Replay… (Neverending Story) Part 2

Image

Title : Replay…

Rating : PG – 16

Genre : Sad, Romance, Angs

Casts : Nana, Yuri, Minho, Key, Mir, Kai, Joon

 

Part 2

 

Yuri POV

Aku berdiri di samping Minho. Aku melihatnya terisak sambil menggenggam tangan seorang yeoja yang tergolek lemah di atas ranjang. Aku memperhatikan wajah si yeoja tadi dan… loh?

“Yuri-yya,” Minho menggenggam tangan yeoja tadi, “Mianhae..”

Aku melongo. Hah? Wajah yeoja tadi sangat mirip dengan wajahku! Ada apa ini?

Mataku langsung menyisir seluruh sudut ruangan ini. Ah, disitu ada cermin kecil. Aku langsung saja berjalan cepat ke arah cermin itu. Aku sudah berdiri di depan cermin. Tetapi aku tidak melihat bayanganku sendiri di cermin tersebut. Aku terdiam sebentar karena bingung.

Kemudian mataku tertuju kepada nama pasien yang dirawat di kamar ini. Nama itu terletak di penyangga tempat tidur sang pasien. Aku langsung saja berjalan kesana dan membaca baik-baik nama si pasien.

“Kwon Yuri?” bisikku.

Minho tiba-tiba meletakkan tangan si pasien yeoja dan tampak memperhatikan setiap penjuru ruangan ini. Aku melotot. Tapi Minho sepertinya mendengarku..

Aku berdiri. Aku memilih berdiri di samping Minho, “Minho-yya, aku disini! Kau mendengarku ‘kan?”

Minho menoleh ke kanan, kemudian ke kiri. Dia terlihat kebingungan.

“Choi Minho!” Key, masuk ke kamar rawat ini dengan peluh di wajahnya. Dia berjalan ke arahku dan Minho, “Aku sudah mencarimu kemana-mana. Aku kira kau di kantin rumah sakit.. eh malah disini—“

“Ki Bum-a! Kesini!” Minho berdiri, dan Key langsung mendekati Minho.

“Wae?” Key terlihat tidak senang, “Ppaliyya! Kita harus pulang sekarang juga! Aku tidak mau tahu!”

“Ki Bum-a, aku—“ Minho menatap kosong ke arah ku, ke belakang punggungnya.

“Tolong, Minho—ya! Jangan panggil aku dengan Ki Bum! Malu didengar orang..”

“Aku tadi mendengar suara, Key. Kau tidak akan percaya. Suara itu seperti dari belakangku..,” kata Minho sedikit berbisik kepada Key. Aku mendengarnya dengan jelas karena aku di belakang Minho.

Key berjalan ke arahku dan berdiri tepat di depanku. Dia menatapku tetapi—

“Tidak ada apa-apa. Mungkin hanya perasaanmu saja..,” kata Key menanggapi.

“Tapi, suaranya seperti suara Miss Yuri,” kata Minho.

The Story Only I Didn’t Know – IU

Key menepuk pundak Minho, “Aku tahu kau sangat menyukai Miss Yuri, tapi tolong jangan membuat dirimu sendiri gila hanya karena ini, Minho-yya..”

Aku tertegun. Minho menyukaiku? Kenapa aku tidak tahu?

Minho mengangguk kecil, “Ya, mungkin hanya perasaanku.”

Key tersenyum sambil menepuk punggung Minho, “Ayo! Kita pulang!”

Ketika Minho dan Key keluar kamar rawat, kakiku terasa lemas. Aku terduduk di lantai, memikirkan apa yang barusan mereka perbincangkan dari tadi. Mustahil sekali, Minho mendengarku tetapi tidak melihat wujudku? Lebih mustahil lagi, Key yang tadi sudah berada tepat di depanku dan hampir menatapku tidak melihat wujudku juga! Tidak merasakan hembusan nafasku! Ini aneh.

Aku berdiri, kemudian berlari ke arah pintu. Tanganku pun meraih gagang pintu dan.. aku tidak dapat menggenggamnya. Aku coba lagi untuk menggenggam gagang pintu lagi, namun aku tetap tidak berhasil memegang gagangnya. Karena putus asa, aku menendang pintu kamar rawat.

“Ommona?!” aku kaget ketika kakiku menembus pintu kamar rawat saat menendang tadi. tunggu dulu! Aku.. merasa seperti bukan manusia. Aku merasa aku ini tembus pandang sekaligus tembus apapun. Seperti—hantu?

***

 

Yuri POV end

 

Author POV

Nana dan Mir langsung berdiri menyambut kedatangan Key dan Minho yang barus saja keluar dari kamar rawat Miss Yuri. Nana masih tidak berani menatap mata Minho yang menurutnya indah itu karena setiap ia melihat wajahnya bahkan mencium aroma parfum khas Minho saja jantungnya sudah berdebar-debar.

