Min Ho tersenyum kepada Ji Yeon. Tapi Ji Yeon tidak membalas senyumannya itu.

“Kau tahu dimana Jin Ah?” Ji Yeon menatap Min Ho dalam.

 

…..

 

“Jin Ah-neun, dia pergi ke suatu tempat di dekat Sungai Han,” kata Im Ju Hwan kepada Min Ho dan Ji Yeon.

“Kenapa dia kesana?” Ji Yeon bertanya kepada Min Ho. Dan Min Ho mengedikkan bahu.

“Yya, bertanyalah kepadaku. Aku yang tahu jawabannya,” kata Ju Hwan.

“Oke, kenapa Jin Ah kesana?” tanya Ji Yeon kepada Ju Hwan.

“Molla, heheh..” Ju Hwan tertawa lebar.

Min Ho dan Ji Yeon melirik sinis kearah Ju Hwan yang sedang memasang muka innocent.

“Ngomong-ngomong, Tuan Im mana? Tidak kelihatan..” kata Min Ho basa basi.

Ju Hwan terdiam. Dia berhenti tersenyum lalu kemudian menoleh ke belakang, ke dalam rumah. Ia menghela nafas, “Sakit.”

Min Ho tertegun, “Sakit apa?”

“Seperti Nyonya Im dua tahun lalu,” suara Ju Hwan bergetar.

“Sekarang dimana?” Ji Yeon simpatik.

“Di klinik yang sama dengan Nyonya Im dua tahun yang lalu,” kata Ju Hwan.

Min Ho menelan ludah. Dia merasa kasihan terhadap Jin Ah dan terlebih—Ju Hwan.

Author POV end

 

Jin Ah POV

Aku menatap batu nisan yang bertuliskan nama ibu kandungku, Nyonya Im. Aku tersenyum.

“Eomma, ayah sakit,” kataku sendirian. Aku seperti berbicara dengan ibu.

“Ayah batuk-batuk seperti eomma dulu. Dan ada satu  hal yang ingin aku bagi kepadamu,” kataku sendiri sambil menahan air mata yang akan keluar, “Aku rindu padamu, eomma.”

Jin Ah POV end

 

Author POV

“Aku tidak mengerti kenapa Jin Ah sore-sore keluyuran kemana-mana!” kata Ji Yeon sambil berjalan mengikuti langkah Min Ho, “Katanya di Sungai Han, ternyata tidak ada. Jadi kemana dia?”

Min Ho berjalan di depan Ji Yeon sambil berpikir kemana Jin Ah kira-kira jika tidak di Sungai Han? Dia memang mendengarkan omelan Ji Yeon dari tadi. Tapi dia tidak begitu berselera untuk menanggapi.

“Bukannya peduli dengan ayahnya yang sakit di klinik, malah keluyuran setelah pulang sekolah!” Ji Yeon mengomel lagi, “Kakaknya saja ada di rumah dan tidak keluyuran. Barusan saja Ju Hwan oppa bilang kalau dia akan ke klinik. Kita saja akan klinik nanti. Benar ‘kan?”

“Eum..” Min Ho mengetuk dahunya dan sedikit bergumam, “Aku tahu dia dimana. Tapi apakah kita harus kesana?”

“Eo?” Ji Yeon mengernyitkan dahi, “Dia—siapa?”

 

…..

 

“Min Ho-yya, aku tidak mengerti!” Ji Yeon masih mengomel bahkan ketika hampir sampai ke tempat tujuan, “Kau tidak mendengarkanku dari tadi!”

Min Ho diam saja. Dia masih malas menanggapi Ji Yeon yang menurutnya itu cerewet.

“MIN HO-YYA!” JI Yeon menjerit. Dia berhenti berjalan di belakang Min Ho. Jeritannya itu membuat Min Ho berbalik badan dan menutupi mulutnya.

“Sst.. kita sudah sampai. Bisakah kau kecilkan suaramu? Dan kemudian kau pergi kesana sendiri—“ Min Ho menunjuk ke arah makam Nyonya Im yang tidak jauh dari posisinya dan juga posisi Ji Yeon, “—tanpaku.”

Ji Yeon menatap makam yang sudah tidak asing baginya. Kemudian dia ganti menatap Min Ho, “Min Ho-yya,”

Min Ho mengangkat alisnya, “Eum?”

“Itu—makam ibumu ‘kan?”

Min Ho mengangguk cepat. Lalu dia hendak pergi dari hadapan Ji Yeon, “Orang yang duduk di sebelah makam ibuku itu adalah Jin Ah. Jadi secepatnya kau kesana!”

Ji Yeon menoleh ke arah makam. Benar, disitu ada Jin Ah. Dia bingung. Kenapa Jin Ah bisa terisak di samping nisan ibu Min Ho? Ji Yeon kembali memutar memorinya :

Ketika aku meletakkan karangan bunga, aku melihat nama ibu Min Ho di batu nisan. Namanya… Goo Young Sae. Aku jadi ingat mendiang ibu Im Jin Ah yang namanya sama persis dengan ibu Min Ho ini. Goo Young Sae.

