[Part 5] Dream Chaser

 

Image

Part 5 : 꿈의체이서

Title : Dream Chasers / Run

Rating : PG-1 5

Genre : School, Romance, Friendship, Family

“Taemin-a,” Jung Soo Jung masih saja membuntut Taemin, padahal Taemin sedang tidak mood.

Taemin diam saja. Melihat Taemin diam saja seperti itu, Amber inisiatif menyingkirkan Soo Jung yang bergelayut di lengan Taemin, “Diam saja, Soo Jung-a. Dia tidak dalam mood baik!”

Taemin memang sedang berjalan-jalan bersama kawan-kawannya. Siapa lagi kalau bukan Kim Jonghyun, Lee Jin Ki, Amber Liu, dan Jung Soo Jung? Biasanya dia mengobrol dengan asyiknya bersama Jin Ki atau bersama Amber dan lainnya. Tapi kali ini dia sedang tidak mood.

“Taemin-a,” walaupun sudah ditarik menyingkir oleh Amber, Soo Jung masih saja asyik di lengan Taemin.

Taemin melirik ke arah Soo Jung, “Mwo?”

Jung Soo Jung tersenyum manis ke arah Taemin, “Aku tidak percaya yang waktu itu menolongku itu Choi Minho..”

Lee Taemin mendengus, “Iya.. aku juga tidak percaya—“ Kemudian dia mengernyit bingung karena masih belum bisa mencerna dengan baik perkataan Soo Jung tadi, “MWO?”

Jung Soo Jung juga ikut bingung, “Yang waktu itu aku—“ Dia memperagakan renang gaya katak, “—aku tercebur gara-gara Choi Seol Ri. Itu yang menolongku Minho.”

Lee Taemin menatap kosong trotoar yang yang ada di depannya. Ia melongo tidak percaya apa yang dikatakan Soo Jung.

“Siapa yang mengatakannya?” Lee Jin Ki ikut campur.

“Minho sendiri. Aku setengah tidak percaya. Tapi wajahnya meyakinkan sekali saat mengatakan itu..,” kata Soo Jung menjawab pertanyaan Jin Ki.

“Itu—“ Amber merasa perkataan Minho itu hanya hoax belaka karena dia melihat sendiri Seol Ri ditolong oleh Taemin, “Bohong…”

“Itu benar!” Taemin berkata kepada Jung Soo Jung membuat Soo Jung jadi bingung memilih jawaban yang mana. Jawaban Taemin atau jawaban Amber yang harus dia percayai.

“Kata Amber itu—“ Soo Jung menunjuk- nunjuk Amber.

“Kau lebih percaya mana? Aku atau Amber?” Taemin tersenyum tipis kepada Soo Jung, “Aku sedang memarahi Seol Ri waktu itu..”

“Tentu saja aku lebih mempercayai Lee Tae Min!!” Soo Jung memeluk lengan Taemin dengan erat. Seolah-olah dia tidak ingin Taemin pergi dari sisinya.

Amber melongo sejadi-jadinya.

“Tapi ngomong-ngomong dimana Kim Jonghyun, ya?” Lee Jin Ki memecahkan momen mesra TaeStal. Dia menoleh ke kanan, ke kiri, ke belakang, dan juga ke bawah *babo*

Amber mendengar suara orang berkelahi di sebuah gang yang ia curigai. Tanpa ba bi bu lagi, dia langsung menghampiri gang tersebut. Dan setelah melihat apa yang ada disana, Amber hampir saja berteriak seperti anak perempuan. Dia langsung menatap Taemin.

“Taemin-a! Bantu aku membereskan ini, dan Jin Ki jangan Soo Jung!” intruksi Amber begitu melihat Jonghyun sedang mencoba melawan beberapa orang bertubuh besar sendirian. Selain itu, dia juga mendengar Jonghyun memanggil-manggil nama Choi Seol Ri.

