[SPECIAL PART] We Got Married

Untitledl

Matahari pagi menampakkan cahayanya yang menerobos lewat jendela kaca di kamar Bae Suzy. Pemilik kamar pun mengernyit dan akhirnya membuka matanya perlahan berkat cahaya matahari tersebut. Ia terduduk dan kemudian menatap suaminya, Kai. Karena teringat kejadian semalam, Ia senyam senyum sendiri sampai tidak menyadari ada sedikit bau alkohol di badan suaminya itu.

Suzy turun dari kamarnya sambil mengecek keadaan rumah yang sedikit berantakan. Beberapa camilan tampak masih berada di meja makan. Selain itu beberapa kaleng bir juga……tunggu. Bir?

“Apa ini…,” Suzy mencium bau kaleng bir yang sudah kosong itu. Baunya memang tidak begitu menyengat tapi bau ini agak familiar. Ia mencium bau ini sekitar..beberapa jam yang lalu. Ya! Tadi malam!

Atau jangan-jangan Kai semalam mabuk? Kata-kata dan sikap Kai semalam, apakah itu semua palsu? Suzy meremas kaleng bir yang Ia genggam sekuat tenaga dan kemudian menampar pipinya sendiri.

“Aku benar-benar jatuh hati pada mulut manis pria hitam itu. Eomma….,” desis Suzy.

___

Kai membuka matanya begitu Suzy turun ke lantai bawah. Ia kemudian mengambil posisi duduk dengan cepat dan memegangi dadanya yang naik turun tidak karuan. Apa-apaan ini? Kenapa aku tidur di kamar nona labu ini hah?

Seketika Ia teringat jika Ia sedikit mabuk tadi malam. Kepalanya sedikit pusing dan Ia malah terus memukul kepalanya pelan, “Padahal itu cuma bir! Err..tidak seharusnya aku meminumnya! Ya salah siapa juga di rumah sampai tidak ada air dingin?”

Kai membuka pintu kamar Suzy, memeriksa keadaan sekitar. Ia kemudian menutupnya kembali dengan hati-hati, “Tunggu dulu! Apa yang aku lakukan kepadanya semalam?”

Kreek..kreek..

Kai mendengar suara kaleng diremas. Benar saja! Begitu Ia menoleh ke kiri, Bae Suzy sudah berdiri di salah satu anak tangga sembari meremas kaleng bir yang Ia minum tadi malam. Ia menepuk-nepuk pipinya, berharap itu hanya halusinasinya saja. Namun, keadaan Bae Suzy kini benar adanya(?)

“Apa kau mencariku?!” Suzy melempar kaleng bir yang sudah tidak berbentuk lagi ke arah Kai.

“Yya!!” pekik Kai tidak terima. Ia hendak marah, namun berhubung Suzy masih dalam kondisi ‘berkabung’ niatnya untuk marah itu cepat-cepat Ia urungkan.

“Andai saja aku bisa mengusirmu dari sini. Jika rumah ini bukan milik kita berdua. KI-TA berdua,” tutur Suzy kemudian.

“Kenapa kau semarah ini?” Kai mengernyitkan dahinya. Apa memang semalam benar-benar terjadi sesuatu?

“KAU MABUK!” pekik Suzy.

“Lalu?” tanya Kai polos, “Apa aku melakukan sesuatu……..”

Suzy mengerjap-kerjapkan matanya dan kemudian menggigit bibir bawahnya. Apa dia benar-benar tidak ingat jika.., “Lupakan.”

Kai menatap Suzy penasaran. Sementara Suzy terlihat kikuk di depannya.

“Pokoknya, hari ini aku akan mengurus surat perceraian. K-kau..tunggu saja.”

Begitu mengatakannya, Bae Suzy lantas masuk ke kamarnya untuk bersiap-siap. Ia membanting pintu kamarnya, sehingga Kai yang masih mematung di depan pintu kamarnya persis tersentak kaget. Beberapa detik kemudian, Ia membuka pintu kamarnya.

“Wae?” Kai melotot ke arah Suzy, “WAE?!”

“Bersihkan lantai bawah!” kata Suzy yang kemudian kembali membanting pintu kamarnya.

BRAK!

