Replay… (Neverending Story) Part 1

Untitled

Title : Replay…

Rating : PG – 16

Genre : Sad, Romance, Angs

Casts : Nana, Yuri, Minho, Key, Mir, Kai, Joon,

 

 

Part 1

Yuri POV

Aku baru saja keluar dari mobil. Tangan kananku penuh dengan buku-buku pelajaran Bahasa Inggris. Sedangkan tanganku yang satunya lagi untuk membawa tas tentengku. Phone-ku pun masih aku pegang karena aku baru saja menerima SMS dari Key.

Dengan penuh percaya diri, aku membunyikan bel pintu. Tidak lama, pintu itu pun terbuka lebar. Tampaklah Key yang sedang berdiri sambil tersenyum manis kepadaku. Dia kemudian mempersilahkan aku masuk.

“Si pemilik rumah mana?” aku menoleh ke kanan ke kiri. Aku bingung. Ini rumah Choi Min Ho. Kenapa malah Key yang menerima tamu?

“Di kamar,” jawab Key singkat sambil menutup rapat-rapat pintu utama.

Aku menatap sebentar anak tangga yang kini berderet ke atas di depanku. Kemudian aku menaikinya dengan tempo agak cepat. Setelah itu Key mengikutiku di belakang.

“Pekerjaan Rumah sudah dikerjakan?” tanyaku kepada Key.

“Belum.. hehe,” Dia tertawa kecil, “’Kan kami menunggu Miss Yuri baru kerjakan..”

Aku menghentikan langkahku. Kemudian aku menoleh ke arah Key dan menatapnya tajam, “Kerjakan sekarang juga!”

Key tersenyum lebar kepadaku, “Ne, Miss!”

Key berlari ke atas dan kudengar ia langsung berteriak kepada teman-temannya agar mengerjakan PR. Aku melirik jam tangan yang menempel sempurna di pergelangan tangan kiriku, kemudian aku mendengus.

Yuri POV end

 

Minho POV

Aku sedang menatap kosong layar TV yang sedari tadi menyala. Suaranya sengaja aku kecilkan karena aku tidak suka hal-hal yang berisik dan bising.

“Minho-yya!” Mir duduk di sampingku dengan ribut. Membuat sofa yang aku duduki dari tadi bergoyang.

Aku menoleh ke arah Mir sebentar, “Wae?”

“Aku ingin cerita sedikit—“ kata Mir.

“Apa?”

“Eng—aku..”

“YYA! PPALI KERJAKAN PR-NYAA! MISS YURI MENGAMUK!!” Key tiba-tiba datang dan berteriak sekuat tenaganya. Ia bahkan membanting pintu kamarku dengan sekuat tenaga juga.

Aku berdiri dan merapikan bajuku. Kemudian aku mengambil buku bahasa inggrisku dan keluar dari kamar. Key dan Mir mengikuti gerakan cekatanku. Lalu kami bersama-sama duduk di sofa yang ada di ruangan tengah lantai atas.

Aku bisa melihat bayangan Miss Yuri di tembok. Korden jendela dekat balkon sengaja tidak kututup agar sinar matahari sore ini bisa masuk. Aku suka itu.

“Sudah dikerjakan pekerjaan rumahnya?” Miss Yuri duduk di depan Key dan di sebelah Mir. Dia kemudian menatapku, “Milikmu sudah, Choi Min Ho?”

Aku diam sebentar, kemudian mengangguk kecil. Aku membuka perlahan buku bahasa inggrisku. Miss Yuri mengintip sedikit isi catatanku. Wajahnya kini sangat dekat denganku. Dan jantungku berdebar sangat keras dan juga sangat cepat ketika kulihat bibirnya yang merah merekah itu.

“Kau sangat rajin mencatat semua materi yang aku ajarkan di kelas..,” kata Miss Yuri. Ia duduk seperti semula. Kemudian dia mengucir rambutnya dan mengenakan kacamata, “Jja.. sekarang mana pekerjaan rumahmu, Mir-a?”

Mir meringis, “Aku belum mengerjakannya, Miss..”

