[ONE SHOOT] Sorry

sorryposter

Title : Sorry (Mianhae)

Rating : PG-16

Genre : Romance, Sad, Friendship

Cast :

Kai as Kim Jong In

Yeo Jin Goo as teen Kim Jong In

Suzy as Bae Soo Ji

Kim So Hyun as teen Bae Soo Ji

Lee Hyun Woo as Lee Hyun Woo

IU as Lee Ji Eun

Soo Ji POV

Ash.. tampan sekali dia sekarang. padahal dia dulu hanyalah seorang anak laki-laki yang terlihat bodoh dan culun. Setiap hari hanya tahu menyendiri di pojok kelas, dan selalu berbicara kepada seseorang dengan membetulkan letak kacamatanya. Kacamata yang membuat mata belonya sedikit terlihat lebih sipit.

Sampai suatu hari aku melihatnya di depan pintu gerbang rumahnya sendiri. Rumahnya yang sungguh tidak layak disebut ‘rumah’. Rumah milik keluarganya, Keluarga Kim sangatlah besar. Mungkin lebih besarnya hampir sama dengan lapangan golf.

A Stranger – Big Baby Driver

Dia duduk di tanah basah bekas hujan sambil menundukkan kepalanya. Dia terlihat sangat jelek ketika dia menengadah untuk melihat wajahku. Itu delapan tahun yang lalu. Sekarang umurku sembilan belas tahun. Jadi, waktu itu aku dan dia masih sekitar sebelas tahun. Dan dia lebih tua dariku beberapa bulan karena dia lahir di bulan Januari.

Pada saat itu, aku mencoba untuk mendekatinya. Aku juga ikut duduk di tanah basah tadi. Aku menatapnya penasaran, dan dia tidak berani membalas tatapanku. Dia menghindari tatapanku. Dia terlihat ketakutan begitu aku tersenyum kepadanya. Dia mengatakan kepadaku untuk tidak tersenyum kepadanya. Jadi aku berhenti tersenyum dan menanyakan ada apa sebenarnya sampai-sampai dia terduduk disini dan berada di luar rumah.

“Aku benci ibu tiriku. Aku ingin keluar dari rumah ini!” katanya saat itu.

Aku mengangguk dan dengan entengnya berkata, “Kenapa kau tidak lari saja dari sini? Katanya kau ingin keluar dari rumahmu, kenapa kau masih disini? Ppali kka!”

Kemudian dia menatapku penuh harap, “Aku tidak tahu harus kemana. Apakah kau punya tempat untuk aku pergi?”

Saat itu, untuk pertama kalinya aku memanggilnya ‘bodoh’ dan juga ‘dungu’. Aku menyesal memanggilnya begitu. Karena sekarang dia terlihat sangat berbeda.

Kami bersahabat sampai umur kami berdua mencapai enam belas tahun. Kami lulus dari SMP yang sama. Dan juga kami baru masuk di SMA yang sama juga. Di saat kami berumur enam belas ini-lah, hmm.. ada sesuatu.

Entah bagaimana bisa seseorang yang kurasa waktu itu sudah berlama-lama berdiri di depan gerbang sekolah kami menawarkannya untuk mengikuti semacam audisi. Dan kemudian orang itu melihat ke arahku, dan tentu saja aku membalas tatapan orang itu dengan tatapanku yang terkenal sangat garang. Dia menawariku juga.

Setelah itu, kami berdua berjanji :

Dimanapun, Kapanpun, Berapa lamapun.. kami berdua harus selalu bersama.

Tapi dia, anak dungu itu –yang sekarang tumbuh sangat tampan- mematahkan janjinya sendiri. Bukan. Janji kami berdua. Dia diterima di manajemen dimana dia mengikuti audisi. Dia diterima, sementara aku tidak. Namun, karena aku ingin mengerti apa yang dia mau, aku mencoba untuk terus mendukungnya disaat dia menjalani masa training.

Kalian tahu, apa dukunganku terhadapnya?

Karena ibuku adalah orang yang tidak mampu, sebelum berangkat sekolah aku sering membantu ibuku dengan berjualan susu kotak. Nah, pagi- pagi benar, aku sempatkan untuk datang ke gedung trainee, ke tempat dimana dia menjalani pelatihan yang kurasa sangat berat itu.

