Replay… [Neverending Story] Part 3

Untitled_副本

Title : Replay…

Rating : PG – 16

Genre : Sad, Romance, Angst

Casts : Nana, Yuri, Minho, Kai, Joon, Mir, Key

Part 3

 

Pagi-pagi, Yuri sudah masuk ke tubuh Nana yang sudah berseragam sekolah. Akan membuka pintu kamar, tiba-tiba saja Kai muncul di hadapannya.

“Ingat, kau hari ini jadi Nana!” seru Kai kepada Yuri yang sudah masuk ke tubuh Nana.

Yuri mengangguk pelan dan tersenyum menggunakan senyuman Nana yang membuat Kai mendadak terpesona, “Tenang saja aku pasti bisa!”

Mulut Kai sedikit membuka dan kemudian memperhatikan wajah Nana yang sekarang dimasuki roh Yuri. Dia melongo beberapa detik dan kemudian tatapan aneh mata Nana yang dikendalikan oleh Yuri menyadarkannya.

“Oh, ya! Hati-hati di jalan. Pastikan pulang dengan selamat! Jangan sakiti si pemilik tubuh sedikitpun, karena nanti si pemilik tubuh akan bingung..,” kata Kai sambil memperhatikan wajah Nana lebih detail.

Yuri merasa aneh dengan tatapan Kai. Namun dia menggeleng pelan dan membatin, dia memang orang seperti itu, Yuri-yya.. Ia kemudian melihat ke arah tangga di depan kamar Nana, “Aku takut ke bawah.”

“Wae?” Kai linglung.

“Kau sama sekali tidak tahu? Katanya kau human controller. Tapi—“

“Oh, ayah Nana ‘kan? Dia tidur. Akan kubuat tidak bangun sampai nanti Im Nana tidur dan roh-nya kembali,” kata Kai.

“Eng—apa roh Nana bisa keliling seperti roh-ku juga?” Yuri bertanya dengan mimik serius kepada Kai.

Kai menatap mata Nana –sekaligus mata Yuri-, “Jika kau berhati-hati menggunakan tubuhnya sampai nanti jiwanya menjadi milikmu sepenuhnya, mungkin dia tidak akan menyadarinya. Tapi jika kau melukai si pemilik tubuh— lama kelamaan, pemilik tubuh akan tahu jika tubuhnya dimasukki roh lain.”

Yuri menelan ludah, “Oke. Aku akan mencoba untuk berhati-hati.”

Kai kemudian menghilang dalam beberapa detik. Membuat Yuri sedikit terkejut. Namun, bergegas dia menuruni anak tangga –tentunya dengan langkah yang tidak membuat ayah Nana bangun-.

Hari pertama Yuri menggunakan tubuh Nana ke sekolah… Ya hari pertama. Setidaknya nanti ada delapan hari yang akan digunakan Yuri untuk menjadi Nana. Setelah delapan hari itu, Yuri akan hidup—dan Yuri tidak tahu jika dia hidup, Nana –yang jiwanya akan terserap sepenuhnya oleh Yuri- akan mati perlahan.

Nana akan mati perlahan…

Author POV end

 

Kai POV

Aku kembali ke markasku. Disana ada Joon hyung yang sepertinya sedang menungguku. Joon hyung adalah seseorang yang sudah mati juga sepertiku, namun dia punya kekuatan untuk menjadi orang lagi. Dia memilikinya karena dia mempunyai seseorang yang ia cintai di dunia.

Sebenarnya aku juga bisa memilikinya, hanya saja aku tidak mencintai siapapun sekarang. jadi—

“Kai-yya!” Joon hyung berdiri dari tempat duduknya, “Aku menunggumu daritadi.”

“Waeyo?” aku duduk di depan tempat duduk yang ia duduki tadi. Kemudian dia duduk kembali sambil menatapku serius.

“Kau menangani dua orang wanita sekarang ‘kan?” Joon hyung bertanya kepadaku.

Aku menatap Joon hyung aneh, “Iya. Tapi kenapa kau menanyakan itu?”