“Kerjakan sekarang!” perintah Miss Yuri.

“Aku juga malas mengerjakannya, Miss..”

Miss Yuri tidak mengatakan apapun lagi kepada Mir yang malang itu. Dia melirik tajam ke arah Key, “Aku tahu kau belum. Ayo, cepat kerjakan sekarang!”

“Ne, Miss…” Key langsung mengambil catatan bahasa inggrisku dan siap-siap menyalinnya. Namun Miss Yuri mengambil catatanku dengan kasar dan mengembalikannya kepadaku.

“Kerjakan sendiri, Key!” katanya kepada Key.

“Ne..” Key tersenyum nakal kepada Miss Yuri. Kemudian dia mengerjakannya sendirian.

Miss Yuri melihat ke arahku, “Nah.. Minho-yya. Kita lanjutkan saja materi sementara mereka mengerjakan pekerjaan mereka. Bagaimana?”

Aku tersenyum kecil kemudian mengangguk lagi, “Ne..”

Miss Yuri dengan cepat membuka buku cetak bahasa inggrisku. Dia membaca isinya dengan sangat teliti. Kemudian dia mengerutkan dahi, “Kau sudah mengerjakan semua soalnya? Hebat..”

“Ne,” aku agak membungkuk.

Miss Yuri tersenyum kepadaku, “Tidak heran kau juara kelas.”

Aku membalas senyumnya yang manis itu. Senyuman yang membuatku selalu mengaguminya setiap aku mengingat namanya. Kwon Yuri yang adalah guruku sendiri di sekolah dan juga guru les bahasa inggrisku, aku mengaguminya. Aku menyukainya. Dan aku mungkin juga akan mencintainya sebagai wanita. Bukan sebagai guru.

Minho POV end

 

Nana POV

Aku masuk rumah dengan mengendap-endap. Aku tidak bisa mengucapkan, ‘Aku sudah dirumahh..’ dengan nada yang seriang dulu. Karena aku takut Ayah akan marah padaku jika aku pulang malam dan juga akan membangunkannya yang tidur di sofa ruang tamu.

“Aku sudah di rumah..,” aku sedikit berbisik dan juga sedikit melirik ke arah sofa ruang tamu. Uhh.. leganya setelah tidak melihat Ayah disana. Pasti Ayah keluar main.

Aku tersenyum lebar dan berjalan mantap menuju kamar. Dan saat aku membuka pintu kamar, aku terkejut setelah melihat seseorang yang ternyata ayahku sedang duduk di tepi ranjangku. Ketika melihatku, dia bangkit berdiri. Kemudian dia menatapku tajam.

“Habis dari mana?” tanya Ayah.

“A-aku.. habis dari tempat teman, aboji—“

“Teman siapa?”

“Park Soo Won—“

“Kau masih saja main sampai malam di rumah anak itu?”

“Aboji, aku tidak main.. aku belajar!”

“Yya! Kau berani membentak ayahmu sendiri?” ayah mendekatiku. Dia meremas kepalan tangannya sendiri. Membuatku semakin lebih takut.

“Aku tidak membentak ayah!”

BUK! Pukulan di pipiku mendarat dengan sangat keras. Aku bisa merasakan gigi gerahamku copot. Entah sudah berapa yang copot. Kemarin gigi taring, namun berhasil aku ganti dengan gigi palsu.

“Ayah…,” mataku panas. Bahkan aku tidak bisa melihat dengan jelas. Sedikit pusing karena aku dipukul sampai terduduk di lantai kamarku.

Nana POV end

 

Author POV

Choi Minho, dengan style khas-nya –memasukkan kedua tangannya ke dalam saku dan berjalan gontai- masuk ke kelas. Ia memang telat. Anehnya dia tidak khawatir.

Pintu kelas, ia geser. Dan ia melihat Miss Yuri berdiri memperhatikannya. Begitu juga teman-teman sekelasnya. Dengan cepat ia memberikan hormat kepada Miss Yuri dan masuk kemudian menutup pintu kelas kembali.

Baru duduk di tempat duduknya, Minho dipanggil oleh Miss Yuri.