Lalu aku juga melihat tanggal kematian ibu Min Ho yang tertera dibawah nama. Sekitar 2 tahun yang lalu. Dan aku jadi ingat ibu Jin Ah yang meninggal 2 tahun lalu juga. Jin Ah pernah mengatakannya padaku waktu pertama masuk Grade 2-2.

Tapi—ini aneh. Mana mungkin suatu kebetulan itu betul banget? Goo Young Sae? Meninggal dua tahun lalu? Ini sungguh kebetulan yang sangat membuatku bingung. Dan aku mulai berpikir bahwa ibu Min Ho dan Jin Ah itu—sama.

“Tunggu,” Ji Yeon bergumam, menatap Jin Ah dan batu nisan ibu Min Ho yang membuatnya bingung dengan pandangan kosong. Lalu dia berbalik badan melihat Min Ho masih belum jauh darinya, “MIN HO-YYA!”

Jin Ah mendengar suara yang ia kenal. Dia menoleh ke arah sumber suara, lalu dia berdiri. Dia belum mengetahui siapa perempuan bersuara nyaring yang berdiri membelakanginya, tidak jauh. Matanya menyipit, ketika perempuan yang ternyata Ji Yeon itu mendekati Min Ho. Tentu saja dia mengenali Min Ho.

“Choi Min Ho?” Jin Ah berbisik ketika melihat mata Min Ho yang tertuju kepadanya.

“Min Ho-yya,” Ji Yeon menghampiri Min Ho, “Jangan bilang kalau—“

“Ji Yeon-a, aku ada urusan. Kau pergilah kesana menemani Jin Ah,” kata Min Ho sambil mundur beberapa langkah, dan kemudian berjalan cepat menjauh dari Ji Yeon.

Ji Yeon menatap punggung Min Ho dari kejauhan, “Jangan bilang kalau itu makam ibumu dan juga makam ibu Jin Ah..” bisiknya.

Kini Ji Yeon mengerti kenapa Min Ho berjalan menjauh darinya. Sebenarnya bukan menjauhinya. Min Ho ingin menjauhi kenyataan bahwa Jin Ah dan dia adalah saudara kandungnya.

Dengan cepat, Ji Yeon berjalan ke arah Jin Ah yang sedang melihatnya. Agak malu rasanya minta maaf sekarang. Tapi, ini harus dilakukan kata Bae Sue Ji.

“Ji Yeon-a, kenapa kau kesini?” Jin Ah tersenyum tipis kepada Ji Yeon.

Ji Yeon duduk di sisi yang berlawanan dengan Jin Ah. Dia menatap batu nisan yang sekarang membuatnya lega. Dia tersenyum kepada si batu nisan, dan juga—kepada Jin Ah. Kemudian dia mengulurkan tangannya kepada Jin Ah yang ikut-ikut duduk di hadapannya.

“Mianhae,” Ji Yeon tersenyum ikhlas kepada Jin Ah, “Atas perkataanku belakangan ini.”

Jin Ah menatap mata Ji Yeon yang berkaca-kaca kini.

“Jjeongmal—“ Ji Yeon menarik tangannya kembali dan menunduk, “—mianhae.”

Jin Ah menarik tangan Ji Yeon dan menjabat erat tangan Ji Yeon, “Eo..”

Ji Yeon menoleh ke arah Jin Ah dan tersenyum lebar. Rasanya tidak enak menatap Jin Ah saat ini karena sebelumnya dia menjelek-jelekkan Jin Ah di depan Jin Ah sendiri. Malu.

“Aigoo.. kenapa kita disini?” Jin Ah melihat ke sekelilingnya, “Ayo kita nonton Sulli!”

 

…..

 

Demi persahabatan Grade 2-1 dan Grade 2-2, anak-anak Grade 2-2 sekarang rela berjalan kaki dari halte bus ke gedung perlombaan komposing lagu. Semuanya akan datang. Kecuali—Sun Ye dan Seung Hyun.

“Fuhh..” So Min berjalan gontai di sebelah You Jin yang berjalan dengan sangat hati-hati sambil memperhatikan sepatunya, “Seung Hyun belum mengingat Sun Ye..”

You Jin menoleh ke arah So Min dan tersenyum polos. Kemudian dia memperhatikan sepatunya lagi. Perilakunya yang satu ini membuat So Min terperanjat.

“Ya ampuun! Kenapa ada orang yang terlalu polos seperti Kim You Jin?” So Min hampir setengah menjerit.

“Bisakah kau tenang sedikit, So Min-a? Aku lelah!” Woo Young komplain.

“Memangnya aku tidak lelah?” ujar So Min.

Sementara itu, Qian dan Yoo Seung Ho berjalan beriringan di belakang sendiri. Sengaja, Shin Dong ingin membuat Seung Ho dan Qian berduaan. Tadinya, Qian berjalan bersama Shin Dong. Begitu, Seung Ho muncul, Shindong otomatis menyingkir dari Qian tanpa sepatah katapun dan pindah berjalan di samping Nichkhun.