Joon hyung menghela nafas, “Siapa kedua wanita itu? Apakah benar mereka adalah—“

“Kwon Yuri dan… Im Nana. Waeyo?” aku masih menatapnya aneh.

Mata Joon hyung tidak bisa lepas dari wajahku. Kemudian beberapa menit setelahnya ia menoleh ke arah lain. Dia berdiri dan berjalan pelan ke kamarnya. Ia juga menutup pintu kamarnya dengan pelan. Membuatku sedikit khawatir dan penasaran juga.

Kai POV end

 

Joon POV

Setelah menutup pintu kamar, aku bersandar di belakang pintu. Aku mengacak-acak rambutku sendiri dan menyalah-nyalahkan diriku sendiri.

“Kenapa bisa mereka berdua?” bisikku.

Ya, Yuri dan Nana adalah mantan pacarku. Dulu. Yuri hampir saja menjadi istriku jika dia tidak mengetahui hubungan gelapku dengan Nana. Ia memutuskan berpisah denganku dan pergi meninggalkanku.

Nana juga sama. Dia juga mengetahui bahwa aku adalah tunangan Yuri –lebih tepatnya mantan waktu itu karena dia mengatahuinya setelah aku dan Yuri berpisah. Dia kecewa berat kepadaku dan sama dengan Yuri. Dia meninggalkanku.

Kau tahu kenapa aku mati?

Orang tua Yuri yang tidak terima jika telah dibohongi oleh calon menantu mereka waktu itu menyuruh pembunuh bayaran untuk membunuhku. Sebenarnya bukan pembunuh bayaran itu lah yang membuatku mati.

Aku takut dibunuh. Makanya aku memutuskan untuk bunuh diri sebelum aku dibunuh orang. Akhirnya aku bunuh diri, tanpa seorang pun tahu dimana mayatku waktu itu. Mayatku langsung membusuk dan tubuhku menghilang begitu saja. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri karena roh-ku langsung keluar dari tubuhku begitu aku jatuh dari lantai tertinggi sebuah bangunan.

Kemudian, aku dikunjungi oleh seorang human controller. Aku dibawanya ke kemarkasan semua roh yang menjadi human controller. Dan mulai dari situlah aku menjadi human controller dan sekamar dengan Kai sampai saat ini.

Sampai sekarang aku tidak bisa melupakan sosok Yuri yang sangat aku cintai. Melebihi Im Nana. Karena cintaku itu, seorang human controller senior mengatakan kepadaku, jika aku memiliki kekuatan untuk menjadi hidup lagi. Tapi semua orang yang mengenalku tidak akan mengingatku.

Ingin rasanya aku berubah menjadi manusia lagi. Tapi aku tidak berani menatap mata tajam Yuri lagi. Aku takut menyakitinya lagi.

Joon POV end

 

Author POV

Minho membuka lokernya. Berharap ada sesuatu yang mengejutkannya lagi seperti yang sudah-sudah. Dengan senyum kecil ia membukanya. Namun begitu ia tidak menemukan sesuatu yang ia harap-harapkan, senyumnya memudar dengan perlahan. Dengan lemas dia menutup kembali lokernya.

Ia membalikkan badan. Ia melihat Im Nana di ujung koridor.

“Nana-ssaeng!” Minho berseru memanggil Nana yang dimasuki oleh roh Yuri. *msih inget kan?*

Yuri kaget setengah mati, karena sekarang ia harus bersikap seperti Nana yang semestinya di depan Minho. Dengan ragu-ragu, Yuri mengembangkan senyum Nana yang khas dan dengan santainya melambaikan tangan sok akrab dengan Minho sambil berjalan mendekat. Kemudian dia mengingat sesuatu. Oh ya! Minho adalah sunbae Nana!

“Annyeonghaseyo, Minho seonbaenim!” sapa Yuri dengan suara Nana sambil membungkuk sembilan puluh derajat begitu berdiri di depan Minho.

“Kenapa kau di koridor ini?” Minho tersenyum kepada Yuri sekaligus Nana juga.