Taemin langsung melepas tas ranselnya dan meluncur ke gang itu bersama dengan Amber.

“Taemin-a! Kau jangan berkelahi!” Kim Jonghyun sedikit lengah karena melihat Taemin akan berkelahi, “Nanti kau dikeluarkan—“

BUK!

Satu pukulan mendarat di perut Jonghyun. Membuat Jonghyun sedikit terpental  ke belakang. Ini juga membuat Amber geram,dan langsung mengeluarkan jurus wushu yang ia pelajari sedikit dari gurunya di China.

Jonghyun meringis kesakitan sambil memegangi perutnya yang agak nyeri karena terkena pukulan yang sangat keras. Dia kemudian berdiri perlahan dan melihat ke arah Taemin yang sudah berjalan ke arah para preman –dia berniat membantu Amber menyingkirkan pria-pria kekar itu- dan Jonghyun sama sekali tidak bisa membiarkan Taemin berkelahi.

Tapi apalah daya Jonghyun? Tidak ada gunanya dia berteriak-teriak menyuruh Taemin mundur. Taemin itu keras kepala dan tidak bisa mendengarkan apa kata orang.

Author POV end

Jonghyun POV

Beberapa menit berlalu. Semua pria berbadan besar tinggi sudah kami lumpuhkan berkat bantuan Jung Soo Jung yang menelepon polisi. Polisi-polisi pun menangkap para preman tadi dan membawa mereka entah kemana.

Aku langsung berlari ke arah rumah kecil yang kelihatannya sudah lama tidak dihuni. Aku yakin Choi Seol Ri ada disitu. Aku melihat salah seorang dari preman tadi membawanya kemari. Mudah-mudahan dia tidak apa-apa. Aku tahu dia adalah gadis yang sangat kuat dan pasti bisa membela diri.

“Choi Seol Ri!” aku berteriak memanggil namanya setelah aku membuka pintu rumah kosong tadi.

Aku membelalakkan mata begitu melihat Seol Ri di pojok ruangan dengan ikatan di kedua tangan dan kakinya serta lakban hitam di mulutnya. Dia menatapku. Dia terlihat sangat ketakutan, karena matanya berkaca-kaca. Aku segera mendekatinya dan melepaskan lakban di mulutnya.

“Jong-Jonghyun-a..,” dia tergagap. Badannya bergetar.

“Eo,” aku langsung melepaskan tali-tali yang mengikat kaki dan tangannya, “Gwencana?”

Begitu tangan dan kakinya lepas, dia langsung meraih badanku dan memelukku erat. Kemudian dia menangis keras. Dia menjerit-jerit. Dia benar-benar ketakutan.

“Wae??” tanyaku lembut kepadanya. Tanganku mengusap punggungnya, “Malhae..”

Seol Ri sesenggukan. Dia terus menangis, “Aku takut, Jonghyun-a..”

Aku tersenyum tipis, “Aku juga takut. Takut kau—kenapa-napa.”

Jonghyun POV end

Author POV

Begitu keluar kamar mandi, Seol Ri bisa melihat Amber meletakkan sepatu besarnya lagi di depan kamar mandi persis. Ia memungutnya dan menaruhnya dengan hati-hati di rak sepatu di dekatnya. Song Qian menatapnya sambil beranjak duduk di ranjang.

“Seol Ri-yya, kau sedang sakit?” tanya Qian kepada Seol Ri.

“Apa iya orang sakit mandi seperti apa yang barusan aku lakukan?” kata Seol Ri sambil menatap Qian aneh, “Mungkin kau yang sakit, Qian-a..”

Qian meletakkan tangannya di dahi kemudian menggeleng pelan, “Biasanya kau langsung menendang sepatu Amber begitu ada di depan kamar mandi.”

Seol Ri mendengus dan menyibak rambutnya yang basah, “Tidak ada gunanya aku menendang sepatu orang. Lebih baik aku bermain sepak bola daripada sepak sepatu Amber?”