Yoo Seung Ho dan Song Qian tidak berbicara satu sama lain daritadi. Mereka hanya menoleh, lalu tersenyum. Menoleh lagi, tersenyum lagi.

“Kamu—“ Seung Ho dan Qian sama-sama angkat bicara. Mereka bertukar pandang dan tertawa.

“Ladies first,” kata Seung Ho kepada Qian.

So Min menoleh sedikit ke belakang, tepatnya ke arah Seung Ho dan Qian.

“Namja first. Aku lupa apa yang akan aku katakan,” kata Qian sambil terus tersenyum kepada Seung Ho.

“Oke, baiklah..” Seung Ho berdehem, “Kamu—“

“Aku?” Qian mendongak melihat muka Seung Ho. Gara-gara diperhatikan Qian, Seung Ho lupa apa yang akan dikatakannya. Dia garuk-garuk.

“Aku lupa mau bilang apa. Heheh~” Seung Ho tidak berani menatap Qian.

So Min memutar balik kepalanya. Memerhatikan ke depan. Namun, begitu dia melihat ke depan, matanya langsung bertemu dengan sorot mata Shindong yang tertangkap basah memperhatikannya. Shindong mengalihakan pandangannya ke Nichkhun. Dia pura-pura sibuk dengan Nichkhun dan juga pura-pura berbicara kepada Nichkhun.

Melihat tingkah Shindong yang aneh –daritadi ngomong sendir dan sok sibuk-, Nichkhun meringis ngeri ke arah Shindong, “Shindong-a, w-wae?”

Shindong tersenyum manis kepada Nichkhun, “Aniyya, ani..”

“Kenapa—kau ngomong sendiri?” Nichkhun kembali bertanya.

“Aku nggak—ngomong sendiri!” Shindong protes.

“Hmm.. ya sudah,” Nichkhun kembali konsentrasi ke jalan.

 

Sementara itu, di aula gedung perlombaan…

 

Donghae dan Jong Woon duduk dengan tidak nyamannya di bangku paling belakang. Mereka menantikan urutan tampil Sulli.

“AIYAA!” seseorang menepuk bahu Donghae dan Jong Woon dari belakang. Sontak, Donghae dan Jong Woon menoleh ke belakang.

“Krystal?!” dengan kompaknya, Donghae dan Jong Woon menyebut nama itu. Nama orang yang menepuk bahu mereka berdua secara bersamaan. Krystal.

“Eo, oppa!” Krystal duduk di sebelah Donghae, “Nomor berapa Sulli?”

“Sebentar lagi,” Jong Woon menjawab.

Donghae tampak gelisah memperhatikan pintu utama aula, “Kenapa mereka belum datang?”

“Siapa?” Krystal menoleh ke arah Donghae.

“Anak-anak Grade 2-2,” kata Donghae lagi.

Mendengar jawaban Donghae, Krystal langsung mendengus, “Im Jin Ah ya?”

Jong Woon melotot, “BAGAIMANA BISA KAU TAHU ITU?”

Krystal hampir saja melompat dari kursinya. Dia mengelus-elus dadanya sambil melirik ke arah Jong Woon, “Oppa, kau bisa tenang ‘kan di dalam aula perlombaan? Malu diperhatikan banyak orang—“

“Tidak penting. Aku suka diperhatikan,” Jong Woon menyibak poninya, “Oh iya! Kenapa kau bisa tahu kalau Donghae menunggu Jin Ah?”

Krystal mendecakkan lidahnya, “Itu rombongannya, Donghae oppa!”

“Eo?” Donghae melongok melihat ke pintu utama. Benar! Rombongan Grade 2-2 sudah datang. Minus Min Ho, Jin Ah, Ji Yeon, Sun Ye, dan Seung Hyun.

Rombongan Grade 2-2 langsung menghampiri kursi Donghae, Jong Woon, dan Krystal. Mereka sangat ribut sehingga banyak penonton yang menoleh ke arah mereka. Karena kursinya sudah habis, terpaksa mereka berdiri di belakang Donghae, Jong Woon, dan Krystal.

Melihat Nichkhun, seketika Donghae tidak berselera menonton Sulli sekarang. Dia mencari-cari Jin Ah, tapi tidak melihat ujung hidung Jin Ah sekalipun. Malah bertemu dengan Nichkhun.

“Jin Ah-kka eopso?” Donghae bertanya kepada Wooyoung yang paling dekat posisi dengannya.

Wooyoung tersenyum kecil lalu menoleh ke arah Sue Ji yang berdiri di belakangnya sambil menunjuk Donghae dengan ibu jarinya. Sebenarnya dia akan menoleh ke Nichkhun atau sejenisnya, tapi yang kelihatan Sue Ji, “Dia mencari Jin Ah…”

Sue Ji mundur satu langkah, menjauh dari Wooyoung, “Ke-kenapa kau berbicara ke-kepadaku?”