Bersamaan dengan suara pintu yang dibanting tadi, Kai menuruti perintah Suzy. Ia turun dari lantai atas dan kemudian membersihkan lantai bawah seperti yang diperintahkan. Ia juga membuat bubur sendiri, untuknya sendiri.

Author POV end

Suzy POV

Setelah bersiap, aku duduk di depan cermin menatap wajah yang sama sekali tidak ku-poles –karena aku malas memolesnya akhir-akhir ini. Aku meraba bibirku yang semalam…yang semalam..yah. Aku masih bisa merasakan degup jantungku yang  begitu kencang semalam.

Dengan perlahan, setengah yakin setengah tidak dengan keputusanku, aku menarik loker meja di depanku dan mengambil secarik kertas. Secarik kertas yang sudah kusiapkan jauh-jauh hari. Sebuah surat pernyataan cerai.

“Bae Suzy, ini waktu yang tepat. Kau tidak bisa membiarkan dirimu sendiri jatuh lebih dalam berkat Kai,” kataku terhadap pantulan diriku sendiri di cermin.

“Kim Jong In-ssi, kau menikahi putri sulung Kelurga Bae yang bernama Bae Soo Ji. Kau akan melindungi istrimu apapun keadaannya, baik sehat maupun sakit. Kau bisa melakukannya?” 

Aku mendongak sedikit untuk melihat wajah Kai. Aku berharap ia berkata tidak karena aku tidak mau menikah dengannya. Sama sekali tidak terbayangkan olehku dia berdiri di sampingku di gereja ini, mengenakan setelan jas hitam yang menawan.

Kai mengangkat wajahnya dan menoleh ke arahku. Ia menatapku agak lama dan kemudian tersenyum kecil. Aku tidak tahu kenapa dia malah tersenyum kepadaku.

“Iya, aku bisa melakukannya,” katanya yang lalu memalingkan wajahnya ke arah pastur dan menghapus senyum dari wajahnya. Apa maksudnya?

“Bae Soo Ji-ssi, kau menikahi putra sulung Keluarga Kim yang bernama Kim Jong In. Apa kau akan melindungi suamimu dalam keadaan sehat baik sakit?” tanya pastur kepadaku.

“Mm..,” aku menundukkan kepalaku sejenak. Ya, aku tidak mau pernikahan ini terjadi. Tapi—apa boleh buat? Ini demi ayah dan perusahaan ayah yang sedang berantakkan. Aku tentu saja tidak bisa mengurus perusahaan ayah. Hanya Kai yang bisa melakukannya.

“Bae Soo Ji-ssi?” tuan pastur memanggil namaku dan aku hanya bisa mendongak sambil menggigit bibir bagian bawahku. Aku melirik Kai yang ternyata sedang memperhatikanku.

“Apa kau bisa melakukan ikrar itu?” tanya tuan pastur lagi. Membuatku menatapnya.

Aku memejamkan mataku dan menghembuskan nafasku panjang. Kemudian aku membuka kedua mataku, “Aku— ragu-ragu.”

Tuan pastur menggeleng kecil mendengar jawabanku, “Di dalam ikrar suci ini hanya ada jawaban ya atau tidak. Jangan ragu-ragu,” katanya kepadaku.

“A-aku..,” aku benar-benar tidak tahu harus menjawab apa sampai Kai menggenggam tanganku yang basah akibat keringat dingin. Aku menoleh ke arahnya. Apakah dia ingin menikah denganku? Dia seperti ingin mendengar jawaban ‘ya’ dari bibirku.

“Bagaimana Soo Ji-ssi?” tuan pastur berkata lagi.

Aku menoleh sebentar ke arah tuan pastur dan kembali melihat ke arah Kai yang menundukkan kepalanya. Entah mengapa, aku juga menggenggam tangannya erat. Ia menoleh ke arahku dan akupun mengumpulkan keberanian untuk menjawab….

“Ya, aku bisa melindungi suamiku baik sehat maupun sakit,” ucapku dengan sedikit ragu.

Kudengar, Kai menghembuskan nafasnya panjang. Apakah dia lega akhirnya aku menjawabnya dengan jawaban ya?