Qian tersenyum, “Baguslah kalau begitu.”

Melihat Qian tersenyum, Seol Ri ikut tersenyum. Ia berjalan ke arah ranjang Amber dan setelah sampai ia pun berjongkok sambil memerhatikan wajah Amber yang setengah cantik setengah tampan jika sedang tidur.

“Gomawo, kemarin kau menyelamatkanku,” katanya sambil memperhatikan wajah Amber, “Kau cantik. Tapi kenapa kau potong rambutmu jadi sependek ini?” gumam Seol Ri sambil menyentuh bagian poni rambut Amber. Dan Amber melenguh sambil membuka sedikit matanya.

Amber dan Seol Ri bertatapan. Seol Ri tersenyum manis sedangkan Amber melotot dan ternganga.

“MWOYA!!” Amber bangkit dari tempat tidur sambil masih memeluk gulingnya. Nafasnya tidak teratur karena kaget plus cegukan.

“Wae?” Seol Ri bertanya kepada Amber se-innosen mungkin.

Amber mengelus dadanya yang datar dan Seol Ri masih memperhatikannya dengan berjongkok. Ia menahan nafasnya beberapa detik untuk menghilangkan cegukannya. Dan—akhirnya hilang, “YYA! APA KAU LESBIAN?!”

Seol Ri menggeleng, “Tidak. Kenapa kau bisa berpikiran seperti itu?”

Amber menghembuskan nafas lega, “Syukurlah.. aku tidak sekamar dengan lesbian. Lalu kenapa kau menatapku seperti tadi hah?”

Mendengar Amber bertanya seperti itu Seol Ri hanya tersenyum lagi. Membuat Amber tidak tahan dan menyingkir darisitu, pergi ke kamar mandi.

___

Jung Soo Jung mengetuk pintu kamar Lee Tae Min – Kim Jong Hyun – Lee Jin Ki untuk bertemu Lee Tae Min. Dia masih khawatir dengan kondisi mantan pacarnya itu. Begitu pintu dibuka oleh Jin Ki, ia menyerobot masuk tanpa berkata apa-apa sambil membawa beberapa kotak obat untuk Taemin.

“Taemin-a! Soo Jung datang!” seru Soo Jung sambil menghampiri Taemin yang sedang makan ramen di meja makan minimalis.

“Aish..,” Taemin menelan kuah si ramen dan meletakkan sumpit dan tutup panci yang ia gunakan untuk makan ramen, “Kau ini dari kemarin kesini terus untuk apa?!”

Soo Jung duduk di samping Taemin dan menghambil sebuah obat lecet. Ia membuka tutupnya dengan gusar lalu mengoleskan obatnya ke luka lecet di wajah Taemin, “Ahh… wajahmu jadi terlihat seksi dengan luka-luka di sekitar bibir dan mata.”

Taemin mendengus, “Aku sudah punya obat sendiri. Jadi besok tidak usah kesini lagi,” katanya.

“Kalau kau sudah sembuh aku tidak akan kesini lagi,” Soo Jung menempelkan sebuah plester kecil di dekat mata Taemin.

“Memangnya aku sakit apa?” Taemin terkekeh, “Lukaku tidak begitu parah. Aku juga bukan anak kecil!”

“Kau memang masih kecil,” sahut Kim Jong Hyun dari ranjangnya sendiri.

Jung Soo Jung merapikan kotak obatnya dan menatap si ramen di atas meja, “Kau makan ramen?”

“Tidak boleh?”

“Orang sakit tidak boleh makan yang sembarangan—“ kata Soo Jung serius.

Taemin tertawa kemudian menatap sinis Soo Jung secara tiba-tiba, “Keluarlah! Aku ini bukan orang sakit!!”

Jung Soo Jung mendecakkan lidahnya dan beranjak dari kursi sambil menatap Taemin, “Kau jika butuh apa—panggil aku saja!”