Wooyoung memudarkan senyumnya, “Kenapa aku tidak boleh berbicara padamu, Bae Sue Ji? Kau galak sekali.”

“Aku tidak galak!” Sue Ji berbicara dengan logat Busan. Membuat Wooyoung hampir saja tergelak sambil guling-guling di lantai.

Donghae geleng-geleng melihat Wooyoung dan Sue Ji. Lalu dia berpaling ke arah Nichkhun, “Jin Ah dimana ya? Kok tidak kelihatan?”

Nichkhun tersenyum tipis. Dia baru saja akan membuka mulutnya, Donghae sudah menyambar waktu bicaranya.

“Minho, Ji Yeon—juga tidak kelihatan. Dimana mereka semua?” Donghae menambahkan. Takut Nichkhun berpikir begitu pedulinya dia dengan Jin Ah.

“Dalam perjalan kesini,” kata Nichkhun cepat, “Ha Ra sunbae dimana?”

Donghae tertuduh, “Mwo?”

“Biasanya Ha Ra sunbae ikut kalian, kok sekarang—“

“ANNYEONG!!” sebuah suara membuat perkataan Nichkhun tertunda.

Donghae langsung berdiri menyambut orang ini. Dia juga langsung tersenyum lebar begitu melihat orang ini, “Jin Ah-yya..”

“Donghae sunbae!” Jin Ah memberi hormat kepada Donghae dan Jong Woon.

Ji Yeon dan Min Ho muncul setelah Jin Ah memberi hormat dari balik punggung Jin Ah.

 

….

 

“Mari kita dengarkan lagu dari perwakilan SMA Daebak, Choi Sulli!” kata salah seorang MC di ujung panggung.

Begitu nama Sulli disebut, Donghae, Jong Woon, Krystal, dan anak-anak Grade 2-2 yang menonton langsung heboh. Apalagi Jin Ah yang terus-terusan bersiul dan meneriakkan ‘Sulli-yya, hwaiting!’ dengan lantang.

“Jin Ah-yya, sudah.. jangan membuang energimu terlalu banyak,” Sue Ji menutup telinganya ketika Jin Ah terus-terusan berteriak. Dia berdiri di sebelah Jin Ah.

“Aku tidak bisa berhenti berteriaaaaaakkkkk..!!” Jin Ah menjerit sambil terus melihat Sulli di atas panggung.

“Annyeonghaseyo, choneun Choi Sulli imnida. Judul lagu yang saya tulis adalah Calling Out. Happy listening!” kata Sulli di atas panggung.

“Ne, Sulli-haksaeng. Silahkan anda mulai dari intro lagu.” Kata salah satu Juri.

“Ne..” Sulli meraih gitarnya dan duduk dengan sangat hati-hati di bangku yang sudah disediakan. Dia melihat dulu ke arah Jong Woon dan kawan-kawan barulah dia memainkan intro lagunya dengan gitar.

Krystal mendesah, “Ah.. aku harap lagunya cocok untukku..”

Donghae menoleh ke arah Krystal, tetapi dia langsung fokus ke Sulli lagi.

“haru tto haru na saragadaga
geudae ireume tto nunmuri namyeon
na chameul su eobseo
ireoke useul su eobseo
tto geudae ireum bulleobonda”
  .

“Yya—lagunya begitu mengesankan…” kata So Min sambil melongo melihat Sulli. Melihat So Min melongo, Shindong langsung menutup mulut So Min, “Aa wae??”

Shindong tersenyum kepada So Min, “Kau terlalu cantik jika melongo. Nanti kalau aku menyukaimu bagaimana?”

Bukannya mengatup, So Min malah terperangah, “Mwo?”

Begitu Sulli selesai menyanyikan lagunya, gema tepuk tangan dan teriakan penonton memenuhi aula ini. Sulli langsung meletakkan gitarnya kembali dan berdiri dari kursinya. Dia memberi hormat kepada Juri, “Kamsahamnida..”

“Oke.. langsung saja saya mengomentari,” kata juri yang memakai topi kain cokelat yang langsung mengundang keheningan di aula. Tampaknya, dia adalah juri utama, “Saya akan mewakili juri-juri yang lainnya.”

Sulli melihat ke arah Jin Ah yang paling heboh di ujung belakang aula, dia tersenyum kecil.

“Lagu Sulli-haksaeng sangat mengesankan..” kata si juri bertopi cokelat, “Tapi sayangnya….”

Sulli menatap si juri dengan tatapan penasaran. Dia begitu penasarannya hingga melongo. Hampir saja mic yang ia pegang tidak masuk ke dalam mulutnya itu.

“Sayangnya…. penulisan not Sulli-haksaeng salah fatal,” kata si juri.

Mendengar pernyataan si juri, Sulli melongo lebih lebar, “MWO?! Oddokaeyo?”

“Sulli-haksaeng menulis not dengan not balok, geuchi? Tapi, penempatannya salah. Sehingga dengan sangat terpaksa, Sulli haksaeng kami diskualifikasi karena tidak mengerti tata cara menulis not balok.” Si juri dengan enteng mengatakan itu.

