[Part 8] Dream Chaser

SHINee eithtoo (1) - Copy

Title : Dream Chasers / Run

Rating : PG-1 5

Genre : School, Romance, Friendship, Family

Author POV

Jung Soo Jung memperhatikan Lee Tae Min yang duduk sendirian di lapangan sepak bola setelah makan malam. Ia tahu suasana hati Tae Min sedang buruk. Seharusnya ia tidak menemaninya, tapi berhubung ia sudah kesini—mau apa lagi?

“Bolehkah aku duduk disini?” tanya Soo Jung kepada Tae Min dengan suara selirih mungkin.

Tae Min mendongak ke arah Soo Jung, “Eo.”

Dan Soo Jung-pun duduk di samping Tae Min di atas rumput yang setengah basah ini. Ia menghembuskan nafas panjang dan membiarkan Tae Min menyepi dulu.

Seperti inilah jika Tae Min dulu sedang dalam mood yang tidak baik. Soo Jung akan duduk di samping Tae Min seperti ini dan mereka berdua diam sejenak. Baru beberapa menit kemudian Soo Jung meletakkan kepalanya di bahu Tae Min.

“Tae Min-a,” panggil Soo Jung sembari meletakkan kepalanya di bahu Tae Min.

Tae Min yang sedang dalam bad-mood itupun langsung tersenyum tipis dan merangkul Soo Jung, “Gomawo, Soo Jung-a. Kau memang yeojachingu yang baik.”

“Cheonmanhae,” Soo Jung tersenyum, “Kelak aku akan jadi anae yang baik untukmu juga.”

Mereka berduapun tertawa. Soo Jung berhasil membuat mood Tae Min up.

 

Entah saat ini masih bisa atau tidak. Soo Jung pun meletakkan kepalanya di bahu Tae Min, “Tae Min-a.”

Lee Tae Min mendengus dan kemudian mencegah Soo Jung untuk tiduran di bahunya, “Mianhae, Soo Jung-a.”

Hati Soo Jung kini terasa sangat pedih begitu Tae Min bergeser sedikit lebih jauh darinya, “Wae?”

“Mwoga?”

“Apa kau menyukai Choi Seol Ri?” tanya Jung Soo Jung kepada mantan namjachingu-nya itu.

Tae Min tersenyum tipis dan menunduk, pertanda iya. Dia menyukai Choi Seol Ri.

“Apa yang membuatmu menyukainya?” suara Soo Jung sedikit lebih lirih dari yang sebelumnya.

“Kenapa kau begitu ingin tahu?” Tae Min menatap Soo Jung aneh. Lebih-lebih ketika ia menyadari bahwa rambut Soo Jung terikat, diikat dengan ikat rambut yang ia berikan.

“Karena aku ingin tahu mengapa kau bisa menyukai seseorang yang benar-benar mengangguku,” kata Soo Jung sungguh-sungguh.

“Mengganggumu?” mata Tae Min menyipit.

“Semenjak ia datang kesini, entah mengapa semuanya berubah. Terutama kau, Tae Min-a,” tutur Soo Jung.

Tae Min menarik nafas dalam-dalam, “Aku berubah? Mungkin hanya di matamu saja—“

“Eo, hanya di mataku.”

“Soo Jung-a, aku ingin sendirian sekarang,” Tae Min menatap rerumputan di depannya.

“Tapi aku ingin menemanimu. Aku tidak mau kau sendirian,” kata Soo Jung dengan nada simpatik.

“AH WAE?!” Tae Min bangun dan menendang rerumputan yang baru saja ia tatap, “KENAPA KAU INGIN MENEMANIKU?!”

Soo Jung menatap Tae Min tidak percaya, “Kau memang sudah berubah, Lee Tae Min.”

“Terserah kau saja!” Tae Min kemudian meninggalkan Soo Jung sendirian di lapangan sepak bola. Lapangan impiannya, mimpinya sebagai pesepak bola.