Aku mendesah dan kemudian mengacak-acak rambutku yang baru saja tertata rapi. Apa kini aku menyukai Kai? Menyukai lelaki yang sangat suka meledekku saat kuliah dulu? Seorang lelaki menyebalkan yang selalu membuatku malu di depan banyak orang? Seorang lelaki yang aku nikahi secara terpaksa? Aku harap tidak sama sekali. Namun nyatanya melihat surat perceraian yang aku siapkan sendiri, dadaku terasa sesak. Seharusnya aku mengurus perusahaan Ayah saja daripada menikah dengan lelaki yang kini……membuatku berharap banyak darinya.

Suara panci yang diletakkan di atas kompor membuatku bangun dan segera keluar kamar. Dengan segala persiapan yang sudah aku siapkan(?) aku menuruni anak tangga sembari melihat ke arah dapur. Kai, anak hitam yang semalam mabuk dan membuatku..err..sedang mencoba membuat sesuatu.

“Aku pergi,” kataku.

Kai menatapku dan kemudian menghampiriku, “Maaf,” katanya.

Dahiku mengerut, “Maaf apa?”

Kai menatapku sementara aku tidak berani menatapnya sama sekali. Aku mengedarkan pandanganku ke arah dapur dan sekitarnya, “Semalam, aku mabuk. Dan kini aku ingat apa yang aku lakukan terhadapmu.”

Aku tertegun. Ah, lebih baik jika dia tidak mengingat apa yang dilakukannya semalam, “Ya. Aku tahu.”

“Jangan anggap itu serius. Karena aku memang seperti itu jika mabuk,” bisa kulihat Kai menelan ludahnya, “Aku melakukan gwiyomi–”

Aku menatapnya. Setengah kecewa setengah lega. Apa benar hanya gwiyomi saja yang Ia ingat? Jika memang benar baguslah, “Iya..iya.”

Kai tersenyum lebar dan kemudian menggaruk tengkuknya, “Apa kau serius tentang perceraian? Apakah keluarga kita tidak merasa kecewa?”

“Jika kita jelaskan secara baik-baik kemungkinan besar mereka akan mengerti,” aku berdeham, “aku sudah tidak bisa tinggal bersama orang sepertimu. Kau tahu, urat leherku berubah menjadi sebesar belut setelah aku menikahimu.”

“Oh ya?” Kai berkacak pinggang, “Urat leherku berubah menjadi sebesar kakimu setelah aku bertemu dengan labu jadi-jadian.”

“Yang penting labu jadi-jadian itu bukan aku saja!”

“Ya memang siapa lagi labu jadi-jadian jika bukan..kau?”

“Kenapa harus aku? Krystal Jung juga mirip labu!”

Kai diam. Ia menatapku tajam begitu aku melontarkan nama mantan kekasihnya itu, “Kau memulainya lagi.”

“Mwo? MWO?! Jangan pernah membanding-bandingkan Krystal Jung denganku lagi. Dan jangan pernah mengatakan yang bagus-bagus tentangnya. Aku memang lebih ‘besar’ darinya. Aku memang tidak cantik sepertinya. Tapi setidaknya aku memiliki apa yang Ia tidak miliki. Aku sangat membencinya. Sangat sangat sangat membenci Krystal Jung!”

“Memangnya apa sesuatu yang kau miliki tapi dia tidak miliki?” Kai mengerutkan dahinya. Wajahnya…mendadak berubah menjadi hitam.

“Emm..,” aku mengangkat kaki kananku sehingga Kai mundur beberapa langkah, “Kaki besar. Kaki-kakiku besar dan kaki-kakinya sangat kurus seperti chihuahua.”

Kai tertawa kecil, “Kalau dia chihuahua, kau bulldog!”

Aku menatapnya sebal, dan dia malah balik menatapku tajam, “Aku sangat sangat membencinya. Itu tidak akan pernah berubah!”

Suasana menjadi hening sampai kemudian Kai maju beberapa langkah mendekatiku.

“Bae Soo Ji,” Kai menatapku lebih tajam, “Apa kau tertarik kepadaku?”

DEG!

Kali ini apa yang harus aku lakukan?

Suzy POV end

Kai POV

Entah mengapa hari ini aku sangat lelah. Walaupun aku hanya duduk di depan televisi dan memindah-mindah channel, serta mengunyah semua camilan milik Bae Suzy yang ada di kulkas kami— kami? Sudah berapa lama aku dan Suzy menjadi ‘kami’ dan ‘kita’?

