[Part 2] Dream Chaser

Image

Part 2 : 꿈의 체이서

D r e a m     C h a s e r s

Title : Dream Chasers / Run

Rating : PG-1 5

Genre : School, Romance, Friendship, Family

Recomended Songs :

Gangsta Boy f(x) ; Run Epik High ; In Your Eyes Onew SHINee ; Its You Taemin SHINee ; Closer Taeyeon SNSD

“Kim Ki Bum-ssi. Aku harus memanggilmu apa supaya akrab?” tanya Seol Ri sambil terus berjalan cepat dan menggeret kopernya yang super berat.

Ki Bum menghentikan langkahnya. Dia menatap Seol Ri sinis, “Jangan sok akrab denganku. Choi Seol Ri!”

Seol Ri setengah mati terkejut ketika mendengar namanya disebut oleh Ki Bum. Begitu menyebut nama Seol Ri secara lengkap, Ki Bum pergi begitu saja meninggalkan Seol Ri yang terdiam di tempatnya.

Bagaimana bisa dia tahu namaku secara lengkap? Apa dia…. Kim sahabat kecilku?  Batin Seol Ri.

Author POV end

 

Seol Ri POV

Aku masih berdiri mematung di tempat yang sama. Hatiku jadi bingung sendiri, ‘Mwo? Dia tahu namaku? Apa dia Kim teman kecilku?’

“Ki Bum-ssi!” aku berjalan mengejar Kim Ki Bum yang sudah berjalan meninggalkanku.

Bukannya memelan, Ki Bum malah mempercepat langkahnya. Akhirnya, terpaksa aku berlari juga. Dan dengan mudahnya, aku berada di hadapan Ki Bum sekarang.

“Ki Bum-ssi,” aku tersenyum lebar kepada Ki Bum begitu berada di depannya.

Dia membuang mukanya ke arah yang lain. Mungkin dia malu bertemu dengan aku yang sahabat lama-nya. Tapi—harusnya ekspresi mukanya menunjukkan kebahagian ketika bertemu denganku. Kenapa dia jadi ketus seperti ini? Yang aku tahu Kim adalah anak laki-laki yang perhatian dan baik hati.

“Margamu Kim ‘kan? Benar ‘kan?” aku bertanya kepadanya. Memastikan.

Ki Bum masih tidak menoleh ke arahku, “Apa urusanmu?”

“Nah..” aku tersenyum lebih lebar lagi, “Kim annyeong! Sudah lama tidak bertemu!”

“Mwo?” kali ini dia menoleh ke arahku. Namun dengan tatapan garang dia juga menatapku.

“Kau ‘kan Kim. Kau masih ingat aku ‘kan? Buktinya kau mengingat namaku. Iya ‘kan? Iya ‘kan?”

“Apa yang sedang kau bicarakan?” Ki Bum berbicara kepadaku dengan nada yang datar.

Aku bingung, “Kiimm.. aku sahabatmu dulu. Waktu kecil!”

Ki Bum tersenyum sinis, “Ah.. sebenarnya kita dulu bukan sahabat. Tapi—“

“Tapi?” aku penasaran.

“Musuh,” Ki Bum masih menatapku sinis dan lalu pergi begitu saja setelah menyenggol bahuku dengan sangat keras.

Kim, ada apa denganmu? Aku sangat yakin kalau Ki Bum adalah Kim sahabat lamaku.

Seol Ri POV end

 

Tae Min POV

“Aigoo..” aku membanting tubuhku sendiri ke ranjang. Tapi kemudian aku duduk lagi.

“Mwoya?” aku bergumam sendiri setelah merasakan kadar keempukkan ranjangku, “Ini tidak diganti?”

“Punyaku juga. Sepertinya hanya kamar kita saja yang tidak!” seru Kim Jong Hyun yang sudah berbaring di ranjangnya sendiri.

Aku dan Kim Jong Hyun adalah teman sekamar. Kami sama-sama mengambil jurusan Olahraga dan Seni serta sama-sama menyukai sepak bola. Tapi Jong Hyun lebih suka main basket sedangkan aku suka main sepak bola.