“EO!” Taemin tidak memperhatikan Soo Jung, tapi memperhatikan si ramen sambil meraih sumpitnya.

Soo Jung sudah membuka pintu dan hampir berjalan keluar. Tapi ia menoleh ke belakang, “Taemin-a!”

“Mwo?” Taemin melahap si ramen tanpa melihat ke arah Soo Jung.

“Kau—masih menyukaiku?”

Mendengar pertanyaan Soo Jung membuat Taemin menyemprotkan ramen yang ia kunyah. Ia tersedak dan memukuli dadanya sendiri. Jin Ki yang adalah spesialis orang tersedak mengambilkan air minum untuk Taemin.

Melihat Taemin bereaksi seperti itu, Jung Soo Jung tahu jawabannya. Ia pun pergi setelah menutup rapat-rapat pintu kamar Taemin dan kawan-kawan.

___

Sementara Soo Jung ke kamar Taemin, Seol Ri pergi ke kamar Ki Bum dan Min Ho. Tujuannya kesini adalah untuk bertemu Kim Ki Bum. Tapi kenapa yang ada di kamar hanya Choi Min Ho?

“Min Ho-yya,” akhirnya Seol Ri berkata-kata setelah beberapa menit ia masuk kamar Ki Bum dan Min Ho dengan suasana hening.

“Eo?” Min Ho mengangkat wajahnya.

“Apa kau yakin waktu itu Ki Bum menyuruhku ke tempat itu?” tanya Seol Ri kepada Min Ho.

“Oh.. kemarin dia menunggumu di gang sebelah kanan. Tapi kata Ki Bum kau tidak muncul juga,” kata Minho enteng.

“Gang sebelah kanan?” Seol Ri mengernyit.

“Eo!” Minho mengangguk cepat, berharap Seol Ri tidak curiga.

“Aku ke gang sebelah kiri karena waktu itu di tulisan—“

“Ah—“ Minho memotong, “Mungkin kau salah lihat.”

“Apa mungkin aku salah lihat?” Seol Ri bergumam, “Mataku baik-baik saja, kok.”

Minho berdeham, “Kau bisa saja merasakan jika matamu baik-baik saja. Lebih baik periksa ke pengurus kesehatan sekolah. Mau aku antar sekarang?”

Seol Ri tertawa kecil, “Tidak. Tidak usah. Aku yakin mataku baik-baik saja.”

“Sebaiknya begitu,” sahut Minho, “Karena jika matamu rusak sedikit kau akan dikeluarkan dari sini.”

“Jeongmal?” Seol Ri mendelik. Tapi di tengah percakapan mereka, handphone Seol Ri berdering, “Jjakkaman.”

“Silahkan angkat saja.”

Seol Ri tersenyum dan mengangkat telepon dari ibunya itu, “Ada apa, Eomma?!”

“YYA!”

Sentakan tadi membuat Seol Ri menjauhkan handphonenya dari telinganya. Dan kemudian dia mendekatkan handphone nya lagi, “Ada apa?”

“Selama ini sebenarnya kau dimana? Apakah kau belum sampai di Seoul? Ayahmu mengkhawatirkanmu!”

Seol Ri mendengus, “Aku bersekolah, Eomma. Di asrama. Jangan khawatir.”

“MWO!? Kau tidak memberitahuku sebelumnya!”

“Memang sengaja tidak aku beritahu—“ gumam Seol Ri.

“Apa yang kau katakan barusan? Aku tidak mendengarnya..”

“Lebih baik Eomma tidak mendengarnya. Sudah! Kututup dulu!”

Seol Ri pun menutup telepon dari ibunya dan kemudian menatap Minho yang ternyata dari tadi memperhatikannya.

“Kau mau minum apa?” tawar Minho kepada Seol Ri.

“Tidak usah. Aku akan kembali ke kamarku sekarang juga. Kelihatannya Kim masih sibuk dengan pekerjaannya,” kata Seol Ri sembari tersenyum kepada Minho, “Maaf aku mengganggu.”