Aku mendengus dan kemudian mematikan televisi. Aku hendak naik ke kamarku untuk bersiap-siap pergi bermain dengan kawan-kawan alumni sekolahku. Namun bel rumah berbunyi sehingga terpaksa, mau tidak mau, aku harus membukakan pintu bagi seseorang yang membunyikan bel rumah kami. Kami? Sudah berapa lama aku dan Suzy menjadi ‘kami’ dan ‘kita’?

“Ya,” aku menatap malas seorang wanita yang berdiri tepat di depan pintu rumah….kami. Ia tampak lebih tua sedikit dariku dan..dia tampak cantik. Namun beberapa detik kemudian aku baru menyadari jika aku mengenalnya, “Se Young nuna?”

___

“Kau sendirian di rumah?” tanya Se Young nuna kepadaku.

Aku berjalan, membawa dua botol jus jeruk ke arahnya yang duduk di ruang tamu, “Aku memang sendirian ‘kan..”

Ia menatapku. Dan aku menghindari tatapannya. Aku lebih memilih meminum jus jeruk daripada harus menerima tatapannya yang teduh itu.

“Kau sudah menikah bukan?” katanya, “Dimana isterimu?”

Aku menelan jus jeruk di dalam mulutku sekuat tenaga(?). Sungguh aku tidak ingin membicarakan siapa yang dimaksud Se Young nuna. Kenapa? Kalimatnya yang tadi pagi dilontarkannya sungguh membuatku kebingungan. Rasanya, aku ingin hilang saja. Aku ingin menghindarinya. Jawaban Bae Suzy atas pertanyaanku adalah jawaban yang sangat ingin tidak aku dengar dan tidak ingin aku ingat.

“Aku pikir aku hanya sekadar menyukaimu seperti aku menyukai semua teman-temanku. Mengingat kau adalah seseorang yang dulu sering menggangguku, aku mencoba untuk tidak menyukaimu. Aku mencoba untuk melupakan rasa yang kemudian tumbuh perlahan menjadi perasaan yang seperti ini.”

“Perasaan ap-apa?”

“Aku menyukaimu. Sebagai seorang perempuan terhadap seorang laki-laki. Aku tidak mau menyukaimu karena mungkin ini akan mempersulit hubunganmu dengan Krystal yang tidak jelas. Sangat tidak jelas. Toh waktu itu aku pernah berkata jika Ayahku meninggal, kita akan bercerai.”

“Apa kau serius dengan perceraian?”

“Kau akan senang jika aku serius bukan?” 

“Dia mengatakan semuanya…seperti itu,” aku menceritakan semua yang selama ini terjadi kepada Se Young nuna. Ia masih menatapku dan aku masih menatap jus jerukku yang ada di meja di depan kami.

“Apa kau menyukainya?” tanyanya.

Aku menyandarkan punggungku di punggung sofa, “Sepertinya tidak sama sekali.”

“Bagaimana dengan Krystal?” tanyanya lagi, dan entah mengapa aku pusing dengan pertanyaan-pertanyaan yang Ia lontarkan sedari tadi.

“Aku tidak tahu,” aku menggaruk tengkukku, “Aku kebingungan.”

“Wae?”

Aku mengambil nafas dalam-dalam dan menghembuskan nafasku keras-keras, “Sepertinya aku masih ingin bersama Krystal. Tapi jika aku hidup bersama Suzy, itu juga tidak apa-apa.”

Se Young nuna terdiam, “Apa rumah Krystal di dekat sini?”

“Mau apa?” mataku membesar dan aku menatapnya.

“Aku sangat kasihan kepadanya.”

“Apa yang terjadi kepadanya?”

“Aku…melihatnya bersama seorang pria–”

“Eii,” aku terkekeh, “Kau hanya menakut-nakutiku karena kau ingin aku tetap bersama Bae Suzy ‘kan?”

Se Young nuna menggeleng dan raut wajahnya amat sangat serius. Ia memang selalu begini namun setidaknya aku hafal kebiasannya yang tidak suka dibohongi dan berbohong.

“Aku mengenal pria itu.”

Kai POV end

Author POV

Kai berlari menuju rumah Krystal begitu Park Se Young pamit pulang dari rumahnya. Karena memang rumahnya dan rumah Krystal tidak begitu jauh, Ia memilih untuk langsung berlari saja. Kata-kata Se Young membuat hatinya panas dan ingin sekali melihatnya secara langsung.