Selain Jong Hyun, aku punya teman sekamar lagi. Lee Jin Ki namanya. Dia memilih jurusan yang sama juga denganku dan dengan Jong Hyun. Hanya saja, dia lebih fokus ke Seni musik. Terutama vokal dan gitar.

Sekolah Segala Bidang KOYUHGI ini adalah sekolah yang sangat aku idam-idamkan dari kecil. SSB Koyuhgi ini menonjol dalam bidang Olahraga dan Seni. Selain dua bidang itu, bidang yang lainnya adalah arsitektur dan ilmu pengetahuan. Aku ingin jadi bintang sepak bola, makanya aku memilih bersekolah di Koyuhgi. Juga, aku ingin jauh dari keluargaku. Aku bisa bebas di Koyuhgi.

Jin Ki muncul dari balik pintu kamar mandi. Dia menggosok-gosokkan handuk ke rambutnya yang setengah basah setengah tidak. Setelah melihatku dengan Jong Hyun kebingungan, dia malah nyengir.

“Punyamu, Jin Ki-yya?” aku langsung menyambarnya dengan pertanyaan tentang kasur.

Jin Ki mengernyit, “Apanya?”

Aku berdecak, “Kasur. Kasurmu diganti dengan yang baru tidaaaak?”

Cengiran Jin Ki melebar. Hampir memenuhi wajahnya yang mulus seperti tahu itu, “Kasurku diganti. Memangnya kalian tidak?”

“Ani,” Jong Hyun geleng-geleng.

“Mungkin kalian punya masalah dengan Tuan Gil Bo Jun,” kata Jin Ki enteng sambil membanting pantatnya ke kasur barunya.

Aku diam saja. Aku menatap kasur baru Jin Ki yang terlihat sangat nyaman untuk ditiduri.

Apa aku punya masalah dengan Petugas Asrama Gil Bo Jun?

Tae Min POV

Author POV

Sore di SSB Koyuhgi..

Murid-murid sudah mulai berjalan menuju asrama mereka masing-masing. Tak terkecuali, Lee Tae Min, Lee Jin Ki, dan Kim Jong Hyun. Mereka berangkulan menuju ke asrama laki-laki.

“Song Ki Ahn!” Lee Jin Ki melepaskan rangkulan Lee Tae Min ketika melihat Song Qian berjalan beriringan bersama Park Sun Young.

Song Qian dan Park Sun Young adalah murid jurusan ilmu pengetahuan dan seni. Mereka sangat dekat walaupun bukan teman sekamar. Mereka berteman dekat karena sama-sama merasa ditindas oleh Amber Liu dan Jung Soo Jung.

PLAK! Tae Min memukul kepala bagian belakang Lee Jin Ki. Refleks, Jin Ki menjerit, membuat Song Qian dan Park Sun Young menoleh ke arahnya.

“Appaee!” Jin Ki menoleh ke arah Tae Min.

Tae Min memonyongkan mulutnya, “Sudah berapa kali kau dengar aku memanggil Song Qian dengan Song Qi-An? Bukan Song Ki Ahn!”

“Bukannya sama saja?” Jin Ki mengelus-ngelus kepalanya yang tadi bekas pukulan hebat Tae Min.

“Korea dan China itu beda!” Tae Min berbicara kepada Jin Ki, namun matanya tertuju kepada Park Sun Young dan Song Qian yang berjalan ke arahnya. Ia juga tersenyum kepada Sun Young dan Qian.

“Tae Min-a, annyeong! Jin Ki-yya, annyeong! Jong Hyun-a, annyeong!” Song Qian menyapa semuanya.

Jin Ki tersenyum manis kepada Qian, tapi tangannya masih bergerak disekitar kepala, “Annyeong, Qian-a!”

“Kau selalu menyapa semua orang yang kau lihat, Qian-a. Gyeowo!” Jong Hyun berkata kepada Qian.

“Eo. Dia memang selalu begitu,” Sun Young menyambung perkataan Jong Hyun. Dia tampak malu-malu di belakang punggung Qian.

Jong Hyun tersenyum kepada Sun Young. Begitu pula Sun Young.

“Emm.. sudah sore. Sebaiknya, para gadis masuk asrama lebih dulu!” kata Jin Ki, membuat Sun Young mencacinya dalam hati.

