[Part 7] Dream Chaser

 

 

 

SHINee eithtoo (1) - Copy

Part 7 : 꿈의 체이서

D r e a m     C h a s e r s

Title : Dream Chasers / Run

Rating : PG-1 5

Genre : School, Romance, Friendship, Family

 

Author POV

2 minggu setelah Seol Ri menemukan Kim-nya… Seol Ri belum juga berani untuk mendekati Jung Soo Jung yang terus menatapnya sinis. Tapi setidaknya ia punya teman. Kim Jong Hyun, Song Qian, dan Park Sun Young. Entah bagaimana, Choi Min Ho juga sering ikut bergabung dengannya. Mungkin ia bosan seharian membuntuti Kim Ki Bum yang lama tidak kelihatan batang hidungnya.

“Choi-sister!” begitulah Minho memanggil Seol Ri.

“Eo?” Seol Ri meneguk bubble tea-nya di jam istirahat.

“Apa kau tahu selera anak perempuan seperti jung Soo Jung?” tanya Minho.

Seol Ri menatap Minho sebal, “Molla. Kau cari tahu saja sendiri. Kalau tidak bisa, tanyakan saja kepada mantan namjachingu-nya Soo Jung.”

“Masalahnya aku tidak begitu dekat dengan Lee Tae Min.”

“Jjamkaman,” Seol Ri kini menatap Minho dengan banyak tanda tanya di kedua matanya, “Lee Tae Min adalah mantan pacar Jung Soo Jung?”

“Mollasseo?” suara Sun Young melengking.

“Eo, aku belum tahu tentang itu semua,” jawab Seol Ri.

“Itu karena dia masih baru disini,” kata Qian.

“Kenapa mereka putus?” tanya Seol Ri, “Sepertinya mereka sangat cocok bersama-sama.”

“Kau berbohong,” kata Min Ho pendek.

“Tentang apa?” tanya Seol Ri kepada Min Ho.

“Kau mengatakannya—tanpa ada keikhlasan,” kata Min Ho, “Aku tahu semuanya dengan menatap matamu saja. Kau sangat tidak suka jika mereka bersama.”

“Apa kau menyukai Lee Tae Min?” tanya Jonghyun tiba-tiba.

Seol Ri terdiam. Dia menatap Song Qian dan kemudian Qian mengangguk pelan. Ia mengalihkan pembicaraan, “Bukan seperti itu, mungkin karena Seol Ri masih takut dengan mereka berdua. Mana mungkin Seol Ri menyukai Tae Min? Kalian kan tahu Seol Ri sangat anti dengan gangster.”

“Eo? Benarkah?” tanya Sun Young.

“Eo. Ayahku pernah diserang gangster. Waktu itu aku benar-benar tidak tahu harus apa. Untung saja ada ibu Jonghyun disana. Kami berdua selamat,” kata Seol Ri.

Sun Young dan Minho melongo, “Jeongmal?”

“Tapi setahuku Taemin sedikit berbeda dengan ayahnya,” kata Jonghyun.

Seol Ri mengangkat alisnya, pertanda ia tidak tahu maksud Jonghyun apa.

“Iya, dia memang terlihat sangat mirip dengan ayahnya. Kasar dan suka sembrono. Tapi sesungguhnya dia adalah anak laki-laki yang ramah,” kata Jonghyun lagi.

“Benarkah?” Seol Ri menelan ludahnya.

“Kau boleh mencoba jadi teman baik Lee Tae Min,” kata Jonghyun kemudian.

“Ah.. benar juga,” Qian mengangguk, “Kim Jong Hyun adalah teman Tae Min.”

 

___

 

Ki Bum berjalan sendirian di koridor sekolah. Sejujurnya ia kesepian karena tidak ada Minho yang selalu mengoceh tentang ini itu dan suka membuntutinya dari belakang. Terkadang Minho akan merangkul Ki Bum dengan tangan panjangnya.