“Laki-laki itu adalah Lee Jong Suk yang waktu itu mengantarkan Suzy ke rumah.”

“Dia membawa isteri seseorang ke rumahnya?!”

“Melihatmu bereaksi, sepertinya kau lebih marah tentang Suzy yang Jong Suk bawa pulang daripada Jong Suk yang Krystal bawa pulang sore ini.”

Ia terdiam saat itu karena dia terlalu bingung tentang perasaannya yang ‘iya’ kepada Krystal dan ‘iya’ kepada….Suzy.

“Sampai jumpa besok.”

Suara Krystal sayup-sayup terdengar dan Kai mulai memelankan kecepatan larinya. Ia berjalan mendekati pagar rumah Krystal yang diterangi lampu-lampu yang menerangi jalan di depan rumahnya ketika malam. Ya, laki-laki yang bersama Krystal saat ini adalah Jong Suk. Pria yang selalu terlihat bersama Bae Suzy. Pria itu mendekatkan wajahnya ke wajah Krystal dan…mencium bibir Krystal.

Kai membalikkan badannya yang mendadak lemas. Wajahnya panas. Rasanya ingin memukul wajah pria itu seperti yang pria itu sendiri lakukan ketika Krystal secara tiba-tiba menciumnya di depan rumah. Tunggu. Bagi Kai, ini rasanya seperti de javu.

Suzy melihatku berciuman dengan Krystal waktu itu. Sekarang aku melihat Krystal berciuman dengan Lee Jong Suk dan mendadak dadaku jadi sakit sekali. Apakah Suzy juga merasakan perasaan yang sama sepertiku saat itu? Bola mata Kai bergerak-gerak. Ia berjalan menjauhi rumah Krystal.

Namun begitu Ia membalikkan badannya dan mengeluarkan handphone hendak menelepon seseorang, tiba-tiba seseorang yang akan Ia telepon berdiri tepat di depannya. Seseorang yang adalah seorang gadis dengan kaki besar yang sering Ia juluki labu-labuan yang juga secara tidak sengaja melihat pemandangan yang sama dengan Kai.

“Bae Suzy–” suara Kai bergetar.

Suzy tersenyum canggung dan berbisik, “Ayo makan malam. Aku sudah membuatkan ramyeon–”

Kalimat Suzy terpotong karena tiba-tiba Kai memeluknya erat.

“K-kai,” Suzy membelalakkan matanya, terkejut.

“Kau kemana saja seharian ini..”

“A-aku mengurus perceraian kita ‘kan?” Suzy menelan ludahnya, “Aku sudah mengatakannya. Dan sebenarnya hanya beberapa jam saja. Tidak seharian.”

“Seharian tanpamu rasanya sangat membosankan,” ucap Kai yang kemudian meneteskan air mata.

“Aku marah karena bagaimana bisa seorang pria lancang membawa pulang seorang gadis yang adalah isteri seseorang? Lagipula, Krystal mengajak pria itu ke rumahnya mungkin saja karena ada perlu.”

“Kau menyukai Suzy dan Krystal.”

“Aku hanya menyukai Krystal, sepertinya.”

“Tapi kau lebih menyukai Suzy.”

“Tidak mungkin.”

“Jika kau ingin tau mungkin tidak mungkin-nya, langsung saja ke rumah Krystal. Sejujurnya aku ingin mengatakannya kepadamu sejak lama. Krystal lebih sering Jong Suk bawa pulang ketimbang Suzy yang baru saja Jong Suk bawa pulang sekali.”

____

Kai memakan ramyeonnya perlahan. Sementara Suzy memperhatikannya makan di sampingnya.

“Suzy-ah,” Kai menghabiskan ramyeonnya dan menatap Suzy, “Kenapa kau tidak makan?”

Suzy menatap mata Kai yang memerah. Suzy tahu Kai berusaha untuk tidak menangis lagi, “Aku sudah makan.”

“Dimana?”

“Di rumah.”

“Seharian ini kemana saja?”

“Aku mengurus–”

“Bukan itu,” Kai menegak habis segelas air di dekatnya, “Maksudku kau dimana saja?”