“Eo!” Tae Min ‘mengusir’ Sun Young dan Qian dengan gerakan tangannya.

“Okay! Tapi, Jin Ki-yya,” Qian menatap Jin Ki.

“Eo, wae?” Jin Ki mengangkat alisnya.

“Kau boleh memanggilku Song Ki Ahn.”

“Ah.. keugae..” Jin Ki menggaruk kepalanya.

Di lain sisi…

Kim Ki Bum meletakkan tas ranselnya di atas ranjang asrama Koyuhgi. Dia lalu melepaskan kacamatanya dan meletakkannya di atas meja dekat ranjangnya.

Pintu kamar terbuka. Kim Ki Bum tidak penasaran karena dia tahu yang baru saja masuk itu ya teman sekamarnya.

“Choi Min Ho!” Ki Bum melepas kemejanya.

“EO!?” Min Ho, teman sekamar Ki Bum terdengar tersentak dengan suara Ki Bum.

“Kau mau tahu apa yang update sekarang?” Ki Bum berbalik badan.

“Eo. Apa itu?”

Ki Bum tertawa kecil, “Apa kau hanya bisa menjawab ‘eo’?”

“Eo,” Min Ho manggut-manggut, “Eh, aku bisa menjawab yang lainnya.”

Ki Bum duduk di tepi ranjang. Sementara Min Ho masih berdiri di depan pintu.

“Mau ada murid baru,” kata Ki Bum sambil melepaskan sepatunya.

“Oh..” Min Ho memperhatikan Ki Bum yang sedang melepas sepatu. Tiba-tiba dia mengernyitkan dahi, “YYA! Lepas sepatu itu di sana!” Min Ho menunjuk pintu kamar.

“Anak baru itu perempuan. Dan kau mau tahu kenapa aku memberitahumu?” Ki Bum mengacuhkan Min Ho.

Min Ho menghembuskan nafasnya pendek dan berjalan gontai ke arah ranjang miliknya, “Molla.”

Ki Bum menatap Min Ho, “Bantu aku untuk balas dendam ke gadis itu.”

“MWO?” Min Ho panik setelah mendengar Ki Bum. Dia tahu Ki Bum tidak pernah main-main. Apalagi urusan balas dendam. Ki Bum pernah merundingkannya dengannya, “Gadis itu.. apakah Choi Seol—“

“Choi Seol Ri.”

“Benar-benar dia? Kenapa bisa dia? Kenapa dia disini? Katamu, dia di Korea Utara bersama ayahnya karena kedua orang tuanya bercerai. Apakah dia kesini karena kabur dari rumah? Apakah dia memilih bersekolah disini karena tidak diterima oleh ibunya?” Min Ho benar-benar panik.

“Sikkeureowoyya!” Ki Bum membentak Min Ho. Membuat Min Ho jatuh terduduk di tepi ranjang.

“Aku jadi ingat, kau pernah cerita kepadaku. Ayahmu itu sangat membenci ayah Seol Ri karena suatu hal. Dan hal itu sangat tidak ingin aku sebut sekarang. Kau tahu? Aku tidak mau menyakiti hatimu,” kata Min Ho.

“Terserah. Tinggal bilang, bahwa aku dan keluargaku—“

“Jatuh miskin karena ayah Seol Ri. Arrasseo, arra.. Lalu, karena kau benci sekali dengan ayah Seol Ri, kau mau balas dendam dengan ayah Seol Ri secara langsung. Tapi aku tahu kau tidak mungkin menghampiri ayah Seol Ri yang sekarang berada di Korea Utara. Jadi, kau balas dendam lewat Seol Ri, anak perempuan Keluarga Choi satu-satunya,” Min Ho memutar kembali apa yang diceritakan Ki Bum belakangan ini.

“Hmm..,” Ki Bum berbaring di atas ranjangnya.

“Dan aku tahu ayahmu dan ayah Seol Ri dulu adalah rekan kerja sekaligus sahabat yang sangat lengket. Tetapi karena suatu insiden, emm.. karena bos ayahmu dan ayah Seol Ri sangat menyukai ayah Seol Ri, -bukan ayahmu-,” Min Ho mengoceh, “Lalu apa ya? Aku lupa..”