Yuri tersentak. Iya kenapa ya aku kesini?

Minho kemudian menebak, “Oh ya! Akan aku panggilkan Mir!” Minho masuk ke dalam kelasnya. Sementara Yuri berdiri di depan kelas Minho sambil berpikir bagaimana nanti dia menyapa Mir seperti Nana menyapa Mir sebelumnya.

Beberapa menit kemudian, Mir dan Key muncul di ambang pintu kelas. Lalu Minho menyusul di belakang mereka.

“Annyeonghaseyo, Mir-seonbaenim.. Key-seonbaenim,” lagi-lagi Yuri tersenyum dengan senyuman manis Nana dan membungkuk sembilan puluh derajat kepada Mir dan Key.

Mir menatap Yuri bingung, “Nana-yya. Kenapa kau hari ini jadi aneh begini?”

Key juga menatap Yuri bingung, “Kau habis mimpi apa tadi malam, Nana-yya?”

Yuri meringis, “Eng—apa aku terlihat aneh, seonbaenim? Apa keanehanku? Aku baik-baik saja—“

“Baik-baik saja apanya??!” Mir hampir saja memuncratkan ludahnya kemuka Nana ketika bicara, “Barusan kau memanggil kami apa? S-s-seonbaenim?”

“Ne?” Yuri menggaruk tengkuknya, “Oh.. sebagai hoobae yang baik. Aku memanggil kalian seperti itu karena aku hanya ingin menghormati kalian berdua saja..”

Mir dan Key mengangguk bersamaan. Sementara Yuri melihat ke arah Minho yang berjalan masuk ke kelas.

 

…….

 

“Kau menemukan sesuatu lagi di dalam lokermu?” Mir mendekati Minho yang sudah duduk di kursinya.

“Tidak,” Minho menjawab singkat sambil melihat ke arah lain.

Mir mengangguk pelan, “Oh.. biasanya anak itu mengirim. Tapi kenapa tidak, ya?” Dia menggumam.

“Kau tahu siapa yang mengirimnya untukku?” Minho menatap Mir serius.

“Molla,” Mir gantian menatap Minho serius. Dia membulatkan matanya karena memang dia tidak tahu. Kemudian Key muncul di balik punggungnya secara tiba-tiba.

“Aku tidak menemukan apa-apa di loker Minho, Cheol Yeong-a!” Key menepuk punggung Mir.

“Aku juga baru tahu dari Minho. Basi,” Mir tertawa kecil.

“Bagaimana jika kita menyelidikinya. Mau tidak?” Tawaran Key membuat Minho dan Mir bertukar pandang dan kemudian berpikir bahwa itu bukanlah ide yang buruk.

Author POV end

 

Yuri POV

Sepulang sekolah, aku langsung berjalan pulang dengan langkah kakiku yang lebar-lebar demi tidak menyakiti Im Nana. Aku ingat sekali kata-kata Human Controller Kai, aku harus berhati-hati dengan tubuh Im Nana ini. Jadi aku putuskan, aku akan memakai tubuh Nana hanya setengah hari saja. Toh aku pasti setiap hari aku masuk ke dalam tubuh Nana. Delapan hari.

Sambil berjalan, aku berpikir. Apakah tadi aku salah jika memanggil Minho, Mir, dan Key dengan sebutan seonbaenim? Memangnya Im Nana ini memanggil mereka dengan sebutan apa? Apakah sebutan—oppa?

“HAI!”

Suara yang sudah kukenal namun aku tidak mengharapkan kedatangannya kali ini. Membuatku tambah frustasi saja!

“Kalau aku berbicara denganmu sekarang, apakah aku akan terlihat seperti berbicara sendiri di mata orang yang lewat nanti?” tanyaku kepada Kai dengan ekspresi sedatar-datarnya.

“Ya. Apa perlu aku berubah menjadi manusia, ya?” dia bergumam sendiri.