Author POV end

Min Ho POV

Aku sudah tahu Tae Min tidak akan mau ditemani Soo Jung seperti itu. Maka dari itu karena aku khawatir, aku mengikuti Soo Jung di belakang. Untung saja ia tidak tahu jika aku membuntutinya.

Begitu Lee Tae Min meninggalkan Jung Soo Jung, aku mengelus dada. Kasihan Soo Jung. Ia benar-benar menyukai Tae Min, dan Tae Min seharusnya beruntung karena dicintai oleh seorang gadis yang tulus semacam Soo Jung. Tapi kenapa Tae Min malah meninggalkannya saja seperti itu?

Aku tergerak untuk menemani Soo Jung. Jadi, aku berjalan menuju ke arahnya, ke arah Soo Jung yang sudah mulai berdiri. Kini aku tepat berada di belakangnya, dan kebetulan ia membalik badan. Matanya sembab dan ia terus menarik ingusnya.

“Jung—Soo Jung…,” aku iba melihatnya.

“Choi Min Ho. Kenapa kau disini?” dia menghapus air mata di sekitar matanya.

“Hanya berjalan-jalan,” kataku.

“Baiklah. Teruskan saja jalan-jalanmu. Aku akan ke kamar,” katanya yang lalu berjalan menjauhiku.

Melihatnya seperti itu, aku tidak bisa diam saja. Aku mengejarnya dan memeluknya dari belakang. Ia nampak sedikit kagok berkat pelukanku yang tiba-tiba ini. Anehnya, ia tidak langsung menjauh dariku. Ia memberiku kesempatan untuk memberikannya support.

“Aku tahu pasti apa yang kau rasakan sekarang, Jung Soo Jung,” kataku sambil terus memeluknya.

Soo Jung melepaskan pelukanku dan ia berbalik badan menatapku, “Gomawo. Memang sepertinya kau-lah yang selalu memahamiku.”

“Cheonmanhae,” aku tidak tahu kenapa aku mengucapkannya.

“Lee Tae Min—“ matanya berkaca-kaca. Agaknya ia akan menangis lagi, “Dia berubah..”

Benar, dia menangis. Jung Soo Jung menangis. Dan refleks, aku memeluknya. Namun sedikit renggang karena kecanggungan yang ada di sekitar kami. Soo Jung terus menangis di pelukanku, dan ajaibnya ia membalas pelukanku.

Apakah ia juga membalas perasaanku?

Min Ho POV end

Author POV

Park Sun Young membuka pintu kamar ketika seseorang mengetuk pintu. Ia terkejut begitu melihat Jung Soo Jung dengan mata sembab beserta Choi Min Ho yang menatap Sun Young aneh berdiri di depan kamarnya. Soo Jung berangsur masuk kamar, dan Sun Young menatap punggung Soo Jung iba.

“Kenapa dia?” tanya Sun Young kepada Min Ho begitu ia keluar dan menutup pintu kamar rapat-rapat.

“Gwenchana,” Min Ho tersenyum kepada Sun Young. Sementara Sun Young mengerutkan keningnya tanda ia tidak maksud dengan apa yang dikatakan Min Ho, “Aku yakin dia akan cepat melupakannya.”

Sun Young bingung, “Sebenarnya ada apa? Apa masalah Tae Min?”

“Jangan sebut nama Lee Tae Min di depanku, Park Sun Young. Aku sangat tidak suka orang itu,” aku Min Ho.

“Mianhae,” Sun Young meringis, “Nado. Dia benar-benar suka menyiksa perempuan.”

“Seol Ri sakit fisik, tapi Soo Jung sakit batin,” tutur Min Ho.

“Memangnya ada apa?” Sun Young penasaran apa yang dimaksud Min Ho dengan ‘Soo Jung sakit batin’ tadi.

“Aku tidak yakin. Tapi kuharap kau mau menghiburnya, Sun Young-a,” kata Min Ho.

Sun Young-pun dengan ragu-ragu mengangguk, “Eo. Akan kuusahakan.”