“Jangan diceritakan lagi. Aku tahu semuanya.”

“Iyalah! Kan kamu yang bercerita kepadaku.”

Ki Bum menutup matanya. Dia masih ingat kejadian sepuluh tahun lalu

 

“YEOBO! Jangan begitu terhadap Tuan Choi!” Nyonya Kim menjerit setelah ayah Seol Ri jatuh tersungkur di lantai di hadapannya dan di hadapan ayahnya.

“WAE?” Tuan Kim membentak Ki Bum, “ORANG INI LAH YANG MEMBUAT KITA MELARAT!”

Tuan Choi bangkit, “Kim Yoon Bin! Aku melakukan ini karena kau sudah melakukan yang keterlaluan kepadaku!”

“Keterlaluan katamu?”

Ki Bum membuka matanya lagi. Matanya panas. Dia mengubah posisi tidurnya ke kiri, menghadap ke tembok. Dan malah memikirkan Choi Seol Ri. Dia pernah melihat Seol RI beberapa tahun silam. Dan tidak akan pernah melupakan wajah yang terkesan cute dan lugu itu. Tidak akan pernah.

“Ki Bum-a, kau bisa ‘kan membalaskan dendam ayah lewat gadis ini?”

“Eo, aboji.. aku bisa..”

Ki Bum menutup matanya rapat-rapat dan akhirnya dia tertidur.

_____

Choi Seol Ri tersenyum puas begitu sampai di depan gerbang SSB Koyuhgi. Dia memegang erat gagang koper dan masuk ke dalam dengan langkah yang mantap.

“Ah…. sore-sore begini sepi sekali..” gumam Seol Ri sambil tengak-tengok dan berjalan mantap ke arah gedung besar yang masih jauh di depannya, “Seharusnya banyak anak-anak disini. ‘Kan enak kumpul sore-sore sampai malam..”

Seol Ri menyibak rambutnya yang tergerai, “Huhh.. panas! Harus segera minta kunci kamarku!”

Seol Ri langsung saja berlari kecil. namun baru beberapa detik berlari, ia berhenti lagi, “Ahh.. nanti kalau berlari malah keringetan. Nanti tidak bisa mandii..” Ia menyeka keringatnya di daerah dahi.

“HAKSAENG!” seorang petugas sekolah yang kebetulan sedang berjalan-jalan mengelilingi gedung sekolah menunjuk-nunjuk Seol Ri dengan tongkatnya, “KENAPA KAU MASIH DILUAR? AYO CEPAT MASUUUOOOK!!”

Seol Ri kaget bukan main. Dia memegangi dadanya, takut jantungnya copot. Lalu dia berjalan mendekat ke arah petugas itu, “Jjogiyeooo!”

“WHAT’S UP?” si petugas dengan gayanya yang aneh juga berjalan mendekati Seol Ri.

BUK! Badan Seol Ri tersenggol sesuatu yang lebih tepatnya dibilang bahu seseorang. Seol Ri tersungkur di tanah dan meringis kesakitan tanpa memperdulikan siapa yang menabraknya barusan.

“Taemin-haksaeng. Wae?” tanya si petugas.

Ternyata Taemin-lah yang menyenggol Seol Ri. Dan keperluannya adalah mencari Gil Bo Jun si petugas asrama yang adalah si petugas di hadapannya itu.

“Jangan sok akrab denganku, Bo Jun-a. Kenapa kasurku tidak diganti?” ekspresi Taemin tidak baik. Ia terlihat sangat marah hanya gara-gara kasur yang tidak diganti.

“Taemin-haksaeng, aku bukannya tidak mau mengganti kasurmu. Aku—“

Dengan sigap, Taemin mendorong tubuh Gil Bo Jun ke dinding asrama. Kemudian dia mencekik leher anak malang itu.

“Tho..loong lephas..kanh.,” Bo Jun sekuat tenaga melawan tenaga Taemin.

“YYA!”