“Choi Minho, come here!”

Dengan agak malas, Minho bangkit dan maju ke depan kelas. kemudian dia berdiri tepat di depan Miss Yuri tanpa mengatakan apa-apa.

“Why did you come too late today?” tanya Miss Yuri.

“Miss, don’t speak with him with english! He can’t know what did you say just now!” celetuk Key juga menggunakan bahasa Inggris.

Minho melirik sinis ke arah Key. Ia ingin sekali memukul orang itu.

“Sudahlah, kau boleh duduk!” Miss Yuri menyuruh Minho duduk dengan menggunakan bahasa korea.

Tanpa harus berbicara apa-apa lagi, Minho duduk di tempatnya. Kemudian mengikuti pelajaran Miss Yuri dengan baik.

 

……

 

“Yya! Nana!” teriak Mir begitu melihat sosok gadis yang satu tahun lebih muda darinya berjalan di koridor kelas tiga.

Nana –adik kelas Mir- langsung menoleh ke belakang dan tersenyum, “Oppa?”

Mir berjalan mendekati Nana. Ia juga tersenyum, “Tumben, kau di koridor sini. Biasanya kau mondar-mandir di depan kelasku. Katanya kau–”

Nana tetap tersenyum, “Aku memang suka berjalan-jalan di koridor ini, Oppa. Yang itu tidak usah diungkit keras-keras..”

Mir memperhatikan wajah Nana. Ia melihat pipi Nana sudah berwarna biru ke ungu-unguan. Lebam. Kemudian, ditatapnya mata Nana, “Kau—berkelahi dengan siapa?”

“Eo? Aku tidak berkelahi!”

“Lalu?” Mir menunjuk-nunjuk pipi Nana yang lebam. Ia bisa saja menyentuhnya, jika Nana tidak sigap menepis tangan Mir.

“Oh.. ini kemarin—aku—“ Mata Nana membulat. Ia melihat Minho baru saja keluar dari kelas, “Eo?”

Mir menoleh ke belakang, “Ohh.. Minho..,” kemudian dia menoleh lagi ke arah Nana. Namun Nana sudah tidak ada di tempatnya lagi, “Kemana anak itu?”

 

Sementara itu, Minho yang baru saja keluar dari kelasnya langsung membuka loker miliknya. Setelah dibuka, seperti biasa ada sekotak cokelat dan sepucuk kertas bertuliskan :

Oppa, fighting!

“Sejak kapan kau punya yeoja chingu?”

Minho menoleh ke sumber suara, yaitu Mir. Dia sudah berada di samping Minho sebelum Minho membaca tulisan itu.

“Aku tidak punya yeojachingu,” kata Minho, sambil mengambil kotak cokelat di lokernya. Kemudian dia memperhatikan bentuk dari setiap cokelat di dalam kotak tersebut, “Sangat rapi. Pasti anak perempuan yang membuatnya.”

“Ya iyalah.. dia memanggilmu Oppa,” kata Mir enteng.

“Berarti kau membaca ini tadi?” Minho menunjukkan sepucuk kertas yang dikirim bersamaan dengan kotak cokelat yang dipegangnya itu.

“Eo, aku membacanya. Sepertinya itu pengagum rahasiamu..”

Bertepatan dengan keluarnya kalimat itu dari bibir Mir, Miss Yuri keluar dari kelas. Ia langsung menoleh ke arah Minho dan Mir yang tertawa kecil mendengar sebutan ‘Pengagum Rahasia’ yang barusan dilontarkan Mir sendiri. Miss Yuri berusaha untuk melupakan kata ‘Pengagum Rahasia’ tadi dan segera pergi ke kantor.

 

…..

 

BRUK!! Semua buku Bahasa Inggris diletakkan secara kasar oleh Miss Yuri. Miss Yuri pun duduk di kursinya dengan perasaan tidak tenang. Ia menyangga dagunya dengan kedua tangannya.

Mana mungkin aku menyukai Minho? Minho yang adalah anak didikku sendiri? Batinnya.