Mata dan muka Sulli memerah dan panas. Tangan dan sekujur tubuhnya berkeringat. Bagaimana bisa dia salah menulis not balok? Semuanya lagi! Karena tidak percaya apa yang dikatakan juri, Sulli langsung membantah.

“Aniyo, ahjussi..,” Sulli angkat bicara, “Aku yakin aku sudah menuliskan semuanya yang kulihat, tapi ken— aduh..“

Si juri bangkit dari kursinya, “Tolong ulangi perkataan Sulli haksaeng tadi.”

Tangan Sulli yang satunya memegangi mulut, “A-aniyo.. gwencanayo..”

Jong Woon langsung bangkit berdiri setelah mendengar dengan jelas apa yang dikatakan Sulli, “Dia menuliskan apa yang dia lihat?”. Jong Woon agak berbisik.

“Apa berarti—Sulli menjiplak lagu?” So Min berceletuk di belakang Jong Woon.

“Apa yang kau katakan, So Min-a??” Krystal menoleh ke belakang. Lalu dia bangkit dari kursinya.

“Wae? Bisa saja ‘kan, Choi Sulli menjiplak?” So Min berkacak pinggang. Dia selalu membenci orang yang satu ini. Bukan. Dua orang ini. Krystal dan Sulli.

Dalam hati, Krystal ingin sekali menimpuk So Min dengan kursi. Tetapi dia mengurungkan niatnya karena ini di tempat umum, “Kau ini! Selalu saja meng—“

Perkataan Krystal tidak bisa dilanjutkan karena ada bunyi bising bersumber dari sound system di ruangan ini. Suara itu juga dibarengi oleh keberisikan penonton entah karena apa.

“JIN AH-YYA!” Sue Ji mengeluarkan dialeknya begitu melihat ke arah panggung.

Ternyata, Jin Ah sudah berada di atas panggung dan merebut mic yang dipegang oleh Sulli dari tadi. membuat semua orang melongo dan agak tidak senang dengan kelakuan Jin Ah yang liar ini. Sue Ji saja sampai mengeluarkan logat dialeknya.

“Saya—“ Jin Ah berbicara dengan menggunakan mic. Dia membuat suaranya terlihat lebih besar dan sangar *hohoh*, “Saya Im Jin Ah, dari Daebak Seoul School. Ingin mengajukan pendapat. Bolehkah saya mengatakannya…. sekarang?”

Juri bertopi cokelat tersenyum kepada Jin Ah, “Jin Ah-saeng, kenapa kau maju ke panggung jika ingin mengajukan pendapat. Kau bisa mengajukannya lewat MC atau—“

“Aku ingin menyampaikannya sendiri di tempat yang bisa dilihat orang banyak. Aku tidak ingin bersembunyi karena itu hal yang memalukan. Kalau aku harus malu, ya aku malu disini. Kalau aku harus berani dan benar, ya aku berani dan benar disini. Bukankah sebaiknya begitu, pak juri?” kata Jin Ah.

Juri tadi tertawa kecil, “Begitukah?”

Jin Ah menyipitkan matanya dan berusaha membuat tatapan yang sinis dan panas serta tajam ke arah si juri itu, “Ne!”

Si Juri tampak menimbang-nimbang dan berdiskusi dengan juri lainnya, “Baiklah. Malhaebwa!”

Jin Ah menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya keras-keras, “Oke.. jadi begini..” Jin Ah melirik ke arah Sulli.

“Jin Ah-yya—“ Sulli sedikit berbisik.

Eomma, sekali saja aku memberontak… tolong ijinkan mulutku untuk berbicara yang lancar..  batin Jin Ah dalam hati, “Bagini, aku akan menjelaskan yang pertama adalah tentang judul lomba komposing lgu ini. Judulnya adalah—Lomba Komposing Lagu bukan?”

“Ne—“ suara penonton terdengar agak enggan.

“Dan sekali lagi saya tekankan, ini Lomba Komposing Lagu. Bukannya lomba menulis not lagu. Dan menurut saya—“

“Tunggu haksaeng!” kata juri yang duduk di sebelah juri bertopi cokelat, “Aku tahu apa yang akan kau katakan. Tolong—“

“Tolong dengarkan saya dulu. Jangan memotong pembicaran saya!” kata Jin Ah berani.

“Baru saja Im Jin Ah-haksaeng memotong pembicaraan saya.”

“Mianhamnida,” Jin Ah membungkuk hampir seratus dua puluh derajat ke arah juri tersebut, “Boleh saya teruskan lagi?”

Juri tadi melengos dan duduk lagi. Lalu dia mempersilahkan Jin Ah berbicara.

“Kamsahamnida..” kata Jin Ah kemudian,”Jadi—saya teruskan. Apa salahnya dia salah menulis not? Yang dilombakan ‘kan hanya meng-komposing lagu. Walaupun itu lagu orang lain, yang penting sudah di compose ulang ‘kan?”

