[FICLET] #KAIZY: My Answer

cropped-kaizydit1.png

Rating: PG-16

Genre: Romance

Cast: Suzy Kai

Auhor: jbsung

Jong In POV

Pukul delapan malam. Tidak seperti biasanya, suara Bae Soo Ji tidak terdengar lagi. Jam-jam seperti ini biasanya Ia gunakan untuk melepas stres seperti bernyanyi. Dan menurutku Ia bukan bernyanyi, melainkan…berteriak. Suara nasal –yang sering meleset- yang Ia gunakan untuk bernyanyi terkadang mengusik telingaku. Namun malam ini ketidak-adaan suara nasalnya malah membuatku lebih terusik.

Aku putuskan untuk naik ke lantai dua, dimana kamar Bae Soo Ji berada. Dari anak tangga yang entah keberapa, aku dapat melihat pintu kamarnya yang setengah terbuka. Begitu sampai, aku mengintip apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan gadis yang sudah tinggal satu rumah denganku selama dua tahun ini.

“Soo Ji-ah,” aku melangkahkan kakiku ke dalam kamarnya yang…..sangat berantakan, dibandingkan dengan kamarku. Ya, sifat kami sangatlah bertolak belakang. Ia adalah orang yang santai dan bisa dibilang kelewat santai. Ia jarang bangun pagi untuk menyiapkan sarapan. Ia sering bangun terlambat sehingga Ia terpaksa –atau malah sengaja- tidak mandi atau sekadar merapikan tempat tidurnya, lalu berangkat kerja dengan langkah terhuyung-huyung setengah sadar setengah tidak.

Apa yang Ia kerjakan? Ia adalah seorang penulis. Aku tidak heran melihatnya yang ‘berantakan’ seperti ini, karena sepupuku juga bekerja di salah satu percetakan majalah remaja. Sepupuku itu mengambil bagian artikel dimana Ia menulis artikel artikel yang tertera di majalah perusahaan tempat Ia bekerja. Penulis novel dan penulis artikel….sama saja bukan? Atau mungkin itu hanya pendapatku saja.

Aku pernah mengatakan hal tersebut kepada Bae Soo Ji. Kau sama seperti sepupuku. Berantakan. Sangat berantakan. Agaknya semua penulis memang hidup seperti ini. Dan pada saat itu juga, Ia menatapku aneh. Ia tertawa dan berkata jika penulis novel dan penulis artikel itu berbeda. Ia menjelaskan perbedaan-perbedaannya dan aku hanya manggut-manggut menutupi ketidak-fahamanku. Kan sama sama penulis, kataku. Kemudian Ia akan menjelaskan kembali perbedaannya sementara aku akan menatap kekasihku ini penuh kagum.

Bae Soo Ji tertidur di depan komputernya yang masih menyala. Ini kali pertama Ia tertidur ketika bekerja. Setahuku Ia tidak pernah tertidur di tengah-tengah pekerjaannya walaupun Ia adalah gadis yang kelewat santai. Ia mengerjakannya sampai tuntas dan dengan ikhlas.

Aku mengambil selimut yang tergeletak begitu saja di lantai. Aku membentangkan selimut tersebut dan meletakkannya di atas punggungnya perlahan. Setelah itu aku duduk di pinggir ranjang yang tak jauh dari meja komputer dimana Soo Ji tertidur. Namun beberapa detik kemudian, Ia terbangun. Ia membuka matanya dan mendapati aku yang tersenyum kepadanya.

“Jong In-ah,” Ia mengangkat kepalanya dan memutarnya hati-hati. Kemudian Ia meringis, “Sejak kapan kau disini?”

“Menurutmu?”

Ia mengedikkan bahunya.

“Tidurlah di ranjang,” kataku sambil menepuk ranjangnya yang aku duduki, “Seorang penulis tidak boleh sakit. Apa yang terjadi jika kau sakit dan kau tidak bisa menyelesaikan novelmu?”

“Aku akan menyuruhmu menyelesaikannya,” Ia terkekeh dan bangkit untuk duduk di sampingku. Sementara aku menatapnya heran sehingga Ia balik menatapku lebih heran, “Kenapa? Apa kau tidak mau menyelesaikannya?”

