Grade 2-2 Part 19

Image

Title : Grade 2-2

Author : Atika Razan (JBSung)

Length : Parted (10 Parts)

Genre : School, Romance, Comedy *huaah*

CAST :

  • Nana After School      : Im Jin Ah
  • Nichkhun 2PM           : Nichkhun B. Horvejkul
  • Minho SHINee                        : Choi Min Ho
  • Victoria f(x)                : Song Qian
  • Jiyeon T-Ara               : Park Ji Yeon
  • Yoo Seung Ho
  • Suzy Miss A                 : Bae Sue Ji
  • Wooyoung 2PM         : Jang Wooyoung

OTHER :

  • Jung So Min
  • Shindong : Shindong (Shin Dong Hee)
  • Sun Ye : Min Sun Ye
  • T.O.P. : Choi Seung Hyun
  • Donghae : Lee Dong Hae
  • Eunjung : Ham Eun Jung
  • Yesung : Kim Joong Won
  • Krystal Jung
  • Sulli
  • Lee Hyun Woo
  • Lee Tae Sung
  • UEE : Kim You Jin
  • Park Jin Young
  • Baek Ji Young
  • Go Ha Ra

Themesong :

  • Love Love Love – Epik High
  • I Can’t – 2PM
  • Is This Love – BoA
  • Fallin’ – BoA
  • My Angel – Fly To The Sky
  • Mot Gah – Brown Eyed Girls

 

Author POV

Jin Ah tidak berani menatap mata Donghae. Ia ingin Donghae berhenti menatapnya sekarang juga.

Sementara itu, Donghae melirik si buket bunga yang ada di tangannya. Ia langsung menyodorkannya ke Jin Ah. Tangannya bergetar hebat ketika Jin Ah melihat ke arahnya.

“Terima ini jika kau merasakan apa yang kurasakan dari dulu,” kata Donghae.

“Oppa.. eng maksudku sunbae. Tolong jangan begini. A-aku..,” Jin Ah salah tingkah.

“Dan.. buang ini jika kau tidak merasakannya,” suara Donghae serak. Ia menundukkan kepala.

Jin Ah juga ikut-ikutan menunduk. Dia salah tingkah. Apa yang harus ia perbuat saat ini? Dia ingin menerima buket bunga itu dan menyimpannya baik-baik. Tapi kemudian dia melirik Ha Ra yang menatapnya.

Tapi jika tidak ia terima, ia harus membuang buket bunga itu. Keputusan yang akan ia ambil semuanya memiliki resiko. Jika ia menerima Donghae, Go Ha Ra eonni akan sakit hati. Jika ia tidak menerima Donghae, Donghae yang akan sakit hati. Namun, satu keputusan harus diambil. Jin Ah yakin.. ia akan menyebutkan satu jawaban yang tegas namun tidak membuat sakit hati seseorang.

Ia memutar kepalanya ke segala arah. Mencari-cari siluet yang ia rindukan. Bukannya siluet yang ia cari yang muncul di hadapannya sekarang. Sekarang dua orang yang selalu nempel layaknya lem berdiri di sebelahnya. Ji Yeon dan Sue Ji menjaga jarak dari Jin Ah agar acara penembakkan Donghae tidak terganggu.

Jin Ah menatap Ji Yeon. Kemudian menatap Sue Ji.

Jangan membuat dirimu menunggu lebih lama. Ambil buket bunga itu dan simpan baik-baik sepanjang hidupmu. Lupakan Horvejkul atau kau kehilangan Lee Donghae yang juga mencintaimu. Mata Ji Yeon berkata seperti itu kepada Jin Ah.

Sebaliknya, mata Sue Ji berbicara kepada Jin Ah seperti ini : Tunggu apa lagi, Jin Ah-yya? Buang buket bunga itu jauh-jauh. Aku tahu sebenarnya kau lebih menyukai Nichkhun daripada Donghae sunbae. Aku ingin kau jadi orang yang setia.

Kini, Jin Ah semakin bingung. Tangannya bergerak meraih buket bunga yang digenggam kuat oleh tangan Donghae yang sedikit berkeringat. Akhirnya, ia ambil juga buket bunga itu. Tapi sebelum ia buka mulut, kembali ia mencari Nichkhun.

Ah.. sosok yang ia cari berjalan pelan melewati rombongan anak-anak kelas dua sambil melihat ke arahnya. Nichkhun tersenyum tipis kepadanya, membuat ia membalas senyuman manis itu.