Taemin mengendurkan pegangannya di leher Bo Jun dan menoleh ke belakang, ke sumber suara. Ia menyipit ketika melihat Seol Ri berdiri tidak jauh darinya. Beberapa detik kemudian, dia melongo.

Anak itu?  Batin Taemin setelah melihat wajah Seol Ri dengan jelas.

“Lepaskan dia! Aku ada keperluan dengannya!” Seol Ri menunjuk Gil Bo Jun sambil berjalan mendekat ke arah Taemin.

Taemin pun menuruti perintah Seol Ri tanpa berhenti menatap wajah Seol Ri. Ia melepaskan tangannya dari leher Bo Jun, semenyata Bo Jun sendiri batuk-batuk.

Seol Ri mendekati Bo Jun, “Dimana kamar Amber Liu?”

Bo Jun tidak menjawab. Ia terus batuk-batuk.

“Ikut aku! Akan kuberitahu!” Taemin menarik tangan Seol Ri.

“IH!” benci dipegang-pegang, Seol Ri menghempaskan tangan Taemin dari pergelangan tangannya sendiri, “MWOYYA?”

“Percuma saja kau tanya dengan orang batuk-batuk sepertinya. Lagian dia hanya petugas asrama dan tidak tahu kamar murid-murid disini!” kata Taemin.

“Tapi—mana bisa aku percaya denganmu! Bisa saja aku dibawa ke gudang dimana disitu banyak gangster yang menakutkan dan akan meremasku seperti meremas kertas…”

Taemin tahu Seol Ri takut sekali dengan gangster. Ia memejamkan mata sambil manggut-manggut memahami isi hati Seol Ri, “Tidakk.. aku bukan gangster!”

“Apa namanya jika kau tadi mencekik Bo Dun dan hampir saja membunuhnya?”

“Pokoknya aku bukan gangster..” Taemin mencoba bersabar menghadapi Choi Seol Ri, “Ikuti aku!”

“Tapi aku harus memotret wajahmu dulu agar nanti jika aku dibunuh olehmu, aku bisa menunjukkan foto ini kepada polisi.,” Seol Ri mulai mengobrak-abrik tas ranselnya. Mencari-cari kamera polaroid kesayangannya.

“Babo..,” Taemin tertawa kecil, “Bagaimana bisa seseorang yang dibunuh kemudian menunjukkan foto si pembunuh.”

Seol Ri tidak mendengarkan perkataan Taemin. Ia serius mengambil sudut kamera yang bagus untuk memotret Taemin.

_____

Jung Soo Jung sengaja mengungsi ke kamar Amber karena dia tidak betah tinggal sekamar dengan Park Sun Young. Dia menceritakan segala hal tentang Sun Young kepada Amber malam itu.

“Mwo? Jadi Sun Young benar-benar menyukai Jonghyun?” Amber pura-pura shock agar terlihat lebih setia kawan.

“Eo,” wajah Soo Jung berubah menjadi cemas. Ia menatap lurus ke kasur yang kosong di seberang kasur Amber yang kini ia duduki dengan sang pemilik.

“Oh ya!” Amber teringat sesuatu. Ia membuat Soo Jung menatapnya dengan tatapan penasaran.

“Apaan?” reaksi Soo Jung sedikit tidak ikhlas.

“Ada anak baru yang akan tinggal sekamar denganku—“

“Tentunya tidak hanya denganmu. Dengan Song Qian juga…”

Baru saja Soo Jung menyebut nama Song Qian, Qian muncul di ambang pintu dengan ekspresinya yang ceria seperti biasanya. Kemudian dia menyapa Soo Jung dan Amber.

“Annyeong Soo Jung-a! Annyeong Amber-aa..!” sapa Qian.

“Emm..” Soo Jung bersikap dingin kepada Qian.

Di balik punggung Qian, muncullah Taemin bersamaan dengan Seol Ri. Tatapan Taemin langsung menuju ke arah Soo Jung. Begitu juga Soo Jung. Matanya berbinar melihat Taemin berada di kamar Amber kini. Namun kemudian, tatapannya berubah nanar setelah melihat seorang gadis asing muncul bersamaan dengan Taemin.

“Dia anak baru yang akan tinggal bersamamu,” kata Taemin kepada Amber. Tidak sedikitpun ia melihat Soo Jung.