Tidak ada yang menjawab. Aula menjadi sepi sesaat. Sulli merengek minta Jin Ah turun panggung dan berhenti mengoceh di atas panggung. Lagian, ini salahku sendiri. Batin Sulli.

“Em..” Jin Ah garuk-garuk, “Boleh aku lanjutkan?”

Sepi lagi. Jin Ah seperti diacuhkan oleh orang-orang. Ini membuat wajah Jin Ah semakin kusut. Ia melirik ke arah para MC yang sedang bisik-bisik. Dari kejauhan saja, Jin Ah bisa tahu kalau para MC itu pasti membicarakannya.

Sepertinya tidak akan berhasil..

 

Esoknya…

 

“SULLI-YYAA!!!!” Krystal memeluk Sulli erat-erat begitu melihat Sulli di ambang pintu ruang Grade 2-1.

Senyum Sulli memang mengembang. Tapi terlihat sekali senyuman itu dipaksakan, “Emm..”

Krystal melepaskan pelukannya, “Selamat ya, kau jadi juara keduaa!” Ada penekanan di dalam kata kedua yang diucapkan Krystal.

“Emm..” Sulli tersenyum tipis ke arah Krystal dan lalu berjalan gontai ke arah tempat duduknya. Krystal pun mengikutinya.

“W-wae?” Krystal bingung dengan Sulli, “Aku mengatakan hal yang seharusnya tidak kukatakan ya?”

Sulli menggeleng sambil meletakkan tas-nya di atas meja, “Ani..”

Krystal duduk di bangku yang ada di depan Sulli. Lalu dia menggeser kursi yang kini ia duduki menghadap ke Sulli, “Sulli-yya.. jangan seperti itu. Aku tahu kau pasti sedih tidak mendapatkan juara pertama.”

“Aku bangga dengan predikat juara dua-ku sendiri,” kata Sulli.

“Untung saja Jin Ah maju ke panggung, sehingga Sulli-ku ini tidak didiskualifikasi,” kata Krystal sedikit menyindir Sulli, “Eh! Bagaimana kalau kita ke Grade 2-2 sekarang untuk berterima kasih. Oddohkae?”

Sulli menatap Krystal dan tersenyum ikhlas. Dia memperlihatkan deretan giginya yang cantik itu kepada Krystal, “Baiklah..”

 

…..

 

Jin Ah baru saja akan ke kantin mengantarkan sarapan kepada Donghae. Tapi, begitu dia mendapatkan pesan text dari Jong Woon ia berbalik arah ke lapangan utama.

“Kenapa aku diperintahkan ke lapangan utama?” Jin Ah bergumam sambil berjalan cepat ke arah lapangan, “Pasti ada apa-apanya..”

Begitu sampai di lapangan utama, Jin Ah mengernyitkan dahi. Dia bingung karena di lapangan utama sama sekali tidak ada seseorang. Akhirnya dia berjalan ke tengah lapangan sambil mengeluh beberapa kali.

“Kenapa sepi sekali?” Jin Ah tanya pada diri sendiri. Dia terus memelototi layar phone-nya sambil komat-kamit membaca ‘mantra’ agar Jong Woon muncul di lapangan itu. Sudah menyuruh, malah tidak datang..

Sulli dan Krystal yang sedang berjalan santai di beranda sekolah ikut-ikutan bingung karena melihat lapangan yang sangat sepi. Mereka juga melihat Jin Ah yang berdiri di tengah-tengah lapangan. ini semakin membuat mereka bingung.

 

“Kenapa Jin Ah ada disana? Kenapa lapangannya sepi sekali?” tanya Krystal.

“Molla..” Sulli menoleh ke belakang, ke kanan, ke kiri, dan ke segala arah. Dia melihat seseorang berjalan di belakang Jin Ah. Ia menyipit, “Ommo! Donghae oppa?”

“Oddikka?” Krystal memanjangkan lehernya guna melihat keberadaan Donghae, “Oddiyya?”

“Di belakang Jin Ah—mungkin dia sedang mempersiapkan surprise untuk Jin Ah,” kata Sulli enteng.

Krystal melotot ke arah Sulli, “Jjinja?!!” nadanya panik.

Sulli menoleh ke arah Krystal dengan mata sayu, “Wae? Jangan-jangan kau cemburuu.. kau sudah punya Lee Hyun Woo!”

“ANI!” Krystal memperhatikan Jin Ah, “Ani.. Cuma, kenapa Donghae oppa memberikan surprise kepada Jin Ah? Yang baru saja berjuang ‘kan kamu. Bukan Jin Ah.”

“Yang berjuang demi aku itu—“ Sulli tersenyum tipis, “Jin Ah, keuchi?”

 

Donghae berjalan mengendap-endap di belakang punggung Jin Ah sambil mengenakan topeng dan membawa sebuket bunga mawar merah. Dia agak gugup karena hari ini dia harus mengambil keputusan agar seterusnya tidak bingung lagi.