Suzy berdeham, “Aku–em…gereja.”

“Ada apa ke gereja? Hari ini bukan hari Minggu,” kata Kai.

“A-aku mengurus s-suratnya disana. Surat perce-percerai–”

Kai tergelak, “Kau mengurusnya di…gereja?”

Wajah Suzy memerah. Ia mendobrak meja dengan satu tangannya, “Baiklah aku akan mengatakan yang sejujurnya saja. Aku tidak ke gereja dan tidak kemanapun hari ini. Aku tidak mengurus surat perceraian karena…….”

“Karena?”

“Aku takut,” kata Suzy, “Aku takut merindukan suasana ini.”

Kecanggungan menyelimuti mereka berdua. Suzy tidak berani menatap Kai. Begitu pula sebaliknya.

“Aku takut merindukanmu. Aku takut menjadi perusak hubunganmu dengan Krystal. Aku tidak sepantasnya menyukaimu seperti ini..emm.. ya. Aku hanya ingin kau hidup bersama Krystal dengan bahagia. Krystal juga sepertinya menginginkan itu. Jika kau menggelar pernikahanmu dengannya, tolong undang aku ya!”

Kai merogoh tas selempang Suzy dan mengeluarkan surat perceraian yang terlihat kumal. Ia menunjukkannya kepada Suzy, “Kau mau bercerai dengan menggunakan yang semacam ini?”

Suzy meringis, “Aku sudah mempersiapkan sejak awal karena aku sangat yakin kita berdua tidak akan saling jatuh cinta dan………..JANGAN KAU SOBEK!”

Ternyata sementara Suzy menjelaskan alasan mengapa surat perceraiannya terlihat kumal, Kai menyobek surat yang sedang Ia bicarakan menjadi dua.

“Kenapa kau sobek?!”

“Apa kau benar-benar ingin berpisah denganku?!”

“Bukankah kau lebih suka berpisah?”

“Aku tidak yakin ini jalan yang benar.”

“Kalau begitu kita benarkan!”

Kai menatap Suzy yang sudah meneteskan air mata. Karena malu, Suzy menutupi wajahnya dan membelakangi Kai. Sementara Kai kebingungan karena Suzy mendadak menangis karenanya.

“Yya! Kenapa kau menangis?”

“Molla!” Suzy masih saja menangis dan Kai masih saja kebingungan. Ia tidak tahu apa yang harus Ia lakukan ketika seorang gadis menangis di hadapannya.

“Aku sudah merubah pikiranku. Aku menyadari bahwa aku bersalah. Aku telah menyakitimu. Mianhae.”

Suzy masih menangis, “Aku ingin bercerai.”

“W-wae? Kau menyukaiku bukan?”

Suzy menoleh ke arah Kai, “Perasaanku hanya sepihak. Kau tidak menyukaiku. Kau hanya ingin membuatku merasa lebih baik setelah menyakitiku. Maaf aku bukan seorang Kai yang selalu kebingungan dengan perasaannya sendiri dan selalu berubah.”

Kai terdiam. Ia menatap mata Suzy, “Baiklah. Jika itu maumu.”

Begitu mengucapkannya, Kai pergi meninggalkan Suzy. Ia berjalan keluar rumah. Dan menyesali perasaannya yang membuatnya bingung setengah mati. Jika dirinya benar-benar ingin menuruti apa yang dimau Suzy, keputusan yang baru saja Ia ambil memang tepat. Namun jika dirinya benar-benar menyukai Suzy, menyukai Suzy lebih dari Krystal, Ia akan kembali dan menahan Suzy untuk tetap tinggal di sampingnya.

Langkahnya mungkin terasa ringan meninggalkan Suzy dan jawabannya disana. Akan tetapi dadanya terasa sesak dan panas. Hatinya berat meninggalkan keputusan seperti itu.

“Seharian tanpamu rasanya sangat membosankan,”

Kata-katanya sendiri, membuatnya terus berpikir.

Dan pada akhirnya membuatnya berbalik dan kembali.

___

“Bae Suzy,” Kai menemukan sosok Bae Suzy di dekat tangga.

“K-Kai?”

Secepat kilat Kai mendekat ke arah Suzy dan meraih wajah Bae Suzy yang basah karena air mata. Ia pun kemudian mengecup bibir Suzy dengan mata tertutup.