Jin Ah melihat ke arah Donghae, “Oppa. Sebenarnya aku ingin menerima ini—“ Jin Ah melihat ke arah buket bunga yang kini berpindah ke tangannya, “Tapi.. ada seseorang atau mungkin beberapa orang yang tidak pantas sakit hati karenaku. Makanya aku..”

Donghae sudah tahu jawaban Jin Ah ia menatap Jin Ah kemudian dia menengadahkan kepalanya. Menghembuskan nafas panjang, “Malhae..”

“Aku tidak bisa jika dengan Donghae sunbae,” kata Jin Ah spontan, “Mianhaeyo, Donghae sunbae..”

Donghae melihat ke arah Jin Ah yang mulai meraih tangannya. Jin Ah mengembalikan buket bunga miliknya.

“Berikan ini kepada yang mencintaimu, Donghae sunbae,” kata Jin Ah sambil tersenyum kepada Donghae.

Jin Ah menoleh ke arah Ha Ra dan tersenyum. Kemudian dia memberi hormat kepada Donghae dan Ha Ra ketika semua orang mulai meninggalkan lapangan. Jin Ah berlari ke arah dimana sosok yang ia cari berjalan tadi, setelahnya.

Author POV end

 

Nichkhun POV

Aku duduk di balkon atas sekolah. Mataku terus tertuju ke arah lapangan yang kini mulai sepi. Sebenarnya aku ingin tahu apa jawaban Im Jin Ah tentang Donghae sunbae yang hari ini melakukan aksi penembakan. Sebenarnya aku ingin tahu.

Mungkin otakku sudah rusak. Mengapa aku terus-terusan memikirkan seseorang yang sebelumnya juga memikirkanku sepanjang hari, sepanjang waktu? Mengapa aku terus-terusan memikirkan Jin Ah? Aku memukul kepalaku pelan. Nichkhun-a, kau begitu bodoh. Masa sih kau bisa ditaklukan oleh Im Jin Ah?

Aku merasakan ada seseorang berdiri di belakangku. Seketika bulu kudukku berdiri. Tengkukku dingin. Segera aku menoleh. Ternyata..

“Nichkhun-a, sedang apa kau disini?” suara yang membuatku berkeringat dingin terdengar begitu aku menoleh.

“Jin Ah-yya?” aku menghela nafas lega. Bukan hantu. Tapi Im Jin Ah. Bagaimana bisa dia muncul ketika aku sedang memikirkannya?

Jin Ah sedikit menjinjit untuk melihat pemandangan di bawah. Ia lalu berusaha untuk naik dan duduk di sebelahku.

“Kenapa kau kesini?” aku bertanya kepadanya dengan terheran-heran. Setelah bertanya seperti itu aku tertawa kecil, karena kelihatan sekali ia berusaha memanjat dinding yang menurutku tidak begitu tinggi ini.

“Aku hanya—emhh.,” Jin Ah melompat. Tapi dia tetap tidak bisa duduk di sampingku, “Emh.. hanya ingin—ini!”

Aku mengerutkan dahi, “Ini apa?”

“Tunggu seb—entarhh..” Jin Ah melompat lagi. Ia berusaha keras untuk naik. Melihatnya begitu berusaha, rasanya aku ingin tergelak sambil gulung-gulung di lantai.

“STOP!” aku membuat Jin Ah menatapku heran dan berhenti melompat-lompat. Aku melompat turun dan duduk bersimpuh di lantai sambil bersandar di tembok. Jin Ah pun mengikuti gerakanku, “Apa yang membuatmu kemari?”

Jin Ah mengobrak-abrik tas-nya. Lalu menyodorkan sebuah kaset kepadaku, “Dengarkan inihh..”

“Hah?” tanpa sadar aku menerima kaset itu dan membolak-balik wadah kasetnya, “Panic? Aku tidak begitu suka Panic.”

Jin Ah menelan ludahnya, “Laguku.”

“Eo?” aku meninggikan nada bicaraku.

“Laguku disitu,” Jin Ah tersenyum lebar kepadaku, sambil menyibak rambutnya yang tergerai.

Aku terdiam sejenak, “Oh.. jadi kau suruh aku mendengarkan lagumu?”

Jin Ah menatapku, “Kalau kau—tidak berminat.. sini.”

Mataku membulat lalu tersenyum tipis, “Aku akan mendengarkannya.”

Jin Ah manggut-manggut, “Ngomong-ngomong kau punya karet? Panas sekali. Aku harus mengikat rambutku.”

Aku tertawa kecil, “Ani.”