Mir melihat wajah Minho yang terlihat linglung, “Minho-yya!”

Minho menoleh ke arah Mir, “Eo?”

Mir memperhatikan wajah Minho lagi. Kemudian menoleh ke arah Key sambil menunjuk-nunjuk wajah Minho, “Dia kenapa barusan? Apa diomeli lagi olehmu?”

Minho diam-diam menyingkirkan jari telunjuk Mir di depan wajahnya. Kemudian Key angkat bicara bahwa dia sendiri sama sekali tidak memarahi Minho di kamar rawat Miss Yuri.

“Lalu kenapa dia?” tanya Mir lagi.

Key dan Minho bertukar pandang, “Dia katanya mendengar sesuatu dari kamar Miss Yuri,” kata Key kemudian.

“Lalu?” Nana ikut penasaran.

Key melihat ke arah Nana, “Aku bilang itu hanya perasaannya, dan sekarang ngomong-ngomong kau siapa?”

Mir menoleh ke arah Nana dan tertawa hambar, “Ahaha.. dia adik kelas kita. Dan lebih tepatnya adik kelas kesayanganku.”

“Oh.. sepertinya kau kesini bukan karena ingin menengok Miss Yuri,” kata Key sambil memperhatikan wajah Nana detail.

“Ne?” Nana takut rahasianya selama dua tahun kurang ini terbongkar. Soal ia selalu mengikuti Minho kemana-mana.

“Itu,” Key menunjuk luka lebam berwarna ungu tipis di bagian tulang pipi Nana, “Kau memakai make up. Kau pasti kesini untuk kencan dengan Mir.”

Nana tersenyum tipis, “Ini bukan make up.”

“Ohh..” Key manggut-manggut.

 

____

 

Yuri berjalan mengikuti rombongan Minho, Mir, Key, dan Nana untuk berjalan pulang. Dia masih belum mempercayai bahwa dia sudah menjelma menjadi makhluk yang menyerupai hantu.

“Bahkan ketika seharusnya dingin seperti ini, aku tidak merasakan dingin. Dan juga seharusnya aku merasa lelah berjalan dari rumah sakit kesini dengan high heels, tetapi aku tidak merasakannya sama sekali, “ gumam Yuri.

DUK! Tiba-tiba, dia menabrak seorang laki-laki berbaju hitam dan pastinya lebih tinggi sedikit darinya. Ia hanya perlu mendongak sedikit untuk melihat wajah orang yang sudah ia tabrak. Mata teduh, bibir seksi, dan kulit agak gelap, dengan rambut hitam lurus yang lembut. Orang itu menatap Yuri dengan tatapannya yang teduh.

“Mianhaeyo!” kata Yuri, sambil membungkuk ke arah orang tadi sekitar sembilan puluh derajat.

“Gwencana. Ini tugasku,” kata orang itu.

“Ne?” Yuri terkesiap, “Tidak.. seharusnya kau tidak bisa melihat-“

“Hei!” orang itu memberikan smirk kepada Yuri, “Akulah yang satu-satunya bisa melihatmu. Aku ingin memberitahumu sesuatu.”

Yuri menatap aneh orang itu, “S-s-siapa kau?”

Orang itu mendengus keras, “Apa harus aku sampaikan juga?”

Yuri masih menatap aneh orang di depannya yang sibuk mencari-cari sesuatu dalam saku celana. Kemudian orang itu mengeluarkan secarik kertas kecil dan memberikannya kepada Yuri.

“Ige.. Mwo?” Yuri bingung, “Human Controller—Kai?”

Orang yang bernama Kai itu mengangguk, “Ya.. supaya lebih singkat, kau panggil aku Kai saja. Jangan pakai oppa, jangan pakai sebutan sayang..”

Yuri sudah menganggap aneh si Kai, “Jujur saja, aku tidak bisa percaya begitu saja. Mana ada human controller di dunia ini?”

Kai tertawa keras, “Kau ini guru bahasa inggris yang agak tolol ya? Human = manusia dan controller = pengatur. Aku yang mengatur segala sesuatu dari manusia. Aku bisa menghidupkan bahkan bisa membuat orang mati. Kemudian aku juga bisa membuat orang sembuh dari penyakit yang paling susah diobati sekalipun. Juga, aku bisa mengeluarkan roh dari tubuh seseorang seperti—“

“Aku,” kata Yuri menyambung perkataan Kai.

Kai melongo, “Kau tahu itu. Kenapa kau masih tidak percaya??”

Yuri menggeleng pelan dan berbisik, “Jangan percaya, Yuri-yya… dia pasti menipumu!”

Rasanya, Kai ingin melempar jauh-jauh gadis yang merupakan noona yang lebih tua darinya beberapa tahun di depannya ini, “Pokoknya, aku hanya ingin menawarkan sesuatu kepadamu.”