“Tidak. Tidak apa-apa,” kata Minho sambil mengikuti Seol Ri yang bangkit dari kursinya. Ia membukakakan pintu kamar bagi Seol Ri keluar.

“Terima kasih,” ucap Seol Ri yang lalu pergi dari kamar Ki Bum dan Min Ho.

Minho memperhatikan punggung Seol Ri dari belakang. Punggung yang tertutup rambut panjang yang tergerai itu membuat Minho sedikit merasa bersalah. Apalagi begitu Kim Ki Bum muncul di hadapannya tiba-tiba.

Ki Bum juga tahu Seol Ri baru dari sini. Ia pun menatap Minho, “Dia baru dari sini ‘kan?”

“Eo,” jawab Minho pendek.

Ki Bum menyerobot masuk kamar dan Minho mengikutinya di belakangnya.

“Dia curiga kemarin ia diserang gangster,” kata Minho kepada Ki Bum.

Ki Bum menghempaskan tubuhnya ke ranjang dan mendengus panjang, “Hh… lalu kau bilang apa?’

“Aku bilang mungkin dia salah lihat lokasi.”

“Oh.. bagus,” ucap Ki Bum.

“Apa tidak keterlaluan, Ki Bum-a?” Minho memelankan suaranya. Ia yakin setelah ini Ki Bum akan memarahinya lagi.

“Ini tidak sebanding dengan apa yang aku rasakan sekarang,” tebakan Minho meleset. Ki Bum tampak lebih tenang, “Ayahnya-lah yang membuat keluarga jatuh miskin seperti sekarang. Dan apa yang Choi Seol Ri rasakan belum apa-apa. Hanya permulaan. Apalagi kemarin ia ditolong oleh Lee Tae Min dan Kim Jong Hyun.”

“Amber juga,” kata Minho.

Kuping Ki Bum seperti terusik dengan nama yang barusan Minho ucapkan. Amber Liu? Adalah gadis yang selama ini ia sukai. Tapi kenapa Amber tidak menyukainya dan bahkan terkesan membencinya?

___

Choi Seol Ri berjalan di koridor asrama laki-laki dengan semangat. Ia berniat akan menyampaikan terima kasih kepada Jonghyun dan Taemin setelah ini karena kemarin sudah menyelamatkannya. Tapi karena ia melihat Soo Jung keluar dari kamar Taemin dengan wajah kusut dan berjalan ke arah yang berlawanan dengannya, ia mengurungkan niat.

Soo Jung tersenyum kecut begitu melihat Seol Ri di hadapannya. Mereka berdiri berhadapan dan saling menatap seperti penuh kebencian.

“Dari mana? Kenapa kau gontai?” tanya Soo Jung kepada Seol Ri.

Seol Ri melirik ke arah kotak obat yang ditimang-timang oleh Soo Jung, “Dari tempat Kim. Wae?”

Soo Jung tertawa garing, “Kenapa kau masih memanggilnya Kim, padahal dia bukan Kim-mu?”

“Apa yang kau tahu tentang Kim?”

Lagi-lagi Soo Jung tertawa, “Kau ini memang keras kepala, Choi Seol Ri. Jika kau masih belum melunakkan otakmu dari sekarang, kau akan kecewa esoknya.”

Seol Ri mengernyit, “Maksudmu?’

“Yah.. besok lomba futsal. Kau dan aku satu tim. Setidaknya kita damai demi tim, bukan?” Jung Soo Jung mengulurkan tangannya kepada Seol Ri.

Seol Ri menatap sebentar si tangan Soo Jung yang sangat terawat itu. Kuku-kukunya di cat bening sehingga terlihat mengkilap ketika terkena cahaya lampu. Kemudian matanya berpindah ke wajah cantik Soo Jung. Ia sedikit menurunkan wajahnya, karena Jung Soo Jung lebih pendek darinya.