Jin Ah manggut-manggut lagi. Lalu dia berdiri dan membereskan pakaiannya. Sementara aku masih duduk dan memperhatikan wajahnya yang kini memerah. Tanpa kusadari, senyumku mengembang ketika melihat wajah merah Jin Ah. Aku tahu dia malu sekali bertemu denganku. Apalagi setelah memberikanku kaset ini. Emm.. kaset ini?

Aku bangkit berdiri ketika Jin Ah hendak melangkah meninggalkanku.

“Lagumu ini—untukku ‘kan?” kataku langsung, membuat Jin Ah menunda langkahnya. Ia menoleh ke arahku dengan ekspresi tidak tahu apa-apa.

“Eo?” suaranya bergetar.

“Lagu ini..,” aku membaca bagian daftar lagu di wadah kaset itu, “Waiting. Kau membuatnya karenaku ‘kan?”

Jin Ah tidak berani menatapku. Dia kemudian menjawab, “Eo..” dengan malu-malu dan berlari terbirit-birit seperti melihat hantu.

Melihat tingkahnya yang lucu, jujur aku terhibur. Aku bahagia sekaligus malu. Begitu Jin Ah hilang dari hadapanku, aku langsung melihat ke arah lapangan di bawahku.

Kulihat Jin Ah berlari sambil menutup kupingnya dan berteriak kencang.

Nichkhun POV end

 

Author POV end

Kim Jong Woon dan Go Ha Ra baru saja sampai di depan rumah Lee Donghae dan Choi Sulli. Mereka akan kerja kelompok di rumah Donghae malam ini. Sebenarnya mereka tidak enak berkunjung ke rumah Donghae setelah Donghae ditolak secara terang-terangan oleh Im Jin Ah. Tapi mau bagaimana lagi? Tugas kelompok harus dikumpulkan besok.

Jong Woon memencet tombol bel di dekat pintu rumah dengan ragu-ragu. Ia menoleh dulu ke arah Ha Ra sebelum memencetnya. Dan begitu Ha Ra mengangguk yakin, Jong Woon menekan tombol bel pintu dengan semangat.

“Siapa?” sebuah suara yang ceria terdengar lewat speaker yang tak jauh dari tombol bel.

“Kim Jong Woon dan Go Ha Ra..” Jong Woon berbicara lewat speaker juga.

“Masuk saja, sunbae…” suara itu mempersilahkan Jong Woon dan Ha Ra masuk.

……

Ha Ra dan Donghae duduk berseberangan setelah Jong Woon dan Sulli keluar rumah untuk membeli beberapa camilan. Televisi di ruangan itu menyala dengan volume sayup-sayup. Donghae tampak menonton televisi dengan tatapan kosong. Ini membuat Ha Ra yang sedang mengerjakan tugas agak sedikit terusik.

Ha Ra melihat sebentar wajah Donghae kemudian melanjutkan kegiatannya yang tertunda sebentar.

“Apa bedanya aku dengan Nichkhun Horvejkul?” tanya Donghae tiba-tiba. Membuat Ha Ra melihat ke arahnya lagi.

“Donghae-yya, apa Jin Ah lebih penting dari tugas kita? Kau harus profesional menjalani hidupmu,” kata Ha Ra ketus.

Donghae menoleh ke arah Ha Ra. Ia pun bangkit berdiri dan hendak pergi meninggalkan Ha Ra.

“Mau kemana?” Ha Ra ikut-ikutan bangkit berdiri.

Dengan sigap, Donghae meraih tubuh Ha Ra dan memeluknya dengan sangat erat. Ha Ra tidak bisa melepaskan diri dari pelukan erat Donghae. Ia hanya bisa memeluk Donghae balik. Jantungnya berdegup kencang, bahkan Donghae mungkin bisa merasakannya.

___

Sulli dan Jong Woon berjalan beriringan sambil menenteng beberapa kantong plastik. Suasananya benar-benar canggung, sehingga mereka berdua tidak berbicara satu sama lain sedari tadi.

Jong Woon menghembuskan nafasnya sambil menengadahkan mukanya ke langit malam yang sedikit bertabur bintang, “Hhh.. kasihan kakakmu, Sulli-yya.”

Sulli menoleh ke arah Jong Woon, “Tepatnya kakak angkatku. Ya, dia memang sedikit kasihan.”

“Lebih kasihan daripada aku.”

Sulli dan Jong Woon bertukar pandang dan tergelak bersama-sama.