Mata Ki Bum terpaku saat melihat Amber Liu di ujung koridor yang sedang kesulitan dengan beberapa bola futsal di kedua tangannya. Ia seketika tergerak untuk menolong orang yang sangat ia kagumi itu. Tapi— Amber menatapnya dengan heran dari balik bola-bola futsal yang menutupi wajahnya.

Ki Bum mendekati Amber. Dan Amber tidak tahu apa sebabnya dengan pasti ketika bola-bola menggelinding keluar dari kedua tangannya.

“Oh..,” Amber hanya menatap bola-bola yang menggelinding di lantai, di depan matanya. Sementara Ki Bum berlutut untuk mendapatkan bola-bola futsal tadi di kedua tangannya. Amber hanya bisa melongo melihat apa yang dilakukan Ki Bum di depannya sekarang. Ia tidak percaya, seorang Kim Ki Bum yang terkenal tidak peduli—ternyata sekarang, detik ini, berlutut di depannya untuk membantunya.

Ki Bum tahu ia sedang diperhatikan. Makanya, ia menoleh dan mendongak ke arah Amber, “Apa yang kau lakukan? Kenapa hanya berdiri di sana saja?” katanya dengan nada sedatar mungkin.

Amber mendelik. Ia kemudian menggaruk rambut boyish-nya dan segera memunguti sisa-sisa bola yang tidak bisa Ki Bum ambil, “Gomawo,” katanya sembari berdiri. Ki Bum juga ikut berdiri.

“Mau dibawa kemana ini semua?” tanya Ki Bum.

“Ke lapangan futsal,” jawab Amber.

Ki Bum tersenyum tipis dan kemudian berjalan pelan meninggalkan Amber. Beberapa detik kemudian Amber mengikuti Ki Bum di belakang dengan langkah tergesa-gesa.

“Apa kau bodoh?” kata Ki Bum kepada Amber.

“Mwo?” Amber berlari kecil ke sisi kanan Ki Bum, “Aku tidak mendengarkan apa yang kau katakan tadi.”

“Aku saja tidak bisa membawanya semua sendirian,” kata Ki Bum.

Amber terkekeh, “Geunyang—gomawo.”

Tidak terasa, mereka sudah ada di salah satu sisi lapangan futsal indoor. Tidak jauh dari koridor dimana tadi mereka bertemu. Ini pertama kalinya mereka berbincang walau sedikit. Pertama kalinya juga bagi Amber melihat betapa hangatnya Ki Bum.

Ki Bum meletakkan semua bola yang ada di pelukannya ke lantai. Begitu pula Amber. Setelah itu, entah mengapa Ki Bum tersenyum tulus kepada Amber, “Kalau kau perlu bantuan, panggil saja namaku. Dimana pun kau saat itu, walaupun itu badai salju atau badai angin sekalipun, aku akan datang membantumu. Aku sangat ingin—berteman denganmu.”

Sekali lagi, Amber melongo karena takjub. Kim Ki Bum meninggalkannya di lapangan futsal indoor ini dengan keadaan shock, “Ini pertama kalinya aku mendengar ia berkata sesuatu yang baik—“ desisnya sendirian yang kemudian menoleh ke ambang pintu. Tidak ada siapapun disana. Hanya ada dia dan—angin yang berhembus di dalam ruangan besar itu.

 

___

 

Tempat favorit Seol Ri : Lapangan basket dimana sohib kecilnya, Kim alias Kim Jong Hyun suka bermain basket disini. Dimana ia bisa mendengarkan decitan sepatu Jong Hyun di atas lantai lapangan ini. Decitan itu sudah seperti sebuah lagu favoritnya.

Apalagi lantai lapangan basket yang sedang ia duduki ini. Rasanya seperti ia duduk di tempat tidur-nya di Pyongyang.

Sayangnya, Jonghyun sedang tidak bersamanya sekarang. ia sendirian. Namun, seseorang berjalan kearahnya. Bermaksud untuk menemaninya, mungkin. Lee Tae Min kemudian diam-diam duduk di samping Seol Ri.