Yuri menatap Kai, menunggu sesuatu yang dimaksud Kai, “Mwo?”

“Kau ini, adalah roh dari tubuhmu sendiri. Kau tahu?” kata Kai serius.

Yuri mengangguk, “Arrasseo.”

“Kemudian aku ingin menawarkan satu hal. Kau ingin hidup lagi—atau mati sekarang juga?”

Yuri menatap Kai, “MWOO?? KAU INI ANEH! AKU TENTU SAJA MEMILIH HIDUP!!”

Kai mendengus, “Jangan terlalu nge gas jika sedang berbicara.. sekali lagi, aku ini human controller. Kau harus percaya kepadaku.”

“Aku memilih hidup,” kata Yuri, “Jadi biarkan aku bangun dari koma. Jangan ubah aku jadi roh seperti ini! Ini tidak menyenangkan.”

“Jangan salah.. jadi roh itu enak sekali. Kau tahu, aku juga seorang—salah. Sebuah roh. Dan aku ditugaskan di dunia ini untuk jadi human controller.”

“Jadi kau ini koma juga?”

“Aku ini sudah mati. Setahun yang lalu..”

Yuri terkejut, “MWOO?”

Kai tertawa kecil, “Wae? Ketika itu umurku masih delapan belas tahun. Aku mati gara-gara kecelakaan mobil. Yah, aku akui aku mengebut waktu itu dan sedikit mabuk karena stres soal pacar, dan—“

“Orang sepertimu pernah punya pacar?” Yuri tidak percaya. Kemudian dia tertawa, “Oh.. memang. Anak muda sepertimu suka mabuk-mabukan jika putus cinta.”

Kai menatap Yuri heran, “Kenapa noona bisa tahu jika aku putus cinta?”

“Hah?” sekarang gantian Yuri yang heran, “Aku hanya menebak. Ternyata benar kau ini putus cinta dan kemudian mati begitu saja?”

“Noona juga bukannya mati karena putus cinta?”

“Tidak! Aku kurang hati-hati saja menyetir mobil.”

Kai diam saja. Dia kemudian melihat jam tangan yang menempel di kulit pergelangan tangan kanannya dan menatap Yuri sebentar, “Sekarang yang penting aku menyelesaikan tugasku dulu. Ayo ikut aku!”

Kai menarik lengan Yuri dan menggeret Yuri ke suatu tempat.

 

…..

 

Yuri terkesiap ketika Kai membawanya ke kumpulan Minho, Key, Mir, dan Nana. Dia tidak mengerti kenapa Kai membawanya kemari.

“Kau lihat gadis yang duduk di sebelah Bang Cheol Yeong?” kata Kai sambil menunjuk ke arah Mir.

“Gadis yang duduk di sebelah Mir?” tanya Yuri kepada Kai.

“Eo, Noona. Namanya Im Nana, anak kelas dua dan bersekolah di SMA yang kau ajar,” kata Kai.

Yuri memperhatikan Nana, “Aku sering melihatnya mondar-mandir di koridor kelas tiga. Lalu kenapa kau memberitahuku tentang gadis itu?”

“Dia menyukai laki-laki yang juga kau sukai. Choi Minho. Ya ‘kan?”

“K-kenapa kau tahu itu?” Yuri malu karena rahasianya –menyukai yunhanam seperti Minho- terbongkar oleh orang aneh yang barusaja ia temui beberapa menit yang lalu.

“Nana, mondar-mandir di depan kelas tiga hanya untuk memberikan sesuatu di dalam loker Choi Minho dan menunggu Choi Minho keluar. Demi mendekati Minho, dia dekat dengan Bang Cheol Yeong. Dia tidak tahu jika kau menyukai Minho. Dia hanya tahu jika Minho menyukaimu,” jelas Kai sambil melihat ke arah Nana.

“Minho menyukaiku?” jantung Yuri berdegup kencang. Benarkah apa yang dikatakan orang ini? Batin Yuri.

“Eo. Mollasseo??” Yuri mengangguk pelan. Kemudian Kai bertepuk tangan, “Kasihan sekali kau, Noona.”

“Aish!” Yuri terlihat kesal dengan perkataan Kai barusan. Dia menyesal tidak mengetahui perasaan Minho lebih cepat. Padahal perasaan Minho kepadanya sama dengan perasaanya kepada Minho. Dengan tajam, dia menatap Kai, “Neo..”

Melihat tatapan tajam Yuri, Kai meringis ketakutan, “Wae?”

“Tolong buat aku hidup lagi!” kata Yuri.

Kai tersenyum kepada Yuri, “Kau benar-benar ingin hidup lagi?”

Yuri mengangguk mantap.

“Kau harus menyerap energi seseorang yang terlibat dalam kisah cinta tragis mu itu.”