Aku berdecak, “Kupikir kau akan tidur. Tidurlah, kau terlihat lelah.”

Ia mendesah dan mengerucutkan bibirnya, “Aku tidak mau. Aku tidak mengantuk.”

“Tidak mengantuk?” aku tertawa.

“Apanya yang lucu?!” bentaknya. Aku merubah posisi dudukku supaya aku dapat mengagumi kecantikan gadisku ini. Kami memang belum memutuskan untuk menikah. Kami belum membahasnya sama sekali. Keinginan untuk menikah seringkali muncul di benakku. Namun Bae Soo Ji terlihat tidak tertarik dengan pernikahan.

“Kau tertidur barusan dan sekarang kau bilang kau tidak mengantuk?” aku berbaring di atas ranjangnya dan menggodanya, “Kemarilah.”

Bae Soo Ji menatapku dan meringis, memperlihatkan deretan giginya yang rapi. Dua gigi susu atasnya yang memang lebih besar dari gigi-giginya yang lain membuatnya terlihat manis layaknya seekor kelinci. Ia meluncur ke lenganku yang sengaja terulur untuk alas kepalanya.

“Hm..,” aku menarik tubuhnya dan membenamkan wajahnya di dadaku, “Nyaman bukan?”

Ia mengangguk dalam pelukanku. Tangannya melingkar di sekitar perutku sementara salah satu kakinya menindih pinggulku, “Nyaman sekali.”

Aku mengecup dahinya, “Cepatlah tidur.”

Soo Ji mengangkat kepalanya, “Untuk apa cepat-cepat tidur? Besok hari Minggu,” ujarnya. Keningnya mengerut.

“Ah iya,” aku terkekeh, “benar.”

Sedetik kemudian, kami terhanyut dalam diam. Aku jadi teringat bagaimana pertemuan pertama kami. Kami berdua bertemu dalam kelompok kencan buta. Tadinya, temanku Oh Se Hun memasangkan aku dengan teman Soo Ji, Choi Jin Ri. Tidak disangka, aku malah tertarik dengan Soo Ji dan Jin Ri sendiri tertarik dengan Oh Se Hun. Entahlah.

Bae Soo Ji adalah tipe gadis yang terbilang sangat sulit untuk didekati. Ia sangatlah sibuk dengan cerita bersambungnya yang saat itu jadi cerita yang ditunggu-tunggu di majalah dinding jurnalistik kampus. Aku tidak bisa mengajaknya berkencan. Jangankan berkencan, untuk mengobrol saja susah. Namun suatu hari, aku berhasil mengajaknya berkencan. Tapi…kencan yang satu ini bukanlah kencan sepasang remaja. Melainkan sejenis ‘kencan’ sepasang rekan bisnis.

Kami berkencan di kedai makanan China. Ia makan sekitar dua porsi mie kacang hitam dan aku hanya memperhatikannya di seberang meja makan. Di sela-sela acara makannya, Ia memintaku untuk menjadi editor dalam proyek film pendeknya. Yah..tanpa keberatan aku langsung mengiyakan permintaannya, namun dengan satu syarat. Yakni pergi berkencan yang benar-benar kencan, kencan sungguh-sungguh. Sepertiku, Ia langsung mengiyakannya.

“Asalkan aku mendapatkanmu. Mendapatkan salah satu editor terbaik di kampus kita,” katanya waktu itu.

Aku menyukai kalimat pertamanya. Asal aku mendapatkanmu.

Bae Soo Ji kini menatapku dan aku baru menyadarinya. Ketika aku membalas tatapannya, Ia tersenyum, “Jong In-ah.”

“Ya?” aku berdeham. Gadis yang dulu terbilang sangat sulit untuk didekati kini berada tepat di hadapanku, di pelukanku. Aku tidak hanya berhasil mendekatinya namun aku juga berhasil mendapatkannya.

“Aku ini seorang wanita,” katanya. Dan aku mulai tidak mengerti apa maksud di balik kalimatnya barusan.

“Ya, kau seorang wanita,” ujarku.

“Semua wanita itu sama saja. Aku sama dengan wanita yang lainnya,” katanya. Agaknya Ia mengantuk sekarang karena biasanya Ia akan ngelantur ketika mengantuk.