“Kenapa Donghae oppa lebih kasihan dari Jong Woon oppa? Memangnya Jong Woon oppa kasihan? Kasihan kenapa?” Sulli masih tergelak.

Jong Woon meringis, “Aku belum punya pacar.”

Mereka berdua tergelak lagi. Namun beberapa detik kemudian tidak ada suara lagi. Hanya para jangkrik yang membuat suasana malam hari ini agak ramai. Dan juga mungkin suara ilalang yang terhembus oleh angin malam yang semilir.

“Aku tidak mengerti kenapa aku selalu nomor dua,” kata Sulli kemudian.

“Eo?” Jong Woon melihat ke arah Sulli.

“Aku tidak mengerti kenapa aku yang jadi nomor dua?”

Jong Woon tersenyum tipis sambil memperhatikan jalan yang ada di depannya, “Emm.. aku lebih tahu perasaan itu. Lebih tahu banyak darimu. Dan rasanya itu—menyakitkan.”

Sulli mengangguk, “Sunbae..”

“Em?”

“Berarti sunbae sering di nomor dua-kan?”

Jong Woon menepukkan tangannya, “Donghae menganggapku nomor dua setelah kau, Sulli-yya!”

Sulli tertawa kecil, “Masa sih?”

Jong Woon tertawa juga, “Eo.”

Author POV end

 

Jong Woon POV

Aku masih ingat sewaktu aku berteman dekat dengan Krystal. Memang, Krystal waktu itu sudah milik Lee Hyun Woo, adik kelasku. Tetapi aku tidak bisa menahan untuk mengatakan ‘Aku bagimu apa?’ kepada Krystal.

 

“Krystal-a,”

“Eo oppa?”

“Aku—bagimu apa?”

“Nae sunbae. Wae?”

“Aku—bagimu keberapa.”

“Em.. dua setelah Lee Hyun Woo. Hehe~”

 

Dan kata-kata itu membuatku berpikir bahwa nomor dua itu buruk dan menyakitkan.

Jong Woon POV end

 

Esoknya…

 

Author POV

“HOI!” So Min bersorak sambil masuk ke kelas bersamaan dengan Woo Young.

“So Min-a, sudah membuat PR?” tanya Jin Ah begitu melihat siluet yang baginya berharga itu, “Aku liiaaatt..”

“Aku jugaaa..” Ji Yeon merengek.

So Min menghampiri Jin Ah serta Ji Yeon dan berdecak, “Kalian ini kerjaannya Cuma menyontek. Sekarang ada berita bagus..”

Dari kejauhan, Woo Young memperhatikan So Min dan the gang. Dia tampak tidak rileks ketika duduk di bangku yang berada di depan Choi Min Ho. Apalagi ketika Bae Sue Ji masuk ke kelas dan melihat ke arahnya. Badannya menegang seketika.

Melihat Sue Ji duduk di sebelah Jin Ah, So Min langsung menjerit, “Nah.. ini orangnya!” Ia menunjuk Bae Sue Ji.

Jin Ah dan Ji Yeon sama-sama mengerutkan kening, “Sue Ji kenapa?”

So Min berdeham, “BAE SUE JI BERPACARAN DENGAN JANG WOO YOUNG!”

Semua yang ada di kelas –kecuali Sue Ji dan Wooyoung- langsung bangkit berdiri dan menoleh ke arah So Min, serta berseru dengan kompak seperti diberi komando, “MWO?”

Anak-anak perempuan mengerubungi Sue Ji. Sementara anak laki-laki menghampiri Woo Young yang sedang berkeringat dingin.

“Sue Ji-yya apa benar itu?” Sun Ye menginterogasi Sue Ji terlebih dahulu.

Sue Ji melirik sinis ke arah Sun Ye dan kawan-kawan dan berteriak layaknya rockerstar dengan tambahan logat dialek, “ANIYYAA!!!” Kemudian dia pergi meninggalkan segerombol anak-perempuan menuju keluar kelas.

“Apa itu benar, Woo Young-a?” Yoo Seung Ho sedikit antusias, “Woo Young-a Woo Young-a Woo Young-aaa??”

Woo Young dengan ketakutan mengangguk pelan sambil berlari kecil keluar kelas.

“Jadi yang benar siapa?” Nichkhun garuk-garuk kepala.

“Ya Woo Young-lah!” So Min ngotot, “Orang tadi dia yang cerita ke aku..”

 

…….

 

Sue Ji berlari kecil menjauh dari ruang kelas Grade 2-2 sambil terus mengumpat. Bahkan dia mengumpat dengan dialek. Lalu ia menghentikan langkahnya.