“Mengapa kau suka sekali duduk sendirian disini?” tanya Taemin kepada Seol Ri.

Seol Ri menoleh mendengar suara Taemin. Ia membelalakkan matanya dan sedikit menjauh dari Taemin, “M-menjauhlah. Jangan mendekat!”

Taemin heran, “Choi—Seol Ri. Mianhae,” suaranya terdengar panik.

Seol Ri bangkit berdiri. Ia tidak mau jadi korban selanjutnya. Ia yakin Taemin pasti akan membunuhnya karena Lee Tae Soo, ayah Taemin tidak berhasil membunuh ayahnya, Tuan Choi, “Apa motifmu untuk membunuhku?!” jeritnya.

Melihat Seol Ri benar-benar ketakutan melihatnya, Taemin ikut berdiri dan berjalan sedikit menjauh dari Seol Ri, “Aku tidak punya motif,” tuturnya.

“Berhenti disitu,” Seol Ri mencoba menahan Taemin diam di tempat dengan bahasa tangannya, “Aku benar-benar takut olehmu sekarang!”

“Aku ingin membicarakannya baik-baik denganmu,” kata Taemin, “Tolong dengarkan aku.”

Seol Ri menelan ludahnya. Ia memberikan Taemin kesempatan untuk berbicara, “Hanya satu menit. Setelah itu— setelah itu—aku benar-benar takut,” ia bergumam sendirian.

“Satu menit?” Taemin mencoba meyakinkan Seol Ri bahwa waktu yang Seol Ri berikan tidaklah cukup baginya untuk menjelaskan semuanya.

Kedua kaki Seol Ri gemetar hebat. Ia masih membayangkan bagaimana Lee Tae Soo datang di hadapannya yang sedang berjalan bersama ayahnya di gang sempit di Pyongyang. Betapa mengerikannya Tae Soo dan pasukannya dengan jubah hitam mengkilap. Pisau yang ia yakin sudah diasah dengan baik itu terlihat lebih menakutkan dibawah sinar rembulan yang remang-remang.

“Kau tahu kenapa ayahku tidak langsung membunuh ayahmu?” tanya Taemin kepada Seol Ri selembut mungkin.

Seol Ri  memilih bertahan dengan kedua lututnya. Sementara Taemin berdiri tidak jauh darinya, “Aku benar-benar ingin kau pergi dari sini,” matanya berkaca-kaca.

“Karena ayahku memang tidak bisa membunuh. Ia tidak bisa melihatmu sendirian di Pyongyang, karena ia ingat bagaimana keadaanku yang tidak memiliki seorang ibu di rumah. Hanya dengan jalan itu ayahku bisa memberiku makan, memberiku pakaian yang bagus, menyekolahkanku sampai akhirnya aku dalam taraf ini,” kata Taemin.

“Ppali, kka!” jerit Seol Ri.

“Ia ada di jeruji sekarang. Aku benar-benar sendirian,” Taemin berjalan mendekati Seol Ri yang kini hampir menangis karena benar-benar takut mati. Taemin berjongkok di hadapan Seol Ri, “Choi Seol Ri.”

Seol Ri menatap Taemin iba, “Jujur aku iba denganmu sekarang. Tapi sembilan puluh persen aku takut malam ini kau mengeluarkan pisau yang sama dengan yang waktu itu ayahmu—“

Taemin memeluk Seol Ri, membuat tubuh Seol Ri membeku seketika. Walaupun pelukan itu cukup renggang, namun dalam angan-angan Seol Ri pelukan itu sangatlah erat karena ia tidak bisa bernafas. Ia sempat berpikir inilah caranya Taemin membunuhnya malam ini.

“Ayahku masih saja menyebut namamu di saat-saat tersulitnya di penjara,” kata Taemin yang tidak bisa melepaskan pelukannya kepada Seol Ri, “ ‘Jangan biarkan Tuan Kim dari ayah Kim Ki Bum melukainya sedikitpun’ itulah yang dikatakannya kepadaku.”