Entah apa sebabnya, Seol Ri tersenyum sinis kepada Soo Jung, “Ya. Kita damai,” katanya sambil menubruk kuat bahu Soo Jung tanpa menjabat tangan Soo Jung terlebih dahulu.

Soo Jung mendengus kesal begitu Seol Ri meninggalkannya dengan cara seperti itu. Ia seperti sudah dikalahkan.

Esoknya….

Amber sengaja mengikuti Jonghyun ke ruang ganti karena ada yang harus ia katakan. Tapi, tidak seperti yang ia bayangkan ketika ia masuk ke ruang ganti anak laki-laki. > Ia membayangkan jika nanti ia masuk, anak laki-laki akan berteriak dan menyuruhnya keluar karena dia perempuan.

“Jonghyun-a!” Amber membuka ruang ganti anak laki-laki. Ia tidak kagok karena dia sering melakukannya dan anak laki-laki yang lain juga begitu.

Jonghyun yang sedang membuka bajunya mulai memakai bajunya lagi, “APA?”

Amber mendekati Jonghyun setelah menutup pintu ruang ganti rapat-rapat, “Kau sudah sering melihatku masuk kesini. Ganti saja.”

“Walaupun begitu, kau ini masih perempuan. Jika kau ingin mengatakan sesuatu, tunggu di luar.”

Amber memperhatikan sekitarnya dan kemudian mendengus. Ia mengerti maksud Jonghyun dan keluar ruang ganti anak laki-laki dengan malas.

Beberapa menit kemudian Kim Jonghyun keluar bersamaan dengan anak laki-laki lainnya. Jonghyun mendekati Amber, “Kau mau mengatakan apa?”

Amber berkacak pinggang, “Kau ini bodoh atau memang sengaja bodoh?”

Jonghyun mengernyitkan dahinya, “Apa maksudmu?”

“Kau ini Kim ‘kan?” Jonghyun diam saja, memberi kesempatan Amber untuk melanjutkannya, “Kenapa kau tidak memberitahunya saja jika kau ini Kim yang sebenarnya?”

“Biar dia tahu dengan sendirinya saja. Aku tidak mau membuatnya kecewa.”

“Kau ini seperti orang bodoh saja! Kenapa kau membiarkan saja Kim Ki Bum memanfaatkan kepolosan seorang Choi Seol Ri untuk membalas dendam?”

“Kenapa kau peduli?” tanya Jonghyun tanpa menatap Amber sedikitpun.

Amber menelan ludah, “Neottemune!”

“Mwo?” Jonghyun kini menatap Amber.

“Karena aku ini menyukaimu!” Amber sedikit membentak dan kemudian berlari meninggalkan Jonghyun yang mematung sendirian di koridor setelah mendengar jawaban mengejutkannya itu.

……

“Aish! Kenapa kau malah mengatakannya?” Soo Jung sedikit kesal begitu Amber menceritakan apa yang barusan terjadi, “Kau harus tahan emosimu. Jangan seperti gadis murahan yang hanya tahu membututi laki-laki!”

“Jadi selama ini kau apa jika selalu membututi Taemin?” Amber menatap kosong lapangan futsal yang sekarang sedang menjadi tempat berlangsungnya lomba antar kelas cabang futsal putra.

“Apa aku membuntuti Taemin?” tanya Soo Jung sambil menunjuk wajahnya sendiri.

“Eo,” jawab Amber enteng.

“Cih! Aku tidak,” kata Soo Jung sambil menaruh kaki kanannya di atas kaki kirinya.

……

“Kalian baik sekali,” kata Seol Ri kepada Sun Young dan Qian yang mengajaknya duduk di belakang Soo Jung dan Amber.

“Ini gunanya teman sekamar,” kata Qian sambil duduk di belakang Soo Jung persis. Sementara Seol Ri duduk di sebelahnya, dan Sun Young duduk di sebelah Seol Ri.