 

“Sulli-yya, mianhae..”

“Wae?”

“Aku telah—berkata kasar padamu. Kemarin..”

“Em.. gwencana.”

“Sulli-yya!”

“Emm?”

“Menurutmu—aku nyatakan saja perasaanku kepada Jin Ah atau—“

“Nyatakan saja. Kenapa harus takut? Menunggu itu sakit, oppa. Mulailah terlebih dahulu..”

 

Donghae tersenyum simpul mengingat obrolannya dengan Sulli tadi malam. Dia hampir meraih bahu Jin Ah. Namun, karena Jin Ah menoleh ke belakang –tepatnya ke arahnya-, dia tidak jadi mengagetkan Jin Ah dari belakang.

“Kkamjagi!” Jin Ah hampir saja melompat melihat sosok laki-laki yang mengenakan topeng.

“Im Jin Ah! Tebak siapa aku!” kata Donghae dengan suara yang dibuat-buat agar Jin Ah tidak cepat tahu kalau sebenarnya dia..

“Donghae sunbae..” Jin Ah tersenyum lebar karena dia yakin jawabannya pasti benar, “Kau belum mencopot nametag di seragammu, sunbae.”

Donghae melepas topengnya dan menatap Jin Ah sebentar. Kemudian tersenyum manis, “Gagal..”

Jin Ah tergelak, “Kenapa kau disini, sunbae?”

“Aku?” Donghae menunjuk wajahnya, “Aku—aku punya keperluan.”

“Keperluan apa?” Jin Ah masih tergelak.

Donghae memasang muka masam, “YYA! Kenapa masih tertawa?! Apakah sangat lucu?”

“Ne..” Jin Ah masih saja tergelak.

Donghae menghembuskan nafasnya pendek. Lalu dia mendekat satu langkah ke arah Jin Ah dan memegangi bahu Jin Ah, “Im Jin Ah.”

Jin Ah sedikit risih dengan tangan Donghae yang menyambar bahunya. Namun, ia masih tersenyum kepada Donghae, “Ne?”

“Im Jin Ah adalah siswi SMA Daebak Grade 2-2. Benar ‘kan?” kata Donghae.

“Ne..” Jin Ah manggut-manggut, “Keundae wae?”

Donghae merogoh sakunya. Lalu ia mengambil phone-nya yang sudah dipasang headset. Ia menyumbat lubang telinga Jin Ah dengan salah satu ujung headset itu, “Dan kau menciptakan lagu ini. Benar ‘kan?”

Jin Ah mencoba mendengarkan dengan seksama apa yang sedang ia dengarkan lewat headset yang kini menyumbat telinganya. Ia terperangah setelah mendengar beberapa saat. Sebuah lagu yang ia ciptakan beberapa minggu sebelum lomba komposing lagu.

“Sunbae!” Jin Ah menatap Donghae dengan mata berkaca-kaca, “Siapa yang menyanyikan ini?”

Donghae mengacak-acak rambut Jin Ah dengan gemas, “Ugghh! Kau ini! Masa tidak mengenal penyanyi ternama ini?”

“Ini Donghae sunbae yang menyanyi?”

“Babo!” Donghae berhenti mengacak-acak rambut Jin Ah, “Yang menyanyikan lagumu itu PANIC!”

Jin Ah melotot, “MWO? PANIC oppa?”

“Emm,” Donghae manggut-manggut, “Sekarang ada yang mau kuutarakan kepadamu.”

Senyum Jin Ah pudar seketika mendengar Donghae kn mengutarakan sesuatu. Badannya panas dan mendadak gemetar hebat karena sudah tahu dulu apa yang akan diutarakan Donghae.

Author POV end

 

Donghae POV

Aku merinding ketika Jin Ah menatapku dengan mata innocent-nya. Ia tersenyum tipis sambil merapikan rambutnya yang tadi kuacak-acak.

Tangan kiriku memegang buket bunga dan tidak kusembunyikan. Pastinya dia tahu apa yang akan aku katakan kepadanya. Tapi melihatnya tersenyum dan memandangku polos, aku pikir dia akan membatin, pasti Donghae sunbae hanya mengucapkan selamat atas laguku.

“Chukahae!” aku menyodorkan buket bunga milikku kepada Jin Ah dengan senyuman yang mengembang.

Jin Ah terlihat bingung. Ia mencoba meraih buket bunga yang kusodorkan. Tapi, aku iseng-iseng saja menarik kembali buket bunga itu. Dan dia hanya mengumpat, “Aish!” sambil menghentakkan kakinya.

“Sebelum menerima bunga, biasanya bersalaman dulu,” kataku kepada Jin Ah. Kemudian aku mengulurkan tanganku, dan Jin Ah menjabat tanganku dengan mantap.

Kurasakan, tangan Jin Ah dingin saat berjabat tangan denganku. Dia tersenyum kaku saat aku menoleh ke arahnya dengan tatapan penasaran, kenapa tanganmu dingin? Itu yang ingin aku tanyakan.