 

___

 

Yuri sudah berada di kamar Nana. Dia menunggu Nana mandi, karena mana mungkin dia masuk ke dalam tubuh Nana saat Nana sedang mandi?

 

“Kau harus menyerap energi seseorang yang terlibat dalam kisah cinta tragismu itu.”

“Minho?”

“Bukan..”

“Lalu siapaa?”

“Im Nana.”

“Kenapa bisa Nana?”

“Nana—adalah pengagum rahasia Choi Minho. Dia takut terang-terangan mengatakan perasaanya kepada Minho, karena kau. Jadi, orang yang jiwanya akan kau serap ya.. Im Nana.”

“Mwo?”

“Hanya menabrakkan diri ke tubuh Nana, kau pasti akan jadi Im Nana. Ingat! Selama roh-mu ada di tubuh Nana, bertingkah lakulah sebagai Nana.”

“Aku di tubuh Nana berapa lama?”

“Hanya delapan hari. Dan dalam delapan hari itu, kau harus bisa menyerap jiwa Nana sepenuhnya, sehingga kau bisa bangun dari koma.”

 

 

Yuri duduk manis di tepi ranjang di kamar Nana. Sesaat kemudian dia bangkit dari tempat tidur Nana ketika si pemilik kamar sudah keluar kamar mandi.

Ya, Yuri.. hanya menabrakkan diri ke tubuh Nana.. Batin Yuri sambil memejamkan kedua matanya.

Pintu kamar dibuka dengan kasar oleh ayah Nana. Dan tanpa alasan apa-apa, Ayah Nana langsung memukul wajah Nana beberapa kali. Dan Nana tidak menjerit kesakitan, karena sudah biasa mendapatkan perlakuan seperti ini.

“KENAPA KAU HARUS MATI, YEOBOO!!!” raung Ayah Nana sambil keluar dari kamar Nana. Dia ternyata mabuk lagi.

Nana berdiri dengan susah payah. Dia kemudian menutup pintu kamar dan duduk di tepi ranjang sambil memperhatikan foto Joon di dekat pintu kamar mandi. Yuri pun meniru apa yang dilakukan Nana barusan. Setelah melihat foto Joon, Yuri hampir saja mati terkejut.

“Joon?” Yuri menyipitkan matanya dan dia pun memutar ulang peristiwa yang pernah ia lalui dengan Joon.

Joon, adalah mantan pacar Yuri saat Yuri masih kuliah. Hubungan mereka sangat baik, sehingga orang tua mereka berdua menyarankan agar mereka bertunangan. Mereka pun bertunangan dan hampir menuju ke pernikahan. Tetapi, kedatangan pihak ketiga yang membuat Yuri jengkel, menghancurkan rencana pernikahan mereka. Yuri memutuskan untuk berpisah dengan Joon dan pergi jauh-jauh dari kota yang menjadi tempat pertama kali mereka berdua bertemu. Akhirnya Yuri menyibukan diri menjadi guru di Seoul dan hampir melupakan Joon jika saja dia tidak melihat foto Joon di kamar Nana.

Nana menoleh ke kanan dan ke kiri begitu Yuri menyebut nama Joon. Agaknya dia dengar apa yang Yuri katakan, tetapi dia tidak melihat wujud Yuri.

Yuri sontak menutup pelan mulutnya dan setengah berbisik, “Kau ini ternyata sekolah di sekolahan yang aku ajar?”

Nana menatap kosong jendela kamar yang belum ditutup dengan korden. Ia sudah tidak mendengar sesuatu lagi.

“Ada hubungan apa kau dengan Joon?” Yuri berbisik lagi, sementara Nana sudah akan berangkat tidur.

Nana membanting  tubuhnya sendiri ke ranjangnya, kemudian dengan nada riang dia berkata, “Ashh.. besok aku mengirimnya cokelat dan surat tidak, ya?”

Yuri mengkerutkan dahi, “Siapa yang kau maksud?”

Nana kemudian membalikkan badannya ke kanan, menatap cokelat-cokelat yang tadi ia beli di toko cokelat dan permen sepulang dari rumah sakit bersama Mir dan Key. Dia tersenyum tipis, dan kemudian memejamkan matanya perlahan.

Yuri menatap wajah Nana yang menurutnya polos tersebut. Kemudian dia melihat ke arah foto Joon, “Ada hubungan apa sebenarnya kalian sampai-sampai kau memajang fotonya di kamarmu ini?”

Ending Theme : Shampoo – After School

 

TBC

Komennya dan Kritikannya dong– gomawo udah baca dan visit

Advertisements

2 comments

  1. storybookfromgreen · June 28, 2013

    ini seru seru seru!!!
    up date soon, please *hope

    • ffsmawol · June 28, 2013

      wokedehh 😀
      gomawo udah baca dan enggak jadi siderss…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s