Aku tergesa-gesa jadi jarang sekali aku melihatnya keluar untuk menerima susu kotak dariku. Aku malah lebih sering melihat teman trainee-nya dibandingkan dia sendiri. Teman trainee yang selalu tersenyum dan memberiku kabar-kabar baik tentang kawan dunguku selagi aku mengantarkan susu.

Namun, aku merasa sangat marah ketika dia menolak untuk datang ke pemakaman ibuku –yah, kini sudah tiada. Hari dimana ibuku dimakamkan, adalah hari dimana dia debut sebagai salah seorang member dari grup EXO. Aku benar-benar tidak mengerti. Padahal yang selama ini memberinya makan, memberinya tempat untuk tidur, adalah ibuku. Bahkan ibuku mengaku lebih menyukainya yang dungu itu daripada aku yang adalah anaknya sendiri.

Aku… sangat kecewa kepadanya..

Aku… sangat kecewa padamu, Jong In-a..

Soo Ji POV end

Author POV

Soo Ji tidak pernah tertarik sedikitpun untuk menonton showcase EXO semenjak ia dibuat kecewa oleh Kim Jong In, sahabat kecilnya. Setiap ditawarkan temannya menonton showcase, dia menjawab tidak dan dilanjutkan dengan mengolok-olok EXO.

Di depannya kini berdirilah Kim Jong In yang dulu sewaktu berumur sebelas tahun adalah seorang anak laki-laki dungu yang tidak tahu caranya melarikan diri dari rumah. Dia tersenyum sangat manis kepada Soo Ji. Tapi Soo Ji membalas senyuman manisnya dengan tatapan sinis dan menakutkan, sehingga Jong In tidak berani menatap Soo Ji.

“Bae Soo Ji. Kau lupa padaku?” kata Jong In kemudian.

Soo Ji masih menatap Jong In tajam, “Kau Kai EXO.”

Jong In tersenyum lagi, kemudian dia tertunduk malu, “Soo Ji-yya, aku…”

“Tapi aku tidak ingat kapan kita bertemu,” kata Soo Ji, memotong perkataan Jong In. Alhasil, Jong In hanya melongo tidak mengerti apa yang diucapkan Soo Ji barusan, “Perasaan selama ini aku hanya berada di pasar dan kemudian tidur di pasar juga. Aku tidak pernah ke gedung SM Entertainment untuk mengantar susu atau bahkan mengantar satu box penuh buah apel.”

Jong In terdiam, “Bae Soo Ji..”

“Aku hebat sekali. Ya ‘kan? Kai-ssi barusaja memanggil nama lengkapku. Dan aku seharusnya bersyukur hari ini dapat melihat Kai EXO secara live. Namun entah kenapa aku tidak suka kau mengganggu pekerjaanku hari ini.”

Mendengar Soo Ji berkata seperti itu dan melihat sekilas mata tajam milik Soo Ji, Jong In hanya terus diam dan tertunduk. Sungguh tidak berbeda jauh dengan Kim Jong In yang sebelas tahun.

“Temanku sering menyalakan TV untuk melihat berita tentang EXO. Dan wajah Kai-ssi sering sekali muncul di TV. Begitu suka-kah Kai-ssi muncul di televisi setiap saat? Tapi begitu aku lewat, kawanku yang satu itu tidak berani lagi menyetel stasiun TV tadi. dia langsung pindah channel, takut aku marah padanya. Kai-ssi tahu apa sebabnya?”

Jong In menggeleng pelan. Soo Ji tersenyum kecut, “Aku.. sepertinya tidak suka EXO.”

Jong In menelan ludah. Soo Ji semakin menatapnya tajam, “Karena EXO-lah yang sudah membuatku kecewa.”

“Wae, Soo Ji-yya?” telinga Jong In sedikit terusik dengan ucapan Soo Ji.

Soo Ji tertawa keras, “Kenapa Kai-ssi memanggilku seperti Kai-ssi mengenalku lebih lama dari almarhumah ibuku?”

Jantung Jong In serasa berhenti berdetak begitu mendengar kata-kata ‘almarhumah ibuku’. Masih ada kata ‘maaf’ yang harus ia sampaikan. Aduh.. kenapa Soo Ji mengatakan hal-hal yang membuatnya tidak berani untuk meminta maaf seperti ini.

“Jong In bulleojwo!” suara Jong In bergetar.

“Ne?” suara Soo Ji meninggi, “Kai-ssi memintaku untuk memanggil apa?”