Seol Ri akhirnya menangis, “Ki Bum-a…”

“Menangislah,” Taemin tersenyum karena kini ia bisa mengungkapkannya, “Aku akan melindungimu mulai saat ini.”

“Ki Bum-a,” Seol Ri menyebut nama Ki Bum di tengah-tengah isakan tangisnya.

 

___

 

Jung Soo Jung duduk termenung di atas kasurnya. Ia menatapi terus sebuah foto yang terpampang di hadapannya. Foto lama yang diambil sekitar tiga tahun lalu ketika ia dan Taemin masih dalam masa-masa menyenangkan. Taemin tersenyum sangat bahagia dalam foto itu. Begitu juga Soo Jung sendiri. Melihat senyum sumringah yang memamerkan sederet gigi yang rapi dalam foto tersebut, membuat Soo Jung sedikit tersenyum.

Sebelum tidur, dia memang sering memperhatikan foto ini. Itulah mengapa ia jadi ingin kembali lagi ke dalam masa-masa yang paling bahagia dalam hidupnya itu. Ia tidak pernah bosan memandangi wajah Taemin yang tidak ada bedanya dari dulu sampai sekarang. Bibir merah mawar Taemin masih bisa ia lihat. Apalagi hidung yang heart-shaped dan mata yang menyenangkan, serta semuanya yang dimiliki Taemin. Soo Jung mengaguminya.

Tapi mengapa perasaan Taemin terhadap Soo Jung berubah sekarang?

Soo Jung mendengus. Ia melirik handphone-nya yang sedari tadi dalam mode silent. Ia meraihnya dan menatap si layar handphone. Ada sebuah pesan dari Amber.

 

Soo Jung! Apa yang sedang kau lakukan disana?

 

Soo Jung tersenyum. Untung dia tidak sendirian. Masih ada Amber yang selalu seperti ‘Oppa’nya. Amber selalu perhatian kepadanya dengan bertanya ‘Sudah makan?’ kemudian jika ia berkata belum, Amber akan menawarinya dengan kalimat ‘Mau makan apa?’

Berbeda dengan seseorang yang sok acuh tak acuh terhadapnya, Lee Tae Min.

 

Aku sedang bengong. Jawab Soo Jung.

 

Ayo, makan malam.

 

Soo Jung lagi-lagi mendengus. Ia tidak mau melihat Taemin lagi. Namun—ini demi Amber. Amber tidak punya kawan baik lagi selain dia.

 

Eo, jjakkaman. Duduk saja di meja yang kau inginkan. Aku akan kesana secepatnya.

 

Eo~

 

Soo Jung memasukkan handphone-nya ke dalam saku celananya. Kemudian ia bangkit dari kasurnya dan berjalan gontai ke arah cermin. Di depan cermin ia menyibak rambutnya yang selalu tergerai selama ini. Ia kemudian melihat sisi kanan wajahnya dan juga sisi kiri. Entah mengapa ia ingin tampil beda dengan mengucir rambutnya.

Diraihnya karet rambut yang selama bersekolah ini jarang ia pakai. Ini adalah pemberian Lee Taemin saat mereka masih berpacaran. Ia berniat mengenakannya kembali untuk malam ini.

Setelah ia rasa ia cukup pantas untuk keluar ke dekat kolam renang, ia segera meninggalkan kamarnya dan juga kamar Song Qian ini.

 

___

 

Sekarang Choi Seol Ri bukan lagi sosok murid yang dijauhi. Ia selalu bersama-sama dengan Song Qian dan Park Sun Young. Selain mereka berdua, ia juga bersama sahabat kecilnya, Kim Jong Hyun. Dan juga tidak lupa Lee Jin Ki yang akhir-akhir ini mengekor di belakang Jong Hyun. Choi Min Ho juga bergabung dengan mereka karena Kim Ki Bum tidak ada di acara makan malam ini.