“Donghae sunbae,” Jin Ah memanggilku. Kami masih berjabat tangan, “Gomawo. Sekarang mana buket bunganya?”

Aku meringis. Aku masih belum melepaskan tangan Jin Ah ketika aku berjalan mendekat ke arahnya. Jin Ah mundur satu langkah. Kemudian dua langkah. Dia memandangku heran.

“Aku—“ kataku sambil menatap dalam matanya, “Siapa aku di hidupmu?”

Jin Ah mungkin tertegun, “Kenapa sunbae bertanya seperti itu? Tentu saja, Donghae sunbae adalah sunbae-ku di sekolah.”

“Yakin?” aku mengangkat alis.

“Maunya jadi siapaku lagi??” Jin Ah tidak berani menatapku. Nadanya melengking.

Aku mendengus lalu menoleh ke beranda sebelah kanan posisiku. Di beranda sana, banyak anak-anak yang memperhatikanku dengan Jin Ah yang sdang berdiri di tengah lapangan. aduuhh.. Jong Woon. Bagaimana kau ini!

Aku langsung mencari dimana Jong Woon berada. Dia ternyata lebih panik dariku. Ia berdiri di antara anak-anak kelas dua dan tiga yang kebingungan. Jong Woon menangkap tatapanku dan langsung memberikan tanda ‘lanjutkan apa yang baru saja kau lakukan’ kepadaku. aku langsung menoleh ke arah Jin Ah yang melihat ke arah teman-temannya –anak Grade 2-2- yang berdiri tidak jauh dariku dan darinya.

“Kok ramai sekali, sunbae? Ada apa ya?” tanya Jin Ah kepadaku.

Mendengar pertanyaannya, aku hanya bisa meringis dan garuk-garuk kepala. Iya, Jong Woon sengaja membuat sepi lapangan ini untuk acara per-nya-ta-an cin-ta-ku. Dia membuat anak-anak berlari ke kantin tidak tahu dengan cara apa. Mungkin merasa dibohongi, anak-anak berlari kesini lagi. Lantas, apa yang akan aku katakan kepada Jin Ah?

“PERHATIAN!” terdengar suara anak perempuan yang rasanya tidak jauh dariku. Aku langsung menoleh ke sebelah kiri. Dan dia..

“Ha Ra?” aku menyipitkan mata setelah melihat Ha Ra sedang berbicara dengan toa –pengeras suara untuk yang tidak tahu- di sebelahku.

“PERHATIAN SEMUANYA!!” Ha Ra dengan nyaring berbicara lewat toa lagi, “PERHATIKAN DUA ORANG YANG ADA DI LAPANGAN INI!!”

Semua orang yang berada di lapangan ini pun langsung memperhatikanku dengan Jin Ah. Kulihat ekspresi wajah Jin Ah datar dan polos. Dia seperti tidak tahu apa yang terjadi. Memang sih, dia tidak tahu apa yang akan terjadi. Tapi ya, setidak-tidaknya dia tahu kalau aku akan.. akan..

“DONGHAE—“ Ha Ra menoleh ke arahku sambil terus berbicara lewat toa-nya “AKAN MENYATAKAN CINTANYA KEPADA IM JIN AH!!”

“MWO?” kulihat lagi wajah Jin Ah yang kini berubah drastis. Matanya membulat dan mulutnya sedikit terbuka. Dia shock. Dia melihat ke arahku dengan tatapan tidak percaya, “Sunbae..”

“Eng..” aku meringis lagi. Lalu aku melihat ke arah Jong Woon yang masih terjebak di gerombolan anak-anak penasaran.

Jong Woon menoleh ke kanan… ke kiri.. ke kanan lagi, dan ke kiri lagi. Dia lalu menatapku sambil mengangguk mantap dan kemudian bertepuk tangan bersamaan dengan anak-anak yang lain.

“MALHAE! MALHAE! MALHAE!” seru Jong Woon dan anak-anak disekitarnya yang membuatku merinding dan juga membuat Jin Ah melongo. Kami masih berjabat tangan –tanpa disadari.

Dengan ragu-ragu, aku mendekat satu langkah ke arah Jin Ah yang kini masih terperangah. Tiba-tiba suasana menjadi sepi ketika aku mendekatkan wajahku ke wajah Jin Ah. Dan suasana berubah drastis menjadi ramai seramai-ramainya ketika aku mencium pipi Jin Ah.

Aku melepaskan tangannya dan kemudian menatapnya dalam, “Im Jin Ah— aku menyayangimu dan rasanya aku ingin melindungimu.”

Jin Ah juga menatapku dalam-dalam dengan matanya yang sedikit berair, “Sun-sunbae..”

“Aku memang suka kalau kau menganggapku sebagai sunbae-mu. Sebagai oppa-mu,” kataku, “Tapi aku ingin menjadi yang lebih penting dari sunbae atau oppa.”

“Nan.. neon—saranghae,” kataku dengan agak terbata-bata.

Donghae POV end

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s