“Jong In bulleojwo,” pinta Jong In kepada Soo Ji, “Jangan panggil aku Kai lagi.”

“Wae?” Soo Ji tersenyum licik kali ini, “Bukankah kau lebih suka dipanggil Kai-ssi?”

“Soo Ji-yya,” Jong In menatap Soo Ji, “Jangan berpura-pura tidak mengenalku. Aku Kim Jong In! Teman sebelas tahunmu. Kita lulus dari SMP yang sama, lulus dari SMA yang sama juga. Dimana-mana kita bersama. Kau mengantar susu, aku juga ikut mengantar susu. Juga..”

“Aku mengantar susu untukmu, Lee Hyun Woo yang menerimanya. Mula-mula aku maklumi. Tapi setelah berbulan-bulan Lee Hyun Woo yang terus menerima susu kotak untukmu, aku kecewa,” kata Soo Ji.

“Kau marah padaku?” tanya Jong In ragu-ragu.

“Tidak. Aku kecewa padamu.”

I Believe – Shin Seung Hoon

“Mianhae..,” akhirnya Jong In menyampaikan maafnya.

“Mianhaddago?” Soo Ji tertawa kecil, “Kau tahu, setiap aku mengetuk pintu ruang latihanmu, aku selalu memikirkanmu. Aku selalu membayangkan bagaimana wajahmu setelah melihatku di ambang pintu. Aku selalu tersenyum malu bila membayangkan wajahmu yang bahagia setelah melihatku datang dengan sekotak susu yang aku bawa. Tapi—kau tak pernah muncul. Aku selalu penasaran dan ingin masuk, tapi Lee Hyun Woo memberitahuku bahwa kau tidak apa-apa. Dan aku merasa khawatir. Aku begitu khawatir tentangmu.”

“Aku lebih terpukul lagi saat tidak melihatmu di pemakaman ibu. Namun setelah melihatmu di televisi, melihatmu debut aku mulai memaklumi lagi. Tentu saja kau harus debut!” lanjut Soo Ji.

“Soo Ji-yya, mianhae…”

“Dan kau kini berani sekali muncul di depanku dan kembali membuatku mengingat-ingat Kim Jong In? Aku sudah hampir mati melupakannya. Dan.. kau tega sekali muncul di saat aku hampir melupakan Kim Jong In secara total? Dasar anak dungu!”

“Mianhae.”

“Kau memang dungu. Setiap waktu hanya tahu minta maaf. Padahal kata maaf-mu itu tidak bisa menambal kekecewaanku selama ini. Aku permisi dulu, Kai-ssi. Silahkan lanjutkan pekerjaanmu. Kau pasti sibuk. Aku juga sibuk. Silahkan pergi!”

Soo Ji berjalan menjauhi Kai. Namun, Kai tidak langsung pergi meninggalkan tempatnya. Dia berjalan di belakang Bae Soo Ji. Dia berjalan perlahan-lahan, kemudian dia mengikuti tempo Bae Soo Ji, dan kemudian lagi dia mempercepat langkahnya sehingga dia berlari mengejar Bae Soo Ji.

“Berhenti disitu, Soo Ji-yya!” seru Jong In sambil berlari mengejar Soo Ji.

Bae Soo Ji menghentikan langkahnya dan kemudian menoleh ke belakang. Berusaha menyembunyikan wajah sembabnya.

Dengan cepat, Jong In meraih tubuh Soo Ji dan dengan cepat juga dia memeluk erat tubuh teman masa kecilnya itu.

“Mianhae, Soo Ji-yya..,” bisik Jong In dekat telinga Soo Ji, “Mianhae.. mianhae..”

Jong In mengusap-usap punggung Soo Ji dengan lembut dan juga dia mengelus rambut Soo Ji yang sedari tadi tergerai.

Tidak terasa, satu butir air mata, dua butir mata dan akhirnya banyak butir air mata membasahi wajah Soo Ji dan juga membasahi sweater cokelat gelap milik Jong In.

…….

Jong In POV

Hari ini hari ulang tahun Soo Ji. Aku sudah tidak sabar ingin cepat-cepat mengajaknya bernostalgia di taman bermain yang tidak jauh dari rumahku dulu.

Nanti jam tiga sore ke taman bermain. Pokoknya harus datang.