Aku diam saja. Aku anggap dia tidak ada saja, karena aku capek seharian di sekolah. Ternyata jadi Im Nana itu susah. Aku jadi bisa merasakan bagaimana menjadi seorang siswi SMA yang cantik tetapi selalu saja di bully oleh teman-teman sekelas.

Aku sudah mengetahui sedikit kehidupan Im Nana. Dia ternyata adalah anak yang pandai bergaul. Semua seonbaenim di kelas tiga tahu dia. Buktinya tadi ketika aku berjalan di koridor kelas tiga banyak anak kelas tiga –yang kebanyakan anak perempuan- menyapaku. Mungkin lebih tepatnya mereka menyapa Nana.

Kemudian, Im Nana adalah anak sangat tidak disukai oleh teman-teman se-angkatannya. Itu mungkin karena ketenaran Nana di kalangan anak-anak kelas tiga. Dia selalu di bully dan dibiarkan sendirian di kelas. Aku mengalaminya tadi. Teman-teman sekelas Nana melemparkan kulit-kulit pisang tadi ke arahku –ke arah wajah Nana. Dan karena aku merasa kesal dengan mereka, aku datangi mereka dan bentak mereka. Namun, yang ada mereka hanya melongo, karena mungkin baru pernah lihat Nana yang berontak setelah dilempari kulit pisang. Aku baru tahu, ternyata Im Nana tidak pernah berontak jika di bully.

“Aku tahu kau pasti kesal dengan hari pertamamu ke sekolah,” kata Kai kepadaku kemudian.

“Aku sering ke sekolah,” kataku pelan. Takut dikira orang gila.

“Maksudku, hari pertama kau menjadi murid. Apalagi murid yang sering di bully—“

“Hmm..”

Kai mendengus. Dia mungkin tidak suka jika aku menjawab dengan jawaban singkat. Dia langsung menghilang begitu saja. Aku merasa tidak enak dengannya, namun di lain sisi aku senang dia pergi. Jadi aku bisa cepat-cepat kembali ke rumah Nana, agar ayah Nana tidak curiga.

Yuri POV end

 

Author POV

Kwon Yuri baru saja masuk kamar Im Nana. Dia tidak menemukan ayah Nana di rumah ini. Makanya dia langsung ambil nafas lega dan mengganti seragam yang dipakainya dengan pakaian sehari-hari Nana. Kemudian, dia duduk di kursi yang berhadapan dengan jendela kamar. Dan perlahan, Kwon Yuri dapat keluar dari tubuh Nana. Sekarang, Nana terlihat bingung. Dia berulang kali mengucek matanya, dan kemudian dia berdiri.

Im Nana memegangi rambutnya. Dia merasakan ada yang aneh dengan rambutnya. Rambutnya terasa lengket. Ia mencium baunya, “Pisang..,” gumamnya.

Kwon Yuri membulatkan matanya. Takut jika Im Nana tahu jika dia memasuki badan Nana.

“Oh.. aku lupa jika tadi pagi mereka melempariku pisang lagi—“ kata Nana kemudian sambil duduk di tepi ranjang sambil memandangi foto Joon yang terpampang di kamarnya.

Yuri mengikuti arah ekor mata Nana. Dengan sangat hati-hati, dia duduk di samping Nana dan meniru apa yang dilakukan Nana –memandangi foto Joon.

“Kita–“ bisik Yuri, “Kita sama-sama mengenal orang itu, ya?”

Nana menoleh ke arah dimana Yuri duduk. Dia mengernyitkan dahi dan kemudian meletakkan tangan kanannya ke arah dimana Yuri duduk juga. Dia merasakan hal yang aneh disitu. Dia merasakan kehangatan di tangannya, di telapak tangannya, sampai di ujung-ujung jarinya.

 

—-

 

“Hyung!” Kai memanggil Joon, sunbaenya.

Joon menoleh ke arah Kai yang sedang menatapnya tajam, “Wae?”

“Aku ingin tanya,” kata Kai.

“Apa?”

Kai menelan ludah, “Apa benar—jika kita mencintai seseorang di dunia, kita akan kembali menjadi manusia?”