“Tapi umur bukan segalanya, Miss…,” kata Key waktu Miss Yuri bertanya apakah dia pantas menyukai Minho.

“Sepertinya tidak pantas. Aku dua puluh delapan tahun. Dia delapan belas tahun,” kata Miss Yuri sendiri. Tapi dari siapa kotak cokelat itu? Siapa yang dimaksud Pengagum Rahasia oleh Mir dan Minho?

Miss Yuri kemudian menatap sebuah foto yang ada di depannya. Foto tunangannya ketika masih hidup. Tunangan Miss Yuri adalah laki-laki yang delapan tahun lebih muda dari Miss Yuri sendiri. Namanya Joon.

 

….

 

Nana mengendap-endap naik ke lantai atas. Ia pun berhasil masuk kamar tanpa membangunkan ayahnya.

“Fuuhh..,” Nana membanting tas-nya di ranjang, “Sumpek!”

Nana menyalakan lampu kamar dan segera mandi. Namun, ia melihat foto Joon yang digantung di dekat kamar mandi. Ia menatap sekilas foto itu dan tersenyum simpul, “Joon Oppa sangat tampan jika tersenyum seperti itu..”

BRUK!!

“Apa itu?” gumam Nana setelah mendengar suara yang berasal dari lantai bawah. Langsung saja ia keluar kamar dan mengintip apa yang terjadi di lantai bawah.

Ternyata, ayah Nana mabuk berat. Sambil membawa botol minuman keras, ayah Nana terlihat sedang mencari-cari sesuatu di rak buku. Dan beberapa detik kemudian, ayah Nana nampak mengeluarkan sebuah foto ukuran 20 x 30. Nana menyipitkan matanya melihat foto tersebut.

“Eomma?” bisik Nana setelah melihat figura foto yang dipegang oleh ayahnya ternyata adalah foto ibunya.

Ayah Nana tampak memperhatikan foto tersebut, “Yeobo! Kenapa kau tidak pulang bekerja juga hari ini?? Aku merindukanmu..”

Nana menelan ludah. Namun tenggorokannya terasa sakit seperti ada yang mengganjal ketika air ludahnya melewati kerongkongannya, “Eomma—“ bisiknya. Ia juga merindukan ibunya. Ia tak habis pikir kenapa Ayah-nya masih menganggap Ibu-nya masih bekerja, padahal ibunya kini sudah tidak ada.

 

….

 

“Yya!”

Suara yang sudah tidak asing lagi bagi Minho. Suara Key begitu ia hafal karena setiap pagi, pasti Key berteriak minta ditunggu untuk berjalan bersama ke kelas. Tapi, suara yang ini terdengar sangat panik.

Minho menoleh ke belakang. Dia melihat Key berlari tergesa-gesa ke arahnya, “Eo wae?”

Key menepuk pundak Minho sambil mengatur nafasnya, “Minho-yya, kabar buruk..”

Minho tertegun. Pagi-pagi seperti ini sudah ada kabar buruk? , “Apa?”

Key menelan ludah dan kemudian menatap Minho dalam-dalam, “Sebaiknya kau langsung ikut aku!”

Author POV end

 

Minho POV

Aku masih berdiri di depan pintu kamar rawat inap di rumah sakit Il San. Aku tidak percaya apa yang sekarang bisa aku lihat lewat kaca pintu kamar ini. Seseorang terbaring lemah di ranjang di dalam kamar. Seorang wanita yang mengenakan perban tebal dan alat bantu pernafasan. Aku masih belum bisa percaya dan mungkin—tidak akan pernah mau percaya.

Aku bisa merasakan ada orang yang berjalan ke arahku. Lebih dari satu. Aku tidak menoleh. Dan salah satu dari mereka menepuk pundakku.

“Minho-yya, kamar Miss Yuri disini?” tanya seseorang yang ternyata adalah Mir.

Aku menoleh ke arah Mir, “Eo.”

“Key dimana?” tanyanya lagi.