Aku mengirim pesan tadi kepada Bae Soo Ji. Tapi sepertinya Soo Ji sudah merebus handphone-nya dan kemudian menelannya bulat-bulat. Dia tidak membalas pesanku. Tapi aku tahu dia pasti datang. Mengingat hari ini hari ulang tahunnya = 10 Oktober 2012.

Jong In POV end

Author POV

Soo Ji tersenyum sambil menunduk begitu membaca pesan dari Jong In. Dia kemudian mengubah raut wajahnya menjadi seram kembali, “Tiba-tiba aku ingin pulang Hyun Woo-yya..”

Lee Hyun Woo yang duduk di tepi Sungai Han, dekat dengan Soo Ji menoleh, “Wae? Kau tidak enak badan?”

Soo Ji menggeleng, “Tidak. Melihat air banyak seperti ini aku jadi ingin pipis.”

“Kenapa tidak pipis di WC umum? Atau kau bisa ke kafe disana untuk numpang pipis?” tanya Hyun Woo sambil menunjuk kafe tingkat lima –mungkin lebih dari lima- yang berada di seberang Sungai Han ini.

“Pipisnya tidak bisa keluar jika pinjam WC orang. Aku juga sedikit ngantuk.”

“Oh..,” Lee Hyun Woo menyerah. Dia kecewa karena seharian tidak bisa menemani Soo Ji yang hari ini berulang tahun, “Tapi, Soo Ji-yya!”

Soo Ji menoleh ke arah Lee Hyun Woo, “Eo?”

Lee Hyun Woo dengan ragu-ragu menggenggam tangan kanan Soo Ji dengan tangan kirinya, “Bisakah kau disini beberapa menit lagi?”

Soo Ji menatap Lee Hyun Woo dalam-dalam. Kemudian dia tersenyum tipis dan mengangguk kecil, “Eo. Sepuluh menit aku menahan pipis untukmu.”

Lee Hyun Woo tertawa kecil dan kemudian bersandar di bahu Bae Soo Ji, “Ahh.. nyamannya. Bersandar di bahu seseorang.”

“Aneh. Seharusnya aku yang bersandar di bahumu sekarang. Aku kan—berulang tahun hari ini,” kata Soo Ji dengan volume yang lama-lama memelan.

Hyun Woo mengangkat kepalanya dari bahu Soo Ji, “Aku punya hadiah untukmu!”

Soo Ji melotot dan menoleh ke arah Hyun Woo. Dia sangat berharap ada hadiah lagi selain dari Jong In, “Eoddiyya?”

Hyun Woo dengan mantap mencium pipi Soo Ji sambil menutup rapat matanya. Dan kemudian dia membuka matanya lagi untuk melihat ekspresi Soo Ji saat itu juga.

Soo Ji hanya menatap Hyun Woo tidak percaya. Namun lama-lama reaksinya berubah. Dia tertawa keras, “Kau kira setiap tahun kau harus memberiku hadiah sebuah ciuman di pipi?!”

“Aku tidak punya uang setelah keluar dari SM Entertainment untuk membelikanmu hadiah. Atau kau bosan dicium di pipi? Mau kucium mananya? Bibir?”

Sontak, Soo Ji memukul punggung Hyun Woo, “DASAR PRIA GENIT!”

Mereka berdua tertawa bersama. Dan diantara gelak tawa mereka. Soo Ji membalas hadiah yang diberikan Hyun Woo. Dia mencium pipi Lee Hyun Woo juga dan kemudian dia mengatakan terima kasih.

“Gomawo, Hyun Woo-yya. Lee-Hyun-Woo,” Soo Ji tersenyum kepada Hyun Woo.

Lee Hyun Woo tersenyum juga kepada Soo Ji. Tapi senyumnya tidak bisa menyembunyikan kegugupan yang mulai ia rasakan begitu Soo Ji mencium pipinya.

___

Jong In sudah siap dengan kaus lengan panjang dan celana tiga perempatnya. Juga, sebuah hadiah untuk Soo Ji. Dia kemudian memasukkan hadiah itu ke tas ransel yang ia gendong di punggungnya yang tegap itu. Dan sambil berjalan keluar dorm, dia menyambar sebuah kaca mata hitam yang menggantung di dekat pintu utama dorm.

Baru saja mau membuka pintu, seseorang membuka pintunya dengan kasar. Sontak membuat Jong In yang sedang meminum susu kotak terkejut sampai hampir tersedak. Ternyata yang membukanya adalah asisten manajer EXO.