“Aku tidak mengerti kenapa Soo Jung menjauhimu,” kata Jin Ki kepada Seol Ri sambil mencomot sepotong daging yang berada tidak jauh dari mangkuk nasinya.

“Aku sendiri juga tidak mengerti,” kata Seol Ri.

“Padahal kau ini teman yang menyenangkan!” kata Jin Ki lagi.

“Ya, dia memang sedikit menyenangkan,” sambung Jong Hyun, “Tapi jika sedang marah, ia akan memanyunkan mulutnya seperti ini—“

Sementara Jong Hyun menirukan gaya khas Seol Ri ketika sedang marah, yang lainnya tertawa. Dan Seol Ri memanyunkan mulutnya. Membuat Min Ho tertawa lebih keras, “Lihat! Dia sedang melakukannya.”

Jong Hyun menatap Seol Ri, “Kau tidak terlihat imut sama sekali jika seperti itu..”

Semuanya tertawa lagi begitu Seol Ri terkekeh sendiri. Suasana yang hangat ini tiba-tiba berganti ketika seseorang mendatangi meja mereka. Lee Tae Min, sambil membawa baki makanannya.

“Lee Tae Min—“ Jin Ki berhenti mengunyah. Begitu juga yang lainnya. Mereka semua menatap ke arah Tae Min.

“Annyeong,” sapa Tae Min, “Lanjutkan saja percakapan kalian. Aku hanya ingin mengatakan sesuatu saja kepada Choi Seol Ri.”

Seol Ri menelan apa yang baru saja ia kunyah. Kemudian ia mendengus, “Bicara disini saja.”

…..

Jung Soo Jung menemukan Amber Liu di dekat kolam renang. Ia kemudian tersenyum dan mendekati Amber yang menatapnya kesal.

“Amber!” Soo Jung merapikan rambutnya yang agak berantakan.

“Aku tidak ada kawan makan, kau tahu?!” Amber kelihatan sangat kesal.

“Mianhae. Tapi aku benar-benar tidak lapar—“

“Tapi ngomong-ngomong ada apa dengan rambutmu? Kau mengucir rambutmu..,” kata Amber sambil setengah menunjuk rambut Soo Jung yang terikat –hampir- rapi.

Soo Jung terkekeh, “Gwencana, hanya ingin tampil beda saja.”

“Ish.. Jjinja..,” Amber menatap Soo Jung jijik, “Ayolah! Aku lapar.”

“Eo,” Soo Jung kemudian mengikuti Amber untuk mengambil baki yang sudah penuh dengan jatah makan malam mereka. Kemudian mereka berniat untuk makan di meja yang kosong. Namun semua meja disini sudah penuh. Mau tak mau mereka harus berbagi meja dengan yang lainnya.

Amber dan Soo Jung menghampiri teman-teman sekelas mereka, “Annyeong!”

Namun entah mengapa, anak-anak perempuan teman sekelas mereka tidak menjawab dan pura-pura tidak mendengar mereka. Akhirnya, Amber dan Soo Jung memilih pergi. Ini penolakan yang pertama bagi mereka karena sebelumnya mereka sangat disambut oleh kawan-kawan satu angkatan.

Mata Soo Jung menangkap Lee Tae Min yang sedang berdiri di dekat meja gerombolan Jong Hyun, “Lee Tae Min—“

“Eoddi?” Amber mencari-cari Tae Min begitu mendengar Soo Jung menyebutnya.

“Apa yang sedang dia lakukan disana?” gumam Soo Jung sembari menatap Tae Min dari kejauhan.

…..

Tae Min meletakkan baki-nya di meja Jong Hyun dan yang lainnya. Ia kemudian menatap Seol Ri, “Choi Seol Ri, aku tidak bisa bicara denganmu disini.”

“Dia tidak mau,” Jong Hyun menyela, “Lebih baik kalian bicara lain kali.”

“Mwo?” Tae Min tidak percaya Jong Hyun berbicara hal semacam itu kepadanya, “Kim Jong Hyun!”