“Sedang keluar sebentar..,” kemudian, mataku langsung tertuju kepada seseorang di belakang Mir. Anak perempuan berambut cokelat keemasaan –pasti di cat- panjang, lurus. Dan sepertinya aku sering melihat anak ini. Dia tidak menoleh kepadaku sama sekali. Namun, begitu dia melirik ke arahku, matanya membulat dan dia seperti tidak percaya dan mengenalku.

“Minho oppa?” dia menunjukku. Sesaat kemudian, dia menutup mulutnya dengan kedua tangannya dan berlari menjauhiku dengan Mir. Wajahnya sangat merah. Mungkin karena masih terlalu shock dengan berita dari Miss Yuri.

Mataku membuntuti anak tadi, “Dia siapa, Mir-a?”

Mir tersenyum kepadaku ketika aku menoleh ke arahnya, “Temanku. Sekaligus adik kelas.”

Aku mengangguk pelan, “Oh.. sepertinya aku sering melihatnya.”

“Dia yang sering mondar-mandir di depan kelas. Katanya—dia menyukai salah seorang murid laki-laki di kelas kita..,” kata Mir.

Aku mengangguk lagi, “Yang penting itu bukan Key.”

“Wae?” terdengar nada protes dari Mir.

“Masa perempuan suka dengan perempuan??” aku berusaha menghibur diriku sendiri dengan lelucon yang kubuat.

Mir tidak tertawa. Mungkin lelucon-ku terlalu hambar. Yah, karena aku belum pernah membuat lelucon sebelumnya. Aku dikenal sebagai anak yang segala sesuatunya dibuat serius.

“Siapa namanya?” basa basi, Minho menanyakan nama anak perempuan itu.

“Im Nana. Anak kelas dua.”

Aku manggut-manggut.

 

___

 

Aku duduk di sebelah ranjang dimana Miss Yuri—Kwon Yuri, terbaring.

Dia koma.

Setelah kecelakan yang menimpa dirinya tadi pagi dalam perjalan ke sekolah. Aku tidak menyukai situasi seperti ini. Ini membuatku semakin terdesak. Bagaimana bisa dia koma? Bagaimana bisa dia berada di dalam keadaan setengah hidup setengah mati? Aku belum bisa membiarkannya mati begitu saja tanpa memberitahukan perasaanku dulu.

Andai aku bisa memutar kembali waktu. Kemudian aku bisa mengatakan apa yang sebelumnya tidak diketahui oleh Yuri. Perasaanku terhadapnya. Jujur..

Aku mencintainya. Bukan sebagai guru di sekolah. Aku mencintainya sebagai seorang gadis. Mungkin hal ini gila. Seorang murid mencintai gurunya.

Sia-sia. Kisah di dalam hatiku, perasaanku selamanya mungkin tidak akan diketahui oleh Yuri..

“Yuri-yya,” aku menggenggam tangannya, “Mianhae..”

Minho POV end

 

Yuri POV

Aku berdiri di samping Minho. Aku melihatnya terisak sambil menggenggam tangan seorang yeoja yang tergolek lemah di atas ranjang. Aku memperhatikan wajah si yeoja tadi dan… loh?

“Yuri-yya,” Minho menggenggam tangan yeoja tadi, “Mianhae..”

Aku melongo. Hah? Wajah yeoja tadi sangat mirip dengan wajahku! Ada apa ini?

Mataku langsung menyisir seluruh sudut ruangan ini. Ah, disitu ada cermin kecil. Aku langsung saja berjalan cepat ke arah cermin itu. Aku sudah berdiri di depan cermin. Tetapi aku tidak melihat bayanganku sendiri di cermin tersebut. Aku terdiam sebentar karena bingung.

Kemudian mataku tertuju kepada nama pasien yang dirawat di kamar ini. Nama itu terletak di penyangga tempat tidur sang pasien. Aku langsung saja berjalan kesana dan membaca baik-baik nama si pasien.

“Kwon Yuri?” bisikku.

TBC

Gimana? Kurang menarik ya? Part 2 ada malaikat Kai loohh.. jangan lupa komentarnya yah 🙂

Advertisements

2 comments

  1. storybookfromgreen · May 12, 2013

    wuah nana!!!
    seru-seru, update soon please 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s