“AYO! IKUT AKU SEKARANG!!” asisten manajer EXO yang sering dipanggil Asisten Yoo itu menarik lengan Jong In.

“Wae? Eoddi?” Jong In tidak menunjukkan ekspresi panik sedikit pun.

“LEE JI EUN! Asisten kalian di rumah sakiiit!! Tapi tidak ada satupun yang peduli. Hanya kau yang aku temui disini! Tolong temani dia sebentar. YA?”

“Ji Eun kenapa?” Jong In kemudian meneguk susu kotaknya lagi.

“Tadi aku dengar.. dia divonis—“

Setelah mendengar lanjutannya, Jong In tanpa sengaja menjatuhkan susu kotaknya dan kemudian refleks berlari secepat mungkin ke rumah sakit. Dia bisa lupa begitu saja tentang hari ini tanggal sepuluh Oktober, hari ini jam empat sore, hari ini di taman bermain, dan juga hari ini.. hari Bae Soo Ji.

___

Soo Ji berjalan mantap dengan baju terbaiknya, sepatu terbaiknya, dan apa-apa yang ia miliki dan ia rasa itu yang terbaik. Dengan dress di bawah lutut plus sepatu kets buluk warna hijau metalik yang jarang ia pakai kemana-mana. Itu baik-baik saja jika ia mengenakan dress tanpa alas kaki. Kets hijau metalik mungkin saja bisa merusak mata orang yang melihatnya karena itu terlihat sangat mencolok dibandingkan dengan dress bunga-bunga warna merahnya.

Ia sengaja menunggu di depan rumah Jong In agar, nanti ketika Jong In baru tiba di taman bermain, dia juga baru muncul di taman bermain. Dia takut hal yang ia sangat tidak sukai dan juga hal yang sudah diulang beberapa kali akan terjadi lagi hari ini.

Hari itu, ia dan Jong In masih berumur tiga belas tahun. Jong In memintanya untuk pergi ke taman bermain juga. Ia sengaja berangkat lebih awal dari waktu yang diminta Jong In. Ia dengan sukacita menunggu Jong In untuk duduk di ayunan yang menggantung di sebelah ayunan yang ia duduki. Ia terus merapalkan mantra ‘eundda, aneundda, eundda, aneundda’

Beberapa jam berlalu, tapi Jong In tidak datang. Tapi ia masih terus berharap Jong In menduduki ayunan yang sudah ia siapkan untuk Jong In. Hasilnya nihil, Jong In tidak datang juga.

“Lihat, dia ‘kan yang kemarin-kemarin menggoda Kai EXO!” sahut seorang wanita kepada teman di sebelahnya.

Soo Ji menoleh ke arah sumber suara. Dia tahu bahwa wanita itu membicarakannya. Makanya ia lebih memilih menatap arloji mungilnya. Setengah jam berlalu. Pukul empat sore itu tinggal sepuluh menit lagi. Soo Ji menhembuskan nafas pelan-pelan.

“Iya. Sedang apa dia di depan rumah Kai?”

Seseorang lagi membuat Soo Ji sedikit marah. Tapi Soo Ji berusaha untuk tenang dan tidak gampang tersinggung dengan perkataan orang.

“Aku dengar dia yang mengajak Kai untuk kabur dari rumah.”

“Benarkah? Wanita macam apa itu?”

“Iya. Kemudian dia mengajak Kai ke rumah keluarganya. Kalau aku jadi Kai, aku tidak akan pergi bersamanya ke rumah sempit miliknya.”

“Geurae! Aku juga pasti begitu. Kai saja yang buta.”

“Dia memang manis dari luar. Tapi siapa tahu dia busuk di dalam!”

Soo Ji tidak tahan lagi. Tangannya sudah mengepal sedari tadi. Kedua kakinya dan juga kedua tangan-nya sudah lama tidak digunakan untuk mengeluarkan jurus karate yang selama ini ia pelajari untuk membasmi penjahat.

“Mereka juga penjahat,” gumam Soo Ji sambil menarik sesuatu dari dalam dress-nya. Ternyata, ia memakai celana panjang di dalam dress-nya. Ia menarik celana panjang itu keluar dan kemudian dia mendekati kedua wanita yang tadi membicarakannya.

“Mau apa kau?” kedua wanita itu terlihat ketakutan.