Entah kenapa, dan kenapa bisa mata Seol Ri langsung tertanam ke arah Lee Tae Min yang sedang menyerang gawang lawan. Ia sudah sedikit menyadari dan menerima jika ia sendiri mengagumi Taemin.

Sementara itu, Sun Young memperhatikan Jonghyun yang satu tim dengan Kim Ki Bum dan Lee Jin Ki. Matanya terus mengikuti gerak-gerik Jonghyun yang sedang mencegat Lee Tae Min untuk menyerang gawang tim-nya.

Song Qian sadar bahwa Amber dan Soo Jung tidak tahu jika mereka duduk di depannya. Rambut panjang ikal kecokelatan Jung Soo Jung membuatnya iri dan ingin menyentuhnya. Hampir saja ia menyentuhnya, jika Soo Jung tidak bergerak menggeser pantatnya mendekat ke arah Amber.

“Jadi bagaimana reaksi Kim Jong Hyun?” tanya Soo Jung kepada Amber.

Song Qian melotot. Begitu juga Sun Young yang langsung menoleh ke arahnya. Ia mengisyaratkan tanda diam kepada Sun Young dan Seol Ri.

“Dia hanya melongo dan aku pergi meninggalkannya setelah aku mengatakannya.”

Park Sun Young penasaran dengan apa yang dikatakan Amber kepada Jong Hyun.

“Kau mengatakan apa kepadanya?” tanya Soo Jung yang sama saja penasarannya dengan Park Sun Young.

“Aku menyukaimu. Begitu,” kata Amber sambil terkekeh.

“Lalu bagaimana dengan Park Sun Young?” tanya Soo Jung lagi.

“Apa kau begitu takut Jonghyun memilih Sun Young? Kau tahu, ketika Sun Young menyatakan perasannya kepada Jonghyun beberapa waktu silam?”

Sun Young menelan ludahnya. Dia tidak mau mengingat momen itu lagi.

Author POV end

Sun Young POV

Flashback

“Kim Jong Hyun, ada yang mau aku katakan,” kataku waktu itu, di depan kelas kesenian. Waktu itu adalah pelajaran akting dan partnerku adalah Jonghyun.

“Malhaebwa,” Jong Hyun tersenyum kepadaku.

“A-aku sebenarnya.. a-aku—“

Jonghyun mengerutkan dahinya. Dia akting begitu bagus. Entah kenapa aku meleset dari naskah. Seharusnya aku mengatakan apa yang ditulis di naskah. Tapi aku malah—

“A-aku menyukaimu!”

Dahi Jong Hyun berhenti mengkerut. Ia terkejut, “Mwo?”

“Park Sun Young! Apa yang barusan kau katakan?” Guru akting bernama Guru Yoon itu pun membentakku.

Aku menundukkan kepalaku, sementara Jonghyun duduk kembali setelah diperintah Guru Yoon untuk duduk. Guru Yoon mendekatiku.

“Apa kau sedang mengutarakan perasaanmu?”

“N-ne,” kataku malu-malu yang kemudian disambut dengan pukulan gulungan kertas Guru Yoon di kepala.

Seisi kelas menertawaiku. Jonghyun juga tertawa. Tapi dia kemudian tersenyum manis kepadaku begitu aku melirik ke arahnya. Dan siapa yang tertawa paling keras? Dia adalah Amber.

Flashback end

Sun Young POV end

Author POV

“Itu memang sangat memalukan bukan?” Amber agak berbisik kepada Soo Jung, tapi Sun Young mendengarnya begitu jelas.

“Iya. Kalau aku jadi Park Sun Young, aku sudah sangat malu dan memilih untuk bunuh diri saja.”

Amber dan Jung Soo Jung tertawa renyah. Namun seketika berhenti ketika ada seseorang menyahut perkataan Soo Jung tadi.