“Errgghh.. Jang Woo Young kenapa harus cerita ke Jung So Min sih? Sudah tahu So Min itu gossip girl!” Sue Ji menengok ke belakang. Dahinya berkerut ketika melihat Woo Young berlari ke arahnya, “Anak itu kenapa mengikutiku?”

Woo Young memang berlari ke arah Sue Ji sambil berteriak-teriak memanggil nama Sue Ji dan memohon agar Sue Ji berhenti di tempat. Padahal Sue Ji sudah berhenti di tempat dari sebelum melihat Woo Young.

“Jjakkaman, Sue Ji-yya! jangan pergi dulu sebelum aku sampai sana!” Woo Young ngos-ngosan. Padahal jarak dari kelas ke posisi Sue Ji cukup dekat. Baru sebentar saja, dia malah ngos-ngosan.

Woo Young sedikit membungkuk ketika ia sudah sampai di posisi Sue Ji. Ia memegangi lututnya yang pegal karena acara kejar-kejaran barusan. Nafasnya tidak teratur. Membuat Sue Ji gemas, ingin mengatur nafas Woo Young *loh?*.

“Kenapa kau memberi tahu So Min sih?” Sue Ji menghentakkan kakinya.

“Eh?” Woo Young mendongak melihat wajah Sue Ji yang merah padam, “Memangnya tidak boleh cerita ya?”

Sue Ji melirik sinis ke arah Woo Young. Tatapan sinis Sue Ji sukses membuat Woo Young ketakutan dan berdiri tegang.

“Pokoknya aku tidak mau satuuuuuuuuuuuuuuu orang pun tahu kalau kita—“ nada bicara Sue Ji kian meninggi. Tapi kemudian dia sedikit berbisik, “Pacaran.”

Sue Ji berlari menuju ke kelas meninggalkan Woo Young yang masih terpaku ketakutan akan tatapan sinis Sue Ji. Beberapa detik kemudian, dia sadar bahwa sedari tadi Sue Ji sudah melarikan diri ke kelas.

“Kenapa—aku tidak boleh cerita kalau aku dan Sue Ji pacaran?” Woo Young bergumam tepat ketika Baek sonsaengnim lewat di depannya.

Baek sonsaengnim mendekati Woo Young karena penasaran dengan apa yang barusan ia dengar, “Woo Young-a, kau dan Sue Ji pacaran?”

Woo Young memegangi mulutnya dan menggeleng cepat, “Ani..”. Kemudian dia berlari secepat kilat menuju kelasnya, sama seperti Sue Ji.

 

….

 

“Bagaimana kalau kita makan-makan pulang sekolah?” Yoo Seung Ho tiba-tiba berbicara di depan kelas dengan suaranya yang lantang.

“Buat apa?” So Min yang duduk di bangku paling depan bingung kenapa tiba-tiba Seung Ho mengajaknya.. bukan! Mengajak anak-anak sekelas untuk makan-makan.

Seung Ho menoleh ke arah So Min dan memukul pelan kepala So Min dengan buku yang ada di dekatnya, “Babo! Lagu Im Jin Ah ‘kan dinyanyikan Panic oppa. Masa tidak dirayakan?”

So Min menoleh ke arah Jin Ah yang duduk tidak jauh dari tempat duduknya, “Jjinja?”

Jin Ah meringis dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kemudian dia mengangguk.

BRAK! Suara pintu dibuka dengan sangat kasar membuat semua yang ada di kelas Grade 2-2 menoleh ke arah pintu. Ternyata yang membuka dengan kasar adalah Bae Sue Ji. Siapa lagi kalau bukan dia? Nyatanya dia adalah anak perempuan terkasar dan terjudes di seantero dunia menurut Guiness of World Record.

Beberapa detik kemudian setelah Sue Ji, Woo Young muncul dengan wajah yang tidak enak dipandang. Wajahnya merah padam dihiasi keringat di dahi. Lalu dia duduk di bangkunya kembali dengan sangat hati-hati.

“Ada apa dengan dua pasangan baru ini?” You Jin terusik. Sebelumnya ia sedang membaca buku sambil memainkan rambut pendeknya. Tetapi setelah dua sejoli aneh masuk kelas, ia merasa terganggu.

“Baiklah. Makan-makan dimana?” suara Min Ho terdengar dari pojok ruangan.