Soo Ji melemparkan smirk-nya. Smirk yang sering dikeluarkan Jong In jika sedang pemotretan, “Ngomong-ngomong apakah kalian punya ikat rambut? Gerah sekali. Aku salah tadi seharusnya aku mengikat rambutku.”

Salah seorang dari mereka menyerahkan sebuah ikat rambut kepada Soo Ji dengan ragu-ragu. Dan Soo Ji menerimanya dengan halus lantas mengikat rambut panjangnya yang tergerai dengan cekatan.

“Auh.. dia menakutkan sekali—“

“Apa yang barusan Eonni katakan? Aku tidak bisa mendengar secara jelas.”

___

Jong In terus memandangi wajah Lee Ji Eun yang tampak innosen ketika sedang terlelap. Matanya mulai berair begitu mendengar Ji Eun divonis leukimia. Ia tadi berjanji kepada Ji Eun untuk menemani Ji Eun sampai tertidur. Ia kini menatap tangan Ji Eun yang menggenggam erat tangannya. Kenapa orang tidur bisa menggenggam tangan seerat ini?

Tanpa sengaja matanya tertuju pada jam dinding di ruangan itu. Kemudian matanya membebelalak tak percaya jika jam dinding yang tidak sengaja ia lihat kini menunjukkan pukul delapan malam. Tiba-tiba ia teringat janjinya kepada Bae Soo Ji tadi jam empat sore. Dengan cekatan, dia mengenakan jaket bulunya dan melepas tangan Ji Eun dari tangannya. Tapi…

“Kkajima, Jong In-a..,” kata Ji Eun lemah sambil menahan lengan Jong In.

Jong In menepis tangan Ji Eun halus, “Mianhae, Ji Eun-a. Aku harus menemui Bae Soo Ji sekarang juga!”

Jong In menghilang dari pandangan Ji Eun secepat kilat. Ji Eun kecewa dan kemudian menatap ransel Jong In yang tertinggal di sebelahnya. Karena rasa ingin tahunya yang tinggi, Ji Eun membuka ransel itu dan merogohi ransel tersebut. Dia mendapati dua kotak susu sapi dan entah kenapa dia ingin sekali minum susu kotak itu. Tapi dia tahu sebenarnya itu milik Jong In dan Soo Ji. Jadi ia tidak bisa.

___

Soo Ji duduk termenung di bawah perosotan sambil mengharap-harap Kim Jong In muncul di hadapannya. Dia tidak mau seperti dulu lagi. Jong In tidak muncul di hadapannya setelah lama ia menunggu. Menunggu adalah aktifitas yang melelahkan secara fisik dan psikis.

Ia bosan, dan ia memilih memandangi bintang-bintang di atas kepalanya. Entah kenapa ia tersenyum, “Bintang—apakah dia akan datang setelah aku memandangimu seperti ini? Selain aku sedikit kesal kepadanya, aku merindukannya.”

“Siapa yang kau maksud?”

Seseorang dengan kulit gelap muncul tiba-tiba dari perosotan. Jong In tersenyum kepada Soo Ji dan kemudian menghampiri Soo Ji di bawah perosotan. Sementara Soo Ji hanya memandanginya heran.

“Mianhae,” tutur Jong In, “Aku sudah membuatmu lama menunggu.”

Soo Ji masih memandanginya. Karena malu diperhatikan, Jong In pun mengalihkan pembicaraan begitu melihat Soo Ji dengan penampilan kumal. Berbalut dress yang sudah kotor karena dari tadi duduk di tanah basah bekas hujan dan rambut yang acak-acakan.

“Kau habis berkelahi?” tanya Jong In sambil mengubrak-abrik isi tas Soo Ji. Ia mendapatkan sebuah sisir di dalamnya, “Biarkan aku menyisirimu!”

….

Wishing On Star – Wonder Girls

Soo Ji duduk di ayunan, sementara Jong In sibuk menyisiri rambut Soo Ji dari belakang. Dengan lemah lembut, Jong In menyisiri rambut Soo Ji sehingga Soo Ji tidak merasakan kesakitan.

“Sakit tidak?” Jong In agak curiga karena Soo Ji sedari tadi diam.

Soo Ji menggeleng, dan Jong In tersenyum kecil melanjutkan apa yang tadi menjadi aktivitasnya, “Aku—dari dulu sangat menyukai rambut panjang hitammu ini, kau tahu? Kenapa kau tidak mau merawatnya padahal ini sangat indah?”