“Kalau begitu bunuh diri saja!” suara Seol Ri-lah yang membuat Soo Jung dan Amber berhenti tertawa.

Seol Ri berjalan ke depan dan berdiri di hadapan Amber dan Soo Jung yang baru saja beranjak berdiri. Seol Ri menatap sinis Soo Jung, kemudian dia menatap mata Amber juga. Tapi tidak sesinis waktu dengan Soo Jung.

“Apa kalian begitu suka membicarakan orang lain yang tidak pernah memiliki kesalahan satupun kepada kalian?” kata Seol Ri sambil menatap tajam Jung Soo Jung yang sangat ia benci itu. Ia pun meniup ke atas poni panjangnya, “Hah?”

“Eo. Bagaimana denganmu? Kau lebih suka ‘kan?” Soo Jung mencoba untuk se-rileks mungkin di hadapan Choi Seol Ri.

Seol Ri tertawa garing, “Oh ya? Ya, aku sangat menyukainya juga. Tapi setidaknya aku tidak suka membuntuti Lee Tae Min sepanjang hari.”

Jung Soo Jung tersinggung. Ia berdeham untuk mencegah adanya getaran dalam suaranya, “Aku menyukainya. Jadi apa salahku membuntutinya terus? Dari pada kau yang terus-terusan memanggil Kim Ki Bum dengan sebutan Kim sepanjang hari?”

“Apa kau cemburu melihatku dengan Ki Bum?”

“Mungkin kau yang cemburu melihatku dengan Taemin?” Soo Jung tertawa keras.

Mendengar itu, darah Seol Ri seperti mengalir deras dari ujung kepa;a ke ujung jari-jari kakinya.

“Aku tidak mungkin menyukai Ki Bum yang berlagak menjadi Kim-mu dan—“ Perkataan Soo Jung dipotong sengaja oleh Seol Ri.

“Mari bertaruh!”

“Eo?” nada bicara Soo Jung meninggi, “Apa?”

“Yang dapat banyak gol yang menang.”

“Bertaruh apa?”

Seol Ri menelan ludahnya sendiri. Dan akhirnya mulutnya terbuka, “Bertaruh Lee Tae Min.”

TBC

gaimana? penasaran untuk lanjut? comment like oxygen– *bbyong* *menghilang*

Advertisements

14 comments

  1. Revin · July 8, 2013

    Ditunggu part 6 nya yah

  2. wah gasabar , banyakin taelli momentnya dong ^^ next part 6 yah ^^

    • ffsmawol · August 19, 2013

      sip deh makasih udah mau baca dan komen 😀

    • ffsmawol · August 19, 2013

      sip deh makasih udah mau baca dan komen 😀

  3. githapril · September 3, 2013

    Lanjut chingu~ seru ceritanya >< maaf bru komen dpart ini baru nemu blognya soalnya ^^ dtnggu..

    • ffsmawol · October 11, 2013

      eh iyaiya chingu.. makasih loh udah baca. sabar yah nunggu part selanjutnya^^

  4. Indah Tria Hoky · September 30, 2013

    kok lama banget ya ???

    aku gasabar , hehe

    • ffsmawol · October 11, 2013

      iye sabar yah chingu.. admin+authornya sibuk banyak tugas.. hehe

  5. NewCam_shawol · February 22, 2014

    Lanjut part 6 nya ya
    pnasaran ,, he

  6. Kurnia · March 8, 2014

    , jjong tw kan sulli slh org kok gx d ksh tw , ksian sulli d bully trus ,, cie sulli ,, dah mlai blak2n ska ma taem ya … Thor part 6’a jgn lma2 yaa ,, jebaall , gomawoo

  7. Kurnia · March 28, 2014

    Thor , mana part 6 kok gx keluar2 , pa emg gx lnjut , jgn gntngi RD donk , dah lumutan nnggu’a nie

    • ffsmawol · April 3, 2014

      maaf author rada sibuk hehe update asap kok

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s