Ji Yeon diam-diam tersenyum melihat Min Ho dengan semangat berkata demikian. Lalu ia menoleh ke arah Jin Ah yang juga melakukan apa yang ia lakukan. Jin Ah sedang tersenyum kepada Min Ho. Dan Min Ho.. membalas senyum Jin Ah.

Kini Ji Yeon tidak lagi mengkhawatirkan hubungan Min Ho dan Jin Ah. Ia sudah tahu apa hubungan mereka berdua sebenarnya dan menurutnya, Min Ho dan Jin Ah saling jatuh cinta adalah peristiwa yang tidak akan mungkin terjadi.

Author POV end

 

Ji Yeon POV

Kini aku yakin, Min Ho tidak kan menyukai Jin Ah seperti seorang pria kepada seorang gadis. Apalagi tentang mereka berdua sama-sama mencintai. Itu adalah hal yang tidak akan mungkin terjadi. Aku tahu, Min Ho sangat menyayangi Jin Ah. Tetapi dia menyayangi Jin Ah seperti seorang kakak kepada adik.

Intinya, aku tahu, Min Ho adalah kakak kandung Im Jin Ah.

 

“Min Ho-yya, aku tidak mengerti!” aku masih mengomel bahkan ketika hampir sampai ke tempat tujuan, “Kau tidak mendengarkanku dari tadi!”

Min Ho diam saja. Dia masih malas menanggapiku  yang menurutnya itu cerewet.

“MIN HO-YYA!” aku menjerit. Aku berhenti berjalan di belakang Min Ho. Jeritanku membuatnya berbalik badan dan menutupi mulutku.

“Sst.. kita sudah sampai. Bisakah kau kecilkan suaramu? Dan kemudian kau pergi kesana sendiri—“ Min Ho menunjuk ke arah makam Nyonya Im yang tidak jauh dari posisinya dan juga posisiku, “—tanpaku.”

Aku menatap makam yang sudah tidak asing bagiku. Kemudian aku ganti menatap Min Ho, “Min Ho-yya,”

Min Ho mengangkat alisnya, “Eum?”

“Itu—makam ibumu ‘kan?”

Min Ho mengangguk cepat. Lalu dia hendak pergi dari hadapanku, “Orang yang duduk di sebelah makam ibuku itu adalah Jin Ah. Jadi secepatnya kau kesana!”

 

Aku tahu kenapa dia berkata demikian waktu itu. Dia tidak mau Jin Ah tahu kalau dia adalah kakak kandungnya. Tapi yang aku tidak tahu, kenapa dia tidak mau Jin Ah tahu kalau ia kakak kandung Jin Ah?

 

“Min Ho-yya,” aku menghampiri Min Ho, “Jangan bilang kalau—“

“Ji Yeon-a, aku ada urusan. Kau pergilah kesana menemani Jin Ah,” kata Min Ho sambil mundur beberapa langkah, dan kemudian berjalan cepat menjauh dariku.

Aku menatap punggung Min Ho dari kejauhan, “Jangan bilang kalau itu makam ibumu dan juga makam ibu Jin Ah..” bisikku.

 

Kini aku tahu waktu itu, Min Ho sebenarnya tidak ingin menjauhiku. Dia ingin menjauhi kenyataan bahwa Jin Ah adalah saudara kandungnya.

Kini kakak beradik kandung itu pun saling tersenyum. Aku pun ikut tersenyum melihat mereka.

Ji Yeon POV end

 

Author POV

“Geundae—“ suara Sun Ye terdengar setelah Seung Ho bilang akan makan-makan dimana, “Aku tidak ikut.”

Qian menoleh ke arah Sun Ye, “W-Wae?”

So Min ikut menoleh ke arah Sun Ye, “Wae Sun Ye-yya?”

Sun Ye tersenyum tipis, “Mianhae. Aku ingin menjenguk Seung Hyun.”

Seung Ho menepukkan tangannya, “Madda! Seung Hyun-a! Aduhh.. kita sudah tidak menjenguknya berapa hari?!!” Dia panik sekali sehingga nada bicaranya membuat telinga semua orang sakit.

“Tenang saja. Hanya dua atau tiga hari.. atu malah lebih—“ kata Sun Ye.

“Yya! Bagaimana aku bisa tenang?!” Seung Ho tambah berisik.

“Apa kita menjenguk Seung Hyun dulu baru makan-makan?” kata Jin Ah, “Aku yang traktir..”

“Ani, Jin Ah-yya!” Nichkhun berseru, “Aku yang traktir. Mumpung duitku banyak minggu ini. Untuk apa jika terus-terusan menganggur di dompet?”

 

……….