“Kau…jauh berbeda dengan wanita lain. Bagiku,” kataku.

Ia menggeleng dan kemudian terkekeh, “Sudah berapa lama hubungan kita ngomong-ngomong?”

Aku mengawang-awang ke langit-langit kamar. Sudah tiga tahun lebih lamanya kami bersama. Dua tahun terakhir kami memutuskan untuk tinggal bersama. Kami berdua tidak memiliki siapa-siapa lagi. Aku hanya memiliki Bae Soo Ji seorang, dan… begitu juga Bae Soo Ji sendiri.

“Aku mengantuk,” katanya lagi sambil memunggungiku. Apakah dia marah? Batinku. Ah, tapi marah karena apa?

Aku bangkit dan turun dari ranjang Soo Ji. Selimut yang lagi-lagi tergeletak di lantai aku pungut kembali. Aku selimuti tubuh Bae Soo Ji dengan selimut tersebut. Setelah kupastikan Ia nyaman, aku berjalan ke arah komputer. Niat untuk mematikan komputernya seketika terurung begitu aku melihat sebuah kalimat yang sepertinya baru saja aku dengar sendiri dari Si Penulis. Ya, Bae Soo Ji.

Penasaran, aku mematikan lampu kamar dan menutup pintu kamar, bertingkah seperti aku keluar kamar. Dengan hati-hati aku duduk di depan komputer dan membaca sebagian novel yang sedang Ia kerjakan.

Kata demi kata, kalimat demi kalimat yang Ia tuangkan dalam setiap paragrafnya memang sangat simple dan teratur. Yang membuatku ingin terus membacanya adalah alur ceritanya yang menurutku tidak asing. Separuh dari bagian yang aku baca seperti akulah pemain utamanya. Namun separuh yang lainnya adalah bagian Bae Soo Ji. Apakah cerita yang sedang Soo Ji coba selesaikan adalah…kisah nyatanya sendiri?

Aku ini adalah seorang wanita. Ya. Kalimat ini adalah kalimat yang diucapkan oleh Bae Soo Ji barusan. Dalam (semi)novelnya, kalimat ini diucapkan oleh tokoh ‘aku’. Dan yang dikatakan oleh tokoh pria di dalamnya sangat persis dengan apa yang aku ucapkan tadi. Apakah tokoh pria ini aku sendiri?

Ia tidak mengerti apa yang diinginkan setiap wanita. Agaknya? Atau mungkin Ia mengetahuinya namun tidak ingin mengabulkan keinginan wanitanya? Aku menginginkannya. Pernikahan.

Kedua alisku terangkat begitu melihat kata ‘pernikahan’ dalam semi novel Soo Ji. Jika ini kisah nyatanya, apakah Soo Ji benar-benar tokoh ‘aku’ dalam semi novel ini? Jadi, apa dia menginginkan sebuah pernikahan seperti yang diinginkan oleh tokoh ‘aku’ disini? Aku meremas rambutku kesal. Mengapa aku tidak menyadarinya?! Ia sangat menginginkannya dan aku tidak menyadarinya.

Aku berusaha untuk dengan tenang mematikan komputernya dan meninggalkan ruangannya. Aku memasuki kamarku yang tepat berada di depan kamarnya. Aku yakin, aku masih menyimpannya di suatu tempat. Tanpa sebab keringat mulai mengucur deras di tubuhku. Kedua tanganku merogoh isi laci meja kerjaku. Dan ketika aku mulai merasakan tekstur sebuah kotak, senyumku mulai mengembang.

Kalian tidak dapat membayangkan bagaimana bahagianya aku begitu melihat isi kotak tersebut. Semuanya masih di tempatnya. Utuh tanpa cacat sedikitpun. Dua cincin yang satu setengah tahun lalu sengaja akan aku berikan kepadanya untuk melamarnya. Namun aku tidak ingat persis mengapa aku tidak memberikan cincin ini kepadanya.

Segera, aku menghampiri ruangannya. Aku berlutut di dekat Soo Ji yang tertidur. Lampu tidur yang menyala di dekatku menyinari wajahnya yang tampak kelelahan akibat bekerja di depan komputer hampir sepanjang hari. Semenit kemudian, aku mengusap pipinya yang sedikit basah. Ia membuka matanya. Apakah Ia…menangis?