“Apa kau tahu hari ini hari apa?” tanya Soo Ji.

Jong In lega. Akhirnya Soo Ji bicara juga, “Hari ulang tahun Bae Soo Ji. Nae chingu!”

Soo Ji tersenyum, “Apa hadiahnya?”

DEG. Tas Jong In tertinggal di rumah sakit, dan sekarang baru Jong In sadari. Ia menelan ludah karena tenggorokkannya tiba-tiba tercekat. Ia berhenti menyisiri rambut Soo Ji. Kemudian dia berlutut di depan Soo Ji.

“Ayo, kita beli dress untukmu. Sekarang!” ajak Jong In dengan senyum lebar yang agak dipaksakan.

Soo Ji bangkit dari ayunan. Ia memandangi dress-nya sendiri.

“Dan juga kita akan beli sepatu yang agak girly!” kata Jong In lagi, sedikit khawatir. Ia menarik lengan Soo Ji, tapi Soo Ji menepis tangannya, “Wae?”

Soo Ji menatap Jong In, “Aku tidak mau dress! Aku juga tidak mau sepatu!”

Jong In mendengus pelan, “Lalu kau mau apa?”

Mata Soo Ji terasa panas dan sesak. Air mata pun keluar dari kedua matanya. Jong In yang baru pernah melihat Soo Ji menangis jadi iba dan bingung karena tidak tahu bagaimana menghiburnya ketika ia menangis.

Jong In dengan panik memegangi kedua pundak Soo Ji, “Uljima, Soo Ji-yya..”

Sekali lagi, Soo Ji menepis tangan Jong In dan menghapus air matanya sendiri.

Kini Jong In benar-benar panik, “Mianhae. Karena ini pertama kali kau menangis karenaku, aku tidak tahu bagaimana menghiburmu. Mianhae, jeongmal mianhae.”

Soo Ji memukul dada bagian kiri Jong In dengan kepalan tangan kirinya yang kuat. Melihatnya, Jong In memilih untuk diam. Dia masih tidak mengerti dan tidak bisa menangkap apa yang membuat Soo Ji seperti itu.

Dua pukulan.. tiga pukulan.. empat pukulan dilancarkan Soo Ji sambil meneteskan air mata, “Apa yang membuatmu selalu mengucap kata maaf?”

Jong In tertegun, “Eo?”

Soo Ji menatap Jong In dalam. Matanya berkaca-kaca, jadi ia tidak bisa melihat wajah tampan Jong In dengan jelas, “Kau tahu, semakin banyak kau mengucapkan kata maaf—aku semakin menyukaimu. Apa kau tahu?”

Waiting – Panic

Jong In menggeleng pelan, tapi tidak berani menjawab. Soo Ji sudah tidak menatapnya lagi.

“Aku tahu kau terlambat karena yeojachingu-mu. Ya ‘kan?” kata Soo Ji.

“Yeo-yeojachingu?” Jong In mengerutkan dahinya, “Si-siapa yang…”

“Lee Ji Eun. Kkeutji?”

Mendengar nama itu, Jong In menggeleng sendiri, “Jadi—kau marah kepadaku karena itu? Tapi…”

Bae Soo Ji tidak ingin mendengar alasan Jong In lagi. Dia meninggalkan Jong In dengan air mata yang terus menderas di pipinya. Mulanya ia hanya berjalan cepat, dan kemudian perlahan berlari. Tapi secepat apapun ia berlari, Jong In masih bisa mengejarnya dan meraihnya.

“Soo Ji-yya!” seru Jong In sambil berlari mengejar Soo Ji, “BAE SOO JI!”

Soo Ji menghentikan langkahnya. Melihat itu, Jong In pun mempercepat langkahnya dan menghampiri sahabat kecilnya itu.

“Bae Soo Ji, aku ingin menjelaskan sesuatu,” kata Jong In ditengah-tengah pengaturan nafasnya, “Ji Eun, bukan pacarku. Kau salah paham.”

Mendengar itu, Bae Soo Ji sedikit lega. Tapi ia masih belum menerimanya. Jong In terus menerus melakukan kesalahan yang sama dari beberapa tahun yang lalu. Apalagi kesalahan itu sangat ia benci.