Choi Min Ho tersenyum kepada Sun Young dan kemudian pergi dari asrama perempuan secepat mungkin karena ia lelah sekali hari ini. Sementara Sun Young masuk ke kamar dengan sangat hati-hati agar Soo Jung tidak terkejut.

Park Sun Young melihat Jung Soo Jung berbaring di kasur dan menatap dinding. Kedua mata Soo Jung masih terbuka. Dan Sun Young menutup pintu kamar lagi dan berjalan ke arah Soo Jung.

Perlahan, Sun Young duduk di tepi ranjang milik Soo Jung. Ia menarik nafas dalam-dalam, “Jung Soo Jung, gwenchana?”

Soo Jung mendengus, “Eo, gwenchana.”

“Geurae?” Sun Young juga ikut mendengus, “Apa kau—sudah makan?”

“Ani. Aku tidak lapar sama sekali,” jawab Soo Jung. Suaranya sedikit bergetar.

“Aku sudah tidak punya mie-cup—“ gumam Sun Young. Ia merogoh saku celananya dan menemukan cukup uang untuk membeli mie cup di dekat asrama. Ia kemudian menoleh ke arah Soo Jung, “Soo Jung-a.”

“Wae~?” nada bicara Soo Jung makin kesini makin tinggi.

“Apa kau mau menemaniku makan mie-cup di seberang jalan?” Sun Young ragu-ragu Soo Jung akan menerima ajakannya itu.

“Kenapa aku harus menemanimu?” kini suara Soo Jung terdengar lesu.

Park Sun Young sudah tahu jawabannya. Ia pun bangkit dan terpaksa makan mie-cup sendiri di seberang jalan, “Kalau begitu aku akan makan sendiri—“

Suara Sun Young terputus ketika ia mendengar bunyi perut kelaparan yang tentunya bukan berasal dari perutnya sendiri. Ia menoleh ke arah Soo Jung yang pura-pura tidak tahu dan menggigit bibir bawahnya serta mengelus perutnya pelan. Sun Young ingin tertawa. Namun saat Soo Jung menatapnya tajam, ia tidak jadi tertawa, “Kalau kau tidak keberatan, aku ingin satu mie-cup juga.”

___

Jung Soo Jung berjalan ke arah meja dan kursi mini market yang menghadap ke jalan sembari membawa mie-cup-nya yang sudah diseduh. Setelah sampai, ia cepat-cepat duduk dan mengaduk-aduk mie-nya. Sementara Sun Young duduk di sebelahnya sambil memperhatikannya.

“Sudah lama aku tidak makan mie-cup,” kata Soo Jung yang kemudian memasukkan sesuap mie ke dalam mulutnya. Tangannya sangat lihai memainkan sumpit padahal selama ini ia biasanya memakan mie dengan garpu dan sendok.

“Benarkah?” Sun Young baru mengaduk-aduk mie-cup-nya.

Soo Jung mengunyah mie-nya dan menatap keluar jendela di depannya. Ia baru sadar jika ia sekarang sedang makan dengan seorang murid SSB Koyuhgi yang bukan dari kubunya. Ia melirik ke arah Sun Young.

Sun Young yang akan memakan mie-nya, malah menatap Soo Jung aneh, “Wae?”

“Aku sedang makan bersamamu sekarang—“ kata Soo Jung.

Mendengarnya, Sun Young terkekeh, “Eo. Kau memang sedang makan bersamaku.”

Jung Soo Jung menggelengkan kepalanya, “Kenapa kau mau makan denganku disini?”

“Ya.. karena aku butuh makan juga,” kata Sun Young yang akhirnya memakan mie-nya. Ia kemudian tertawa kecil, “Tenang saja aku yang traktir.”

Soo Jung merasakan kejanggalan yang sebenarnya hanya ia rasakan sendiri saja, “Bukankah kau tidak menyukaiku?”

Sun Young menatap Soo Jung dan tersenyum lebar. Kemudian ia menggeleng, “Kurasa kau tidak terlalu buruk untuk menjadi seorang teman.”