 

Sun Ye duduk di samping Seung Hyun yang sedang makan bubur dengan lahapnya. Ia terus memperhatikan wajah Seung Hyun yang terlihat senang dijenguk oleh teman-teman Grade 2-2 yang ia ingat.

Seung Hyun berhenti mengunyah ketika sadar bahwa ia diperhatikan Sun Ye, “Em.. kau mau, MinMin-a?”

Sun Ye kaget. Matanya membulat setelah melihat Seung Hyun menyodorkan sesendok penuh bubur tepat di depan mulutnya, “Aniyya.. ani. Lanjutkan saja makan siangmu..”

Seung Hyun melahap bubur yang baru saja ia sodorkan kepada Sun Ye. Lalu ia menatap Yoo Seung Ho yang sedang memperhatikannya juga. Kemudian di menatap ke sebelah Seung Ho, Min Ho. Lalu Nichkhun, Woo Young, Shindong, So Min, Qian, Ji Yeon, Jin Ah, Sue Ji, dan terakhir You Jin. Mereka semua memperhatikannya.

“Ada apa sih? Kalian mau makan bubur juga? Di depan ada restoran bubur..” kata Seung Hyun.

Yoo Seung Ho geleng-geleng mewakili semua yang ditawari bubur oleh Seung Hyun, “Gomawo, Seung Hyun-a. Tapi ada satu hal yang ingin aku ka—“

“Malhae!” Seung Hyun menyambar perkataan Seung Ho.

“Uhh… kau masih saja seperti it—“

“Yah.. setidaknya kau masih mengingatku.”

Seung Ho menarik nafas dalam-dalam, “Aku minta ijin untuk keluar dengan teman-teman. Ijin untuk makan-mak—“

“Aku disini saja ya!” seru Sun Ye memotong perkataan Seung Ho. Mirip dengan apa yang Seung Hyun lakukan.

“Oh.. kalian mau makan-makan? Silahkan! Tidak apa-apa! Pergilah!” Seung Hyun malah mengusir anak-anak Grade 2-2 dari kamar rawatnya.

“Okay,” Seung Ho hendak keluar kamar. Tapi kemudian dia teringat sesuatu, “Kau tidak mengucapkan selamat kepada Jin Ah?”

Seung Hyun menoleh ke arah Jin Ah, “Kau pacaran dengan Nichkhun?”

So Min bertepuk tangan setelah mendengar perkataan Seung Hyun, “Ternyata bukan Sue Ji dan Woo Young saja yang berpacaran. Jin Ah-Nichkhun juga..”

“Eihh.. siapa yang mau pacaran?” suara Nichkhun meninggi di akhir kalimat, “Belum kok.”

“Berarti mau pacaran. Iya ‘kan?” Shindong menggoda Nichkhun dengan cara menyikutnya, “Keuchi keuchi?”

Nichkhun diam saja karena menurutnya tidak penting menanggapi Shindong yang ketularan virus gossiper dari Jung So Min. Ia melirik ke arah Jin Ah yang tertunduk malu.

“Jin Ah-yya, chukahae.. Lagumu dinyanyikan oleh Panic!” kata Seung Hyun tiba-tiba. Ternyata ia sudah tahu dari sebelum sekelas tahu.

Yoo Seung Ho menunjuk-nunjuk Seung Hyun, “Dasar! Kau sudah tahu duluan kenapa tidak langsung bilang!”

“Surprise dariku untuk Im Jin Ah..” kata Seung Hyun sambil tersenyum kepada Jin Ah.

“Gomawo, Seung Hyun-a. Sayangnya kau tidak ikut kami..” kata Jin Ah.

“Gwenhana,” kata Seung Hyun sambil tersenyum lebar ke arah Jin Ah. Lalu dia menoleh ke arah Sun Ye, “Tapi kenapa kau tidak ikut?”

Sun Ye meringis, “Apa aku mengganggumu jika aku tetap disini?”

Seung Hyun diam saja. Ia melirik ke arah Yoo Seung Ho dan kawan-kawan. Kemudian dia menatap Sun Ye lagi, “Mereka lebih suka kalau kau menemani mereka makan. Kau ‘kan anak baru. Masa sih mau menolak tawaran mereka? Apalagi Yoo Seung Ho atasanmu.”

Semuanya bertukar pandang. Seung Hyun bilang tadi, Sun Ye anak baru? Ini pertanda Seung Hyun belum mengingat Sun Ye lagi.