Jung Soo Jung bangkit berdiri, “Taemin-a, kenapa kau yang membawa anak ini? Bukannya ini tanggung jawab Bo Jun?”

Seol Ri menoleh ke arah Taemin. Namun, ketika Taemin menoleh ke arahnya, Seol Ri malah melihat ke arah Amber.

“Tenang saja, dia perempuan!” kata Taemin kepada Seol Ri sambil menunjuk Amber.

“Eo, dia anak perempuan. Tetapi hati-hati. Aura boyish-nya sangat kuat,” kata Soo Jung sengaja menyambung perkataan Taemin.

Seol Ri mengangguk pelan. Dia memang takut kepada Amber yang dari tadi duduk seperti anak laki-laki di pinggir ranjang. Ia kemudian memutar kepalanya untuk melihat-lihat seisi kamar.

“Amber-a,” Qian memanggil Amber.

Amber mendongak untuk bisa melihat wajah Qian. Qian berdiri cukup dekat dengannya sehingga dia terpaksa melakukan itu.

“Bisakah kau mengajaknya lihat-lihat?” kata Qian, “Dia sepertinya memerlukan bantuanmu agar dapat betah disini..”

Amber tersenyum kecut, “Aku saja tidak betah—apalagi dia,” katanya.

“Besok saja, Qian-a. Dia ‘kan capek pastinya baru sampai sini. Kau darimana?” tanya Soo Jung kepada Seol Ri.

“Aku—aku.. anak Pyongyang,” jawab Seol Ri. Ia sedikit ragu-ragu untuk mengatakan itu.

“Pyongyang?!” Soo Jung menjerit, “Kau tinggal di kota yang hanya memiliki satu stasiun televisi itu? Betah?”

Seol Ri tersenyum tipis kepada Soo Jung, “Terpaksa. Ayahku bekerja disana. Ada tugas disana. Aku jadi ikut..”

Taemin menatap Seol Ri iba. Ia semakin yakin jika Seol Ri adalah anak perempuan yang dimaksud ayahnya dulu.

“Ayah sebenarnya tidak tega menyakiti Tuan Choi, Taemin-a.”

“Lalu kenapa ayah melakukannya?”

“Yah, pekerjaan ayah ‘kan seperti itu. Ayah harus melakukannya. Jika tidak, ya tidak dapat uang.”

“Siapa yang menyuruh ayah dan juga yang membayar ayah?”

“Kau tidak perlu tahu.”

“Apa Tuan Kim?”

 

“Ayahmu bekerja apa?” tanya Taemin kepada Seol Ri begitu selesai flashback.

Seol Ri menatap Taemin sinis, “Kenapa kau masih disini? Ini ‘kan ruangan anak perempuan!”

Taemin hanya menatap Seol Ri sebal dan keluar dari kamar Qian dan Amber. Jung Soo Jung juga ikut keluar karena dia memang kerjaannya hanya membuntuti Taemin di sekolah ini.

Qian menutup pintu kamar, sementara Amber membanting tubuhnya sendiri di ranjangnya sambil mendengus keras. Kemudian dia memainkan sebuah topi yang membuat Seol Ri mengernyit dan tertegun.

“Itu… topiku ‘kan?” Seol Ri menunjuk-nunjuk topi yang ada di tangan Amber.

________________________________________________________

Advertisements

2 comments

  1. tias_nila · June 19, 2013

    Pertama – tama aku mau bilang comentnya langsung disini aja ya thor part 1&2.

    Thor… kok sifatnya taemin kyak sifat aslinya minho, ato cuman perasaanku aja.
    Terus aku agak bingung sebenernya yg suka sma jong hyun itu amber ato krystal?

    Tpi untuk alur ceritanya daebak thor…

    • ffsmawol · June 20, 2013

      oke gapapa kok chingu~

      author juga ngerasa gitu jujur wk.. iyah sekali-sekali si taem jadi manly kayak minho, dan minho jadi agak *maaf* cengo
      krystal sama taemin itu mantan– tapi krystal masih suka sama taemin. nah yang suka sama jonghyun itu amber.

      terima kasih chingu~ muah muah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s