Mendengar tutur kata Sun Young, Soo Jung tersentuh. Ia memasukkan suap mie-nya yang kedua ke mulutnya sambil terus berfikir. Park Sun Young benar-benar baik kepadanya, “Chingu?”

“Eo, chingu..,” kata Sun Young yang asyik memakan mie-cup-nya, “Semua orang di dunia ini adalah—chingu. Kawan-kawanku.”

Entah mengapa Sun Young tertawa lagi. Soo Jung juga ikut tertawa, “Apakah aku juga temanmu?”

“Kau adalah temanku juga,” kata Sun Young sambil melihat ke arah Soo Jung.

“Apa yang terjadi jika aku ini tidak menganggapmu teman, padahal kau menganggapku temanmu?” mata Soo Jung menyipit.

“Gwenchana. Aku masih punya sekian triliun kawan di dunia ini. Kenapa mesti bingung?” ujar Sun Young.

Jung Soo Jung menelan kunyahannya, “Aku hanya punya dua orang teman di dunia ini.”

Sun Young menatap Soo Jung, “Nugu?”

“Amber—dan,” Soo Jung tersenyum renyah ke arah Sun Young, “Neo.”

“Na?” Sun Young menunjuk wajahnya sendiri. Matanya membulat karena dia tidak percaya dengan apa yang dikatakan Soo Jung.

“Tidak apa-apa jika kau tidak mau jadi temanku,” kata Soo Jung sambil mengaduk-aduk mi, pasrah.

“Ani!” Sun Young langsung mengelak, “Kukira kau akan menyebut nama Lee Tae Min. Kenapa malah aku yang keluar dari mulutmu?”

Soo Jung mendengus keras, “Tae Min hanya masa laluku.”

“Kau masih menyukai Lee Tae Min?” Sun Young mengecilkan volume bicaranya.

“Tampaknya Lee Tae Min menyukai Choi Seol Ri,” tutur Soo Jung, sekali lagi pasrah, “Dan Choi Seol Ri juga tampaknya menyukai Lee Tae Min. Mereka saling menyukai.”

“Kau salah. Seol Ri malah takut sekali dengan Tae Min,” kata Sun Young.

“Takut jika Tae Min menyakitinya?” Soo Jung kemudian terkekeh, “Ia menyukai Tae Min, makanya ia menjaga hatinya agar tidak terluka hanya gara-gara sebuah perasaan yang dinamakan cinta.”

Sun Young menggeleng, “Aku tidak mengerti.”

Soo Jung tergelak mendengar jawaban dari Sun Young, “Tidak mengerti apanya?”

“Mudah-mudahan saja, Seol Ri memang takut disakiti oleh Tae Min. Tetapi menurutku Ia takut karena suatu hal yang sudah terjadi kepadanya. Sama sepertimu, Soo Jung-a. Tae Min adalah masa lalu baginya,” tutur Sun Young.

“Masa..masa lalu?” Soo Jung menatap Sun Young penasaran.

“Tapi aku tidak bisa memberitahumu tentang ini. Akan sangat menyakitkan bagi Choi Seol Ri jika Ia mengingat-ingat hal itu lagi.”

Author POV end

Soo Jung POV

Kim. Kim yang dimaksud oleh Seol Ri, bukanlah Kim Ki Bum melainkan Kim satunya lagi. Kim Jong Hyun. Begitu Sun Young memberitahu tentang adanya masa lalu antara Seol Ri dan Tae Min semalam, aku jadi penasaran dan sekarang, pagi ini, aku berjalan menuju kelas Jong Hyun.

Setelah sampai di depan kelas Jong Hyun, tanganku dengan cepat membuka pintu ruangan besar tersebut. Semua mata disana seketika tertuju ke arahku. Sedangkan mataku mencari-cari sesosok Kim Jong Hyun. Namun, bisa kulihat Lee Tae Min berdiri di pojok ruangan, memandang kosong ke luar jendela. Aku menelan ludah, “Kim Jong Hyun?”