Joon menerawang sebentar. Dia jadi ingat Kwon Yuri. Dia benar-benar mencintainya. Dari pertama bertemu dengan Yuri sampai sekarang, dia masih mencintai Kwon Yuri. Dia sebenarnya sangat ingin kembali hidup menjadi manusia, dan menjalin hubungan baru dengan Yuri.

“Hyung?” Kai memecah lamunan Joon.

“Bisa.. ya, kalau kau mencintai seseorang kau akan hidup lagi. Ya, ya, “ kata Joon gelagapan.

Kai mengangguk kecil sambil terus menatap Joon dan menyeruput teh hijau-nya.

“Jangan menatapku begitu, Kai-yya!” Joon menangkap tatapan aneh Kai.

Kai meletakkan gelas teh-nya dengan perlahan di meja. Dia menggeleng sambil tersenyum, memperlihat senyumannya yang paling manis, “Aku tahu—kau pasti sudah mencintai seseorang di dunia.”

Joon menatap Kai heran, “Kenapa kau tahu?”

Mendengar jawaban seonbae-nya yang sok polos itu, Kai tertawa kecil, “Hyung~ kau tahu apa pekerjaanku ‘kan? Aku bisa membaca pikiran. Joon Hyung itu sedang jatuh cinta dengan seseorang di dunia sana.. aku tahu itu!”

Joon tersenyum malu, “Oh.. aku lupa soal itu.”

“Hyung,” Kai kembali ke suasana serius, “Kapan aku bisa mencintai seseorang?”

Kali ini gantian Joon yang tertawa. Tetapi dia tertawa keras sekali karena dia baru mendengar pertanyaan konyol dari seorang pria gagah dan tampan yang bisa dibilang adalah tipe idaman semua wanita.

“Kenapa tertawa? Jawab pertanyaanku, Hyung!” Kai menaikkan nada bicaranya.

“Kapan kau bisa mencintai seseorang?” Joon meyakinkan kembali pendengarannya.

“Ya, kapan?”

“Pada saat kau benar-benar merasakan degup jantungmu yang sangat cepat dan sangat keras begitu berhadapan atau menatap mata seorang wanita. Pada saat kau benar-benar sudah begitu menyayangi wanita yang ada di hadapanmu itu sampai rasanya kau tidak bisa melepaskannya begitu saja. Kau selalu ingin melindungi wanita itu entah sampai kapanpun. Juga, pada saat kau benar-benar tidak ingin ada seseorang yang menyakiti wanita di hadapanmu itu,” Tenggorokan Joon tercekat. Rasanya dia ingin sekali menangis. Tapi menangis di hadapan hoobae adalah sesuatu yang memalukan sekali.

Kai terdiam. Dia melihat mata Joon berkaca-kaca, “Hyung, lalu siapakah wanita yang akan aku sayangi, yang akan aku lindungi, dan yang tidak akan kubiarkan seseorang menyakiti?”

“Ya.. wanita yang kau cintai..,” jawab Joon singkat.

“Apa ciri-ciri seseorang menyukai seseorang?” tanya Kai lagi.

“Kau akan bertingkah aneh di depan orang yang kau sukai,” kata Joon sambil tersenyum tipis, “Kalau aku seperti itu.”

“Hyung~” suara berat Kai membuat Joon penasaran, kenapa dari tadi Kai banyak pertanyaan tentang cinta?

“Kau sedang jatuh cinta ya?” tanya Joon.

“Ya, sejujurnya seperti itu. Aku merasa, aku harus melindungi seseorang di dunia—“ kata Kai dengan datar.

“Siapa itu? Apa—“

“Salah satu dari dua orang wanita yang aku layani sekarang, Hyung! Aku tidak menyangka aku akan jatuh cinta kepada salah satu dari mereka hanya karena aku selalu menemaninya.”

Joon menelan ludah, “Siapa? Im Nana atau—“

“Kwon Yuri. Aku menyukai Kwon Yuri,” kata Kai berbunga-bunga.

Ending Theme : Shampoo – After School

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s