Jong Hyun mendongak ke arah Tae Min, “Apa kau tidak tahu jika kau sedang merusak suasana hatinya?”

“Dwaesseo, Jong Hyun-a,” Sun Young khawatir jika Tae Min sudah mulai marah dan memukul Jong Hyun.

“Seol Ri-yya, aku hanya ingin bicara denganmu sebentar saja,” paksa Tae Min. Ia menatap Seol Ri nanar.

Seol Ri ganti menatap Tae Min, “Kka. Aku tidak ingin melihatmu sekarang. Mungkin lain kali saja bicaranya.”

“Tae Min-a, mungkin dia memang sedang dalam mood yang tidak baik,” kata Jin Ki kepada Tae Min dengan hati-hati, “Benar katanya. Lain kali saja.”

Namun Tae Min benar-benar ingin mengatakannya malam ini. Tidak ada cara lain selain menarik Choi Seol Ri keluar dari kursinya. Ia benar-benar menghampiri Seol Ri dan menarik Seol Ri secara paksa.

“LEE TAE MIN!” jerit Seol Ri sambil memukuli lengan Tae Min, “LEPASKAN!”

Tae Min tidak peduli Seol Ri ingin memukul lengannya, atau memukul punggungnya, bahkan menjambak rambutnya sekalipun, “Aku sudah mengatakannya kepadamu secara baik-baik, bukan?!”

Seol Ri terjatuh. Akhirnya ia yang tidak bisa mengikuti Tae Min yang berjalan sangat cepat sambil menariknya, tergeret semau Tae Min. Ia ingin menangis, namun ia sibuk melepaskan diri dari Tae Min, “TAE MIN-A!!”

“YYA!” Kim Jong Hyun tidak mau tinggal diam begitu melihat Seol Ri terseret di lantai berkat Tae Min yang egois ini. Ia mengerjar Tae Min, “LEE TAE MIN!”

BUK! Begitu sampai, Jong Hyun langsung memukul wajah Tae Min. Dan Tae Min secara otomatis terduduk di jogging track di pinggir kolam renang. Sementara itu, Seol Ri tidak bisa berdiri karena kakinya sangat sakit untuk berdiri. Ia tidak tahu ada apa dengan kedua kakinya ini.

“Kau memukulku?!” Tae Min bangkit berdiri di hadapan Jong Hyun.

“Keumanhae!” Sun Young dan yang lainnya mendekati Tae Min dan Jong Hyun, serta Seol Ri.

“Apa perlu kau menyeret Seol Ri untuk berbicara denganmu?” tutur Jong Hyun, “Apakah ini caramu memperlakukan seorang perempuan?”

“Sudahlah, Kim Jong Hyun. Seol Ri-yya, kau bisa berdiri?” tanya Qian kepada Seol Ri.

Tae Min mendengus dan menatap Seol Ri yang tersungkur di bawah kakinya. Kemudian ia menatap Jong Hyun, “Jika dia tidak mau, aku harus membuatnya mau.”

“Kau ternyata egois sekali, Tae Min-a!” kata Jong Hyun yang langsung disambut pukulan dari Tae Min di wajahnya, di area yang sama saat ia memukul Tae Min tadi.

“Eo, Jong Hyun-a!” Sun Young panik ketika ujung bibir Jong Hyun mengeluarkan darah, “Gwencana?”

“Aku tidak ingin memukulmu, tetapi karena kau mengucapkan apa yang seharusnya tidak kau ucapkan—“ Tae Min tersenyum kecut, “Sepertinya aku tidak jadi berbicara kepadamu, Seol Ri-yya. Gara-gara kalian semua, aku jadi lapar.”

Tae Min kemudian pergi meninggalkan mereka yang terperangah. Sifat asli Lee Tae Min akhirnya keluar juga setelah selama ini dipendam.

TBC

Maaf agak pendek di part ini hehe habisnya udah kehabisan akal(?) buat ff ini. Tapi author usahain deh buat ngelanjutin sampe tuntashh(?) Thanks for reading, guys<3

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s