Dengan sigap, Jong In merengkuh tubuh Soo Ji dari belakang. Kedua tangannya melingkari pinggang Soo Ji. Kepalanya ia letakkan di atas bahu Soo Ji. Badan Soo Ji seketika menjadi beku begitu Jong In memberikannya back hug.

“Kau bilang kau menyukaiku?” ucap Jong In sedikit berbisik di telinga Bae Soo Ji. Namun Soo Ji tidak merespon. Perlahan, ia melepaskan pelukannya dan memutar tubuh Soo Ji agar berhadapan dengannya.

Pelan-pelan, Jong In meletakkan kedua telapak tangannya di kedua pipi Soo Ji yang dingin, “Kau menyukaiku?”

Soo Ji tidak merespon.

“Uljima,” kata Kai sambil mengelap pipi Soo Ji yang basah dengan lengan bajunya, “Tapi kenapa kau tidak meresponku dari tadi? Apa mulutmu terkunci? Haruskah aku membukanya?”

I Love You – SNSD Taeyeon

Soo Ji menatapnya.

Dengan cepat, Jong In mengecup bibir Soo Ji sehingga membuat Soo Ji terkejut. Kemudian ia melepaskannya dan ganti menatap Soo Ji dalam, “Itu hadiahku, chagi-yya. Bagaimana? Apa kau mau lagi?”

Sekali lagi, Jong In mengecup bibir Soo Ji sekilas, “Mau lagi?”

“Berhenti!” ucap Soo Ji yang tidak berani menatap Jong In.

“Wae? Apa kau mau hadiah yang lain?”

Soo Ji menebak-nebak apa hadiah yang dimaksud Jong In. Dan secara mengejutkan, Jong In merengkuhnya lagi dengan erat sambil mengelus-elus rambutnya.

“Aku—juga menyukaimu.”

Mendengarnya, Soo Ji ternganga. Ia bahagia mendengarnya.

“Bukan. Aku bukan menyukaimu. Tapi aku mencintaimu, Soo Ji-yya. Bae Soo Ji.”

“Nado,” ucap Soo Ji sembari membalas pelukan Jong In yang hangat.

“Jong In-a! Kau terlambat lagi?!” seru Soo Ji yang begitu melihat Jong In muncul dari balik pohon di taman bermain.

Jong In tersenyum. Kemudian dia melepas kacamatanya dan menghampiri Soo Ji, “Mianhae-yya, Soo Ji.”

Soo Ji bangkit dari ayunannya, “YYA!”

Jong In menatap Soo Ji heran. Dia juga setengah takut.

“Jangan mengatakan maaf lagi. Aku—“

“Eo? Mianhae. Aku tidak—aduh aku mengatakannya lagi..”

 

“Mianhae,” ucap Soo Ji. Membuat Jong In membelalakkan matanya.

“EO?!” Jong In melepaskan pelukannya, “Jangan mengatakan kata maaf lagi. Aku jadi semakin menyukaimu, tahu!”

Soo Ji tersenyum dan ia ganti mencium sekilas bibir Jong In.

-END-

Advertisements

6 comments

  1. veda · July 30, 2015

    sdih jg ps jongin jrang ktemu suzy krna trinee
    tp endingnya sweet ^^
    DAEBAAAAAKKK 😀

  2. Athena BaeZy · July 30, 2015

    Oho, awalnya agak sedikit kesel dengan tingkah jong in yang kelihatannya melupakan suzy tapi finally happy end, hohoow
    fighting ne thor;)

  3. Elistya Kim · July 31, 2015

    Sedih pas jong in mengabaikan suzy dia udh kek kacang lupa kulitnya tapi endign-nya sweet banget aku kira si kai bakalan sama ji eun karena si ji eun lagi sakit. Tapi untunglah dia akhirnya sama suzy jga.

    Next ffnya ditunggu Fighting

  4. rifqa0390 · July 31, 2015

    Sweet ending….
    Love it…

  5. Kai Suzy · August 3, 2015

    yeayyy happy ending…. nan joha! walaupun awalnya agak kesel sm sikap nya kkamjong, tpi maklumlah nama nya juga idol, Oh iya chingu ff yg exotic love, exotic girl udh dilanjut blm? klo blm jeballl lanjutin *maksa* soalnya aku penasaan sm kelanjutannya 🙂

  6. widdy · August 4, 2015

    awalnya sad tapi endingnya sweet ahh daebakk kerenn

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s