Jong Hyun terlihat bingung begitu mendengar namanya disebut. Ia berdiri dari kursi dan tersenyum ke arahku. Segeralah aku membalas senyumannya dan memintanya untuk keluar sebentar.

Soo Jung POV

Author POV

Mendengar suara Soo Jung, Tae Min menoleh sedikit ke belakang. Ada urusan apa Soo Jung memanggil Jong Hyun?

Taemin berjalan ke arah luar, namun tidak keluar kelas. Taemin berhenti di ambang pintu karena posisi Soo Jung dan Jong Hyun sangatlah dekat dengan posisinya sekarang. Taemin bersembunyi sedikit sehingga Soo Jung yang berdiri menghadap ke keberadaannya tidak melihatnya.

“Kudengar, kau sangat dekat dengan Choi Seol Ri,” tutur Soo Jung.

“Kami hanya dekat,” kata Jong Hyun.

Soo Jung terkekeh, “Kau berbohong. Kalian sangatlah dekat. Dari kecil.”

Jong Hyun terdiam.

“Ya ‘kan? Kau ini Kim yang dimaksud oleh Seol Ri,” kata Soo Jung lagi.

“Lalu..ada apa?” Jong Hyun merasakan hawa aneh karena Soo Jung tiba-tiba mengungkit Seol Ri.

“Kau adalah orang yang sangat dekat dengan Seol Ri jadi..kau adalah yang paling mengerti soalnya.”

“Jangan bilang kau akan menggunakanku untuk mencelakakan Seol Ri—“ Jong Hyun tersenyum tipis.

Soo Jung menggeleng cepat dan kemudian melipat tangannya di dada, “Jika ada sesuatu yang terjadi dengannya setelah ini, kau boleh mengatakan apa yang kau lihat beberapa tahun yang lalu kepada Lee Tae Min.”

Mendengar namanya disebut, Tae Min membulatkan matanya. Ia mengernyit, “Na?” desisnya.

“Aku tahu kau tertarik dengan Seol Ri. Aku bisa membuatnya menjadi milikmu,” kata Soo Jung lagi.

Kali ini mata Tae Min benar-benar membulat. Jong Hyun—tertarik dengan Seol Ri?

“Baiklah. Apa yang kau mau dariku?” tanya Jong Hyun tenang.

Soo Jung menatap Jong Hyun dalam, “Aku hanya ingin tahu, apa hubungan Seol Ri dan Tae Min?”

Jong Hyun menatap Soo Jung datar, “Mereka…yah seperti yang kau lihat—“

“Bukan itu maksudku,” Soo Jung memotong kalimat Jong Hyun, “Apa hubungan mereka di masa lampau?”

Tae Min kaget bukan main. Bagaimana Jung Soo Jung bisa tahu tentang adanya keterkaitan antara dia sendiri dan Choi Seol Ri?

“Ya, mereka memang saling terkait di masa lampau. Lebih tepatnya ayah mereka,” kata Jong Hyun.

Mata Soo Jung menyipit, “Apakah ayah mereka menjodohkan Tae Min dan Choi Seol Ri?!”

Jong Hyun menggeleng, “Tidak. Sama sekali tidak,” Ia melihat ke sekeliling dan kemudian mendekat ke arah Soo Jung, “Ayah Choi Seol Ri adalah seseorang yang sangat sukses dulu sehingga membuat para pekerja yang lainnya iri. Salah satu dari mereka mengirim seorang gangster untuk membunuh Ayahnya.”

“Dan gangster itu….?” Soo Jung menahan nafasnya.

“Buronan Lee Tae Soo, ayah Lee Tae Min.”

Soo Jung terkesiap. Ia mundur beberapa langkah saking kagetnya. Apalagi begitu melihat Lee Tae Min yang sudah berdiri di belakang Jong Hyun, “T-Tae Min-ah?”

Suara Soo Jung yang gemetaran membuat Jong Hyun menelan ludah dan menoleh ke belakang. Tae Min menatap mereka berdua tajam.

“Ya, aku anak seorang gangster buronan Lee Tae Soo!”

TBC

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s