“I-iya, Sun Ye-yya. Daripada kau mengganggu waktu istirahat Seung Hyun, kau mending ikut kami,” kata So Min blak-blakan.

“Sebenarnya bukan begitu maksudku, Min-Min-a,” kata Seung Hyun kepada Sun Ye.

Semuanya tertegun ketika mendengar Seung Hyun memanggil MinMin. Sampai saat ini, Seung Hyun benar-benar belum ingat siapa yang ia panggil MinMin dari tadi.

 

……

 

“Kau tahu, aku sangat suka makan disini!” kata So Min setelah menelan makanan di mulutnya, “Murah lagi! ‘Kan pas untuk dompet Nichkhun yang setipis triplek.”

Nichkhun menunjuk-nunjuk So Min dengan sumpitnya, “Dompetku setebal bantal busa! Masa kita hanya makan sushi disini?”

“Aku- sebenarnya ingin makan sushi dari duluu..” kata So Min, “Mumpung aku tadi menang batu gunting kertas, aku memilih restoran sushi.”

Nichkhun meneguk teh hijau-nya. Kemudian dia menatap So Min sinis, “Pokoknya habis ini, kita batu gunting kertas lagi dan menentukan makan dimana lagi!”

Shindong membanting sumpitnya ke meja dan menelan sushi di mulutnya dengan tergesa-gesa, “Aku setuju!”

“Harusnya ke restoran desert,” Qian memberi saran.

“RESTORAN ES KRIM!” seru Ji Yeon bersemangat sambil beranjak dari tempat duduknya. Sue Ji yang duduk di sebelahnya menariknya untuk duduk kembali, “WWWAAEE?”

Sue Ji melepaskan tangannya dari tangan Ji Yeon, “Aku malu punya teman sepertimu..”

Jin Ah menoleh ke arah Sue Ji, “Kau tidak malu punya teman sepertiku ‘kan, Sue Ji-yya?”

Sue Ji melirik sinis ke arah Jin Ah, “Siapa bilang kau temanku..” Kemudian dia melanjutkan makan sushi-nya yang tadi tertunda gara-gara semangat Ji Yeon yang berapi-api setelah mendengar kata desert.

Melihat Ji Yeon ingin sekali ke restoran es krim, Min Ho juga ingin memakan es krim, “Iya, nanti ke restoran es krim saja. Aku—juga ingin makan es krim.”

Woo Young hampir saja menyemburkan semua isi mulutnya ke Sue Ji yang duduk berhadapan dengannya, “MWO?”

Sue Ji nampak ketakutan dengan Woo Young tadi. ia tidak bisa membayangkan jika Woo Young benar-benar menyemburkan sushi ke wajahnya, “Kkamjagi..” Ia mengelus-elus dadanya.

“Wae? Aku memang ingin makan es krim,” kata Min Ho sambil melahap sushinya.

“Aneh. Seorang Choi Min Ho makan es krim. Jika Min Ho makannya belepotan sepertinya wajahnya akan lucu. Enghh.. aku ingin mengelap bibirnya nantiii!!” Woo Young menggebu-gebu.

Semuanya menatap Woo Young aneh. Tak terkecuali Sue Ji.

“Woo Young-a,” seru You Jin, “Ingat! Kau punya Bae Sue Ji!”

Semuanya tergelak. Kecuali Sue Ji. Ia masih melongo dan menatap Woo Young dengan pandangan aneh. Ia mengumpat dalam hati, kenapa bisa aku menyukai orang absurd sepertinya?

Author POV end

7 comments

  1. jeany · January 27, 2013

    min cara biar dpt pass part 20 gmn yah?

    • ffsmawol · May 5, 2013

      maaf, admin lupa passwordnya. coba aja buka di menu bantuan. kayaknya ada disitu. hehe maaf ya chingu

  2. rani · January 27, 2013

    aku minta pasword untuk part 20nya dong. aku readers baru . scepatnya ya?

    • ffsmawol · May 5, 2013

      maaf baru dibalas komennya. soalnya admin fokus UN akhir-akhir ini hehe
      maaf juga admin lupa passwordnya. buka aja di menu bantuan. kayaknya disitu ada deh. maaf ya sekali lagi..

  3. Husnul Akbar Akbari · March 18, 2013

    minta pasword yg part 20 donk min please..

    • ffsmawol · May 5, 2013

      itu di kolom bantuan ada kok. masalahnya admin lupa passwordnya apaan haha.. mian

  4. ffsmawol · May 5, 2013

    chingudeul! password-nya adalah password. makasih sebelumnya karena mau baca.. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s