Suzy-pun terkejut dan membelalakkan matanya. Tangannya berusaha untuk melepaskan ciuman mendadak yang kai berikan kepadanya. Namun Kai tidak menyerah dan tidak melepaskan ciumannya. Sampai pada akhirnya Suzy pun menyerah. Ia membiarkan Kai memilih perasaannya sendiri.

Setelah beberapa saat, Kai melepaskan ciumannya. Ia meneteskan air mata dan menatap Suzy dalam dalam, “Aku tidak pernah menyukai seseorang seperti aku menyukaimu.”

Suzy menatap Kai penasaran, “Apa kau mabuk?”

Kai tersenyum, “Aku selalu mabuk jika aku bersamamu. Dan karena aku mabuk, aku selalu seperti orang yang kebingungan.”

“Apa artinya–”

“Aku mencintainya.”

“Mencintai–”

“Orang yang membuatku selalu mabuk jika aku bersamanya.”

Suzy tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia bahagia sekaligus kesal karena tidak menepati janjinya untuk bercerai begitu Ayahnya meninggal, “Aku harus menepati janjiku kepadamu.”

“Ubah janjinya,” pinta Kai yang kemudian memeluk Suzy seerat mungkin, “Kajima.”

“Eo-eo?”

Kai mengusap kepala Suzy lembut dan berbisik, “Jangan pergi.”

“O..eo,” jawab Suzy kemudian.

“Aku yakin dengan perasaanku sekarang.”

“Eo.”

“Berhentilah mengucapkan ‘eo'”

“Eo..”

Mereka pun kembali hidup seperti semula dan bahagia selamanya. JENG JENG!

GEMANA GEMANA??? SUKA GA? MAAF KALO ABSURD ENDINGNYA KAYA DONGENG DONGENG DISNEY GITU. MEREKA MAH EMANG THE NEXT BEAUTY AND THE BEAST. MANA KAIZY SHIPPER SUARANYAAAAAA AAAAA 

abaikan saja author jbsung.

makasih udah bacaaaa sarang sarang saranghae:*:*:**:*:*:*:*:*:*

Advertisements

10 comments

  1. Elistya Kim99 · June 28, 2015

    Kurang puas author
    aigoo aku masih kesel jj sama si kai.

    Tapi makasih ya author udh di buatin sequel.a
    next.a ditunggu author Fighting

    • ffsmawol · June 28, 2015

      aduh sori deh soalnya mentok gabisa bikin kai jadi ga ngeselin lagi(?) author sendiri kesel sama karakter dia disini lol wkwk thanks ya udah bacaa

  2. rifqa0390 · June 28, 2015

    Ya ampun…
    Kenapa baca endingnya gak ada perasaan terharu or seneng ya?
    Malah rasanya kesel banget…
    Bnyk tanda tanya yg muncul…
    Terutama tentang jongsuk n soojung…
    Tp makasih ya authornim uda nyelesaiin ceritanya…
    Mudah2 cpat dapat ide utk crita selanjutnya..

    • ffsmawol · June 29, 2015

      aduh sorry bgt hehehe udah mentok gaada ide. tadinya mau sad ending tapi kasian sama jongin wkwkwkwk

  3. Bee · June 28, 2015

    Author mah githu, masak beauty and the best, hahaaa ngakak sumpah, ewh jadi pengen baca cerita itu versi KaiZy, hohoow…
    Tanggung jawab, author harus buatin #KedipKedipAlaOrangCantik
    fighting thor:*

  4. Kai Suzy · June 29, 2015

    Akhirnya happy ending :D, jdi soojung itu selingkuh ya thor?? Tsk neo jinjja jung soojung eonni, tpi gpp yg penting ending nya Kaizy 😀 , ditunggu ff yg lain nya thor, FIGHTING .

  5. justd.o · June 30, 2015

    Unyuu thor, he he. Walaupun masih gregetan sama kai yg agak ababil. Tapi baguss kok. Oiyaa salamm kenal new reader 😉

    • ffsmawol · July 1, 2015

      salam kenal juga yaaa thanks udh baca

  6. suzyholic · October 27, 2015

    Waah hapily ever afteer yaak
    Kaai rada labiil.. masa ga sadarama perasaan sendiri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s