“Soo Ji-ah,” aku terkejut karena baru kali ini aku melihatnya menangis dan aku tidak mengetahuinya.

“Jong In-ah,” suaranya yang parau membuatku semakin yakin Ia barusaja menangis. Ia duduk di pinggir ranjang dan refleks aku memeluknya erat.

“Maafkan aku,” ucapku, “ya, kau seorang wanita. Kau memang berbeda dari yang lainnya. Namun impian setiap wanita adalah impianmu juga. Aku memang bodoh karena aku tidak menyadarinya.”

Aku melepaskan pelukanku dan mengeluarkan sebuah cincin dari kotak yang baru saja aku ambil dari laci meja kerjaku. Aku tidak dapat melihat reaksi Bae Soo Ji karena….karena aku sangat gugup. Keringat yang tadi mengucur di beberapa bagian tubuhku seketika berubah menjadi keringat dingin. Telapak tanganku berkeringat dan tanganku gemetaran. Namun aku bisa mendengar suara Bae Soo Ji yang terkekeh.

“Aku tahu ini tidak romantis,” aku meraih tangannya dan memasangakan cincin ke jari manisnya, “dan ini bukan apa yang kau inginkan.”

Soo Ji terkekeh lagi. Aku menengadah untuk melihat ekspresinya. Ia menutupi mulutnya dengan tangannya yang lain. Di balik rambutnya yang awut-awutan, aku dapat melihat matanya yang berkaca-kaca. Aku tersenyum sembari merapikan rambutnya yang menghalangi wajahnya, “Jong…,” Ia tampak tidak bisa berkata apa-apa. Ia meneteskan air matanya lagi.

“Apa kau mau ice cream?” aku tertawa kecil sambil menyingkirkan tangannya dari wajahnya. Ia ikut tertawa.

“Apakah ini mimpi?” Ia terus meneteskan air matanya sehingga wajahku terasa sangat panas. Agaknya aku akan menangis juga, “Ini seperti mimpi. Ini tidak nyata.”

“Agar terlihat seperti nyata..baiklah,” tenggorokanku terasa kering. Susah payah aku menelan ludah dan berusaha untuk mengatakan kalimat yang sudah lama ingin aku sampaikan kepadanya, “Maukah kau menikah denganku?”

Bae Soo Ji tersenyum, “Aku mau. Apakah kau mau menikah denganku?”

Aku ternganga, “Ini bukan sesi tanya balik tanya.”

“Apa jawabanmu?” Soo Ji sedikit menunduk.

“Jawabanku. Ya. Tentu saja ya. Sangat ingin sekali,” aku setengah berbisik dan pada saat itu juga aku raih tengkuknya. Aku kecup bibirnya. Bibir milik gadisku.

END

Advertisements

9 comments

  1. rifqa0390 · August 7, 2015

    Emmmmmmmmm….
    So sweet…
    Terharu bacanya…

  2. desy · August 7, 2015

    Untung happy ending

  3. Athena BaeZy · August 7, 2015

    So sweet, jadi pengen dilamar juga ma kkamjong, ewh ditabok neng suzy ntar, heheee
    fighting ne thor;)

  4. veda · August 8, 2015

    endinngnya sweet ^^
    DAEBAAAKKK 😀

  5. yufia · August 8, 2015

    aku juga wanita kkamjong-ah sama sprt sooji, kau jg mau menikah dengan ku kan?
    hahaha

    so sweet bgt thor Kaizy. bwt ff ttg mreka lg ya. ditunggu pake banget

  6. widdy · August 9, 2015

    wahh so sweet aduhh suzy memang bukan wanita biasa .. keren ditunggu ff lainnya

  7. wikho · August 9, 2015

    aihhhh so sweet >_<

  8. Nhaeyoriee · August 13, 2015

    I like thor swettt bngett ceritanya..

  9. Kai Suzy · August 22, 2015

    aaa cieeee kaizy sosweet, ternyata zyeonn juga pengen cpt” nikah sm kai, tpi kai kira klo zyeonn itu blm siap wkwkwk. aku suka ceritanya chingu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s